Archive

Archive for the ‘analisis’ Category

Akhirnya BPJS Juga

Desember 10, 2014 1 komentar

Logo BPJS Kesehatan

Logo BPJS Kesehatan

Akhir tahun ini di berbagai dunia kerja di Indonesia terjadi berbagai kehebohan terkait BPJS. Penyebabnya adalah pemerintah memajukan dateline kewajiban kepesertaan BUMN dan perusahaan swasta dalam program BPJS menjadi 1 Januari 2015. Peraturan ini ditetapkan oleh Presiden SBY pada tahun lalu (2013) melalui Peraturan Presiden No. 111/2013. Perpres ini adalah mengubah Perpres yang keluar sebelumnya, yaitu No. 12/2013. Sebelumnya perusahaan swasta, usaha mikro, dan orang pribadi paling lambat mendaftar pada 1 Januari 2019.

Pro dan kontra di internal perusahaan pasti akan terjadi, terutama di perusahaan-perusahaan yang fasilitas kesehatannya selama ini sudah dirasa sangat baik. Sebab kita sering sekali mendengar keluhan seputar pelayanan BPJS. Dengan beralih dari fasilitas kesehatan internal perusahaan kepada sistem BPJS Kesehatan, maka peralihan ini terasa mendowngrade kualitas pelayanan yang akan didapatkan oleh karyawan.

Dalam pengamatan saya, ada beberapa kekecewaan yang mengemuka terkait BPJS ini:

Pertama, Diskriminasi pelayanan. Bukan rahasia lagi jika berbagai rumah sakit membedakan tempat pendaftaran antara peserta BPJS dan pasien umum (yang membayar sendiri). Peserta BPJS menjadi kelas rendahan ketimbang pasien umum. Ini lucu, padahal peserta BPJS sudah membayar lebih awal ketimbang pasien umum yang baru membayar setelah selesai pelayanan.

Kedua, Antrian panjang. Hal yang aneh adalah, kita harus antri untuk mendapatkan nomor antrian. Untuk mendapatkan nomor antrian saja kita harus mengantri, padahal setelah itu masih harus antri lagi untuk mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan. Total waktu antrian (dalam beberapa testimoni) bisa mencapai lebih dari sehari semalam.

Ketiga, Kualitas pelayanan. Dari beberapa testimoni yang teramati, kualitas pelayanan di Rumah Sakit berbeda antara peserta BPJS dan pasien umum. Misalnya pemilihan jenis obatnya, kelas kamar rawat inapnya, atau yang sebetulnya sepele seperti perhatian para suster kepada pasien.

Setidaknya tiga kekecewaan itulah yang mendominasi pembicaraan seputar BPJS di lingkaran perkawanan saya. Meski demikian, saya punya tanggapan sendiri terkait tiga kekecewaan tersebut. Bukan sanggahan ya, tapi tanggapan atas kekecewaan tersebut.

Diskriminasi pelayanan.

Bagaimana pun program BPJS adalah satu hal yang harus dipisah administrasinya dari program-program lain. Jangankan dengan pasien umum, dengan peserta jaminan kesehatan lain pun juga harus dipisahkan. Sebab entitas pengelolanya berbeda. Tidak mungkin peserta BPJS dicatat dalam jurnal yang sama dengan peserta jaminan dari Inhealth atau Prudential misalnya. Bakal repot sekali dalam proses akuntingnya.

Well, sebetulnya ini persoalan yang sangat teknis sekali. Tinggal pasang saja sistem yang dapat memilah secara otomatis dalam pembukuan, antara peserta program jaminan kesehatan yang berbeda. Apa susahnya? Bahkan menggunakan spreadsheet macam Microsoft Excel saja bisa terpecahkan. Kecuali kalau memang harus diotorisasi oleh petugas khusus dari lembaga terkait, mungkin butuh proses sedikit lebih panjang.

Tapi keribetan yang tidak perlu seperti ini tidak akan bertahan lama. Sebab mulai 1 Januari 2019 seluruh rakyat Indonesia harus sudah terdaftar sebagai peserta BPJS. Saat itu, yang masuk ke rumah sakit kemungkinannya adalah peserta BPJS atau warga negara asing. Jadi tidak perlu lagi adanya pemisahan antara peserta BPJS dengan pasien umum.

Antrian panjang.

Satu kekeliruan yang saya amati terkait BPJS ini adalah, orang baru daftar ketika butuh pelayanan rumah sakit. Di satu sisi ini adalah kelebihan BPJS (mana ada orang sakit yang boleh didaftarkan dalam program asuransi apa pun). Di sisi lain ini adalah potret awamnya masyarakat kita tentang program BPJS Kesehatan. Harusnya kita mendaftar BPJS (Kesehatan) bukan hanya ketika sakit, tapi sejak sekarang. Ya, sejak sekarang, seperti halnya kita mengurus KTP dan KK. Kita tidak mengurus KTP dan KK hanya ketika mau pemilu bukan?

Keawaman lainnya adalah bahwa kita bisa mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan tanpa perlu datang ke kantor BPJS Kesehatan. Kita bisa mendaftar lewat internet, mendapatkan rekening virtual, kemudian membayar premi via ATM atau Bank. Sama sekali tidak perlu datang ke kantor BPJS Kesehatan dan mengantri secara fisik untuk kemudian dilayani oleh petugas.

Mengenai antrian untuk mendapatkan pelayanan, saya rasa ini memang pekerjaan rumah yang sangat besar bagi pemerintah kita (kementerian kesehatan, BPJS, pemerintah daerah, dan semua yang terlibat) untuk menyiapkan infrastruktur dan staf yang memadai. Rasio antara fasilitas dan yang membutuhkan fasilitas masih sangat jomplang. Maka kita masih akan bertemu dengan antrian klinik yang sangat lama, atau berjumpa dengan dokter yang harus melayani 200 pasien dalam sehari. Sehingga standar pelayanan optimal mungkin belum akan terpenuhi selama beberapa tahun ke depan. Bersabarlah.

Kualitas pelayanan.

Bagaimanapun BPJS Kesehatan saat ini memiliki standar pelayanan minimal yang belum bisa dibanggakan. Peserta PBI (Penerima Bantuan Iuran, jumlahnya sekitar 86 juta orang untuk tahun 2014, adalah peserta BPJS Kesehatan yang preminya dibayari oleh negara, belakangan di-rebrand oleh Presiden Jokowi sebagai KIS) nilai preminya hanya sekitar Rp 19.000 saja per bulannya. Sedangkan peserta perorangan untuk kelas 3 hingga 1 masing-masing hanya Rp 25.500, Rp 42.500, dan Rp 59.500 saja per bulannya. Dengan premi sebesar itu rasanya kita belum bisa mengharapkan standar kualitas pelayanan yang cukup tinggi untuk tahun pertama implementasi BPJS Kesehatan ini. Mudah-mudahan ke depannya dapat ditingkatkan.

Eksperimen Jaminan Kesehatan Terbesar 

Dalam pandangan saya, BPJS Kesehatan ini adalah spektakuler. Dalam tahun pertama keberjalanannya saja sudah meng-cover sedikitnya 86 juta peserta miskin yang preminya dibayari oleh negara. Memang bukan mulai dari nol. Tetapi Askes sebagai cikal bakal BPJS Kesehatan adalah entitas bisnis, sedangkan BPJS adalah entitas nirlaba, otomatis orientasinya sangat berbeda. Jika eksperimen ini berhasil, maka ini akan menjadi contoh bagi dunia dalam menjalankan jaminan kesehatan massal yang berlaku untuk seluruh warga negara dan tidak membebani keuangan negara. Kita baru dapat menilai BPJS Kesehatan ini secara utuh ketika sudah berjalan 100%. Nanti, 1 Januari 2019.

BBM satu-satunya faktor produksi pada angkot?


Kesepakatan kenaikan tarif angkot Kota Bandung

Sampai hari ini saya tidak mengerti, apakah BBM itu satu-satunya faktor produksi pada layanan angkutan kota (angkot)? Dalam foto di atas terlihat kesepakatan tentang penaikan tarif angkot sebesar 30%. Kita juga tahu bahwa dua hari yang lalu (17 November 2014) Presiden Joko menaikkan harga bensin premium sebesar 30%. Ini artinya BBM adalah satu-satunya faktor produksi pada angkutan kota.

Di artikel sebelumnya saya memprediksi kenaikan harga-harga hanya berkisar di angka 10% sebagai akibat kenaikan 30% premium dan 35% solar. Asumsi saya, BBM bukanlah satu-satunya faktor produksi, dan faktor produksi lainnya harganya tidak otomatis naik. Pun kalau faktor produksi lainnya juga naik, asumsi saya tidak akan sebesar 30%. Jadi saya beranggapan kenaikan 30% seluruh harga barang adalah very unlikely.

Namun ternyata begitulah yang terjadi. Tarif angkutan kota di Kota Bandung sudah dinaikkan 30%. Dalam perhitungan saya, angkot mengambil keuntungan besar dalam kasus ini. Mereka berselancar dalam penderitaan orang lain.

Mari kita coba hitung. Untuk jarak sekira 5 km, seorang penumpang dulu harus membayar Rp 3,000. Sekali jalan, angkot dapat menampung 13 penumpang. Angkot standar di Bandung paling hanya menghabiskan setengah liter per 5 km. Dengan kenaikan 30%, tarif tersebut berubah menjadi Rp 3,900.

Kalkulasi kenaikan tarif angkot Kota Bandung; November 2014.

Kalkulasi kenaikan tarif angkot Kota Bandung; November 2014.

Kita bisa melihat tabel yang saya buat di atas. (Note: jangan lupa untuk membaca asumsi-asumsi yang saya gunakan dalam membuat perhitungan tersebut) Kolom c dan d adalah harga sebelum kenaikan 17 November 2014. Kolom e dan f adalah harga setelah kenaikan. Kolom g adalah selisih antara harga lama dan baru, sedangkan kolom h adalah rasionya.

Baris 2 adalah biaya produksi untuk angkot full dan baris 3 adalah rata-rata produksi untuk setiap penumpangnya. Baris 4 adalah penjualan untuk angkot full dan baris 5 adalah rata-rata penjualan per penumpangnya. Baris 6 adalah margin untuk angkot full dan baris 7 adalah rata-rata per penumpangnya.

Dari tabel di atas, kita bisa melihat bahwa kenaikan 30% tarif angkot ini bukan sekedar penyesuaian harga. Tetapi juga sekaligus penggandaan keuntungan bagi angkot. Jika ini sekadar penyesuaian, seharusnya kan tidak perlu ada peningkatan margin secara signifikan seperti itu. Perhatikan bahwa dalam tabel di atas saya tidak menempatkan BBM sebagai satu-satunya faktor produksi. Tetapi saya juga memasukkan upah/gaji sopir dan sudah saya naikkan sebesar 30%.

Modus seperti ini sudah sering sekali terjadi. Kenaikan tarif yang paling ‘gila’ yang saya ingat adalah pada 2005, ketika Presiden SBY menaikkan harga premium hampir 100%. Dalam perhitungan kasar saya ketika itu, angkot mendulang kenaikan margin lebih dari 100%. Praktik seperti ini selalu terjadi setiap kali pemerintah menaikkan harga bensin premium.

*foto kesepakatan penaikan tarif di-link dari detik.com

Intel Bay Trail

April 13, 2014 1 komentar

atom_logo

Arsitektur Bay Trail adalah jawaban Intel atas persaingan ketat yang ditunjukkan oleh produsen-produsen prosesor/SoC berbasis ARM. Intel dengan platform x86-nya terkenal dengan prosesor kuat sekaligus boros energi. Untuk penggunaan PC maupun server, Intel tidak punya halangan mengingat kedua jenis mesin komputasi tersebut selalu terhubung ke power supply.

Ketika dunia komputasi bergerak ke arah mobile, maka Intel kelabakan karena prosesor-prosesornya boros energi. Padahal untuk komunikasi mobile tidak mungkin sering-sering mampir ke wall plug untuk sekedar mengisi baterai. Bertolak belakang dengan Intel, ARM sejak awal memang didesain untuk penggunaan minim daya. Begitu komputasi mobile berkembang, semua perusahaan manufaktur elektronik kompak beralih platform ini. Mulai dari Texas Instrument, Qualcomm, Nvidia, Ericsson, Samsung, hingga Apple mengambil lisensi ARM untuk membangun platform komputasinya masing-masing. Intel praktis tidak bisa berbuat apa-apa di pasar yang berkembang pesat ini.

Sebetulnya Intel bukan tidak memiliki sama sekali jenis prosesor hemat daya. Intel Atom yang sejak awal didesain untuk netbook sebetulnya sudah termasuk low power, namun masih terlalu overkill (sekaligus relatif lebih boros) untuk penggunaan di smartphone. Barangkali itu sebabnya Intel memutuskan untuk membuat line baru prosesor untuk perangkat mobile generasi berikutnya.

Intel Atom Bay Trail

Ketimbang mendesain dari awal, rupanya Intel memutuskan lebih efisien jika menggunakan Atom sebagai basisnya. Sejauh ini Intel telah merilis beberapa Atom SoC yang digunakan oleh beberapa manufaktur elektronik. Sebut saja misalnya Lenovo dengan K800 dan Motorola RAZR i. Kedua produk tersebut termasuk sukses dan menempatkan kembali Intel di persaingan prosesor dunia, khususnya ceruk prosesor mobile yang selama ini dikuasai oleh platform ARM.

Intel_bay_Trail

Baytrail atau Bay Trail adalah kode yang digunakan oleh Intel untuk pengembangan Intel Atom generasi terkini. Clover Trail sebagai platform generasi sebelumnya, sebetulnya sudah sangat canggih. Namun rupanya Intel tidak mau bersantai-santai dalam mengejar ketertinggalannya. Hanya sekitar setahun setelah peluncuran Clover Trail, platform Bay Trail diluncurkan. Berikut ini perbandingan Bay Trail dan Clover Trail yang dirangkum oleh Mobile Geeks.

Intel-Prepares-Mighty-Bay-Trail-T-Atom-for-2014-22nm-CPU-4

Teknologi manufaktur yang digunakan untuk memproduksi Bay Trail sudah mencapai 22nm, terkecil yang ada saat ini, 30% lebih kecil dari Clover Trail. Ketahanan baterai untuk pemutaran video meningkat sekitar 20% hingga mampu bertahan lebih dari 11 jam. Berikut ini spesifikasi lengkap dari Intel Z3740 yang digunakan di ASUS Transformer Book T100.

atom z3740

Prosesor ini sudah memiliki 4 buah core dengan kemampuan menjalankan sistem operasi 64 bit. Clock speed diset pada 1,33 GHz sementara maksimalnya dapat mencapai 1,86 GHz. Tidak terlalu impresif jika dibandingkan dengan prosesor keluarga Core. Namun sejauh ini tidak memiliki tandingan sama sekali untuk menjalankan sistem operasi full seperti Windows, Linux/GNU, atau Mac OS X. Apalagi jika hendak diimplementasikan pada perlengkapan low-end yang dahulu pernah ditempati netbook.

Prosesor ini membuat kita tidak perlu lagi menahan diri terhadap kekhawatiran keterbatasan prosesor dalam memilih perangkat serbaguna gabungan antara tablet dan laptop. Kita tidak berhadapan pada prosesor ARM yang hanya dapat ditemui di dunia komputing terbatas seperti Android dan iOS. Kini full computing dapat dilakukan penuh secara mobile.

Cross posting dari asust100.

Disclaimer: Ini review, bukan advertorial. Penulis tidak mendapatkan apapun dari ASUS, Microsoft, Intel, maupun pihak-pihak lainnya.

ASUS T100, Tawaran Menarik


Cross posting dari asust100.

Disclaimer: Ini review, bukan advertorial. Penulis tidak mendapatkan apapun dari ASUS, Microsoft, Intel, maupun pihak-pihak lainnya.

Untuk anda yang hendak memulai perkenalan dengan Windows 8.x, ASUS Transformer Book T100 merupakan titik awal yang baik. Untuk ukuran laptop bertenaga Windows 8.x, memang ASUS T100 ini bukanlah yang termurah. Tetapi ada beberapa kelebihan yang menjadikannya laptop ini stands out dari laptop lainnya.

Pertama, ini bukan sekadar laptop, tetapi convertible laptop. Layar dapat di-detach dari keyboard sehingga berubah seketika menjadi tablet. Artinya, semua processing unit dan computing terletak di bagian layar. Ini signifikan sekali perbedaannya dibandingkan dengan berbagai laptop yang ada di pasaran. Pada umumnya laptop meletakkan bagian processing dan computing di bawah keyboard. Di pasaran komputer, ASUS T100 ini rupanya lebih terkenal sebagai tablet ketimbang laptop.

Kedua, meskipun masih menggunakan keluarga Intel Atom, generasi yang digunakan sudah berkembang sangat signifikan. Sejauh ini tidak ditemukan lag yang cukup berarti untuk aktivitas kerja normal. Intel Atom dengan arsitektur Bay Trail ini adalah jawaban dari Intel untuk perang prosesor yang beberapa tahun terakhir ini diambil alih oleh platform ARM karena hemat daya. Dengan Bay Trail, bukan hanya powerful, tapi prosesor ini sangat hemat daya sehingga untuk pemakaian normal, baterai internal mampu bertahan hingga 11 jam.

Ketiga, yang paling menarik dari laptop ini disamping bentuknya yang convertible adalah harganya yang hanya di kisaran Rp 5 juta rupiah saja. Harga ini sudah mencakup SSD sebesar 32GB, harddisk SATA 500GB, tablet beserta full keyboard dock, Microsoft Windows 8.1 Pro, dan Microsoft Office 2013 Home and Student Edition. Luar biasa bukan? Sebagai bandingan, pada masa 2 tahunan yang lalu, sebuah laptop Lenovo yang ekivalen (pada masanya) diberi label Rp 3 juta dan masih belum diinstal operating system apapun. Laptop ini out of the box dari Windows dan Officenya sendiri sudah berharga lebih dari Rp 2 juta. Sebuah penawaran yang membuat pencari budget laptop baru susah untuk menolaknya.

Ikuti artikel-artikel kami berikutnya dalam membedah ASUS T100 ini. Berbagai tips dan trik serta ulasan mengenai hardware terbaru yang terkait dengan ASUS T100 juga akan disajikan. Selamat menikmati.

Seperempat Rakyat Indonesia dipimpin PKS


Sejak akhir 2012 PKS sudah mencanangkan hendak mencapai posisi 3 besar pada Pemilihan Umum Legislatif tahun 2014. Sebuah target yang barangkali terdengar muluk-muluk mengingat pada Pemilihan Umum Legislatif tahun 2009 PKS hanya mendapatkan 7,88% suara atau 10,18% kursi parlemen pusat.

Sebetulnya ketika target ini disampaikan (pada tahun 2012), tidaklah ada yang terlalu ajaib mengingat posisi PKS sebetulnya telah berada pada peringkat keempat di bawah Partai Demokrat, Partai Golkar, dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Mendapatkan posisi 3 besar sebetulnya hanya naik satu peringkat saja, meskipun yang dimaksud 3 besar tidaklah selalu posisi nomor 3. Nomor dua dan satu pun masih masuk kategori “3 besar”.

Tapi kemudian selama 2013 PKS mendapatkan badai yang luar biasa dengan dituduhnya presiden partai Ustadz Luthfi Hasan Ishaaq dalam rekayasa impor sapi. Badai tersebut tidak sekedar menghantam PKS dari luar, tetapi juga menghantam moral kader-kadernya. Terlepas dari segala kontroversi tentang kasusnya, masih relevankah target 3 besar tadi?

Antara Pilkada dan Pemilu Legislatif

Pemilihan kepala daerah dengan segala kompleksitasnya sebetulnya tidak bisa disetarakan secara langsung dengan pemilihan anggota lembaga legislatif. Di antara perbedaan yang membuat pilkada berbeda dengan pemilu legislatif adalah:

  1. Pilkada lebih menonjolkan tokoh ketimbang partai.
  2. Pilkada memiliki calon yang jauh lebih sedikit ketimbang pemilu legislatif.
  3. Dalam pilkada biasanya terjadi koalisi beberapa partai, sehingga sulit memilah asal suara yang diperoleh kandidat.
  4. Sering ditemukan adanya tokoh-tokoh lintas partai yang mampu mendapatkan dukungan dari underbow partai lain. Meskipun secara formal partai lain tadi memiliki calonnya sendiri pada sebuah pilkada.

Itu adalah sebagian di antara penyebab pilkada tidak dapat disetarakan langsung dengan pemilu legislatif. Namun demikian untuk kasus PKS rasanya perlu diberikan analisis tambahan mengingat ada 3 pemilihan gubernur yang dimenangkan selama masa-masa badai tadi berada pada puncaknya. Pemilihan gubernur tersebut adalah di Jawa Barat, Sumatera Utara, serta Maluku Utara.

Betul bahwa ketiganya melibatkan incumbent, Ahmad Heryawan (Gubernur Jabar periode 2008-2013), Gatot Pujo Nugroho (Wakil Gubernur Sumatera Utara periode 2008-2013, yang kemudian naik menjadi plt Gubernur karena Gubernurnya terjerat kasus korupsi pada 2011), dan Abdul Ghani Kasuba (Wakil Gubernur Maluku Utara periode 2008-2013). Tetapi jangan menutup mata pula bahwa rival yang bermain pada pemilihan-pemilihan gubernur tersebut bukanlah lawan yang ringan.

Pada pilkada Jabar ada Dede Yusuf (Wakil Gubernur periode 2008-2013) dan Rieke Diah Pitaloka (Anggota DPR RI). Pada pilkada Sumatera Utara ada Effendi Simbolon (Anggota DPR RI), Chairuman Harahap (Anggota DPR RI), dan Gus Irawan Pasaribu (didukung oleh banyak partai). Begitu juga pada pilkada Maluku Utara yang berlangsung dua putaran di mana pada putaran kedua nyaris seluruh kekuatan calon yang kalah bergabung pada calon rival Ahmad Hidayat Mus. Pilkada yang sangat ketat seperti ini tidak mungkin dihadapi dengan bersantai-santai menggunakan fasilitas negara (sebagai incumbent) atau menggerakkan aparatur negara yang berada di bawahnya (ya, itu memang bukan kebiasaan PKS). Bukan pula dengan memanfaatkan guyuran dana besar untuk memasang iklan yang masif atau melakukan money politic (dari mana pula uang untuk melakukan hal tersebut?).

Kuncinya kemenangan pada pilkada-pilkada tersebut adalah ini: kekuatan kerja politik. Itu termasuk kemampuan dalam mengkoordinir kader dan simpatisan, menjalin kerja sama dan kontrak politik dengan berbagai ormas, menjaring suara dari kantong-kantong pemilih yang beraneka ragam, terjun langsung ke pemukiman dan perkampungan untuk memperkenalkan calon kepada warga (dilakukan oleh seluruh jajaran partai, dari struktur pimpinan hingga kader dan simpatisan), dan berbagai kerja-kerja politik lainnya. Tentunya termasuk aktivitas standar seperti bakti sosial, pelayanan kesehatan, dan aksi cepat tanggap bencana.

Itu sebabnya kekuatan PKS dapat diukur secara kuantitatif. Sebab yang bergerak adalah manusia yang real, yang bergerak berdasarkan komando yang terkonsolidasikan secara dinamis. Apa yang mereka lakukan pada berbagai pilkada tadi, itu pulalah yang mereka lakukan pada pemilu legislatif tahun 2014 ini. Jika kekuatan ini dikombinasikan dengan keberhasilan gubernur-gubernur mereka, maka ini adalah entitas yang sangat ‘berbahaya’ mengingat total populasi masyarakat Indonesia di bawah 4 gubernur tadi sudah melebihi seperempat rakyat Indonesia.

rakyat 2014

Tabel 1. Prediksi jumlah penduduk Republik Indonesia pada tahun 2014

 

sensus 2014

Tabel 2. Persentase penduduk Indonesia yang dipimpin oleh Gubernur dari PKS

Tabel 1 menunjukkan jumlah penduduk Indonesia pada sensus terakhir yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik yaitu tahun 2010. Dengan melihat pertumbuhan penduduk dari tahun 2000 hingga 2010, jumlah penduduk Indonesia diprediksikan menggunakan metode ekstrapolasi sederhana orde satu sehingga didapatkan jumlah 252.101.215 orang.

BPS juga tidak memiliki data penduduk setiap provinsi per tahun 2014. Oleh karena itu jumlah penduduk dari 4 provinsi diprediksikan menggunakan metode yang sama dengan perhitungan sebelumnya, dengan mengacu kepada pertumbuhan penduduk nasional antara tahun 2000 hingga 2010.

Dari perhitungan ini didapatkan rasio penduduk Indonesia yang dipimpin oleh gubernur yang merupakan kader PKS, yaitu dengan membagi total prediksi penduduk di 4 provinsi dengan prediksi populasi Indonesia. Persentase yang didapatkan adalah 26,8981% atau dibulatkan menjadi 26,90%.

Jadi apakah target 3 besar terlalu muluk? Saya rasa itu target yang sangat rasional.

Joko Widodo dan Ahmad Heryawan (infographic)

Kontroversi Mobil Murah

September 23, 2013 2 komentar

https://i1.wp.com/images.detik.com/content/2013/07/11/1036/lcgc.jpg

LCGC atau kependekan dari Low Cost Green Car adalah proyek pemerintah dalam pengadaan mobil murah. Target proyek ini dikatakan adalah sebagai langkah preventif sebelum dimulainya era pasar bebas ASEAN tahun 2014. Dikhawatirkan jika era tersebut terjadi, maka akan mengalir deras mobil-mobil murah dari luar negeri. Pada kondisi itu, maka devisa akan mengucur ke luar negeri mengingat di seluruh dunia mobil tipe ini sangat laku di pasaran.

Dalam pengamatan saya, proyek aslinya adalah “proyek mobil murah”. Konsep “green” muncul belakangan sebagai feature yang ditambahkan kepada proyek mobil ini sehingga memiliki nilai tambah lain ketimbang sekedar jualan mobil. Jadi inti dari proyek ini sebetulnya adalah pencegahan larinya devisa ke luar negeri sebagai akibat serbuan impor mobil murah yang diperkirakan akan terjadi ketika AFTA mulai diberlakukan.

Karena ini adalah proyek penguasaan pasar mobil murah, maka dalam prosesnya sangat berbeda dengan konsep mobil nasional. LCGC ini adalah inisiatif pemerintah kepada pabrikan (manufaktur) lokal untuk memproduksi mobil jenis low-green dan menjualnya di dalam negeri, dilengkapi paket kebijakan tertentu.

Saya belum membaca apa saja yang masuk dalam insentif pemerintah terhadap proyek ini. Tapi saya menduga, salah satu di antaranya adalah keringanan pajak. Baik itu pajak importasi komponen (bea dan cukai), maupun pajak kendaraan (PPNBM/PPN Barang Mewah). Paket kebijakan seperti ini mutlak harus diberikan, untuk menjamin ke-low cost-an serta ke-green-an produk tersebut. Tanpa pengurangan pajak, belum tentu harga bisa ditekan. Tanpa pengurangan pajak, belum tentu skala produksi dapat mencapai nilai keekonomian sebelum kesalip produk impor.

Kabar baik bagi keluarga muda

Sebetulnya program mobil murah ini bisa menjadi kabar baik bagi keluarga-keluarga muda di Indonesia yang ingin memiliki mobil. Jika sebelumnya rata-rata harga mobil termurah berada di kisaran 150an juta (harga loan) dengan proyek ini menjadi hanya di kisaran 100an juta saja. Baca selanjutnya…

%d blogger menyukai ini: