Beranda > lama > “KONTEKS” dalam ijtihad demokrasi

“KONTEKS” dalam ijtihad demokrasi


Ketika kita mengikuti suatu ijtihad sebuah jamaah yang menyatakan bahwa dibolehkan memasuki sistem demokrasi, maka kita harus perhatikan konteks ijtihad tersebut. Ya benar, konteks akan sangat terkait dengan ijtihad yang diambil. Konteks Indonesia pasti akan sangat berbeda dengan konteks Inggris atau Palestina.

Katakanlah, parlemennya berada di sebuah negara yang menyatakan bahwa sekularitas adalah prinsip utama yang harus dipegang, atau menempatkan nilai-nilai kristen sebagai dasar negara. Maka Ulama tidak akan berpikir bahwa berdakwah lewat parlemen adalah sesuatu yang halal.

Tapi coba perhatikan konteks negara kita. Negara kita menggunakan demokrasi sebagai sekedar cara dalam memilih pemimpin dan membuat aturan-aturan teknis pemerintahan (pemilu, dewan perwakilan), menempatkan Tauhid sebagai dasar negara (pancasila), konstitusinya memberi kebebasan seluas-luasnya dalam mengimplementasikan syariat Islam (Dekrit 1959 yang menyatakan UUD 45 satu paket dengan piagam jakarta). Dalam konteks seperti ini saya tidak habis pikir masih ada yang memberikan fatwa haram bagi demokrasi.

Mungkin kalau yang mereka maksud dengan demokrasi adalah yang seperti didefinisikan oleh Aristoteles (yang ngga dipake di Indonesia), kemudian masih mengakui "vox populi vox dei", dan konteksnya adalah negara seperti Amerika, maka tidak aneh kalau demokrasi difatwakan haram. Tapi demokrasi konteks Indonesia? Please deh…

wallahu a’lam

Kategori:lama
  1. migazine
    Desember 25, 2009 pukul 2:24 pm

    wah, bukankah demokrasi itu pada prinsipnya dimana2 sama aja yaitu ‘kedaulatan berada di tangan rakyat’? lalu coba kita lihat fakta demokrasi di Indonesia, untuk menetapkan sesuatu yg sdh jelas HARAM sperti pornografi aja, masih perlu dimusyawarahkan bahkan divoting dulu? salam ukhuwah, Mas ^_^

    • Desember 26, 2009 pukul 1:20 pm

      Nah di sinilah sebenarnya konteks yang saya maksudkan. Kita tidak sedang “menginisiasi penerapan demokrasi” dalam artian “meninggalkan Islam”. Sebaliknya, kita justru mencari celah untuk menegakkan Islam.

      Kebetulan saat ini dalam sistem demokrasi di Indonesia memiliki celah untuk itu.

      Kembali pada konteks Indonesia, istilah ‘kedaulatan rakyat’ di Indonesia itu secara konstitusional sudah dibatasi. Bisa kita temukan dalam pembukaan UUD 1945. Batasannya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, dst, yang kemudian didefinisikan sebagai Pancasila.

      See…
      Demokrasi konteks Indonesia ternyata meletakkan kedaulatan rakyat berdasar pada Tauhid (hanya Islam dengan konsep Tauhidnya yang comply pada istilah “Ketuhanan Yang Maha Esa”).

      Tapi itu baru kondisi dasarnya. Pada aturan turunannya (turunan UUD: UU, Perpu, PP, dsb) memang masih banyak deviasi. Di sinilah tugas kita, para dai untuk meluruskannya.

  2. Januari 6, 2010 pukul 2:07 pm

    Dan ‘harusnya’ umat Islam yang mayoritas akan diuntungkan dengan demokrasi yang berbasis kedaulatan rakyat itu, kan? Jika ada kasus-kasus hukum yang nampaknya tidak ‘islami’ berarti bisa saja umat Islam sendiri yang berbeda pendapat soal tersebut. Dan perbedaan ini akan terus ada. Maka membangun umat dari segi keimanan, intelektual, ekonomi, politik, budaya dsb menjadi tugas yang lebih penting ketimbang memperdebatkan ‘demokrasi’ yang sudah menguntungkan umat Islam ini. Habis energi kita berdebat.

    Di masa depan, jika umat sendiri sudah ‘selesai’ dengan masalahnya seperti kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, posisi kita yang sudah memberi contoh dan mampu mengayomi seluruh masyarakat akan kuat. Terserah Islam mau bentuknya nanti seperti apa. Kita sendiri juga lebih PD saat secara esensi kita sudah mampu menyelesaikan masalah2 bangsa. Orang lain, yang tadinya meragukan Islam karena kurang bukti kongkrit, akan berjalan bersama.

    Ingat, kita mayoritas. Kita dan ajaran kita menuntut kita untuk mengayomi seluruh umat. Memberi rasa aman. Menjadi pemimpin yang toleran. Bukan sebagai umat yang merasa inferior, takut ‘dilenyapkan’ oleh umat lain. Selalu merasa terancam. Selalu merasa dizhalimi. Ayolah, Rasul kita Rahmatan lil’alamiin. Demikian pula kita berusaha mencontoh beliau. Allahu a’lam.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: