Beranda > analisis, artikel, dunia islam, indonesia, pks, politik, taushiyah > Secuil kontemplasi dari hasil pemilu legislatif 2009

Secuil kontemplasi dari hasil pemilu legislatif 2009


Alhamdulillah, secara umum pemilu legislatif tahun 2009 berjalan dengan cukup lancar. Kendala teknis persiapan memang menjadi catatan tersendiri karena Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang kacau balau. Tetapi situasi nasional secara umum tetap kondusif.

Target PKS untuk meraih suara sebanyak 20% yang ditetapkan sejak munas tahun 2005 ternyata meleset jauh dan hanya mendapatkan sekitar 8% (versi quick count dan tabulasi KPU) atau sekitar 12% (versi tabulasi internal). Banyak hal yang menjadi catatan mengenai penyebab ketidaksuksesan ini. Kita bisa meninjaunya dari dua sudut pandang. Pertama adalah dari ketercapaian target, kedua adalah dari sudut pandang rival sesama peserta pemilu.

Jika kita melihat dari sudut pandang pertama, maka kita akan melihat bahwa ini adalah kegagalan yang cukup besar. Bagaimana tidak, langkah-langkah sudah dipersiapkan sejak 4 tahun sebelumnya. Semua struktur sudah bekerja keras, bahkan parameter kenaikan yang signifikan sudah sangat terukur dari beberapa pilkada yang dimenangkan. Tetapi ternyata hasilnya sangat jauh dari harapan. Tak sampai 50% dari target, bahkan nyaris tidak ada peningkatan dari hasil pemilu 5 tahun sebelumnya.

Tetapi jika kita melihat dari sudut pandang rivalitas sesama peserta pemilu, maka kita akan mendapatkan gambaran yang mencengangkan: Selain PKS dan PD, semua peserta pemilu tahun 2004 mengalami kejatuhan suara yang signifikan. Praktis PKS hanya kalah dari Partai Demokrat. Jika kita melihat bagaimana cara PD berkampanye, maka kita akan memahami bahwa memang inilah sunnatullah. Siapa yang lebih “luar biasa” kerjanya, maka hasilnya pun akan lebih “luar biasa” pula. Di sini saya tidak berbicara tentang keikhlasan ataupun tentang kapasitas kader, tetapi lebih ke arah strategi memenangkan pemilu.

Realitas masyarakat Indonesia

Jika kita melihat realitas masyarakat Indonesia saat ini, maka kita akan mendapati bahwa mereka sangat mudah untuk digiring opininya. Lihat pengalaman pemilu presiden tahun 2004 lalu, bagaimana SBY dicitrakan sebagai sosok yang gaul, ganteng, gagah, dsb. Kemudian lihat juga kemenangan HADE di jawa barat, di mana PKS sukses mengopinikan citra muda-ganteng di tengah kedua calon lainnya yang sudah kakek-kakek. Lihat juga bagaimana media menggiring Foke menjadi orang yang sangat gaul pada pilkada Jakarta lalu.

Di mana-mana fenomena ini seragam. Apalagi ditambah dengan budaya sinetron dan film-film chicklit yang semakin menjadi-jadi. Masyarakat Indonesia secara umum tidak memiliki budaya menggali dan mengenali, tetapi hanya puas dengan citra menyenangkan saja. Dan Partai Demokrat melakukan itu. Sejak jauh-jauh hari kita bisa mengamati sikap SBY yang selalu terdesain dan terencana. Tidak pernah ada sikap spontan dari beliau. (cara bersikap di depan publik saja sudah direncanakan) Kemudian program-program populis seperti BLT, penurunan harga BBM (3 kali!!!), PNPM, swasembada pangan, dan lain-lain, ditambah dengan iklan layanan masyarakat, maka pencitraan itu dilaksanakan secara sangat sistematis. Belum lagi iklan partai yang sangat sering selama masa kampanye yang 9 bulan itu.

Ini belum ditambah dengan penggunaan artis-artis papan atas, logistik pemilu yang gila-gilaan (kualitas eksklusif dan jumlah yang luar biasa banyanya), akomodasi yang sedemikian mewahnya selama masa kampanye terbuka kemarin (panggung setara konser soundrenalin yang dipasang di 13 kota, yang didrop langsung dari Jakarta). Ini masih belum ditambah dengan dukungan konsultan politik Fox Indonesia yang mengatur standarisasi “rasa” dalam setiap kampanye terbuka. Kita tidak bisa membayangkan betapa luar biasa besarnya biaya yang dikeluarkan untuk kampanye ini, sehingga jika kita tahu, maka sangat keterlaluan kalau kalah (ini kata mas Wisnu Nugroho di blognya, wartawan kompas yang ditugaskan untuk meliput SBY dan JK kemanapun mereka pergi, termasuk selama kampanye).

Dari mana semua dana itu? Jelas dari para pengusaha. Susah bagi kita untuk membayangkan, pengusaha macam apa yang mau mendonasikan dananya gila-gilaan seperti itu untuk kampanye sebuah partai yang nyaris tidak memiliki infrastruktur (partainya sangat lemah, kaderisasi nyaris tidak ada, calegnya aneh-aneh). Bisa dibayangkan betapa partai ini tidak independen nantinya dalam menjalankan fungsinya di legislatif maupun eksekutif, karena terikat dengan pengusaha yang sudah “membantu” mereka sedemikian besarnya.

Apa yang dilakukan PKS?

Lantas, apa yang dilakukan PKS selama ini? Politik pendidikan!! PKS sama sekali bukan partai massa, tetapi partai kader yang berjuang atas dasar visi. Ketika seseorang akan bergabung dengan partai, maka dia akan diajarkan mengenal Tuhannya terlebih dahulu. Kemudian mengenal rasulnya, mengenal agamanya. Partai urusan kesekian. Apalagi urusan tetek bengek politik, kampanye, pilkada, dan lain sebagainya.

Pola seperti ini senantiasa terbawa pada setiap kampanyenya. Lihat saja semua leaflet dan brosur partai, semua penuh dengan penjelasan tentang visi-misi-program. Lihat saja fondasi partainya, sistem kerja jelas, struktur kepartaiannya jelas, bahkan platformnya pun dibukukan dan dijual bebas di mana-mana. Kemudian juga diseminarkan di berbagai tempat. Bahkan untuk figur jagoan dalam pilkada jabar, HADE, yang sebenarnya tanpa perlu visi-misi-janji jor-joran sudah sangat menjual pun, tetap menyusun konsep pemerintahan dan mengkampanyekannya.

Dengan pola kerja sistem kepartaian yang seperti ini, maka pendapatan suara sebesar 7,8% saja (atau menempati posisi keempat) sudah luar biasa. PKS berhasil melakukan pendidikan politik untuk setidaknya 7,8% pemilih yang menggunakan hak pilihnya. Dan itu dilakukan oleh sebuah partai yang baru berumur 11 tahun, dengan pendanaan terbatas, dan dikepung oleh partai-partai dengan pendanaan luar biasa (PDIP dan Golkar) dan sebuah partai dengan pendanaan super luar biasa (Demokrat) yang semuanya justru melakukan pembodohan politik secara terang-terangan. Makanya, hingga saat ini saya menilai hasil PKS pada pemilu kali ini sangat spektakuler.

Mari berinstrospeksi

Sekalipun kondisinya demikian, tetaplah kita harus sadar bahwa ketika kita kuat, maka seberapa hebatnya lawan tetap tak akan terkalahkan. Bagaimanapun, tetap ada yang salah urus dalam sistem kita. Mungkin bukan salah urus, hanya saja masih terlalu prematur dan belum cukup dewasa dalam berdakwah. Banyak kader muda sekarang yang pemahamannya tentang dakwah perlu direfresh kembali. Mungkin karena terlalu lelah dengan beban memenangkan pemilihan-pemilihan yang ada, sehingga orientasinya dalam berdakwah agak melenceng. Dikiranya mengajak pada partai adalah berdakwah, padahal dalam manhaj kita, partai urusan kesekian. Yang pertama adalah fikrah.

Kemudian riak-riak di lapangan pun seyogyanya perlu diluruskan kembali. Apa dasar, misalnya, mengizinkan penyanyi wanita tampil dalam kampanye internal partai yang seluruhnya dikelola oleh kader? Mengapa tidak ada lagi pemisahan laki-laki dan perempuan dalam kampanye terbuka mandiri? Kemudian dzan-dzan yang tidak perlu, seperti isu tentang harta kekayaan para qiyadah, isu perpecahan, atau isu akhlak yang kurang baik dari mereka. Dan lain sebagainya. Mari kita senantiasa mengedepankan husnudzan dan tabayyun. Bisa jadi justru hal-hal kecil seperti inilah yang membuat keberkahan hilang dari aktivitas dakwah kita.

Kalau aktivitas tarbawi selama beberapa bulan terakhir agak terganggu, itu bisa dimaklumi. Kita mengenal prioritas dalam aktivitas dakwah kita. Tentunya itu bukan menjadi pembenaran dalam meninggalkannya, tetapi seharusnya melatih kita untuk menyiasatinya dalam memilih jadwal. Kini saatnya menata kembali aktivitas pembinaan kita dan para binaan kita itu. Dengan demikian, kita tetap menjadi jamaah yang berbasis iman dan ilmu, yang kemudian mengkristal menjadi amal yang nyata yang menjadi rahmat bagi orang-orang di sekitar kita.

Insya Allah amal kita tidak akan sia-sia. Allah mengetahui dengan pasti semua perbuatan kita.

Wallahu a’lam.

  1. suntree
    April 14, 2009 pukul 12:49 am

    Saya sangat setuju dengan apa yang akh Fathii tulis… Sebagai simpatisan PKS, saya kadang agak kecewa dengan kampanye yang tampak seperti sangat longgar (penerapan kaidah-kaidah syar’i sepertinya mulai meluntur). Semoga ke depan semuanya menjadi lebih baik, aamiin.

  2. April 14, 2009 pukul 6:15 pm

    Tenang saja akh. Fenomena ini tidak banyak kok. Hanya saja terlalu terekspos dan tereksploitasi oleh kader sendiri. Jadinya seolah-olah kita melenceng jauh sekali. Padahal kalau kita perhatikan, sama sekali tidak ada penyimpangan dari sisi aqidah.

  3. ndro
    April 15, 2009 pukul 9:02 pm

    kalo soal pelanggaran syariat kayak diatas, harusnya dah ada persetujuan dewan syariah. makanya saya rasa angka 20 persen sangat mungkin untuk 2014. kita lihat siapapun anggota dewannya, kalo presidennya dinilai berhasil maka yang dipilih adalah partai dari presiden. makanya megawati kalah kemarin karena pemerintahannya dianggap kurang berhasil. belum lagi target2 jangka panjang misalnya pendidikan, kesehatan, telekomunikasi yang dikomunikasikan kepada publik oleh menteri2 SBY. makanya pak anis ngotot JK gak boleh gabung dan wapres harus dari kita. pada kenyataannya nilai wapres akan terangkat jika keinerja pemerintahan baik. golkar yang sekarang saya kira adalah golkar yang dipilih oleh konstituennya, jika tidak ada orang baru maka suara ke depan segitu2 aja. tapi Demokrat dan partai lain,mereka belum punya suara tetap. bisa jadi angka loyal kita adalah 5 persen, sekarang.makanya harus ditingkatkan lagi. yang paling vital adalah dengan penguasaan eksekutif. makanya dengan banyaknya kader yang jadi kepala daerah, diharapkan suara 2014 keangkat

  4. April 15, 2009 pukul 11:46 pm

    eh ada hendro. apa kabar akh?

    sepanjang yang saya amati, tidak sampai ke pelanggaran syariat juga kok. penampilan wanita yang menyanyi di atas panggung atau kampanye tanpa pemisahan yang jelas tidak diharamkan secara sharih dalam nash. hanya saja, memang kurang etis untuk sebuah partai dakwah.

    untuk ke depannya, saya masih percaya dengan langkah yang sudah kita lakukan saat ini. membuka diri ke arah tengah adalah langkah yang brillian yang diputuskan oleh jamaah. dengan demikian, kita membuka lahan-lahan baru dalam berdakwah. tapi dengan satu catatan yang harus diperhatikan: partai bergerak ke tengah adalah dalam rangka dakwah, bukan mengubah ideologi. ideologi yang dianut jamaah sudah jelas, kokoh, bahkan terdefinisikan dengan tegas.

    kalau pks terus bergerak dengan cara ini (politik pendidikan atau pendidikan politik), maka pertambahan dukungan akan seiring juga dengan pertambahan masyarakat yang tertarbiyah, dan dengan demikian penduduk Indonesia juga semakin cerdas. jika nantinya memimpin Indonesia, basis dukungan juga akan sangat kuat.

    lihat saja kondisi saat ini. partai disentil sedikit, yang membela banyak sekali. apalagi jika semakin banyak pendukung cerdas, semua kebijakan akan mendapat dukungan luas.

  5. Mei 12, 2009 pukul 4:31 pm

    assalamualaikum….
    tukeran link ya.
    ana add link blog nt di blog ane
    thanks
    jazka

  1. Juni 24, 2009 pukul 7:33 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: