Beranda > artikel, pemerintah, politik > Golongan Putih?

Golongan Putih?


image

Saya mendapatkan ketidakkonsistenan makna golput alias golongan putih. Setidaknya ada tiga makna:

Pertama; tidak menggunakan hak suara karena tidak ingin menggunakannya.

Kedua; tidak menggunakan hak suara karena sebab teknis.

Ketiga; sebagai bentuk penolakan atas sistem serta orang-orang yang terlibat di dalam sistem demokrasi ini. Alasannya ada beberapa macam, di antaranya sebagai protes keras atas banyaknya kelalaian serta pengkhianatan atas amanah yang dititipkan. Ada juga yang karena memang tidak sepaham dengan ide-ide pengelolaan negara melalui sistem demokrasi.

Menurut saya ketiga golongan ini perlu dibedakan secara tegas. Golongan pertama bagi saya adalah orang yang tidak perlu masuk ke dalam definisi “golongan putih”. Mereka hanya sekedar ignorant yang tidak peduli pada nasib dan perbaikan kondisi bangsa.

Orang tipe ini abai terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Dia abai terhadap terpuruknya kondisi negara kita. Dia abai terhadap ketimpangan yang terjadi di sekitarnya akibat banyaknya pengambil keputusan yang tidak kompeten bahkan khianat. Menurut saya dia bukan golongan putih, melainkan sekedar orang-orang ignorant saja.

Golongan kedua tidak perlu juga kita masukkan ke dalam golongan putih. Mereka hanya sekedar mengalami ‘kecelakaan’ yang menyebabkan tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Mungkin karena namanya tercoret dari DPT, atau kebetulan baru pindah rumah dan tidak sempat mengurus surat-surat yang dibutuhkan, atau mungkin terpaksa berangkat ke luar negeri yang jauh dari KBRI/KJRI. Atau mungkin juga pemilih luar negeri yang ternyata surat suaranya tidak sampai (biasanya dikirim via pos).

Golongan ketiga-lah yang sesungguhnya patut didefinisikan sebagai “golongan putih”. Mereka tidak menggunakan hak suaranya karena punya pendirian lain, dan itu dihormati di alam demokrasi ini. Mereka ini punya “solusi” lain yang menurut mereka dapat menjadi alternatif yang lebih tepat ketimbang mengikuti alur proses demokrasi yang ada.

Mereka ini dalam kesehariannya adalah para aktivis, yang memiliki school of thought tersendiri, meskipun secara umum tidaklah seragam. Mereka ini tersebar dalam spektrum pemikiran yang cukup luas, dari yang paling kiri hingga yang paling kanan. Mereka akan menyebarkan paham yang mereka percayai, sehingga semakin banyak orang yang mendukung gagasan mereka. Sebab mereka pun tahu, sebuah “gagasan” pasti membutuhkan aktor. Jika gagasan tersebut berhenti di pikiran mereka saja, mustahil mewujud dalam realita.

Inilah sebabnya dalam pandangan saya seorang golput haruslah melakukan kampanye serius dalam mendemarketisasi proses-proses demokrasi. Dia harus membuka mata sebanyak-banyaknya orang akan kesalahan sistem yang ada (menurut mereka) dan kemudian menawarkan alternatifnya. Dia harus melakukan kampanye dengan segala daya dan upaya yang dia mampu untuk menjauhi TPS pada masa-masa pemungutan suara.

Tanpa aktivitas seperti itu, dia sama sekali persis dengan kelompok pertama: IGNORANT.

Takut dengan ancaman penjara pada mereka-mereka yang secara terbuka mengkampanyekan untuk tidak menggunakan hak suara? Itulah resiko perjuangan. Kalau anda mengaku golput tapi diam-diam saja karena takut penjara, maka anda tidak lebih dari sekedar ignorant yang oportunis.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: