Arsip

Archive for the ‘pribadi’ Category

Tahun baru, rumah baru… fathinashrullah.net

Januari 5, 2015 3 komentar

Ini adalah post terakhir di fathiiiii.wordpress.com. Sejak tulisan ini, tidak akan ada lagi tulisan baru di sini. Seluruh history yang ada di blog ini sudah dimigrasikan ke http://fathinashrullah.net. Tulisan-tulisan baru akan muncul di sana.

Terima kasih wordpress.com, selamat datang wordpress.org

*gambar dari sini.

Iklan
Kategori:pribadi

Hosting Murah dan Hosting Gratis

Desember 2, 2014 3 komentar

Bagi kita yang baru belajar hosting website, menggunakan server hosting berbayar mungkin akan terasa sebuah pemborosan. Sebab kita belum tahu bagaimana cara menggunakan serta mengoptimasikan fitur di server hosting. Banyak perusahaan yang menyediakan server hosting murah di Indonesia. Pertama kali belajar hosting, saya menggunakan servernya Qwords, perusahaan yang didirikan oleh Rendy Maulana, alumni SBM ITB angkatan pertama (2004). Qwords melayani pelanggannya dengan sangat baik. Support ticket mereka selalu cepat direspon dan cepat pula mendapatkan solusi.

Tetapi karena saya masih pemula dalam urusan hosting, saya belum bisa spend cukup banyak untuk paket hosting yang mumpuni. Sejauh ini service yang pernah saya gunakan di Qwords hanyalah paket hosting termurah, Rp 60.000 saja per tahun, tentunya selain pembelian beberapa domain ya. Tetapi hosting murah ini rupanya memiliki beberapa keterbatasan terkait fitur servernya. Waktu saya hendak mencoba sebuah plugin wordpress (sudah lupa plugin apa) ternyata butuh fasilitas tambahan yang tidak disediakan di paket termurah. Solusinya adalah harus upgrade ke paket yang lebih tinggi.

Tarif Personal Hosting - Qwords

Tarif Personal Hosting – Qwords

Suatu saat saya mendapatkan email iklan dari IDHostinger. IDHostinger ini sependek pantauan saya adalah anak perusahaan Hostinger Group yang berbasis di Cyprus. Mereka develop software hostingnya sendiri, sehingga tidak ada biaya tambahan untuk lisensi software seperti cpanel. Mungkin itu sebabnya mereka bisa memberi harga yang cukup signifikan murahnya.

Oh saya keliru, mereka bukan saja memberi fasilitas hosting murah, tapi bahkan hosting gratis dengan fitur lumayan mumpuni. Coba lihat fitur yang mereka tawarkan untuk hosting gratis berikut:

Paket Gratis IDHostinger

Paket Gratis IDHostinger

Itu belum termasuk (sub) domain gratis yang bisa kita dapatkan cuma-cuma lho. Tapi namanya juga (sub) domain, apa sih yang bisa dibanggakan.. hahaha… Lumayan lah, untuk menjajal ilmu server hosting yang baru kita pelajari. Saya pribadi menggunakan IDHostinger sebagai sandsack. Maksudnya memang memposisikannya sebagai tempat belajar. Hingga saat ini saya belum berencana ambil service yang berbayar dari sana. Ketimbang di IDHostinger (yang berpusat di Cyprus, Eropa), bukankah lebih baik pakai server lokal punya perusahaan lokal (yang sudah mendunia) saja? Qwords contohnya.

Disclaimer: Postingan ini berisi link afiliasi saya di IDHostinger dan Qwords. Kalau mau daftar ke sana, pakai link afiliasi saya ya 😉

Lets blog more!

Januari 2, 2012 1 komentar

Blogging is a wonderful hobby. It’s basically a will to share things. When this will meets writing you will never know how great it is until you experience it your self.

Blogging is a hobby that last. It will last as long as the writings are there. Unlike social media that awkwardly dubbed as microblogging, the writing in a blog will give a bigger impact since it is written (mostly) more carefully and relatively longer than a status in facebook or a tweet in twitter (thus makes it better digested by our brain before they’re published/posted).

The will to share basically is a good thing. We can share our knowledge, experience, even our feeling about something. The excitement comes when we get a feedback from others. Some readers sometimes share back to you about their experience on the same object you share based on their point of view. Some of them agree and maybe some of them disagree, thus discussions are started.

This kind of activity is a natural thing for us as human being. People love to share and they love to be responded. For some extent this behaviour makes the social networking grow rapidly because they can share things and get the response from their friends almost instantly. This makes many people addicted and caused them to pursue popularity, at least in their circle of influence. At this point, “sharing” become embarrassing because people will share everything, ranging from what they feel, what they see at that second, what they eat for breakfast-lunch-dinner, what they think about someone next to them in a public transport, even some very-unimportant-expressions such us “hmm…”, “wow”, “lho”, etc. To make it worse, all of that very-unimportant-expressions are delivered to us as is, everytime all day long. Most people won’t bother to set a proper settings for them. They just embarraassed. This makes social media become unsocial.

On the other hand, a well written writing will raise a better response. It’s a reciprocal, when you give better you will get better in return. If you seriously make a post (even when the content is not intended to be serious) you will get a seriously written response (although the content is not a serious one). This makes regular blogging will give a better advantage than microblogging in terms of response quality. And better response quality will invite a better discussion. Thus challenge us to dig deeper about something we share and make brain circulation more fluid and dynamic. That’s why i previously said that blogging will last.

So, let’s blog more.

Berbagai ekspresi Farouq

Agustus 13, 2010 5 komentar

Malaysia, I’m coming..

Februari 9, 2009 1 komentar

Tanggal 28 Januari 2009 menjadi saat pertama kalinya bagi saya menginjakkan kaki di luar negeri. Dan negeri itu adalah negeri Malaysia, tetangga kami. Sebuah negara yang dalam beberapa hal lebih beruntung dari Indonesia.

Pemandangan yang berbeda sudah saya rasakan sejak menjelang mendarat di bandara Kuala Lumpur (LCCT). Hutan kelapa sawit terbentang sangat luas di sekitar bandara. Sangat luas tak terputus, hingga seakan kita menyangka bahwa pesawat akan mendarat di tengah-tengah hutan, bukan di bandara yang sangat megah.

Alhamdulillah, prosedural imigrasi berhasil dilewati tanpa mengalami hambatan berarti. Sebelumnya sempat cukup khawatir dengan pos imigrasi ini karena saya memang masuk ke Malaysia tanpa single entry visa seperti yang biasa digunakan oleh mahasiswa internasional yang baru datang. Tetapi setelah melewati setengah jam di kantor imigrasi dengan penuh dengan rasa was-was, akhirnya saya dipersilakan untuk melewati pos pemeriksaan imigrasi untuk kemudian keluar dari bandara. Lega sekali rasanya, mengetahui bahwa saya tidak punya masalah imigrasi, walaupun sedikit menyesal karena telah membeli tiket kembali ke Indonesia secara random (minta dicarikan yang paling murah di counter AirAsia bandara) agar bisa jadi kartu truf ketika bermasalah di imigrasi.

Menuju bus station (Puduraya) atau railway station (KL Sentral) dari Airport Kuala Lumpur tidaklah susah. Kita bisa menggunakan shuttle bus yang ada, atau juga bisa menuju KLIA terlebih dahulu jika ingin menggunakan kereta api menuju KL Sentral. Saya memilih menggunakan kereta api, karena menurut websitenya, kereta api antar kota di Malaysia sangat nyaman. Dengan shuttle bus Aerobus, kita hanya perlu membayar RM8 untuk mencapai KL Sentral. Memerlukan waktu sekitar satu jam saja (tanpa kemacetan) untuk mencapainya. Sepertinya lebih jauh daripada jarak bandara Soeta – Gambir.

KL Sentral memang stasiun kereta api yang sangat besar. Saya tidak tahu persis letaknya di kota Kuala Lumpur, tapi sepertinya memang ada di tengah-tengah, seperti namanya, KL Sentral. Papan informasi dan penunjuk arah juga sangat informatif. Kita tidak akan tersesat di dalamnya, walaupun mungkin saja kita tertinggal kereta karena salah arah.

Saya cukup terkejut ketika loket kereta antarkota menyatakan bahwa hingga tanggal 31 Januari tiket kereta sudah habis. Mungkin karena sedang musim liburan tahun baru China. Akhirnya saya minta saran pada petugas information center yang ada di dalam stasiun. Dia menyarankan agar menggunakan bus dari stasiun Puduraya (Plaza Rakyat). Tempatnya tidak jauh dari KL Sentral, hanya perlu dua kali menggunakan KL Rapid. Memang tidak jauh, hanya beberapa menit saja waktu tempuhnya. Hanya saja karena saat itu saya sedang membawa satu buah koper besar, satu buah tas jinjing, serta satu buah tas ransel, maka jarak yang tak terlalu jauh itu menjadi cukup melelahkan. Kelelahan itu akhirnya terbayar dengan masih adanya tiket bus menuju Kangar. Alhamdulillah.

Ini memang salah satu kemudahan yang Allah berikan pada. Bayangkan saja, di saat tiket kereta api yang harga tiketnya rata-rata lebih mahal dan waktu tempuhnya lebih mahal habis, tapi tiket bus yang relatif lebih murah dan waktu tempuhnya lebih cepat masih tersisa.

Waktu keberangkatan bus memang masih lama ketika saya sampai di terminal Puduraya. Saya masih harus menunggu sekitar 2 jam. Busnya besar, dan jika dibandingkan dengan ukuran bus di Indonesia amatlah tidak lazim. Belakangan saya baru tahu bahwa rata-rata bus di Malaysia memang sebesar itu. Alhamdulillah, perjalanan selama 7 jam bisa dinikmati dengan beristirahat. Kursinya nyaman dan lebar, tidak sesempit kursi Kramat Djati di semua jurusan. ACnya juga bisa diatur. Tidak heran kalau harga tiketnya RM43. Tiba di kota Kangar kemudian mencari taksi, 5 menit kemudian sampai di Kolej Kediaman A, Tunku Abdul Rahman.

Sekali lagi Alhamdulillah.

Pengalaman baru, subhanallah..


Alhamdulillah…

Beberapa belas hari terakhir ini saya mendapatkan anugerah baru yang luar biasa. Banyak sekali yang ingin saya share dalam blog ini. Saking banyaknya, jadi bingung hendak dari mana akan saya mulai. Tapi perjalanan ini benar-benar meningkatkan rasa syukur saya pada Sang Pencipta, bahwa kemudahanNya tak akan pernah surut datang jika kita memang memintanya demikian.

Insya Allah ini akan menjadi awal baru yang lebih baik bagi saya, keluarga, dan tentunya dakwah Islam di dunia ini. Amin.

Menjelang Resign


Sekitar satu setengah bulan yang lalu, saya terlibat percakapan kecil di sela-sela scripting program C untuk AVR, dengan kawan karib yang saat itu sedang menunggu masa-masa resign dari kantornya. Dia bilang, masa-masa seperti ini adalah masa yang sangat membosankan.

Pekerjaan sudah dikurangi untuk mengantisipasi kekosongan yang kita tinggalkan, sementara kita masih harus masuk, karena memang perjanjiannya adalah hingga tanggal yang sudah ditetapkan (katakanlah, akhir bulan). Nyaris sudah tidak ada kerjaan yang tersisa, tetapi perusahaan masih membayar (menggaji) kita. Jadi tak ada alasan bagi kita untuk tidak masuk kantor.

Akhirnya di kantor hanya bisa duduk termanggu, sesekali buka email, cek facebook, ngajak chatting orang, dan segala pekerjaan membosankan lainnya. Atau paling banter mungkin bikin tulisan di blog seperti saya ini 😀

Tapi bagi saya, ini cukup sepadan. Sekitar satu setengah bulan yang lalu, pertengahan nopember, ketika saya mengajukan resignation, keadaan tidak memungkinkan bagi saya untuk segera keluar awal bulan desember. Bahkan saya diberi tanggung jawab yang lebih besar untuk memimpin tim selama bulan desember ini. Otomatis keadaan saya selama satu bulan terakhir sangat sibuk. Sebenarnya bukan sibuk memimpin tim, tetapi karena pekerjaan saya jadi ter-redefinisi, muncul target baru yang harus dikejar.

Akhirnya baru beberapa hari terakhir ini saja saya merasakan pengurangan yang luar biasa dalam beban kerja. Pekerjaan hanya jadi urusan di kantor saja. Tidak perlu lagi dibawa ke rumah. Ditambah lagi dengan banyaknya hari libur di akhir tahun ini.

Semuanya membuat saya siap untuk segera mengundurkan diri, mengejar mimpi yang lain. Insya Allah…

Kategori:pribadi
%d blogger menyukai ini: