[Update] For Sale: Xiaomi Redmi Note

November 24, 2014 4 komentar

Update 27 Nov 2014: Item’s SOLD!!

Kali ini saya mau jualan… hehe…

Siapa cepat dia dapat.

Tersedia 2 unit XIAOMI REDMI NOTE – Brand New in Box

Siap diantar plus COD untuk wilayah Bandung Raya.

Xiaomi Redmi Note – Flash Sale LAZADA

ane pasang harga dasar nih… maklum, lagi BU
tapi itu ngga termasuk ongkir ya… klo mau COD atau dideliver ke sekitaran Bandung Raya, lebihin dikit yah. buat ongkos bensin

sms/wa/line: 082-117-245-972

Fathi Nashrullah
https://fathiiiii.wordpress.com

 

Iklan
Kategori:biznis Tag:, ,

BBM satu-satunya faktor produksi pada angkot?


Kesepakatan kenaikan tarif angkot Kota Bandung

Sampai hari ini saya tidak mengerti, apakah BBM itu satu-satunya faktor produksi pada layanan angkutan kota (angkot)? Dalam foto di atas terlihat kesepakatan tentang penaikan tarif angkot sebesar 30%. Kita juga tahu bahwa dua hari yang lalu (17 November 2014) Presiden Joko menaikkan harga bensin premium sebesar 30%. Ini artinya BBM adalah satu-satunya faktor produksi pada angkutan kota.

Di artikel sebelumnya saya memprediksi kenaikan harga-harga hanya berkisar di angka 10% sebagai akibat kenaikan 30% premium dan 35% solar. Asumsi saya, BBM bukanlah satu-satunya faktor produksi, dan faktor produksi lainnya harganya tidak otomatis naik. Pun kalau faktor produksi lainnya juga naik, asumsi saya tidak akan sebesar 30%. Jadi saya beranggapan kenaikan 30% seluruh harga barang adalah very unlikely.

Namun ternyata begitulah yang terjadi. Tarif angkutan kota di Kota Bandung sudah dinaikkan 30%. Dalam perhitungan saya, angkot mengambil keuntungan besar dalam kasus ini. Mereka berselancar dalam penderitaan orang lain.

Mari kita coba hitung. Untuk jarak sekira 5 km, seorang penumpang dulu harus membayar Rp 3,000. Sekali jalan, angkot dapat menampung 13 penumpang. Angkot standar di Bandung paling hanya menghabiskan setengah liter per 5 km. Dengan kenaikan 30%, tarif tersebut berubah menjadi Rp 3,900.

Kalkulasi kenaikan tarif angkot Kota Bandung; November 2014.

Kalkulasi kenaikan tarif angkot Kota Bandung; November 2014.

Kita bisa melihat tabel yang saya buat di atas. (Note: jangan lupa untuk membaca asumsi-asumsi yang saya gunakan dalam membuat perhitungan tersebut) Kolom c dan d adalah harga sebelum kenaikan 17 November 2014. Kolom e dan f adalah harga setelah kenaikan. Kolom g adalah selisih antara harga lama dan baru, sedangkan kolom h adalah rasionya.

Baris 2 adalah biaya produksi untuk angkot full dan baris 3 adalah rata-rata produksi untuk setiap penumpangnya. Baris 4 adalah penjualan untuk angkot full dan baris 5 adalah rata-rata penjualan per penumpangnya. Baris 6 adalah margin untuk angkot full dan baris 7 adalah rata-rata per penumpangnya.

Dari tabel di atas, kita bisa melihat bahwa kenaikan 30% tarif angkot ini bukan sekedar penyesuaian harga. Tetapi juga sekaligus penggandaan keuntungan bagi angkot. Jika ini sekadar penyesuaian, seharusnya kan tidak perlu ada peningkatan margin secara signifikan seperti itu. Perhatikan bahwa dalam tabel di atas saya tidak menempatkan BBM sebagai satu-satunya faktor produksi. Tetapi saya juga memasukkan upah/gaji sopir dan sudah saya naikkan sebesar 30%.

Modus seperti ini sudah sering sekali terjadi. Kenaikan tarif yang paling ‘gila’ yang saya ingat adalah pada 2005, ketika Presiden SBY menaikkan harga premium hampir 100%. Dalam perhitungan kasar saya ketika itu, angkot mendulang kenaikan margin lebih dari 100%. Praktik seperti ini selalu terjadi setiap kali pemerintah menaikkan harga bensin premium.

*foto kesepakatan penaikan tarif di-link dari detik.com

Getting people back to work

November 18, 2014 1 komentar


Ada yang ingat dengan mendiang Aaron Swartz? Dia adalah anak muda brilian pendiri beberapa startup sukses yg kemudian terbelit kasus hak cipta hingga akhirnya bunuh diri. Bukan tentang orangnya atau startupnya, tapi dia pernah menulis sesuatu yang menurut saya menarik di blognya. Sayangnya saya baru membaca blognya setelah dia bunuh diri.

Pada satu artikel dia bercerita tentang Batman Begins. Satu ironi yang terjadi adalah ketika Thomas dan Martha Wayne yang hampir bangkrut karena membangun jaringan kereta murah dalam kota untuk penduduk Gotham, kemudian malah dibunuh oleh (salah satu) penduduk Gotham sendiri. Mereka dibunuh oleh orang yang sedang habis-habisan mereka bantu.

Apa sebenarnya yang sedang dilakukan Thomas dan Martha? Swartz bercerita, mereka sebetulnya sedang berusaha mendorong orang untuk bekerja, getting people back to work. Agar mereka mau bergerak ke ujung lain kota untuk bekerja, sehingga tingkat kriminalitas menurun dan masyarakat menjadi sejahtera. Gotham bukanlah kota kecil. Dengan jumlah penduduk 12 juta jiwa, kita bisa membayangkan ukuran kotanya. Maka kendala transportasi menjadi kendala yang sangat berarti, yang dapat membuat orang enggan bekerja. Entah karena penghasilannya tidak memadai untuk menutup sekaligus biaya hidup + transportasi, atau memang karena tidak ada moda transportasi murah-cepat.

Amerika bukanlah Indonesia. Di negara kita, serbuan pemasaran kendaraan roda dua dari luar negeri sudah luar biasa. Meskipun tidak ada moda transportasi massal yang murah, namun orang bisa beli (well, nyicil maksudnya) motor dengan harga yang sangat murah, dengan cicilan yang juga sangat murah. Dikombinasikan dengan harga BBM yang disubsidi, menjadikan motor sebagai moda transportasi termurah dan paling fleksibel yang ada di negeri ini.

Oke, sebagian kawan berpendapat bahwa KRL atau commuterline lebih murah. Saya tidak membantah. Masalahnya tidak di semua kota ada jaringan commuterline. Di Bandung saja jaringan kereta hanya menghubungkan wilayah paling barat dan paling timur dengan satu line saja. Orang yang tinggal di wilayah lain praktis tidak terlayani. Angkot? Hasil perhitungan saya, angkot (yang menggunakan BBM bersubsidi) lebih mahal setidaknya dua kali lipat dari motor (yang juga menggunakan BBM bersubsidi) untuk kebutuhan komuter harian. Itu belum ditambah dengan ongkos antar-jemput anak ke sekolah, belanja ke pasar, berkunjung ke saudara, dan transportasi lainnya di luar komuter.

Jangan salahkan masyarakat ketika mereka menggunakan motor untuk kebutuhan transportasi hariannya. Ini hanya sekedar bentuk optimasi dalam menyiasati anggaran rumah tangga mereka. Dalam perspektif ini, saya pribadi cukup yakin bahwa kenaikan harga BBM malam tadi tidak memberi pengaruh signifikan untuk pos pengeluaran transportasi harian. Paling hanya bertambah Rp 5.000 per dua atau tiga hari.

Tetapi urusan harga BBM ini sebenarnya bukan di harga BBM-nya sendiri. Melainkan di harga segala macam barang yang dijual di pasar (pasar apa pun ya, mau tradisional, modern, online, apa pun), karena semua barang itu mengandung unsur BBM di dalamnya, minimal untuk distribusinya. Kenaikan 30% harga premium dan 35% solar dalam prediksi saya dapat memicu kenaikan setidaknya 10% biaya produksi.

Kembali ke soal subsidi dan Batman Begins tadi, dalam perspektif saya subsidi BBM bukanlah tentang memurahkan harga BBM yang akan dibakar di jalan-jalan raya. Tapi tentang memurahkan harga segala macam bagi rakyat Indonesia. Subsidi BBM adalah upaya negara menggerakkan rakyatnya untuk bekerja. Subsidi BBM adalah upaya negara dalam memurahkan makanannya, memurahkan transportasinya, memurahkan pendidikannya.

Subsidi BBM adalah upaya negara memacu rakyatnya untuk berkarya.

*gambar di-link dari wikipedia

Paradoks Proyek Monorel

Agustus 28, 2014 1 komentar

monorail1Oleh: Arif Minardi
Anggota Komisi VI DPR-RI

MEGAPROYEK monorel di Kota Bandung digulirkan begitu saja tanpa menyerap aspirasi publik dan terkesan ambisi para elite semata.

MENCUAT pertanyaan publik, sebetulnya monorel itu dibangun untuk melayani siapa dan sejauh mana relevansinya bagi kehidupan masyarakat luas? Hal itu belum terelaborasi secara jelas dan objektif. Timbul catatan kritis dari publik, apakah proyek monorel itu merupakan impian alamiah dan solusi jitu untuk masyarakat Bandung atau merupakan megaproyek infrastruktur yang padat utang dan padat komponen impor.

Mestinya proyek monorel yang akan menelan dana puluhan triliun rupiah yang berupa pembangunan lima koridor operasi monorel itu direncanakan secara matang dengan memperhatikan berbagai aspek, yakni aspek integrasi infrastruktur transportasi sehingga tidak terjadi tumpang tindih yang memboroskan dana dan semakin menyulitkan aktivitas rakyat. Koridor monorel mestinya tidak tumpang tindih dengan jalur KA komuter yang telah eksis dan sedang dikembangkan. Apalagi jalur KA komuter di Bandung Raya sejak lama sudah menjadi impian alamiah masyarakat.

Proyek monorel di Bandung sejak awal sudah menandung paradoks, pasalnya Kota Bandung yang boleh disebut sebagai kota yang sarat dengan SDM teknologi dan kapabilitas produksi yang memadai, karena di kota ini terdapat berbagai BUMN, perguruan tinggi teknik, dan sederet lembaga iptek terpaksa mengelus dada melihat material dan komponen impor akan mendominasi proyek monorel. Hingga kini belum ada rencana untuk melibatkan konten lokal dan teknologi untuk proyek monorel.

Terkait dengan proyek monorel, mestinya ada komitmen semua pihak untuk menggenjot lokalisasi komponen yang disertai dengan langkah detail. Mestinya pemerintah daerah menerapkan secara konsisten strategi ISI atau Industrialisasi Substitusi Impor untuk perangkat keras dan lunak yang dibutuhkan oleh proyek-proyek infrastruktur padat modal. Secara sederhana, ISI dapat didefinisikan sebagai program konkret untuk mewujudkan substitusi barang-barang impor dengan barang-barang sejenis yang diproduksi oleh industri di dalam negeri.

Selain itu, filosofi dan proyeksi sistem layanan monorel di Bandung juga masih bias lapangan. Pasalnya, belum ada kajian yang komprehensif terkait dengan proyek monorel dan konsentrasi para penumpang di Bandung Raya yang hingga saat ini belum tertangani secara baik. Dengan demikian, para pengguna yang jumlahnya sangat besar yang lalu lalang setiap harinya itu masih menderita dalam arti mengeluarkan biaya besar dan disergap kemacetan lalu lintas yang parah.

Selama ini, sudah ada solusi untuk membantu para penumpang dari kantong-kantong pemukimannya menuju tempat kerjanya masing-masing dengan KA komuter. Namun, frekuensi perjalanan KA dan kapasitasnya kurang memadai, terutama pada jam sibuk. Dalam konteks moda transportasi, monorel adalah metro atau kereta rel dengan jalur yang terdiri atas rel tunggal. Biasanya rel terbuat dari beton dan roda keretanya terbuat dari karet, sehingga tidak sebising kereta konvensional. Proyek monorel biasanya dibangun dengan sistem BOT (built operating transfer) selama beberapa tahun dengan opsi perpanjangan. Pembangunan infrastruktur monorel, gerbong, atau kabin, emplasemen stasiun, dan instalasi penunjangnya mestinya bisa didesain dan dibuat sendiri oleh BUMN dalam negeri bekerja sama dengan industri lokal.

Eksistensi BUMN nasional seperti PT Industri Kereta Api, Balai Yasa KAI, PINDAD, LEN, INTI, dan PT Adhi Karya Tbk, memiliki kemampuan yang baik untuk memproduksi monorel. Bahkan konsep dan desain monorel untuk barang atau kontainer juga sudah ada. Ironisnya, monorel di Bandung Raya direncanakan diimpor secara utuh dari Tiongkok dengan alasan investasi ini pembiayaan awalnya dari pihak CNMEIC.

Kami sangat prihatin melihat kondisi negeri ini yang akhir-akhir ini sering didikte oleh pihak BUMN dari Tiongkok yakni China National Machinery Export and Import Corporation (CNMEIC) dalam berbagai proyek pembangunan infrastruktur, seperti misalnya ketenagalistrikan. Begitu leluasanya CNMEIC memasukkan berbagai komponen impor. Sejak ditandatangani kontrak pengadaan, rekayasa, dan konstruksi atau EPC (engineering, procurement and construction) masalah lokalisasi komponen tidak tertangani secara serius. Praktis untuk megaproyek PLTU 10.000 MW jilid pertama yang berbasis batu bara itu komponen impor dari Tiongkok mendominasi seluruh proyek. Pemerintah belum membuat strategi ISI dalam megaproyek infrastruktur. Oleh karena itu, belum terlihat usaha serius untuk melibatkan SDM teknologi lokal seluas-luasnya dan memaksimalkan peran kontraktor dalam negeri.

Pembangunan monorel di Bandung mestinya memperhatikan tipologi para penumpang, dan jangan hanya berorientasi proyek yang padat modal. Pada saat ini merupakan momentum untuk mengembangkan angkutan umum massal. Pemerintah daerah perlu mengarahkan perpindahan moda agar sistem transportasi bisa efektif dan tidak semrawut. Perlu juga ditekankan pentingnya integrasi moda angkutan massal bus dengan kereta api untuk melayani para penumpang dari sekitar Kota Bandung. Para penumpang yang jumlahnya sangat besar itu setiap harinya itu sebaiknya diarahkan untuk menggunakan sistem transit berupa bus dan KA komuter yang nantinya didukung oleh keberadaan monorel.

Sebelum membangun monorel. Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung sebaiknya menuntaskan dua hal pokok yang mendasar, pertama menuntaskan dahulu pengembangan dan pelayanan Sistem Transit dan Bus Rapid Transit (BRT) yang mulai berlangsung. Kedua, membangun pemukiman para penumpang yang notabene adalah kaum buruh atau pekerja. Dari lokasi pemukiman para buruh dengan unit yang besar itu idealnya terlayani oleh jalur monorel. Harapan para buruh di Bandung Raya untuk memiliki rumah sendiri pun sebaiknya segera diwujudkan. Antara lain dengan menggenjot program kredit pemilikan rumah (KPR) sejahtera melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Meskipun belum sepenuhnya berjalan dengan baik, sistem transit di Kota Bandung harus menuju kondisi pelayanan BRT yang optimal dalam waktu dekat. Pemerintah Daerah harus serius dan tidak angin-anginan dalam mengembangkan sistem transit yakni Trans Metro Bandung. Selain itu, penggunaan Dana Alokasi Khusus dari APBN yang diberikan kepada daerah dengan tujuan untuk mendanai bidang transportasi pun perlu dioptimalkan.***

[diketik ulang dari Pikiran Rakyat cetak, Kamis, 28 Agustus 2014]

Intel Bay Trail

April 13, 2014 1 komentar

atom_logo

Arsitektur Bay Trail adalah jawaban Intel atas persaingan ketat yang ditunjukkan oleh produsen-produsen prosesor/SoC berbasis ARM. Intel dengan platform x86-nya terkenal dengan prosesor kuat sekaligus boros energi. Untuk penggunaan PC maupun server, Intel tidak punya halangan mengingat kedua jenis mesin komputasi tersebut selalu terhubung ke power supply.

Ketika dunia komputasi bergerak ke arah mobile, maka Intel kelabakan karena prosesor-prosesornya boros energi. Padahal untuk komunikasi mobile tidak mungkin sering-sering mampir ke wall plug untuk sekedar mengisi baterai. Bertolak belakang dengan Intel, ARM sejak awal memang didesain untuk penggunaan minim daya. Begitu komputasi mobile berkembang, semua perusahaan manufaktur elektronik kompak beralih platform ini. Mulai dari Texas Instrument, Qualcomm, Nvidia, Ericsson, Samsung, hingga Apple mengambil lisensi ARM untuk membangun platform komputasinya masing-masing. Intel praktis tidak bisa berbuat apa-apa di pasar yang berkembang pesat ini.

Sebetulnya Intel bukan tidak memiliki sama sekali jenis prosesor hemat daya. Intel Atom yang sejak awal didesain untuk netbook sebetulnya sudah termasuk low power, namun masih terlalu overkill (sekaligus relatif lebih boros) untuk penggunaan di smartphone. Barangkali itu sebabnya Intel memutuskan untuk membuat line baru prosesor untuk perangkat mobile generasi berikutnya.

Intel Atom Bay Trail

Ketimbang mendesain dari awal, rupanya Intel memutuskan lebih efisien jika menggunakan Atom sebagai basisnya. Sejauh ini Intel telah merilis beberapa Atom SoC yang digunakan oleh beberapa manufaktur elektronik. Sebut saja misalnya Lenovo dengan K800 dan Motorola RAZR i. Kedua produk tersebut termasuk sukses dan menempatkan kembali Intel di persaingan prosesor dunia, khususnya ceruk prosesor mobile yang selama ini dikuasai oleh platform ARM.

Intel_bay_Trail

Baytrail atau Bay Trail adalah kode yang digunakan oleh Intel untuk pengembangan Intel Atom generasi terkini. Clover Trail sebagai platform generasi sebelumnya, sebetulnya sudah sangat canggih. Namun rupanya Intel tidak mau bersantai-santai dalam mengejar ketertinggalannya. Hanya sekitar setahun setelah peluncuran Clover Trail, platform Bay Trail diluncurkan. Berikut ini perbandingan Bay Trail dan Clover Trail yang dirangkum oleh Mobile Geeks.

Intel-Prepares-Mighty-Bay-Trail-T-Atom-for-2014-22nm-CPU-4

Teknologi manufaktur yang digunakan untuk memproduksi Bay Trail sudah mencapai 22nm, terkecil yang ada saat ini, 30% lebih kecil dari Clover Trail. Ketahanan baterai untuk pemutaran video meningkat sekitar 20% hingga mampu bertahan lebih dari 11 jam. Berikut ini spesifikasi lengkap dari Intel Z3740 yang digunakan di ASUS Transformer Book T100.

atom z3740

Prosesor ini sudah memiliki 4 buah core dengan kemampuan menjalankan sistem operasi 64 bit. Clock speed diset pada 1,33 GHz sementara maksimalnya dapat mencapai 1,86 GHz. Tidak terlalu impresif jika dibandingkan dengan prosesor keluarga Core. Namun sejauh ini tidak memiliki tandingan sama sekali untuk menjalankan sistem operasi full seperti Windows, Linux/GNU, atau Mac OS X. Apalagi jika hendak diimplementasikan pada perlengkapan low-end yang dahulu pernah ditempati netbook.

Prosesor ini membuat kita tidak perlu lagi menahan diri terhadap kekhawatiran keterbatasan prosesor dalam memilih perangkat serbaguna gabungan antara tablet dan laptop. Kita tidak berhadapan pada prosesor ARM yang hanya dapat ditemui di dunia komputing terbatas seperti Android dan iOS. Kini full computing dapat dilakukan penuh secara mobile.

Cross posting dari asust100.

Disclaimer: Ini review, bukan advertorial. Penulis tidak mendapatkan apapun dari ASUS, Microsoft, Intel, maupun pihak-pihak lainnya.

Spesifikasi ASUS Transformer Book T100

April 11, 2014 2 komentar

ASUS Transformer Pad Infinity TF700T

ASUS memiliki beberapa line untuk produk convertible mereka. Pertama adalah Transformer Pad yang menggunakan Android, kemudian Transformer Book yang merupakan pure Windows 8.x convertible. Ada juga yang menggunakan Android sekaligus Windows 8.x yaitu Transformer Book Trio. Gambar di atas adalah ASUS Transformer Pad Infinity TF700T ber-OS Android yang tidak dijual di Indonesia. Selain itu ada lagi VivoTab, convertible yang termasuk ke dalam jajaran tablet premium.

Untuk Transformer Book T100, terdapat beberapa versi tergantung di negara mana dijualnya. Untuk versi US, yang dijual adalah versi dengan storage SSD 32GB dan 64GB saja. Harganya berkisar mulai dari $349 atau sekitar Rp 4 juta. Namun versi yang dijual di Indonesia adalah versi T100 dengan storage SSD 32GB plus SATA HDD 500GB dan SSD 64GB plus HDD 500GB. Itu sebabnya harganya di Indonesia rata-rata lebih mahal sekitar satu juta rupiah dibandingkan harga di US.

Untuk urusan otak, berikut ini adalah spesifikasi dari ASUS T100:

Prosesor Intel® Bay Trail-T Quad Core Z3740 Processor
Sistem Operasi Windows 8.1
Memori 2 GB
Display 10.1" 16:9 IPS HD (1366×768)
with Multi-Touch Screen
Grafis Integrated Intel® HD Graphics
Storage – 32GB eMMC With 500 GB HDD
– 64GB eMMC With 500 GB HDD

Sedangkan untuk koneksi dan fitur lainnya, ASUS T100 ini sudah cukup mumpuni sebagai tablet. Di antaranya adalah:

Card Reader 1 slot card reader (Micro SD )
Kamera 1.2 Mega Pixel web camera
Networking Terintegrasi 802.11 a/b/g/n
Built-in Bluetooth™ V4.0
Interface 1 x Microphone-in/Headphone-out jack
1 x USB 3.0 port(s)
1 x Micro USB
1 x micro HDMI

Microphone/headphone jack, micro USB, serta micro HDMI terletak di bagian utama tablet. Sedangkan USB 3.0 terletak di keyboard dock. USB 3.0 adalah generasi baru dari USB standar yang mendukung kecepatan yang jauh lebih tinggi dari pendahulunya. Jika membutuhkan berbagai hardware tambahan, kita dapat mengekstend port USB 3.0 ini dengan USB extender. Kelemahannya, ini tidak dapat dilakukan jika tablet tidak dipasang di dock-nya.

ASUS Transformer Book T100 telah dilengkapi dengan built-in speaker di bagian belakang tablet. Microphone terletak di bagian atas dekat dengan kamera.

Audio Built-in 2 Speakers And Array Microphone
Baterai 2Cells 31 Whrs Polymer Battery
Adaptor Daya Output :
5 V DC, 2 A, 10 W
5 V DC, 3 A, 15 W
Dimensi Tablet:
263 x 171 x 10.5 mm (WxDxH)
Dock:
263 x 171 x 13.1 mm (WxDxH)
Dock: (HDD Dock)
263 x 171 x 13.95 mm (WxDxH)
Berat Tablet:
0.55 kg
Dock:
0.52 kg
Dock: (HDD Dock)
0.60 kg

Menurut keterangan di situs asus.com, baterai yang ada di dalam unit yang dijual di Indonesia adalah sama persis dengan baterai yang dijual di US. Kemungkinan besar ketahanan baterai ini sedikit di bawah ASUS T100 yang beredar di US karena versi Indonesia sudah dilengkapi dengan HDD tambahan. Tentunya penambahan HDD akan memakan daya yang lebih banyak ketimbang unit yang tidak memilikinya. Apalagi HDD yang digunakan adalah jenis harddisk konvensional dengan unit berputar (motor) di dalamnya, yang berarti membutuhkan daya relatif besar.

Certificates UL, MIC, CE Marking Compliance, FCC Compliance, BSMI, Australia C-TICK / NZ A-Tick Compliance, CCC, GOST-R, CB, Energy star, IDA, Erp 2013, RoHS, JATE

Untuk keamanan pengguna, produk ini sudah compliant dan certified dengan berbagai standar industri dan produk konsumer yang ada di dunia. Selain sertifikasi internasional, tentu saja produk ini sudah lolos sertifikasi di Kementerian Kominfo.

sertifikasi

Cross posting dari asust100.

Disclaimer: Ini review, bukan advertorial. Penulis tidak mendapatkan apapun dari ASUS, Microsoft, Intel, maupun pihak-pihak lainnya.

ASUS T100, Tawaran Menarik


Cross posting dari asust100.

Disclaimer: Ini review, bukan advertorial. Penulis tidak mendapatkan apapun dari ASUS, Microsoft, Intel, maupun pihak-pihak lainnya.

Untuk anda yang hendak memulai perkenalan dengan Windows 8.x, ASUS Transformer Book T100 merupakan titik awal yang baik. Untuk ukuran laptop bertenaga Windows 8.x, memang ASUS T100 ini bukanlah yang termurah. Tetapi ada beberapa kelebihan yang menjadikannya laptop ini stands out dari laptop lainnya.

Pertama, ini bukan sekadar laptop, tetapi convertible laptop. Layar dapat di-detach dari keyboard sehingga berubah seketika menjadi tablet. Artinya, semua processing unit dan computing terletak di bagian layar. Ini signifikan sekali perbedaannya dibandingkan dengan berbagai laptop yang ada di pasaran. Pada umumnya laptop meletakkan bagian processing dan computing di bawah keyboard. Di pasaran komputer, ASUS T100 ini rupanya lebih terkenal sebagai tablet ketimbang laptop.

Kedua, meskipun masih menggunakan keluarga Intel Atom, generasi yang digunakan sudah berkembang sangat signifikan. Sejauh ini tidak ditemukan lag yang cukup berarti untuk aktivitas kerja normal. Intel Atom dengan arsitektur Bay Trail ini adalah jawaban dari Intel untuk perang prosesor yang beberapa tahun terakhir ini diambil alih oleh platform ARM karena hemat daya. Dengan Bay Trail, bukan hanya powerful, tapi prosesor ini sangat hemat daya sehingga untuk pemakaian normal, baterai internal mampu bertahan hingga 11 jam.

Ketiga, yang paling menarik dari laptop ini disamping bentuknya yang convertible adalah harganya yang hanya di kisaran Rp 5 juta rupiah saja. Harga ini sudah mencakup SSD sebesar 32GB, harddisk SATA 500GB, tablet beserta full keyboard dock, Microsoft Windows 8.1 Pro, dan Microsoft Office 2013 Home and Student Edition. Luar biasa bukan? Sebagai bandingan, pada masa 2 tahunan yang lalu, sebuah laptop Lenovo yang ekivalen (pada masanya) diberi label Rp 3 juta dan masih belum diinstal operating system apapun. Laptop ini out of the box dari Windows dan Officenya sendiri sudah berharga lebih dari Rp 2 juta. Sebuah penawaran yang membuat pencari budget laptop baru susah untuk menolaknya.

Ikuti artikel-artikel kami berikutnya dalam membedah ASUS T100 ini. Berbagai tips dan trik serta ulasan mengenai hardware terbaru yang terkait dengan ASUS T100 juga akan disajikan. Selamat menikmati.

%d blogger menyukai ini: