Arsip

Archive for the ‘artikel’ Category

Akhirnya BPJS Juga

Desember 10, 2014 1 komentar

Logo BPJS Kesehatan

Logo BPJS Kesehatan

Akhir tahun ini di berbagai dunia kerja di Indonesia terjadi berbagai kehebohan terkait BPJS. Penyebabnya adalah pemerintah memajukan dateline kewajiban kepesertaan BUMN dan perusahaan swasta dalam program BPJS menjadi 1 Januari 2015. Peraturan ini ditetapkan oleh Presiden SBY pada tahun lalu (2013) melalui Peraturan Presiden No. 111/2013. Perpres ini adalah mengubah Perpres yang keluar sebelumnya, yaitu No. 12/2013. Sebelumnya perusahaan swasta, usaha mikro, dan orang pribadi paling lambat mendaftar pada 1 Januari 2019.

Pro dan kontra di internal perusahaan pasti akan terjadi, terutama di perusahaan-perusahaan yang fasilitas kesehatannya selama ini sudah dirasa sangat baik. Sebab kita sering sekali mendengar keluhan seputar pelayanan BPJS. Dengan beralih dari fasilitas kesehatan internal perusahaan kepada sistem BPJS Kesehatan, maka peralihan ini terasa mendowngrade kualitas pelayanan yang akan didapatkan oleh karyawan.

Dalam pengamatan saya, ada beberapa kekecewaan yang mengemuka terkait BPJS ini:

Pertama, Diskriminasi pelayanan. Bukan rahasia lagi jika berbagai rumah sakit membedakan tempat pendaftaran antara peserta BPJS dan pasien umum (yang membayar sendiri). Peserta BPJS menjadi kelas rendahan ketimbang pasien umum. Ini lucu, padahal peserta BPJS sudah membayar lebih awal ketimbang pasien umum yang baru membayar setelah selesai pelayanan.

Kedua, Antrian panjang. Hal yang aneh adalah, kita harus antri untuk mendapatkan nomor antrian. Untuk mendapatkan nomor antrian saja kita harus mengantri, padahal setelah itu masih harus antri lagi untuk mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan. Total waktu antrian (dalam beberapa testimoni) bisa mencapai lebih dari sehari semalam.

Ketiga, Kualitas pelayanan. Dari beberapa testimoni yang teramati, kualitas pelayanan di Rumah Sakit berbeda antara peserta BPJS dan pasien umum. Misalnya pemilihan jenis obatnya, kelas kamar rawat inapnya, atau yang sebetulnya sepele seperti perhatian para suster kepada pasien.

Setidaknya tiga kekecewaan itulah yang mendominasi pembicaraan seputar BPJS di lingkaran perkawanan saya. Meski demikian, saya punya tanggapan sendiri terkait tiga kekecewaan tersebut. Bukan sanggahan ya, tapi tanggapan atas kekecewaan tersebut.

Diskriminasi pelayanan.

Bagaimana pun program BPJS adalah satu hal yang harus dipisah administrasinya dari program-program lain. Jangankan dengan pasien umum, dengan peserta jaminan kesehatan lain pun juga harus dipisahkan. Sebab entitas pengelolanya berbeda. Tidak mungkin peserta BPJS dicatat dalam jurnal yang sama dengan peserta jaminan dari Inhealth atau Prudential misalnya. Bakal repot sekali dalam proses akuntingnya.

Well, sebetulnya ini persoalan yang sangat teknis sekali. Tinggal pasang saja sistem yang dapat memilah secara otomatis dalam pembukuan, antara peserta program jaminan kesehatan yang berbeda. Apa susahnya? Bahkan menggunakan spreadsheet macam Microsoft Excel saja bisa terpecahkan. Kecuali kalau memang harus diotorisasi oleh petugas khusus dari lembaga terkait, mungkin butuh proses sedikit lebih panjang.

Tapi keribetan yang tidak perlu seperti ini tidak akan bertahan lama. Sebab mulai 1 Januari 2019 seluruh rakyat Indonesia harus sudah terdaftar sebagai peserta BPJS. Saat itu, yang masuk ke rumah sakit kemungkinannya adalah peserta BPJS atau warga negara asing. Jadi tidak perlu lagi adanya pemisahan antara peserta BPJS dengan pasien umum.

Antrian panjang.

Satu kekeliruan yang saya amati terkait BPJS ini adalah, orang baru daftar ketika butuh pelayanan rumah sakit. Di satu sisi ini adalah kelebihan BPJS (mana ada orang sakit yang boleh didaftarkan dalam program asuransi apa pun). Di sisi lain ini adalah potret awamnya masyarakat kita tentang program BPJS Kesehatan. Harusnya kita mendaftar BPJS (Kesehatan) bukan hanya ketika sakit, tapi sejak sekarang. Ya, sejak sekarang, seperti halnya kita mengurus KTP dan KK. Kita tidak mengurus KTP dan KK hanya ketika mau pemilu bukan?

Keawaman lainnya adalah bahwa kita bisa mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan tanpa perlu datang ke kantor BPJS Kesehatan. Kita bisa mendaftar lewat internet, mendapatkan rekening virtual, kemudian membayar premi via ATM atau Bank. Sama sekali tidak perlu datang ke kantor BPJS Kesehatan dan mengantri secara fisik untuk kemudian dilayani oleh petugas.

Mengenai antrian untuk mendapatkan pelayanan, saya rasa ini memang pekerjaan rumah yang sangat besar bagi pemerintah kita (kementerian kesehatan, BPJS, pemerintah daerah, dan semua yang terlibat) untuk menyiapkan infrastruktur dan staf yang memadai. Rasio antara fasilitas dan yang membutuhkan fasilitas masih sangat jomplang. Maka kita masih akan bertemu dengan antrian klinik yang sangat lama, atau berjumpa dengan dokter yang harus melayani 200 pasien dalam sehari. Sehingga standar pelayanan optimal mungkin belum akan terpenuhi selama beberapa tahun ke depan. Bersabarlah.

Kualitas pelayanan.

Bagaimanapun BPJS Kesehatan saat ini memiliki standar pelayanan minimal yang belum bisa dibanggakan. Peserta PBI (Penerima Bantuan Iuran, jumlahnya sekitar 86 juta orang untuk tahun 2014, adalah peserta BPJS Kesehatan yang preminya dibayari oleh negara, belakangan di-rebrand oleh Presiden Jokowi sebagai KIS) nilai preminya hanya sekitar Rp 19.000 saja per bulannya. Sedangkan peserta perorangan untuk kelas 3 hingga 1 masing-masing hanya Rp 25.500, Rp 42.500, dan Rp 59.500 saja per bulannya. Dengan premi sebesar itu rasanya kita belum bisa mengharapkan standar kualitas pelayanan yang cukup tinggi untuk tahun pertama implementasi BPJS Kesehatan ini. Mudah-mudahan ke depannya dapat ditingkatkan.

Eksperimen Jaminan Kesehatan Terbesar 

Dalam pandangan saya, BPJS Kesehatan ini adalah spektakuler. Dalam tahun pertama keberjalanannya saja sudah meng-cover sedikitnya 86 juta peserta miskin yang preminya dibayari oleh negara. Memang bukan mulai dari nol. Tetapi Askes sebagai cikal bakal BPJS Kesehatan adalah entitas bisnis, sedangkan BPJS adalah entitas nirlaba, otomatis orientasinya sangat berbeda. Jika eksperimen ini berhasil, maka ini akan menjadi contoh bagi dunia dalam menjalankan jaminan kesehatan massal yang berlaku untuk seluruh warga negara dan tidak membebani keuangan negara. Kita baru dapat menilai BPJS Kesehatan ini secara utuh ketika sudah berjalan 100%. Nanti, 1 Januari 2019.

Iklan

Hosting Murah dan Hosting Gratis

Desember 2, 2014 3 komentar

Bagi kita yang baru belajar hosting website, menggunakan server hosting berbayar mungkin akan terasa sebuah pemborosan. Sebab kita belum tahu bagaimana cara menggunakan serta mengoptimasikan fitur di server hosting. Banyak perusahaan yang menyediakan server hosting murah di Indonesia. Pertama kali belajar hosting, saya menggunakan servernya Qwords, perusahaan yang didirikan oleh Rendy Maulana, alumni SBM ITB angkatan pertama (2004). Qwords melayani pelanggannya dengan sangat baik. Support ticket mereka selalu cepat direspon dan cepat pula mendapatkan solusi.

Tetapi karena saya masih pemula dalam urusan hosting, saya belum bisa spend cukup banyak untuk paket hosting yang mumpuni. Sejauh ini service yang pernah saya gunakan di Qwords hanyalah paket hosting termurah, Rp 60.000 saja per tahun, tentunya selain pembelian beberapa domain ya. Tetapi hosting murah ini rupanya memiliki beberapa keterbatasan terkait fitur servernya. Waktu saya hendak mencoba sebuah plugin wordpress (sudah lupa plugin apa) ternyata butuh fasilitas tambahan yang tidak disediakan di paket termurah. Solusinya adalah harus upgrade ke paket yang lebih tinggi.

Tarif Personal Hosting - Qwords

Tarif Personal Hosting – Qwords

Suatu saat saya mendapatkan email iklan dari IDHostinger. IDHostinger ini sependek pantauan saya adalah anak perusahaan Hostinger Group yang berbasis di Cyprus. Mereka develop software hostingnya sendiri, sehingga tidak ada biaya tambahan untuk lisensi software seperti cpanel. Mungkin itu sebabnya mereka bisa memberi harga yang cukup signifikan murahnya.

Oh saya keliru, mereka bukan saja memberi fasilitas hosting murah, tapi bahkan hosting gratis dengan fitur lumayan mumpuni. Coba lihat fitur yang mereka tawarkan untuk hosting gratis berikut:

Paket Gratis IDHostinger

Paket Gratis IDHostinger

Itu belum termasuk (sub) domain gratis yang bisa kita dapatkan cuma-cuma lho. Tapi namanya juga (sub) domain, apa sih yang bisa dibanggakan.. hahaha… Lumayan lah, untuk menjajal ilmu server hosting yang baru kita pelajari. Saya pribadi menggunakan IDHostinger sebagai sandsack. Maksudnya memang memposisikannya sebagai tempat belajar. Hingga saat ini saya belum berencana ambil service yang berbayar dari sana. Ketimbang di IDHostinger (yang berpusat di Cyprus, Eropa), bukankah lebih baik pakai server lokal punya perusahaan lokal (yang sudah mendunia) saja? Qwords contohnya.

Disclaimer: Postingan ini berisi link afiliasi saya di IDHostinger dan Qwords. Kalau mau daftar ke sana, pakai link afiliasi saya ya 😉

SAMSAT Jabar Mantap!

November 26, 2014 1 komentar

Seorang penceramah sedang memberikan pengajian di SAMSAT Cibabat

Seorang penceramah sedang memberikan pengajian di SAMSAT Cibabat

Pengurusan perpanjangan STNK 5 tahunan sekarang ini simple banget ya.. Praktis 1 jam (lebih sedikit) selesai. Itu sudah sekalian dengan cetak pelat nomer baru.

Untuk perpanjangan 5 tahunan memang harus di kantor SAMSAT (Dispenda Jabar), saya mengurusnya di SAMSAT Cibabat (Dispenda Jabar). Datang sekitar jam setengah delapan pagi, rupanya setiap hari Rabu ada pengajian di sana. Pendengarnya adalah karyawan Dispenda Jabar (Kantor Cibabat) dan pengunjung yang hendak mengurus pembayaran pajak kendaraan. Jam 8 tepat pengajian selesai, pelayanan pajak kendaraan langsung dibuka.

Suasana SAMSAT Cibabat

Suasana SAMSAT Cibabat

Saya betul-betul sudah tidak melihat SAMSAT yang dulu. Terakhir saya mengurus perpanjangan STNK 5 tahunan adalah sekitar 5 tahun yang lalu untuk motor yang lain. Hampir setiap step kita harus mengeluarkan uang. Untuk gesek nomor rangka dan mesin harus bayar. Legalisasi hasil gesekan nomor tadi harus bayar lagi. Sekadar mendapatkan formulir pendaftaran saja harus bayar. Kayaknya di semua loket kita harus mengeluarkan uang. Ini masih belum ditambah banyaknya calo yang berkeliaran, dari yang orang biasa sampai pak polisi berseragam lengkap.

Tadi yang saya lihat adalah SAMSAT yang baru. Saya hanya mengeluarkan uang sebesar apa yang diminta di kasir (kasirnya adalah Bank BJB) dan dilengkapi dengan tanda terima standar Bank. Tidak ada pungutan lain di luar itu. Ya, saya memang mengeluarkan cost untuk fotokopi dan map biru (Rp 3.600), cost bensin untuk perjalanan ke kantor SAMSAT (hanya sekitar 2 km dari rumah), dan biaya Rp 10.000 untuk pemasangat pelat baru (well, kalau ke bengkel juga harus bayar segitu kan?). Tapi itu sangat masuk akal, bukan?

Hingga pelat nomor baru sampai di tangan, total waktu pelayanan hanya satu jam dua puluh menit. Tadinya ekspektasi saya adalah selesai menjelang dzuhur, dan kemudian harus datang satu minggu lagi untuk mengambil pelat nomor yang baru… Betapa kudetnya saya ya… hahaha…

Sambil menunggu dipanggil oleh petugas kasir, saya berkeliling melihat banner-banner, poster-poster, dan papan-papan informasi yang disediakan. Mas-mas di pintu depan yang menyambut pengunjung sangat ramah dan informatif terhadap pertanyaan-pertanyaan saya. Rupanya SAMSAT Cibabat ini tidak sekedar buka di hari Sabtu (yang memang sudah lama), tapi juga buka di malam hari hingga pukul tujuh!! Katanya malah pelayanan malam hari relatif lebih cepat, karena pada waktu tersebut SAMSAT tidak banyak pengunjungnya. Untuk malam hari ini pelayananannya adalah hari Senin hingga Rabu di minggu pertama hingga ketiga setiap bulannya.

Informasi Pajak Kendaraan On Line

Informasi Pajak Kendaraan Online

Selain itu Dispenda Jabar sudah menyediakan fasilitas online untuk pengecekan nominal pajak kendaraan kita. Jadi kita bisa menyiapkan budget yang tepat sebelum datang ke kantor SAMSAT. Caranya adalah dengan dua alternatif di atas: melalui SMS (pulsa normal) atau melalui internet.

Oh iya, satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa ini layanan dari Dispenda Jabar yang bekerja sama dengan Polda Jabar. Artinya semua SAMSAT yang berada di bawah Dispenda Jabar dan Polda Jabar terkoneksi satu dan lain. Mungkin jam kerja bisa berbeda, tetapi standar pelayanan tidak. Jika kendaraan anda berpelat Bogor atau Sukabumi misalnya, perpanjangan STNK tahunan bisa dilakukan di SAMSAT Cibabat. Begitu juga untuk kendaraan yang dibeli di Bekasi (Wow, Jabar besar sekali ya 😀 ). Tapi saya tidak tahu seperti apa standar layanan di luar Jawa Barat. Beda gubernur dan provinsi, biasanya beda juga kebijakannya. Untuk Jawa Barat bahkan pelayanannya sudah diperluas dengan memanfaatkan jaringan Bank BJB. Kita bisa bayar pajak kendaraan via atm, bahkan internet banking sambil tidur-tiduran di rumah. hehe…

Pada dasarnya SAMSAT itu adalah pintu uang bagi provinsi. Dengan semakin mudah melakukan pembayaran di SAMSAT, maka semakin cepat juga uang mengalir dari pintu ini. Sangat tidak logis kalau orang yang datang, bawa uang, siap dibayarkan, tapi pelayanan amburadul seolah tidak butuh duit. Maka tidak aneh kalau Kang Aher berhasil menaikkan pendapatan daerah secara signifikan dari sektor ini.

Begitulah provinsiku. Bagaimana provinsimu?

Getting people back to work

November 18, 2014 1 komentar


Ada yang ingat dengan mendiang Aaron Swartz? Dia adalah anak muda brilian pendiri beberapa startup sukses yg kemudian terbelit kasus hak cipta hingga akhirnya bunuh diri. Bukan tentang orangnya atau startupnya, tapi dia pernah menulis sesuatu yang menurut saya menarik di blognya. Sayangnya saya baru membaca blognya setelah dia bunuh diri.

Pada satu artikel dia bercerita tentang Batman Begins. Satu ironi yang terjadi adalah ketika Thomas dan Martha Wayne yang hampir bangkrut karena membangun jaringan kereta murah dalam kota untuk penduduk Gotham, kemudian malah dibunuh oleh (salah satu) penduduk Gotham sendiri. Mereka dibunuh oleh orang yang sedang habis-habisan mereka bantu.

Apa sebenarnya yang sedang dilakukan Thomas dan Martha? Swartz bercerita, mereka sebetulnya sedang berusaha mendorong orang untuk bekerja, getting people back to work. Agar mereka mau bergerak ke ujung lain kota untuk bekerja, sehingga tingkat kriminalitas menurun dan masyarakat menjadi sejahtera. Gotham bukanlah kota kecil. Dengan jumlah penduduk 12 juta jiwa, kita bisa membayangkan ukuran kotanya. Maka kendala transportasi menjadi kendala yang sangat berarti, yang dapat membuat orang enggan bekerja. Entah karena penghasilannya tidak memadai untuk menutup sekaligus biaya hidup + transportasi, atau memang karena tidak ada moda transportasi murah-cepat.

Amerika bukanlah Indonesia. Di negara kita, serbuan pemasaran kendaraan roda dua dari luar negeri sudah luar biasa. Meskipun tidak ada moda transportasi massal yang murah, namun orang bisa beli (well, nyicil maksudnya) motor dengan harga yang sangat murah, dengan cicilan yang juga sangat murah. Dikombinasikan dengan harga BBM yang disubsidi, menjadikan motor sebagai moda transportasi termurah dan paling fleksibel yang ada di negeri ini.

Oke, sebagian kawan berpendapat bahwa KRL atau commuterline lebih murah. Saya tidak membantah. Masalahnya tidak di semua kota ada jaringan commuterline. Di Bandung saja jaringan kereta hanya menghubungkan wilayah paling barat dan paling timur dengan satu line saja. Orang yang tinggal di wilayah lain praktis tidak terlayani. Angkot? Hasil perhitungan saya, angkot (yang menggunakan BBM bersubsidi) lebih mahal setidaknya dua kali lipat dari motor (yang juga menggunakan BBM bersubsidi) untuk kebutuhan komuter harian. Itu belum ditambah dengan ongkos antar-jemput anak ke sekolah, belanja ke pasar, berkunjung ke saudara, dan transportasi lainnya di luar komuter.

Jangan salahkan masyarakat ketika mereka menggunakan motor untuk kebutuhan transportasi hariannya. Ini hanya sekedar bentuk optimasi dalam menyiasati anggaran rumah tangga mereka. Dalam perspektif ini, saya pribadi cukup yakin bahwa kenaikan harga BBM malam tadi tidak memberi pengaruh signifikan untuk pos pengeluaran transportasi harian. Paling hanya bertambah Rp 5.000 per dua atau tiga hari.

Tetapi urusan harga BBM ini sebenarnya bukan di harga BBM-nya sendiri. Melainkan di harga segala macam barang yang dijual di pasar (pasar apa pun ya, mau tradisional, modern, online, apa pun), karena semua barang itu mengandung unsur BBM di dalamnya, minimal untuk distribusinya. Kenaikan 30% harga premium dan 35% solar dalam prediksi saya dapat memicu kenaikan setidaknya 10% biaya produksi.

Kembali ke soal subsidi dan Batman Begins tadi, dalam perspektif saya subsidi BBM bukanlah tentang memurahkan harga BBM yang akan dibakar di jalan-jalan raya. Tapi tentang memurahkan harga segala macam bagi rakyat Indonesia. Subsidi BBM adalah upaya negara menggerakkan rakyatnya untuk bekerja. Subsidi BBM adalah upaya negara dalam memurahkan makanannya, memurahkan transportasinya, memurahkan pendidikannya.

Subsidi BBM adalah upaya negara memacu rakyatnya untuk berkarya.

*gambar di-link dari wikipedia

Paradoks Proyek Monorel

Agustus 28, 2014 1 komentar

monorail1Oleh: Arif Minardi
Anggota Komisi VI DPR-RI

MEGAPROYEK monorel di Kota Bandung digulirkan begitu saja tanpa menyerap aspirasi publik dan terkesan ambisi para elite semata.

MENCUAT pertanyaan publik, sebetulnya monorel itu dibangun untuk melayani siapa dan sejauh mana relevansinya bagi kehidupan masyarakat luas? Hal itu belum terelaborasi secara jelas dan objektif. Timbul catatan kritis dari publik, apakah proyek monorel itu merupakan impian alamiah dan solusi jitu untuk masyarakat Bandung atau merupakan megaproyek infrastruktur yang padat utang dan padat komponen impor.

Mestinya proyek monorel yang akan menelan dana puluhan triliun rupiah yang berupa pembangunan lima koridor operasi monorel itu direncanakan secara matang dengan memperhatikan berbagai aspek, yakni aspek integrasi infrastruktur transportasi sehingga tidak terjadi tumpang tindih yang memboroskan dana dan semakin menyulitkan aktivitas rakyat. Koridor monorel mestinya tidak tumpang tindih dengan jalur KA komuter yang telah eksis dan sedang dikembangkan. Apalagi jalur KA komuter di Bandung Raya sejak lama sudah menjadi impian alamiah masyarakat.

Proyek monorel di Bandung sejak awal sudah menandung paradoks, pasalnya Kota Bandung yang boleh disebut sebagai kota yang sarat dengan SDM teknologi dan kapabilitas produksi yang memadai, karena di kota ini terdapat berbagai BUMN, perguruan tinggi teknik, dan sederet lembaga iptek terpaksa mengelus dada melihat material dan komponen impor akan mendominasi proyek monorel. Hingga kini belum ada rencana untuk melibatkan konten lokal dan teknologi untuk proyek monorel.

Terkait dengan proyek monorel, mestinya ada komitmen semua pihak untuk menggenjot lokalisasi komponen yang disertai dengan langkah detail. Mestinya pemerintah daerah menerapkan secara konsisten strategi ISI atau Industrialisasi Substitusi Impor untuk perangkat keras dan lunak yang dibutuhkan oleh proyek-proyek infrastruktur padat modal. Secara sederhana, ISI dapat didefinisikan sebagai program konkret untuk mewujudkan substitusi barang-barang impor dengan barang-barang sejenis yang diproduksi oleh industri di dalam negeri.

Selain itu, filosofi dan proyeksi sistem layanan monorel di Bandung juga masih bias lapangan. Pasalnya, belum ada kajian yang komprehensif terkait dengan proyek monorel dan konsentrasi para penumpang di Bandung Raya yang hingga saat ini belum tertangani secara baik. Dengan demikian, para pengguna yang jumlahnya sangat besar yang lalu lalang setiap harinya itu masih menderita dalam arti mengeluarkan biaya besar dan disergap kemacetan lalu lintas yang parah.

Selama ini, sudah ada solusi untuk membantu para penumpang dari kantong-kantong pemukimannya menuju tempat kerjanya masing-masing dengan KA komuter. Namun, frekuensi perjalanan KA dan kapasitasnya kurang memadai, terutama pada jam sibuk. Dalam konteks moda transportasi, monorel adalah metro atau kereta rel dengan jalur yang terdiri atas rel tunggal. Biasanya rel terbuat dari beton dan roda keretanya terbuat dari karet, sehingga tidak sebising kereta konvensional. Proyek monorel biasanya dibangun dengan sistem BOT (built operating transfer) selama beberapa tahun dengan opsi perpanjangan. Pembangunan infrastruktur monorel, gerbong, atau kabin, emplasemen stasiun, dan instalasi penunjangnya mestinya bisa didesain dan dibuat sendiri oleh BUMN dalam negeri bekerja sama dengan industri lokal.

Eksistensi BUMN nasional seperti PT Industri Kereta Api, Balai Yasa KAI, PINDAD, LEN, INTI, dan PT Adhi Karya Tbk, memiliki kemampuan yang baik untuk memproduksi monorel. Bahkan konsep dan desain monorel untuk barang atau kontainer juga sudah ada. Ironisnya, monorel di Bandung Raya direncanakan diimpor secara utuh dari Tiongkok dengan alasan investasi ini pembiayaan awalnya dari pihak CNMEIC.

Kami sangat prihatin melihat kondisi negeri ini yang akhir-akhir ini sering didikte oleh pihak BUMN dari Tiongkok yakni China National Machinery Export and Import Corporation (CNMEIC) dalam berbagai proyek pembangunan infrastruktur, seperti misalnya ketenagalistrikan. Begitu leluasanya CNMEIC memasukkan berbagai komponen impor. Sejak ditandatangani kontrak pengadaan, rekayasa, dan konstruksi atau EPC (engineering, procurement and construction) masalah lokalisasi komponen tidak tertangani secara serius. Praktis untuk megaproyek PLTU 10.000 MW jilid pertama yang berbasis batu bara itu komponen impor dari Tiongkok mendominasi seluruh proyek. Pemerintah belum membuat strategi ISI dalam megaproyek infrastruktur. Oleh karena itu, belum terlihat usaha serius untuk melibatkan SDM teknologi lokal seluas-luasnya dan memaksimalkan peran kontraktor dalam negeri.

Pembangunan monorel di Bandung mestinya memperhatikan tipologi para penumpang, dan jangan hanya berorientasi proyek yang padat modal. Pada saat ini merupakan momentum untuk mengembangkan angkutan umum massal. Pemerintah daerah perlu mengarahkan perpindahan moda agar sistem transportasi bisa efektif dan tidak semrawut. Perlu juga ditekankan pentingnya integrasi moda angkutan massal bus dengan kereta api untuk melayani para penumpang dari sekitar Kota Bandung. Para penumpang yang jumlahnya sangat besar itu setiap harinya itu sebaiknya diarahkan untuk menggunakan sistem transit berupa bus dan KA komuter yang nantinya didukung oleh keberadaan monorel.

Sebelum membangun monorel. Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung sebaiknya menuntaskan dua hal pokok yang mendasar, pertama menuntaskan dahulu pengembangan dan pelayanan Sistem Transit dan Bus Rapid Transit (BRT) yang mulai berlangsung. Kedua, membangun pemukiman para penumpang yang notabene adalah kaum buruh atau pekerja. Dari lokasi pemukiman para buruh dengan unit yang besar itu idealnya terlayani oleh jalur monorel. Harapan para buruh di Bandung Raya untuk memiliki rumah sendiri pun sebaiknya segera diwujudkan. Antara lain dengan menggenjot program kredit pemilikan rumah (KPR) sejahtera melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Meskipun belum sepenuhnya berjalan dengan baik, sistem transit di Kota Bandung harus menuju kondisi pelayanan BRT yang optimal dalam waktu dekat. Pemerintah Daerah harus serius dan tidak angin-anginan dalam mengembangkan sistem transit yakni Trans Metro Bandung. Selain itu, penggunaan Dana Alokasi Khusus dari APBN yang diberikan kepada daerah dengan tujuan untuk mendanai bidang transportasi pun perlu dioptimalkan.***

[diketik ulang dari Pikiran Rakyat cetak, Kamis, 28 Agustus 2014]

Spesifikasi ASUS Transformer Book T100

April 11, 2014 2 komentar

ASUS Transformer Pad Infinity TF700T

ASUS memiliki beberapa line untuk produk convertible mereka. Pertama adalah Transformer Pad yang menggunakan Android, kemudian Transformer Book yang merupakan pure Windows 8.x convertible. Ada juga yang menggunakan Android sekaligus Windows 8.x yaitu Transformer Book Trio. Gambar di atas adalah ASUS Transformer Pad Infinity TF700T ber-OS Android yang tidak dijual di Indonesia. Selain itu ada lagi VivoTab, convertible yang termasuk ke dalam jajaran tablet premium.

Untuk Transformer Book T100, terdapat beberapa versi tergantung di negara mana dijualnya. Untuk versi US, yang dijual adalah versi dengan storage SSD 32GB dan 64GB saja. Harganya berkisar mulai dari $349 atau sekitar Rp 4 juta. Namun versi yang dijual di Indonesia adalah versi T100 dengan storage SSD 32GB plus SATA HDD 500GB dan SSD 64GB plus HDD 500GB. Itu sebabnya harganya di Indonesia rata-rata lebih mahal sekitar satu juta rupiah dibandingkan harga di US.

Untuk urusan otak, berikut ini adalah spesifikasi dari ASUS T100:

Prosesor Intel® Bay Trail-T Quad Core Z3740 Processor
Sistem Operasi Windows 8.1
Memori 2 GB
Display 10.1" 16:9 IPS HD (1366×768)
with Multi-Touch Screen
Grafis Integrated Intel® HD Graphics
Storage – 32GB eMMC With 500 GB HDD
– 64GB eMMC With 500 GB HDD

Sedangkan untuk koneksi dan fitur lainnya, ASUS T100 ini sudah cukup mumpuni sebagai tablet. Di antaranya adalah:

Card Reader 1 slot card reader (Micro SD )
Kamera 1.2 Mega Pixel web camera
Networking Terintegrasi 802.11 a/b/g/n
Built-in Bluetooth™ V4.0
Interface 1 x Microphone-in/Headphone-out jack
1 x USB 3.0 port(s)
1 x Micro USB
1 x micro HDMI

Microphone/headphone jack, micro USB, serta micro HDMI terletak di bagian utama tablet. Sedangkan USB 3.0 terletak di keyboard dock. USB 3.0 adalah generasi baru dari USB standar yang mendukung kecepatan yang jauh lebih tinggi dari pendahulunya. Jika membutuhkan berbagai hardware tambahan, kita dapat mengekstend port USB 3.0 ini dengan USB extender. Kelemahannya, ini tidak dapat dilakukan jika tablet tidak dipasang di dock-nya.

ASUS Transformer Book T100 telah dilengkapi dengan built-in speaker di bagian belakang tablet. Microphone terletak di bagian atas dekat dengan kamera.

Audio Built-in 2 Speakers And Array Microphone
Baterai 2Cells 31 Whrs Polymer Battery
Adaptor Daya Output :
5 V DC, 2 A, 10 W
5 V DC, 3 A, 15 W
Dimensi Tablet:
263 x 171 x 10.5 mm (WxDxH)
Dock:
263 x 171 x 13.1 mm (WxDxH)
Dock: (HDD Dock)
263 x 171 x 13.95 mm (WxDxH)
Berat Tablet:
0.55 kg
Dock:
0.52 kg
Dock: (HDD Dock)
0.60 kg

Menurut keterangan di situs asus.com, baterai yang ada di dalam unit yang dijual di Indonesia adalah sama persis dengan baterai yang dijual di US. Kemungkinan besar ketahanan baterai ini sedikit di bawah ASUS T100 yang beredar di US karena versi Indonesia sudah dilengkapi dengan HDD tambahan. Tentunya penambahan HDD akan memakan daya yang lebih banyak ketimbang unit yang tidak memilikinya. Apalagi HDD yang digunakan adalah jenis harddisk konvensional dengan unit berputar (motor) di dalamnya, yang berarti membutuhkan daya relatif besar.

Certificates UL, MIC, CE Marking Compliance, FCC Compliance, BSMI, Australia C-TICK / NZ A-Tick Compliance, CCC, GOST-R, CB, Energy star, IDA, Erp 2013, RoHS, JATE

Untuk keamanan pengguna, produk ini sudah compliant dan certified dengan berbagai standar industri dan produk konsumer yang ada di dunia. Selain sertifikasi internasional, tentu saja produk ini sudah lolos sertifikasi di Kementerian Kominfo.

sertifikasi

Cross posting dari asust100.

Disclaimer: Ini review, bukan advertorial. Penulis tidak mendapatkan apapun dari ASUS, Microsoft, Intel, maupun pihak-pihak lainnya.

ASUS T100, Tawaran Menarik


Cross posting dari asust100.

Disclaimer: Ini review, bukan advertorial. Penulis tidak mendapatkan apapun dari ASUS, Microsoft, Intel, maupun pihak-pihak lainnya.

Untuk anda yang hendak memulai perkenalan dengan Windows 8.x, ASUS Transformer Book T100 merupakan titik awal yang baik. Untuk ukuran laptop bertenaga Windows 8.x, memang ASUS T100 ini bukanlah yang termurah. Tetapi ada beberapa kelebihan yang menjadikannya laptop ini stands out dari laptop lainnya.

Pertama, ini bukan sekadar laptop, tetapi convertible laptop. Layar dapat di-detach dari keyboard sehingga berubah seketika menjadi tablet. Artinya, semua processing unit dan computing terletak di bagian layar. Ini signifikan sekali perbedaannya dibandingkan dengan berbagai laptop yang ada di pasaran. Pada umumnya laptop meletakkan bagian processing dan computing di bawah keyboard. Di pasaran komputer, ASUS T100 ini rupanya lebih terkenal sebagai tablet ketimbang laptop.

Kedua, meskipun masih menggunakan keluarga Intel Atom, generasi yang digunakan sudah berkembang sangat signifikan. Sejauh ini tidak ditemukan lag yang cukup berarti untuk aktivitas kerja normal. Intel Atom dengan arsitektur Bay Trail ini adalah jawaban dari Intel untuk perang prosesor yang beberapa tahun terakhir ini diambil alih oleh platform ARM karena hemat daya. Dengan Bay Trail, bukan hanya powerful, tapi prosesor ini sangat hemat daya sehingga untuk pemakaian normal, baterai internal mampu bertahan hingga 11 jam.

Ketiga, yang paling menarik dari laptop ini disamping bentuknya yang convertible adalah harganya yang hanya di kisaran Rp 5 juta rupiah saja. Harga ini sudah mencakup SSD sebesar 32GB, harddisk SATA 500GB, tablet beserta full keyboard dock, Microsoft Windows 8.1 Pro, dan Microsoft Office 2013 Home and Student Edition. Luar biasa bukan? Sebagai bandingan, pada masa 2 tahunan yang lalu, sebuah laptop Lenovo yang ekivalen (pada masanya) diberi label Rp 3 juta dan masih belum diinstal operating system apapun. Laptop ini out of the box dari Windows dan Officenya sendiri sudah berharga lebih dari Rp 2 juta. Sebuah penawaran yang membuat pencari budget laptop baru susah untuk menolaknya.

Ikuti artikel-artikel kami berikutnya dalam membedah ASUS T100 ini. Berbagai tips dan trik serta ulasan mengenai hardware terbaru yang terkait dengan ASUS T100 juga akan disajikan. Selamat menikmati.

%d blogger menyukai ini: