Beranda > post > Baytul mal

Baytul mal


Kemarin ada yang sedikit menyinggung tentang baytul mal di milis keadilan. Setelah coba baca-baca lagi, ternyata konsep baytul mal di masa lalu, terutama masa khilafah rasyidah (saya belum mengecek lagi ke khilafah setelahnya) baytul mal itu adalah setara dengan departemen keuangan. Dia bukanlah instusi pengumpul dana filantropi seperti zakat, shadaqah, dan infaq saja. Tapi lebih dari itu, membiayai operasional negara, membiayai peperangan, juga untuk memberi makan orang miskin.

Ini fakta sejarah yang cukup menarik. Soalnya, sekarang ini baytul mal adalah sebatas lembaga filantropi saja, yang pendanaanya didukung oleh voluntary masyarakat. Yang mau bersedekah mangga, yang mau bayar zakat mangga. Padahal dulu konsepnya tidak seperti itu. Bayangkan saja, sesaat setelah wafatnya Rasulullah, banyak orang yang murtad, banyak nabi palsu, dan banyak orang yang menolak membayar zakat. Apa yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar ketika itu? Beliau menempatkan semuanya sejajar, sebagai orang yang harus diperangi. Pada akhirnya memang semuanya ditumpas atau bertaubat. Penolak membayar zakat disetarakan dengan pemberontak dan murtaddin.

Ngomong-ngomong tentang filantropi, sebetulnya zakat tidak termasuk ke dalam kategori ini. Mengapa demikian? Karena sifat zakat adalah kewajiban. Kita jangan terlalu menilai tinggi seseorang yang mengeluarkan zakat. Sama seperti sholat. Seorang muslim belum bisa disebut baik kalau diukur dari rajin shalat 5 waktunya. Rajin shalatnya itu adalah kewajiban dia. Tidak ada urusan dengan baik atau tidaknya. Kalau dia tidak sholat, berarti dia bukan muslim, dan dengan demikian dia tidak akan pernah mendapatkan titel “muslim yang baik”. Sebaik apapun dia. Paling banter adalah “orang baik” saja.

Begitu pula dengan zakat. Bayar zakat tidak mencerminkan kebaikan hati seseorang. Itu adalah kewajiban yang dibebankan kepadanya untuk mempertahankan status kemusliman dia. Kalau dia tidak bayar zakat, maka keislamannya gugur. Paling jauh dia hanya akan mendapatkan gelar “orang baik”, bukan “muslim yang baik”.

Untuk logika yang sama, sebenarnya saya ingin protes juga tentang pajak. Mungkin anda pernah mendengar slogan “orang bijak taat pajak”. Slogan ini sering muncul di iklan-iklan, baik TV, radio, maupun media cetak dan banner-banner. Tapi kenyataanya, apa hubungan bayar pajak dengan bijak?? Sekarang ini siapa sih orang yang tidak bayar pajak? Beli tepung terigu di pasar tradisional saja kita kena pajak. Beli mie instan di warung dekat rumah saja kita kena pajak. Berarti semua orang bijak dong?? Termasuk juga orang-orang yang bayar pajak (cukai) rokok dan minuman keras atau pajak (retribusi) lokalisasi dan tempat maksiat lainnya.

Kategori:post
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: