Beranda > artikel, taushiyah > Tempat Berharap

Tempat Berharap


Setiap hari kita disuguhkan berita buruk. Berita buruk tentang korupsi, tentang tertangkapnya koruptor baru, tentang aksi korupsi yang baru saja terbongkar, tentang pertengkaran pemimpin, kemudian berputar lagi tentang korupsi, tentang tertangkapnya koruptor baru, tentang aksi korupsi yang baru saja terbongkar, tentang pertengkaran pemimpin… Begitu seterusnya, seolah berita buruk tidak pernah berhenti mengalir. Berita buruk ini begitu terasa buruknya, karena menimpa para pemimpin kita yang seharusnya mengayomi kita. Yang seharusnya setia kepada amanah yang kita berikan. Yang kita harapkan dapat mengubah sejarah masa lalu kita.

Rupanya berita buruk ini tidak berhenti di situ. Dia mengalir bagaikan air bah, karena setiap orang yang mendengarnya menyampaikan kepada semua orang yang ditemuinya. Di warung kopi, di pasar-pasar, pos-pos ronda, di talkshow-talkshow televisi, bahkan hingga dinding facebook serta lini massa twitter. Semua orang menyebarkan berita ini.

Akhirnya berita buruk ibarat wabah penyakit, semua orang mendengar dan terdominasi olehnya. Semua orang merasa bahwa begitu luar biasanya berita buruk ini, seakan tidak ada lagi harapan bagi kita hanya sekedar untuk menarik nafas segar barang sesaat. Sebagai efeknya, optimisme pudar. Sikap serta ungkapan pesimis begitu mudah keluar.

Ini aneh.. Manusia sudah tertutup pandangannya. Seolah sudut pandang hanya ada satu saja; sudut pandang keburukan. Padahal begitu luar biasanya kebaikan yang ada di sekitar kita. Ada matahari yang tidak pernah terlambat terbit dan tenggelam. Ada air laut yang pasang dan surutnya membuat nelayan mudah memprediksikan waktu berlayarnya. Ada ibu yang berjuang memberikan ASI pada anak-anaknya. Ada para lelaki yang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Ada anak-anak kecil yang rajin menghafal Al Quran. Ada pedagang-pedagang kecil yang begitu rajin berdagang sejak pagi buta di pasar tradisional. Ada anak-anak muda yang begitu gigihnya mencari donatur untuk menolong biaya operasi orang yang tidak dikenalnya. Ada anak-anak cerdas yang menjuarai berbagai lomba internasional. Bahkan di tubuh pemerintahan sendiri, yang kita sudah terlanjur menganggap sedemikan parah rusaknya, begitu banyak kisah luar biasa yang dapat membuat leleh air mata kita.

Hanya karena kita meletakkan harapan pada pemimpin kita, lantas kita kecewa kalau mereka tidak sesuai dengan harapan kita. Ekspektasi kita terhadap mereka terlalu tinggi seolah mereka dapat menjadi dewa penolong yang akan menghapuskan segala ketidakadilan. Padahal mereka itu manusia juga. Manusia yang sama-sama menjadi target operasinya syaithan. Yang paling parah, kita meletakkan harapan pada mereka hanya karena mereka sudah terpilih. Padahal kita tidak tahu track recordnya, kita tidak mengenal mereka.

Di sinilah kita keliru. Tidak sepatutnya kita berharap pada pemerintah. Lebih dari itu tidak sepatutnya kita berharap kepada sesama manusia. Cukup letakkan amanah di tangan mereka dan biarkan mekanisme selanjutnya berjalan. Harapan? Jangan pernah mengharap kepada selain Allah. Allahushshamad, Allah-lah tempat kita bergantung. Berharap kepada selain Allah bukan hanya akan membuat kita kecewa, tapi juga mengotori keikhlasan kita dalam beribadah kepadaNya.

Astaghfirullah…

Kategori:artikel, taushiyah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: