Beranda > artikel, dunia islam > Memandang “Syiah” [updated, 16 Feb 2012]

Memandang “Syiah” [updated, 16 Feb 2012]


Barangkali ada di antara kita yang terheran-heran dengan pendapat beberapa Ulama besar (Sunni) yang berbicara tentang Syiah cenderung moderat. Sebagian di antara mereka menganggap bahwa Sunni dan Syiah mungkin untuk dipertemukan. Sebagian yang lain berpendapat lebih jauh, bahwa Syiah adalah sebuah madzhab dalam Islam. Meskipun Ulama yang bersangkutan tidak mengatakan apakah madzhab tersebut benar atau salah.

Menurut saya cara memandang Syiah yang digunakan oleh berbagai Ulama (Sunni) di dunia ini terbagi ke dalam dua sudut pandang.

  1. Sudut pandang hubungan antar manusia.
  2. Sudut pandang kajian aqidah.

Sudut pandang yang pertama cenderung memasukkan Syiah (apapun sektenya) ke dalam himpunan semesta Islam (seperti dalam diagram Venn di bawah). Ini mengacu kepada banyaknya kemiripan antara Islam dengan Syiah ketimbang perbedaannya (terlepas dari fakta bahwa perbedaannya itu ada pada urusan ushul).

Catatan: Himpunan semesta yang dimaksud di sini adalah Tauhid. Dari berbagai kajian, potensi menyatukan Sunni dan Syiah salah satunya adalah pada kesamaan konsep tauhid keduanya. Himpunan semesta ini tidak bermaksud mengubah Rukun Islam dan Rukun Iman, karena memang sudah dimaklumi secara umum bahwa Syiah memiliki Rukun Islam yang berbeda dengan Sunni.

 

Catatan2: Setelah saya timbang ulang, catatan di atas lebih tepat untuk menyatakan perpotongan antara Sunni dan Syiah ketimbang menjadi himpunan semesta bagi keduanya. Karena itu saya ubah pernyataan himpunan semesta ini menjadi: “Agama yang mengakui Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad Rasulullah sebagai RasulNya yang terakhir”. Dengan begitu sekte yang melenceng begitu jauh hingga menganggap Jibril keliru menurunkan wahyu otomatis keluar dari bahasan. Begitu juga dengan sekte-sekte lainnya yang bahkan oleh Syiah mainstream sendiri dianggap kafir.

Sudut pandang ini dalam pandangan saya adalah usaha untuk mempertemukan Syiah dan Sunni, baik dalam kerangka aqidah maupun dalam urusan muamalah dan harus dilihat sebagai “koma” bukan “titik” (maksudnya, mereka punya intensi tersendiri terkait keputusan menggunakan cara ini). Cara memandang seperti ini cenderung lebih digunakan oleh para ulama Sunni yang kalibernya cukup menginternasional, terutama ketika dalam kapasitasnya menjalin hubungan dengan Syiah (bukan dalam rangka membahas pokok aqidahnya).

Sudut pandang ini membuat banyak Ulama nampak terlalu moderat pandangannya tentang Syiah (bahkan sebagian kalangan cenderung menilai para Ulama ini sudah keliru) padahal sebetulnya mereka tidak sedang membahas poin-poin aqidahnya. Puncaknya adalah adanya Risalah Amman yang tidak sekedar memasukkan sekte-sekte Syiah ke dalam “keluarga besar” Islam, namun juga memasukkan sekte Ibadi sebagai salah satu madzhab dalam Islam. Namun jika kita teliti, sebetulnya Risalah Amman ini sama sekali tidak berbicara tentang benar-tidaknya aqidah, namun lebih condong mengurusi masalah hubungan internasional antarbangsa dan antarnegara.

Sudut pandang kedua saya rasa cukup jelas. Ranah kajiannya jelas dan metodologi yang digunakan juga mengikut kaidah yang disepakati oleh jumhur Ulama. Sependek yang saya ikuti, seluruh kajian akidah tentang Syiah dan Sunni membuahkan kesimpulan yang seragam, baik oleh ulama salaf maupun khalaf.

Wallahu a’lam.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: