Beranda > lama > Menyikapi wacana dan berita media

Menyikapi wacana dan berita media


Sebagai kader, kita tidak boleh terprovokasi oleh berita media. Media-media (terutama yang full online) sekarang ini cenderung untuk tidak proporsional dari sisi pemberitaannya. LIhat saja dengan bombardir pendapat dari orang-orang yang berasal dari satu sisi, sedangkan sisi lain dikutip sekedarnya.

Kemungkinannya ada dua, pertama media-media tersebut direkayasa. Kedua karena masalah teknis. Kita tahu perbedaan media online dan cetak adalah masalah kontinuitas. Media cetak dirilis secara diskrit, sehingga bisa mengakomodasi prinsip "cover both side" dalam satu waktu. Sedangkan media online dirilis secara kontinu, sehingga prinsip tadi tidak terakomodir sempurna. Akibatnya jelas: wacana masyarakat terdrive ke arah kesimpulan tertentu.

Nah kita sebagai kader harusnya memiliki prosedur standar dalam menghadapi wacana, terutama terkait jamaah dan partai. Ada dua prosedur utama yang harus kita pegang. Pertama adalah husnudzan. Kedua adalah tabayyun. Sebenarnya ada tambahan yang ketiga, yaitu mencari jawaban alternatif.

Husnudzan harus diletakkan pertama kali. Ketika ada muncul wacana RPP Penyadapan misalnya, jangan sekali-kali terbetik dalam pikiran kita bahwa PKS berkeinginan untuk mendukung koruptor dengan mengkebiri KPK. Ini ide yang luar biasa keterlaluannya. Kemudian baru tabayyun, baik langsung ke yang bersangkutan, tanya ke orang yang tahu tentang hal ini, atau melakukan studi literatur yang cukup detil, misalnya membaca naskah RPP terbaru atau membaca UU terkait (UU ITE misalnya).

Tapi kalau kita sudah minta tabayyun ke partai dan tidak mendapatkannya juga, maka kita juga harus paham bahwa kondisi perpolitikan di Indonesia berubah sangat cepat. Tidak semua langkah bisa dirilis bayannya. Karenanya kita perlu langkah ketiga, yaitu mencari jawaban alternatif. Mungkin jawaban alternatif ini tidak menyelesaikan masalah. Tapi setidaknya dengan jawaban ini kita bisa membendung serangan yang datang bertubi-tubi. Kelak kalau masalahnya sudah clear, kita bisa mengubah jawaban kita ke fakta yang sebenarnya.

Tentang media, memang saya akui kalau kita punya kelemahan. Pertama kita memang belum pandai dalam mengelola media. Bahkan salah satu corong informasi partai (situs resmi PKS) hanya menjadi agregator berita online. Kedua kita memang dalam posisi yang sulit. Di satu sisi kita tahu bahwa SBY punya banyak kelemahan yang menjadikannya target empuk para kritikus, di sisi lain kita menjadi partnernya dalam musyarokah dakwah ini.

Wallahu a’lam

Kategori:lama
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: