Archive

Archive for the ‘teknologi’ Category

Raspberry Pi dan Penyelamatan Jutaan Pohon


Raspberry Pi di atas adalah single board computer yang spesifikasinya setara dengan umumnya smartphone yang kita miliki. Mungkin sekarang smartphone kita rata-rata sudah lebih canggih lagi, karena persaingan antar brand semakin ketat.

Raspberry Pi 3 Model B yang ada di atas menggunakan CPU Broadcom BCM2837 dengan clock 1,2 GHz 64-bit quad-core ARM Cortex-A53 dan RAM 1GB. Nampak minim jika dibandingkan dengan handphone berharga sejutaan saat ini. Tapi melihat harganya yang hanya sekitar setengah juta rupiah saja, sepertinya setara dengan handphone yang harganya di kisaran tersebut.

Setelah diinstal Edubox, pengujian kami menunjukkan bahwa Raspberry Pi ini dapat menjadi server yang melayani ujian bersamaan untuk (setidaknya) dua kelas reguler. Dalam beberapa skenario bahkan bisa untuk 3 kelas secara simultan. Jika satu kelas reguler maksimal berisi 40 siswa, jika diambil nilai rata-ratanya maka 3 kelas tersebut setara dengan 100 siswa.

Anda tahu berapa kali ujian massal yang diikuti oleh setiap siswa? Jika dalam satu semester ada UTS dan UAS, maka dalam satu tahun ada 4 kali ujian massal. Anda pasti terkejut jika saya beri tahu bahwa setiap siswa membutuhkan setidaknya 340 lembar kertas untuk penggandaan soal dan lembar jawaban pada ke-empat ujian tersebut. Itu artinya 34.000 lembar kertas yang dibutuhkan oleh 100 siswa tadi, atau sama dengan 68 rim. Menurut referensi, 68 rim tadi kira-kira setara dengan 4 batang pohon!

Padahal tahun 2012 Antara menyatakan ada 58 juta siswa di Indonesia. Jika 58 juta siswa tadi menggunakan kertas dalam jumlah yang sama dalam setahunnya (anggap saja tidak hanya ujian, tapi juga catatan, menggambar, dsb), maka dalam setahun setidaknya 2.380.000 pohon ditebang!

Inilah misi kami di Edubox. Menghindari penebangan 2.380.000 pohon setahun, yang ditebang untuk pendidikan.

 

Tulisan ini pertama kali dipost di sini.

Hosting Murah dan Hosting Gratis

Desember 2, 2014 3 komentar

Bagi kita yang baru belajar hosting website, menggunakan server hosting berbayar mungkin akan terasa sebuah pemborosan. Sebab kita belum tahu bagaimana cara menggunakan serta mengoptimasikan fitur di server hosting. Banyak perusahaan yang menyediakan server hosting murah di Indonesia. Pertama kali belajar hosting, saya menggunakan servernya Qwords, perusahaan yang didirikan oleh Rendy Maulana, alumni SBM ITB angkatan pertama (2004). Qwords melayani pelanggannya dengan sangat baik. Support ticket mereka selalu cepat direspon dan cepat pula mendapatkan solusi.

Tetapi karena saya masih pemula dalam urusan hosting, saya belum bisa spend cukup banyak untuk paket hosting yang mumpuni. Sejauh ini service yang pernah saya gunakan di Qwords hanyalah paket hosting termurah, Rp 60.000 saja per tahun, tentunya selain pembelian beberapa domain ya. Tetapi hosting murah ini rupanya memiliki beberapa keterbatasan terkait fitur servernya. Waktu saya hendak mencoba sebuah plugin wordpress (sudah lupa plugin apa) ternyata butuh fasilitas tambahan yang tidak disediakan di paket termurah. Solusinya adalah harus upgrade ke paket yang lebih tinggi.

Tarif Personal Hosting - Qwords

Tarif Personal Hosting – Qwords

Suatu saat saya mendapatkan email iklan dari IDHostinger. IDHostinger ini sependek pantauan saya adalah anak perusahaan Hostinger Group yang berbasis di Cyprus. Mereka develop software hostingnya sendiri, sehingga tidak ada biaya tambahan untuk lisensi software seperti cpanel. Mungkin itu sebabnya mereka bisa memberi harga yang cukup signifikan murahnya.

Oh saya keliru, mereka bukan saja memberi fasilitas hosting murah, tapi bahkan hosting gratis dengan fitur lumayan mumpuni. Coba lihat fitur yang mereka tawarkan untuk hosting gratis berikut:

Paket Gratis IDHostinger

Paket Gratis IDHostinger

Itu belum termasuk (sub) domain gratis yang bisa kita dapatkan cuma-cuma lho. Tapi namanya juga (sub) domain, apa sih yang bisa dibanggakan.. hahaha… Lumayan lah, untuk menjajal ilmu server hosting yang baru kita pelajari. Saya pribadi menggunakan IDHostinger sebagai sandsack. Maksudnya memang memposisikannya sebagai tempat belajar. Hingga saat ini saya belum berencana ambil service yang berbayar dari sana. Ketimbang di IDHostinger (yang berpusat di Cyprus, Eropa), bukankah lebih baik pakai server lokal punya perusahaan lokal (yang sudah mendunia) saja? Qwords contohnya.

Disclaimer: Postingan ini berisi link afiliasi saya di IDHostinger dan Qwords. Kalau mau daftar ke sana, pakai link afiliasi saya ya 😉

Intel Bay Trail

April 13, 2014 1 komentar

atom_logo

Arsitektur Bay Trail adalah jawaban Intel atas persaingan ketat yang ditunjukkan oleh produsen-produsen prosesor/SoC berbasis ARM. Intel dengan platform x86-nya terkenal dengan prosesor kuat sekaligus boros energi. Untuk penggunaan PC maupun server, Intel tidak punya halangan mengingat kedua jenis mesin komputasi tersebut selalu terhubung ke power supply.

Ketika dunia komputasi bergerak ke arah mobile, maka Intel kelabakan karena prosesor-prosesornya boros energi. Padahal untuk komunikasi mobile tidak mungkin sering-sering mampir ke wall plug untuk sekedar mengisi baterai. Bertolak belakang dengan Intel, ARM sejak awal memang didesain untuk penggunaan minim daya. Begitu komputasi mobile berkembang, semua perusahaan manufaktur elektronik kompak beralih platform ini. Mulai dari Texas Instrument, Qualcomm, Nvidia, Ericsson, Samsung, hingga Apple mengambil lisensi ARM untuk membangun platform komputasinya masing-masing. Intel praktis tidak bisa berbuat apa-apa di pasar yang berkembang pesat ini.

Sebetulnya Intel bukan tidak memiliki sama sekali jenis prosesor hemat daya. Intel Atom yang sejak awal didesain untuk netbook sebetulnya sudah termasuk low power, namun masih terlalu overkill (sekaligus relatif lebih boros) untuk penggunaan di smartphone. Barangkali itu sebabnya Intel memutuskan untuk membuat line baru prosesor untuk perangkat mobile generasi berikutnya.

Intel Atom Bay Trail

Ketimbang mendesain dari awal, rupanya Intel memutuskan lebih efisien jika menggunakan Atom sebagai basisnya. Sejauh ini Intel telah merilis beberapa Atom SoC yang digunakan oleh beberapa manufaktur elektronik. Sebut saja misalnya Lenovo dengan K800 dan Motorola RAZR i. Kedua produk tersebut termasuk sukses dan menempatkan kembali Intel di persaingan prosesor dunia, khususnya ceruk prosesor mobile yang selama ini dikuasai oleh platform ARM.

Intel_bay_Trail

Baytrail atau Bay Trail adalah kode yang digunakan oleh Intel untuk pengembangan Intel Atom generasi terkini. Clover Trail sebagai platform generasi sebelumnya, sebetulnya sudah sangat canggih. Namun rupanya Intel tidak mau bersantai-santai dalam mengejar ketertinggalannya. Hanya sekitar setahun setelah peluncuran Clover Trail, platform Bay Trail diluncurkan. Berikut ini perbandingan Bay Trail dan Clover Trail yang dirangkum oleh Mobile Geeks.

Intel-Prepares-Mighty-Bay-Trail-T-Atom-for-2014-22nm-CPU-4

Teknologi manufaktur yang digunakan untuk memproduksi Bay Trail sudah mencapai 22nm, terkecil yang ada saat ini, 30% lebih kecil dari Clover Trail. Ketahanan baterai untuk pemutaran video meningkat sekitar 20% hingga mampu bertahan lebih dari 11 jam. Berikut ini spesifikasi lengkap dari Intel Z3740 yang digunakan di ASUS Transformer Book T100.

atom z3740

Prosesor ini sudah memiliki 4 buah core dengan kemampuan menjalankan sistem operasi 64 bit. Clock speed diset pada 1,33 GHz sementara maksimalnya dapat mencapai 1,86 GHz. Tidak terlalu impresif jika dibandingkan dengan prosesor keluarga Core. Namun sejauh ini tidak memiliki tandingan sama sekali untuk menjalankan sistem operasi full seperti Windows, Linux/GNU, atau Mac OS X. Apalagi jika hendak diimplementasikan pada perlengkapan low-end yang dahulu pernah ditempati netbook.

Prosesor ini membuat kita tidak perlu lagi menahan diri terhadap kekhawatiran keterbatasan prosesor dalam memilih perangkat serbaguna gabungan antara tablet dan laptop. Kita tidak berhadapan pada prosesor ARM yang hanya dapat ditemui di dunia komputing terbatas seperti Android dan iOS. Kini full computing dapat dilakukan penuh secara mobile.

Cross posting dari asust100.

Disclaimer: Ini review, bukan advertorial. Penulis tidak mendapatkan apapun dari ASUS, Microsoft, Intel, maupun pihak-pihak lainnya.

Spesifikasi ASUS Transformer Book T100

April 11, 2014 2 komentar

ASUS Transformer Pad Infinity TF700T

ASUS memiliki beberapa line untuk produk convertible mereka. Pertama adalah Transformer Pad yang menggunakan Android, kemudian Transformer Book yang merupakan pure Windows 8.x convertible. Ada juga yang menggunakan Android sekaligus Windows 8.x yaitu Transformer Book Trio. Gambar di atas adalah ASUS Transformer Pad Infinity TF700T ber-OS Android yang tidak dijual di Indonesia. Selain itu ada lagi VivoTab, convertible yang termasuk ke dalam jajaran tablet premium.

Untuk Transformer Book T100, terdapat beberapa versi tergantung di negara mana dijualnya. Untuk versi US, yang dijual adalah versi dengan storage SSD 32GB dan 64GB saja. Harganya berkisar mulai dari $349 atau sekitar Rp 4 juta. Namun versi yang dijual di Indonesia adalah versi T100 dengan storage SSD 32GB plus SATA HDD 500GB dan SSD 64GB plus HDD 500GB. Itu sebabnya harganya di Indonesia rata-rata lebih mahal sekitar satu juta rupiah dibandingkan harga di US.

Untuk urusan otak, berikut ini adalah spesifikasi dari ASUS T100:

Prosesor Intel® Bay Trail-T Quad Core Z3740 Processor
Sistem Operasi Windows 8.1
Memori 2 GB
Display 10.1" 16:9 IPS HD (1366×768)
with Multi-Touch Screen
Grafis Integrated Intel® HD Graphics
Storage – 32GB eMMC With 500 GB HDD
– 64GB eMMC With 500 GB HDD

Sedangkan untuk koneksi dan fitur lainnya, ASUS T100 ini sudah cukup mumpuni sebagai tablet. Di antaranya adalah:

Card Reader 1 slot card reader (Micro SD )
Kamera 1.2 Mega Pixel web camera
Networking Terintegrasi 802.11 a/b/g/n
Built-in Bluetooth™ V4.0
Interface 1 x Microphone-in/Headphone-out jack
1 x USB 3.0 port(s)
1 x Micro USB
1 x micro HDMI

Microphone/headphone jack, micro USB, serta micro HDMI terletak di bagian utama tablet. Sedangkan USB 3.0 terletak di keyboard dock. USB 3.0 adalah generasi baru dari USB standar yang mendukung kecepatan yang jauh lebih tinggi dari pendahulunya. Jika membutuhkan berbagai hardware tambahan, kita dapat mengekstend port USB 3.0 ini dengan USB extender. Kelemahannya, ini tidak dapat dilakukan jika tablet tidak dipasang di dock-nya.

ASUS Transformer Book T100 telah dilengkapi dengan built-in speaker di bagian belakang tablet. Microphone terletak di bagian atas dekat dengan kamera.

Audio Built-in 2 Speakers And Array Microphone
Baterai 2Cells 31 Whrs Polymer Battery
Adaptor Daya Output :
5 V DC, 2 A, 10 W
5 V DC, 3 A, 15 W
Dimensi Tablet:
263 x 171 x 10.5 mm (WxDxH)
Dock:
263 x 171 x 13.1 mm (WxDxH)
Dock: (HDD Dock)
263 x 171 x 13.95 mm (WxDxH)
Berat Tablet:
0.55 kg
Dock:
0.52 kg
Dock: (HDD Dock)
0.60 kg

Menurut keterangan di situs asus.com, baterai yang ada di dalam unit yang dijual di Indonesia adalah sama persis dengan baterai yang dijual di US. Kemungkinan besar ketahanan baterai ini sedikit di bawah ASUS T100 yang beredar di US karena versi Indonesia sudah dilengkapi dengan HDD tambahan. Tentunya penambahan HDD akan memakan daya yang lebih banyak ketimbang unit yang tidak memilikinya. Apalagi HDD yang digunakan adalah jenis harddisk konvensional dengan unit berputar (motor) di dalamnya, yang berarti membutuhkan daya relatif besar.

Certificates UL, MIC, CE Marking Compliance, FCC Compliance, BSMI, Australia C-TICK / NZ A-Tick Compliance, CCC, GOST-R, CB, Energy star, IDA, Erp 2013, RoHS, JATE

Untuk keamanan pengguna, produk ini sudah compliant dan certified dengan berbagai standar industri dan produk konsumer yang ada di dunia. Selain sertifikasi internasional, tentu saja produk ini sudah lolos sertifikasi di Kementerian Kominfo.

sertifikasi

Cross posting dari asust100.

Disclaimer: Ini review, bukan advertorial. Penulis tidak mendapatkan apapun dari ASUS, Microsoft, Intel, maupun pihak-pihak lainnya.

ASUS T100, Tawaran Menarik


Cross posting dari asust100.

Disclaimer: Ini review, bukan advertorial. Penulis tidak mendapatkan apapun dari ASUS, Microsoft, Intel, maupun pihak-pihak lainnya.

Untuk anda yang hendak memulai perkenalan dengan Windows 8.x, ASUS Transformer Book T100 merupakan titik awal yang baik. Untuk ukuran laptop bertenaga Windows 8.x, memang ASUS T100 ini bukanlah yang termurah. Tetapi ada beberapa kelebihan yang menjadikannya laptop ini stands out dari laptop lainnya.

Pertama, ini bukan sekadar laptop, tetapi convertible laptop. Layar dapat di-detach dari keyboard sehingga berubah seketika menjadi tablet. Artinya, semua processing unit dan computing terletak di bagian layar. Ini signifikan sekali perbedaannya dibandingkan dengan berbagai laptop yang ada di pasaran. Pada umumnya laptop meletakkan bagian processing dan computing di bawah keyboard. Di pasaran komputer, ASUS T100 ini rupanya lebih terkenal sebagai tablet ketimbang laptop.

Kedua, meskipun masih menggunakan keluarga Intel Atom, generasi yang digunakan sudah berkembang sangat signifikan. Sejauh ini tidak ditemukan lag yang cukup berarti untuk aktivitas kerja normal. Intel Atom dengan arsitektur Bay Trail ini adalah jawaban dari Intel untuk perang prosesor yang beberapa tahun terakhir ini diambil alih oleh platform ARM karena hemat daya. Dengan Bay Trail, bukan hanya powerful, tapi prosesor ini sangat hemat daya sehingga untuk pemakaian normal, baterai internal mampu bertahan hingga 11 jam.

Ketiga, yang paling menarik dari laptop ini disamping bentuknya yang convertible adalah harganya yang hanya di kisaran Rp 5 juta rupiah saja. Harga ini sudah mencakup SSD sebesar 32GB, harddisk SATA 500GB, tablet beserta full keyboard dock, Microsoft Windows 8.1 Pro, dan Microsoft Office 2013 Home and Student Edition. Luar biasa bukan? Sebagai bandingan, pada masa 2 tahunan yang lalu, sebuah laptop Lenovo yang ekivalen (pada masanya) diberi label Rp 3 juta dan masih belum diinstal operating system apapun. Laptop ini out of the box dari Windows dan Officenya sendiri sudah berharga lebih dari Rp 2 juta. Sebuah penawaran yang membuat pencari budget laptop baru susah untuk menolaknya.

Ikuti artikel-artikel kami berikutnya dalam membedah ASUS T100 ini. Berbagai tips dan trik serta ulasan mengenai hardware terbaru yang terkait dengan ASUS T100 juga akan disajikan. Selamat menikmati.

Prospek x86 dalam dunia mobile


x86 belum terlihat taringnya. Dia masih tertinggal jauh dari ARM dalam ranah mobile. Mampukah suatu saat x86 menyainginya?

  1. Bang Firstman Marpaung bercerita tentang gaharnya procesor dual core Intel di HP Lenovo K900 #DinnerDevBdg #IntelDevID
  2. Oh iya, yang bang Firstman sampaikan sebetulnya berita dari detik http://t.co/4cnGjImEHo #DinnerDevBdg #IntelDevID
  3. Padahal prosesor intel yg dimaksud cuman dual core, sedangkan punya samsung (hampir) 8 core #DinnerDevBdg #IntelDevID
  4. Sebetulnya itu bukanlah hal yang aneh, sebab yang dibandingkan adalah X86 dengan ARM #DinnerDevBdg #IntelDevID
  5. Sejak dulu, X86 memang terkenal dengan performanya. Semua prosesor komputasi yang tangguh, adalah jenis ini. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  6. X86 memang legendanya Intel. Semakin melegenda karena sejak awal dipilih IBM untuk PCnya. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  7. Apalagi Microsoft juga kerja sama erat dengan IBM dalam memasarkan OSnya, yang memang berbasis x86 #DinnerDevBdg #IntelDevID
  8. Itu sebabnya x86 secara arsitektural berada beberapa generasi di depan ARM. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  9. Namun kenapa pasar Intel masih kalah jauh dari ARM? Arsitektur ini pula lah jawabannya.. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  10. x86 sejak awal didesain utk PC.Sebuah mesin komputasi yg diletakkan di atas meja,terpasang ke wall socket(listrik) #DinnerDevBdg #IntelDevID
  11. x86 didesain untuk kerja berat, dan tidak menempatkan penggunaan daya sebagai constrain utama #DinnerDevBdg #IntelDevID
  12. Itu sebabnya prosesor2 Intel sangar, tapi haus daya. Makan batere luar biasa. Shg tidak cocok untuk mobile device. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  13. Di sinilah tantangan berat bagi para engineer Intel. Mendesain prosesor baru yang hemat daya. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  14. Apakah mereka harus membuat arsitektur yang sepenuhnya baru? Wah itu cost yang luar biasa mahal. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  15. Opsi terbaik tentu gunakan base design yang ada, kemudian di-engineer supaya sesuai utk kebutuhan mobile. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  16. Menurut Intel, (sub-) arsitektur Clover Trail-lah jawabannya. Bukan begitu Bang Firstman? 🙂 #DinnerDevBdg #IntelDevID
  17. Jika penggunaan daya sudah dapat diatasi, maka Intel berada jauh di depan para pesaingnya. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  18. Kalau di prosesor PC, kompetitor Intel nyaris cuman satu: AMD. Tapi di mobile, kompetitornya banyak sekali. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  19. Ada Qualcom dg Snapdragon family-nya. Ada TI dg OMAP-nya (baru gulung tikar.. hee..). Ada Samsung dg Exynos-nya #DinnerDevBdg #IntelDevID
  20. Kemudian ada Allwinner,STM,Atmel,Marvell, dan yang sekarang lagi heboh: MediaTek dengan MT6589-nya. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  21. Oh iya, satu lagi. AMD ternyata juga sudah mengambil lisensi ARM juga lhoo… Lengkap seluruh dunia melawan Intel. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  22. Klo Intel gagal deliver prosesor x86 yg hemat daya,habislah mrk. Semua device sekarang berubah jadi gadget mobile. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  23. Intel Clover Trail ini, klo marketingnya sukses,akan membuat gadget kita di masa depan jauh lbh hebat dr sekarang. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  24. Ilustrasi sederhananya begini. Anda tahu kekuatan server? Bayangkan prosesor sekuat itu ada di kantong anda. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  25. Bagaimana dengan ARM? Mereka TIDAK punya prosesor server. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  26. Hal terbaik yg bisa mereka lakukan adalah ini: Menumpuk-numpuk core hingga berlapis2. Exynos 5 Octa itu contohnya. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  27. Padahal hanya dengan dual core saja Intel dapat mengalahkannya http://t.co/H65hMLItUG #DinnerDevBdg #IntelDevID
  28. Nah, sekarang tantangannya adalah mampukah mereka (Intel) mengajak para manufakturer dan developer menggunakannya? #DinnerDevBdg #IntelDevID
  29. Manufakturer sudah terbiasa dg ARM. Mengganti jenis prosesor artinya mengganti semua desain. Membuat produk baru. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  30. Membuat produk baru, artinya riset baru. Riset baru, artinya gelontoran dana. Padahal belum tentu laku lho… #DinnerDevBdg #IntelDevID
  31. Sebab aplikasi yang dibuat untuk platform ARM, tidak akan jalan di platform x86. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  32. Kecuali aplikasi tadi dicompile untuk kedua jenis platform. Nah, compiler keduanya berbeda lho… #DinnerDevBdg #IntelDevID
  33. Tapi Intel sejak awal sudah menyiapkannya. Bahkan sudah bekerja sama dengan Google untuk pendistribusiannya. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  34. Misalkan, jika anda mendownload Android SDK menggunakan SDK Manager, maka akan ada opsi platform x86 di sana. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  35. Masalahnya lagi, arsitektur kedua platform itu berbeda. Prosesor Intel sudah punya HyperThreading, ARM tidak ada. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  36. Jadi kalau ada developer bikin app memanfaatkan HT pada prosesor Intel, ngga bakalan jalan di prosesor ARM. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  37. Ini satu masalah jg. Artinya developer hrs mencari workaround utk mengatasinya. Bagus klo Intel sdh memikirkannya. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  38. Jadi memang PR besar bagi Intel untuk menjembatani manufakturer dengan developer. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  39. Tapi sebetulnya itu bukan masalah besar. Aplikasi2 yg ada rata-rata tidak memanfaatkan fitur2 aneh di prosesor. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  40. Aplikasi apa sih yang memanfaatkan HT di PC? Paling cuma OS-nya saja kan? #DinnerDevBdg #IntelDevID
  41. Kalau Intel berhasil membuat prosesornya mainstream di gadget mobile, mereka bisa mulai melisensikannya. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  42. Nanti Quallcomm bisa produksi x86, Samsung, MediaTek, dll juga bisa. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  43. Nah, sekarang seperti apa potensi ke depannya, dengan adanya prosesor sangar di smartphone? #DinnerDevBdg #IntelDevID
  44. Kita bisa mengimplementasikan komputasi2 ‘gila’ di dalam sebuah gadget. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  45. Voice Recognition misalnya, tidak perlu dijalankan secara cloud seperti Siri dan Google Voice. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  46. Layanan seperti itu bisa diimplementasikan di handset secara offline, seperti halnya aplikasi2 sejenis di PC. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  47. Software komputasi serba bisa seperti Matlab atau Mathematica bisa dibuat versi mobilenya. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  48. Itu sebabnya jk kita melihat promo2nya Intel, banyak yg pakai komputasi tingkat tinggi. Image processing misalnya. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  49. Bukan berarti image processing ngga bisa jalan di ARM lho ya… tapi performance-nya memang beda. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  50. Meski demikian, ARM masih terus berkembang. Di masa depan mungkin ARM bisa menutupi kekurangan ini. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  51. Mudah2an saja Intel dapat segera memasarkan secara luas prosesor mobilenya. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  52. Semakin banyak pilihan, akan semakin baik untuk developer dan consumer. Sebab akan ada persaingan. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  53. Sedikit tambahan, sebetulnya selain ARM dan x86, ada platform lain yang sempat diproduksi untuk tablet Android. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  54. Namanya MIPS http://t.co/qrLjICpO4C. Entah kenapa, saya tidak pernah dengar lagi android pakai prosesor ini. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  55. Mungkin developer malas mengcompile appnya utk platform ini,shg hampir ga ada app yg bisa didownload dr play store #DinnerDevBdg #IntelDevID
  56. Untung saja Intel perush raksasa. Vendor2 mitranya pasti bisa diajak utk produksi handset berbasis prosesor mrk. #DinnerDevBdg #IntelDevID
  57. Oh iya, implementasi x86 di Android sangat disupport Intel. Mrk sampai bikin bbrp tool utk developer. http://t.co/kJFqE7iikV #IntelDevID
  58. Saya belum coba, tapi mudah2an tool2 unik mereka bisa diimplementasikan juga untuk platform ARM… hehe… #DinnerDevBdg #IntelDevID

Menilai Pesawat Cina


Pada kolom Opini Republika hari Senin 5 Maret 2012 saudara Marwan Batubara mengungkapkan penilaiannya terhadap pembelian pesawat Cina oleh maskapai penerbangan Indonesia. Tercatat baru satu maskapai saja, yaitu Merpati, yang sudah membeli pesawat buatan perusahaan asal Cina. Pembelian ini dilakukan pada 2010 untuk pengadaan 15 buah pesawat tipe MA-60 buatan Xi’an Aircraft Industrial Corporation. Kemudian pada Singapore Airshow bulan lalu Merpati bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) juga telah menandatangani MoU pembelian pesawat tipe ARJ 21-700 buatan Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC).

Kasus MA-60

Pesawat MA-60 milik Merpati

Saudara Marwan menyebutkan bahwa Indonesia harus mengevaluasi pembelian pesawat dari Cina karena produknya dianggap buruk dan tidak memenuhi standar. Penilaian ini terkait dengan jatuhnya salah satu pesawat MA-60 milik Merpati di Kaimana tahun lalu dan ketiadaan sertifikat FAA untuk tipe tersebut.

Sebetulnya cara penilaian seperti ini tidaklah tepat. Ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Perlu diketahui bahwa pesawat yang baru diperkenalkan kepada public tahun 2000 ini baru satu buah saja yang mengalami kecelakaan sangat fatal hingga merenggut korban jiwa. Bandingkan dengan jumlah kecelakaan yang menimpa pesawat Boeing tipe B-737 dari semua seri yang mencapai lebih dari 300 kecelakaan fatal dengan total korban tewas lebih dari 4000 orang sejak diperkenalkan pada tahun 1967. Apakah dengan demikian menjadikan B-737 pesawat yang buruk? Untuk menyimpulkan penyebab kecelakaan haruslah dilakukan investigasi yang menyeluruh oleh lembaga berwenang (di Indonesia dilakukan oleh KNKT).

Begitu juga dengan sertifikasi FAA. FAA adalah sebuah agensi di Departemen Perhubungan Amerika Serikat yang kurang lebih setara dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara di lingkungan Kementerian Perhubungan. Keduanya mengatur sertifikasi pesawat yang digunakan di wilayah udaranya masing-masing berdasarkan standar internasional yang sama yang dikeluarkan oleh International Civil Aviation Organization (ICAO). Lantas mengapa pesawat yang dibeli dari Cina dan hendak digunakan secara domestik di Indonesia harus dikirim ke Amerika terlebih dahulu untuk disertifikasi di sana? Padahal pesawat tersebut sudah lulus sertifikasi di kedua negara, Indonesia dan Cina, dengan standar yang sama dengan FAA. Baca selanjutnya…

%d blogger menyukai ini: