Beranda > analisis, angkasa, artikel, indonesia, teknologi > Menilai Pesawat Cina

Menilai Pesawat Cina


Pada kolom Opini Republika hari Senin 5 Maret 2012 saudara Marwan Batubara mengungkapkan penilaiannya terhadap pembelian pesawat Cina oleh maskapai penerbangan Indonesia. Tercatat baru satu maskapai saja, yaitu Merpati, yang sudah membeli pesawat buatan perusahaan asal Cina. Pembelian ini dilakukan pada 2010 untuk pengadaan 15 buah pesawat tipe MA-60 buatan Xi’an Aircraft Industrial Corporation. Kemudian pada Singapore Airshow bulan lalu Merpati bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) juga telah menandatangani MoU pembelian pesawat tipe ARJ 21-700 buatan Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC).

Kasus MA-60

Pesawat MA-60 milik Merpati

Saudara Marwan menyebutkan bahwa Indonesia harus mengevaluasi pembelian pesawat dari Cina karena produknya dianggap buruk dan tidak memenuhi standar. Penilaian ini terkait dengan jatuhnya salah satu pesawat MA-60 milik Merpati di Kaimana tahun lalu dan ketiadaan sertifikat FAA untuk tipe tersebut.

Sebetulnya cara penilaian seperti ini tidaklah tepat. Ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Perlu diketahui bahwa pesawat yang baru diperkenalkan kepada public tahun 2000 ini baru satu buah saja yang mengalami kecelakaan sangat fatal hingga merenggut korban jiwa. Bandingkan dengan jumlah kecelakaan yang menimpa pesawat Boeing tipe B-737 dari semua seri yang mencapai lebih dari 300 kecelakaan fatal dengan total korban tewas lebih dari 4000 orang sejak diperkenalkan pada tahun 1967. Apakah dengan demikian menjadikan B-737 pesawat yang buruk? Untuk menyimpulkan penyebab kecelakaan haruslah dilakukan investigasi yang menyeluruh oleh lembaga berwenang (di Indonesia dilakukan oleh KNKT).

Begitu juga dengan sertifikasi FAA. FAA adalah sebuah agensi di Departemen Perhubungan Amerika Serikat yang kurang lebih setara dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara di lingkungan Kementerian Perhubungan. Keduanya mengatur sertifikasi pesawat yang digunakan di wilayah udaranya masing-masing berdasarkan standar internasional yang sama yang dikeluarkan oleh International Civil Aviation Organization (ICAO). Lantas mengapa pesawat yang dibeli dari Cina dan hendak digunakan secara domestik di Indonesia harus dikirim ke Amerika terlebih dahulu untuk disertifikasi di sana? Padahal pesawat tersebut sudah lulus sertifikasi di kedua negara, Indonesia dan Cina, dengan standar yang sama dengan FAA.

Ada banyak sekali penyebab kecelakaan pesawat. Menganggap pesawat baru yang mengalami kecelakaan sebagai pesawat yang tidak bagus adalah sebuah tindakan gegabah yang dapat dengan mudah berbalik kepada kita. Bagaimana seandainya N-250 dahulu atau N-219 nanti mengalami kecelakaan sedangkan keduanya adalah pesawat baru? Apakah lantas dapat dikatakan keduanya sebagai pesawat jelek?

Kasus ARJ 21-700

Prototip ARJ 21-700 yang masih menjalani tes dan proses sertifikasi

Sejak awal ditegaskan bahwa pembelian 40 buah pesawat ARJ 21-700 ini adalah murni aktivitas korporat antara Merpati, PTDI, dan COMAC. Pembelian direalisasikan dengan pembiayaan 100% dari bank Cina tanpa melibatkan sama sekali penjaminan dari pemerintah seperti yang pernah digunakan ketika membeli MA-60 (dengan skema SLA). Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan bahwa skema seperti ini tidak akan memberatkan keuangan negara. Lebih jauh Dahlan mengatakan bahwa pembelian pesawat ini adalah urusan hidup-mati bagi maskapai pelat merah ini.

Dari sisi tipe pesawat, mungkin banyak penyesalan ketika pemerintah dahulu memutuskan pembelian pesawat MA-60. Pesawat ini memang berada dalam kelas yang sama dengan CN-235 produksi Bandung. Pembeliannya memunculkan spekulasi luas, terutama kaitannya dengan crash program PLN yang membangun pembangkit 10.000 MW dengan investor nyaris seluruhnya dari Cina.

Namun berbeda dengan ARJ 21-700. Pesawat tipe ini tidak bisa disejajarkan dengan CN-235 bahkan dengan N-250 sekalipun. Pesawat ini baru bisa disejajarkan dengan N-2130 yang dulu sempat kita mimpikan. Bisa saja negara memberi proyek kepada PTDI untuk melanjutkan pembuatan N-2130 dan N-250, namun pesawat-pesawat tersebut baru akan masuk pasar paling cepat 10 tahun lagi. Padahal maskapai-maskapai kita membutuhkannya hari ini. Jika dipaksakan untuk membeli jet lokal, mungkin 10 tahun lagi maskapai seperti Merpati sudah keburu bangkrut.

Di sinilah menariknya transaksi Merpati kemarin. Di dalam MoU disebutkan bahwa selain membeli 40 buah pesawat, PTDI juga akan mendapatkan ‘cipratan’ proyek ini sebesar 40% dalam bentuk kerja sama imbal produksi. Ini artinya dari sekitar US$ 1200 juta pembelian 40 buah pesawat tersebut, akan mengalir menjadi proyek untuk PTDI senilai US$ 480 juta untuk 4 tahun ke depan. Suatu nilai yang tidak bisa dianggap kecil.

Perjanjian yang sama belum tentu bisa didapatkan jika membeli pesawat lain yang sekelas yang berasal dari pabrikan lain seperti Sukhoi Superjet 100 dari Rusia, Embraer E-Class dari Brazil, atau Bombardier CRJ700 dari Kanada. Bukan tidak mungkin dengan mendapatkan 40% offset dari pembelian ini dapat mengakselerasi bisnis PTDI sehingga mampu tampil sebagai pemain utama dalam industri dirgantara dunia.

Pesawat Nasional

Dengan euforia mobil Esemka karya siswa-siswi SMK kita, berkembang pula opini untuk mandiri dalam dunia dirgantara. Tetapi penulis merasa sebagian opini ini berkembang ke arah yang keliru. Contohnya adalah berharap Lion Air membeli N-250 ketimbang ATR 72. Padahal masih diperlukan beberapa tahun lagi untuk mengembangkan N-250 hingga siap masuk pasar. Sayangnya, dari sisi bisnis tipe N-250 bahkan sudah tidak sesuai untuk pasar penerbangan sekarang.

Kemudian ada lagi yang berharap CN-235 digunakan sebagai pesawat kepresidenan. Perlu berapa buah CN-235 yang harus digunakan oleh Presiden beserta rombongan jika berkunjung ke negara sahabat? Perlu berapa kali transit mengisi bahan bakar jika hendak menyampaikan pidato di markas PBB di New York?

Meskipun demikian semangat ini adalah modal yang bagus untuk kebangkitan dirgantara kita. Perlu ditambahkan pemahaman bahwa setelah krisis moneter 1997 yang sangat merusak tersebut, perlu waktu yang cukup panjang untuk recovery perusahaan strategis seperti PTDI. Jangan berharap setiap pesawat dapat digunakan untuk segala keperluan. Ada analisis pasar yang harus dilakukan, ada pertimbangan kompetitor, dan yang tidak kalah pentingnya adalah maskapai yang akan menggunakan produknya.

Artikel ini ditulis untuk menanggapi opini berjudul “Menolak Pesawat Cina” yang ditulis oleh Marwan Batubara di Republika, Senin 5 Maret 2012. Artikel tersebut dapat didownload di link ini.

*gambar diambil dari jakartaforum dan wikipedia

  1. Maret 8, 2012 pukul 10:49 pm

    Izin koreksi, CN-235 lebih ke kelas ATR 42, kalau MA-60 masuknya di kelas N250 dan ATR 72 atau C295

    • Maret 8, 2012 pukul 11:13 pm

      Iya Pak Novan.. Sebetulnya ingin menuliskan seperti itu, tapi karena perbedaan muatannya hanya dalam orde puluhan orang aja jadi dengan sangat ‘maksa’ saya anggap cukup relevan kalau masih dianggap satu kelas.. hehehe…

  2. Mei 13, 2012 pukul 2:18 pm

    sekarang sukhoi superjet 100 udah jatuh ya… apa akan menurunkan kualitasnya…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: