Beranda > indonesia > Mengejar “Malaysia”

Mengejar “Malaysia”


Beberapa hari ini media sosial di sekitar kita dihebohkan dengan keinginan Ditjen Dikti yang hendak menyusul Malaysia. Secara jelas surat edaran bernomor 152/E/T/2012 menggunakan Malaysia sebagai patokan. Sebetulnya tidak ada yang terlalu unik dari edaran ini, kecuali adanya syarat bahwa mahasiswa S1 juga diwajibkan mempublish makalah ilmiah, meskipun tidak ditetapkan syarat jurnal ilmiah tempat publikasinya.

Meski demikian sebetulnya banyak cara yang harus menjadi syarat ikutan setelah mewajibkan publish jurnal bagi mereka yang ingin lulus. Mewajibkan publish paper untuk lulus adalah syarat perlu, namun sama sekali belum cukup. Saya akan mencoba menambahkan syarat-syarat berikutnya agar target mengejar Malaysia ini sukses.

  1. Bagi para mahasiswa S1, skripsi anda cukup dipersingkat, dikurangi bagian-bagian yang tidak perlu, kemudian diformat sesuai dengan format paper. Setelah itu publish.
  2. Setiap jurusan atau fakultas harus membuat jurnal khusus S1. Barangkali jurnal ini akan termasuk deretan jurnal paling kredibel, sebab tidak sekedar di-peer-reviewed, bahkan diuji langsung dengan presentasi mahasiswa yang menulisnya (baca: sidang Tugas Akhir).
  3. Kucurkan dana hibah sebanyak-banyaknya untuk melaksanakan riset. Tentunya biaya untuk submit ke jurnal internasional harus dicover oleh dana hibah ini. Jika bingung dengan besaran nilai hibah, maka mulailah dengan nominal yang ada sekarang namun jumlah paketnya dikalikan dua puluh.
  4. Perbanyak beasiswa yang nilainya rasional. Maksudnya, nilai beasiswa tidak hanya sekedar mengcover SPP, tapi juga cukup untuk biaya hidup sang mahasiswa beserta dengan keluarganya. Sebab jika tidak begitu mahasiswa tidak akan sempat melakukan riset karena harus disambi dengan kerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Padahal mahasiswa (pasca sarjana) dan dosen adalah ujung tombak riset di mana pun.
  5. Kucurkan dana pengadaan equipment dengan rasional. Maksudnya sesuai dengan ekspektasi jumlah paper yang diharapkan. Contohnya, jika ingin banyak yang publish di bidang nanoteknologi, maka minimal setiap universitas yang memiliki bidang terkait harus punya TEM. Jangan satu buah TEM dipakai untuk seluruh Indonesia (lebih buruk lagi, yang saya dengar tidak ada satupun TEM di Indonesia).
  6. Buat kompetisi antar universitas untuk membuat jurnal ilmiah sebanyak-banyaknya. Kompetisi dibagi bertingkat-tingkat, mulai dari jurnal ilmiah terbanyak, jurnal ilmiah terindeks terbanyak (scopus, google scholar, dll), jurnal ilmiah terindeks ber-impact factor tertinggi, jurnal ilmiah terindeks ber-impact factor tertinggi-terbanyak. Hadiahnya adalah dana riset yang semakin banyak.

Mungkin syarat-syarat di atas akan menimbulkan banyak pertanyaan. Tapi saya akan coba beri penjelasan satu persatu (sesuai dengan nomer).

  1. Tidak perlu berharap banyak dari mahasiswa S1. Sebab target pendidikan mereka memang bukan untuk menghasilkan penelitian, mereka baru mempelajari dasar-dasar dari penelitian. Yang mereka perlukan adalah skill menulis. Oleh karena itu saya cukup menyarankan untuk mengubah format skripsi mereka menjadi format paper agar mereka familiar dengan makalah ilmiah.
  2. Idem dengan nomer 1.
  3. Submit paper ke jurnal internasional umumnya menghabiskan biaya yang tidak murah. Untuk jurnal lokal (yang sudah menginternasional) saja kira-kira sudah mencapai satu jutaan (untuk researcher lokal) apalagi jurnal luar negeri. Termasuk juga submit ke konferensi-konferensi internasional. Untuk perjalanannya saja sudah sangat mahal. Ini harus bisa dicover sepenuhnya oleh dana riset karena (pertama) ini terkait tugas mereka sebagai researcher, jangan dipotong dari penghasilan mereka (analogikan dengan perjalanan dinas), (kedua) gaji mereka memang tidak cukup besar untuk dapat membiayainya sendiri.
  4. Nilai beasiswa di Indonesia memang seringkali tidak realistis. Bagaimana mungkin mahasiswa hanya disuruh belajar saja, tanpa makan, minum, punya tempat tinggal, dsb (kebanyakan beasiswa hanya mengcover SPP saja, tanpa living cost). Jika memang ingin mendapatkan hasil yang maksimal dari mereka (publikasi yang banyak) kesejahteraannya juga harus diperhatikan. Jangan hanya diperas dengan iming-iming gelar magister atau doktor. Mereka juga manusia yang punya kehidupan di luar aktivitas risetnya.
  5. Rasanya bukan rahasia lagi kalau peralatan riset di universitas-universitas di Indonesia sangat memprihatinkan. Seperti yang saya sebut di atas, (silakan dikoreksi jika saya salah) tidak ada satupun Transmission Electron Microscopy di Indonesia. SEM saja hanya beberapa yang punya. Bagaimana bisa maju dalam nanoteknologi? Belum lagi bidang-bidang yang lain. Akibatnya wacana yang kemudian berkembang adalah bagaimana cara mengatasi keterbatasan, bukan mengoptimalkan riset.
  6. Pertanyaan yang paling mungkin keluar dari syarat ini adalah: bagaimana dengan kualitasnya? Kita memang tidak mungkin memiliki jurnal internasional kredibel dalam jumlah banyak dengan seketika. Tetapi mulai dulu dengan terindeksnya jurnal-jurnal tersebut di pusat-pusat pengindeksan jurnal. Targetnya sederhana: dikenal. Jika sudah banyak peneliti berkualitas yang mampu menghasilkan paper bagus, akan sia-sia jika tidak ada jurnal lokal untuk mempublikasikannya sebab pada akhirnya akan dipublish di jurnal luar lagi. Jika jurnal-jurnal ini sudah dikenal baru pelan-pelan tingkatkan kualitasnya. Kalau kualitasnya sudah bagus maka impact factor akan tumbuh dengan sendirinya karena paper berkualitas akan semakin banyak yang masuk (dengan demikian akan meningkatkan jumlah sitasi).

Tapi berikutnya akan muncul pertanyaan, dari mana dananya? Mau Malaysia, Jepang, atau Amerika Serikat sekalipun, dana penelitian universitas terbanyak adalah dari pemerintah! Jangan terlalu berharap dari sponsor swasta atau kantong pribadi para dosen dan mahasiswa. Kalau pemerintah belum mampu menyediakannya, janganlah terlalu muluk-muluk pasang target. Karena kalau hanya sekedar fokus pada “kewajiban” mahasiswa tapi dalam saat yang sama malah mengabaikan “hak” para mahasiswa tersebut, justru yang terjadi adalah perbudakan. Kampus menjadi pabrik publikasi dengan tenaga kerja yang dibayar rendah. Lebih parah lagi, kampus menjadi pabrik publikasi di mana tenaga kerjanya justru membayar majikannya. Miris kan…

  1. Ayu Mustika
    Februari 29, 2012 pukul 5:08 pm

    kunjungan perdana..salam kenal mas…nitip info yah

    http://www.batu-mustika.indonetwork.co.id/benda-bertuah

    salm dari ayu mustika

  2. Maret 7, 2012 pukul 12:16 am

    mengapa keputusan ini datang sebelum saya lulus???
    (-_-“)

  3. Mei 23, 2013 pukul 3:42 am

    dari sisi prestasi kita udah di depan kok mas !😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: