Beranda > artikel, dunia islam, taushiyah > Tuhan Memang Eksis!

Tuhan Memang Eksis!


Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan (Galih Prasetya Utama) membuat sedikit polemik melalui notenya di facebook dengan judul cukup provokatif “Tuhan Eksis ya?”. Saya sudah memberi sedikit tanggapan bahwa saya pernah berdiskusi dengan bapak saya tentang hal yang serupa dan juga sama menariknya. Kemudian jika sempat, saya berniat berbagi pikiran juga melalui blog saya.

Pada catatan Galih, ada sedikitnya 9 pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bagi saya cenderung merupakan pertanyaan retoris. Mengapa? Karena bagi saya, jawabannya sudah cukup jelas jika merujuknya pada aqidah Islam yang sudah saya pelajari. Walaupun saya tidak menafikan, jika dengan penjelasan yang ada di kepala saya bisa benar-benar menjawab pertanyaan yang muncul kemudian. Saya memang masih perlu banyak belajar.

Jika anda ingin mengetahui pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Akh Galih, saya sudah meringkaskannya di bawah ini.
1.    Kenapa Tuhan harus ada ?
2.    Kenapa Tuhan harus didefinisikan ?
3.    Kenapa Manusia mencari Tuhan ?
4.    Kenapa Tuhan menciptakan aturan ?
5.    Kenapa ada Takdir ?
6.    Kenapa kita harus percaya adanya Takdir ?
7.    Kenapa Tuhan menurunkan Agama ?
8.    Kenapa manusia menggagas bahwa Tuhan itu ada ?
9.    Kenapa Tuhan menurunkan pembawa pesan ?

Memang sungguh tak adil jika saya hanya menyajikan kalimat tanya-nya saja, tanpa menyajikan pula penjelasan kalimat tanya tersebut. Tapi jika anda ingin membaca tulisan lengkapnya, anda bisa buka notenya Galih di Facebook.

Bagi saya, pertanyaan- pertanyaan tersebut terdengar serupa dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “Mampukah Tuhan menciptakan sesuatu yang Dia sendiri tidak mampu mengangkatnya?”, atau “Mampukah Tuhan menciptakan partner yang setara atau bahkan lebih pandai dariNya?”. Atas pertanyaan yang saya tulis tersebut, saya memohonkan ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Kenapa Tuhan harus ada?

Dari 20 sifat Allah, di antaranya adalah sifat wujud dan sifat iradah. Dalam penjabarannya, akh Galih menabrakkan kedua sifat ini dengan kalimat “Kalau Dia mau dia ada, dia akan mengadakan, kalau Dia mau Dia tidak ada, itu juga terserah Dia, karena Dia juga punya kehendak”.

Secara logis (dan demikan juga ilmiah) cara seperti ini (menabrakkan dua aksioma) tidak bisa digunakan. Ini persis dengan pembuktian 2=3 hanya karena keduanya adalah nol jika dikalikan dengan nol. Padahal hukum identitas mengatakan bahwa nol tidak bisa digunakan untuk identitas.  Yang ingin saya katakan adalah, jangan menabrakkan dua aksioma, tetapi letakkanlah pada tempat yang setara.

Kenapa Tuhan harus didefinisikan?

Saya masih agak bingung dengan maksud “definisi” di sini. Tapi sepertinya, maksudnya merujuk pada definisi Tuhan menurut Islam, Kristen, Yahudi, yang dengan demikian mengakibatnya terdefinisinya agama-agama yang berbeda.

Sependek yang saya pelajari, dalam Islam “Allah” sudah sangat terdefinisi melalui wahyu-wahyuNya. Tak ada celah bagi kita untuk menambah atau menguranginya, apalagi meragukannya. Ketika itu dilakukan, maka domainnya adalah Aqidah. Memang terdengar agak puritan, tapi menurut saya itu hanya karena orang-orang liberal itulah yang membuatnya demikian. Membuat aktifitas “mempertanyakan Tuhan” menjadi legal.

Kenapa manusia mencari Tuhan?

Saya pikir penjelasan Harun Yahya dalam buku sakunya yang berjudul “Deep Thinking” atau bukunya yang lain “Mengenal Allah lewat akal” sudah sangat komprehensif menjawab pertanyaan ini.

Kenapa Tuhan menciptakan aturan?

Secara fisis hal ini cukup terjelaskan. Ketika ketidakteraturan terjadi, maka segala sesuatu akan cenderung menuju kehancuran (hukum entropi). Lantas, apa yang bisa dilihat dari kehancuran? Tentunya tidak mengabaikan juga bahwa Allah memiliki sifat Iradah, berkehendak.

Kenapa ada takdir? Kenapa kita harus percaya adanya Takdir ?

Saya berpendapat bahwa ‘Takdir” adalah bagian dari “aturan” Allah. Karenanya alasan adanya takdir adalah sama dan sebangun dengan adanya aturan.

Lantas, kenapa kita harus percaya adanya takdir? Bagi saya cukup jelas, karena itu salah satu syarat iman. Tapi jangan pula kita lupa bahwa qadar (takdir) selalu disandingkan dengan qadha’ (takdir yang belum terlaksana). Dan takdir bukanlah sesuatu yang qath’iy, tetapi bisa diubah oleh dua hal: usaha dan doa.

Kenapa manusia menggagas bahwa Tuhan itu ada ?

Wow!! Sebuah pertanyaan yang terlalu berani.

Bagi masyarakat barat, pernyataan seperti ini cukup dimaklumi. Mereka sudah membuang agama dari kehidupan mereka, tetapi jauh di dalam lubuk hati mereka masih ada rasa butuh terhadap sesuatu yang lebih hebat dari mereka. Maka dimunculkanlah hal-hal tersebut yang kemudian diberi label supreme being.

Supreme being?? Tuhan dianggap ciptaan (being)??

Kenapa Tuhan menurunkan agama? Kenapa Tuhan menurunkan pembawa pesan ?

Untuk pertanyaan pertama, walaupun dari sudut pandang aqidah Islam jawabannya jelas, tetapi bagi saya ini tetap merupakan another great question. Allah mengatakan dalam salah satu ayatnya bahwa Dia bisa menjadikan semua manusia ini satu umat saja, tapi Dia tidak melakukannya.

Kenapa Allah menurunkan nabi dan rasul? Saya sependapat jika ini menyimpan misteri tersendiri. Mengapa Allah tidak mewahyukan saja secara langsung ajaranNya ke setiap kalbu manusia, atau menciptakan manusia dengan pengetahuan keTuhanan yang sudah embedded sejak kelahirannya. Dengan demikian tidak perlu ada perbedaan penafsiran agama, dan dengan demikian pula setiap manusia mengetahui kebenaran yang hakiki yang karenanya tak akan pernah ada perselisihan dan pertumpahan darah seperti yang dikhawatirkan oleh para malaikat sebelum penciptaan Adam.

Tapi ketika itu Dia lakukan, maka tak perlu lagi akal bagi manusia. Manusia tak perlu memilih kebenaran dan kebathilan, karena mereka tahu persis mana kebenaran dan mana kebathilan menurut Tuhannya. Manusia tak perlu berpihak pada yang benar dan yang salah, karena tak ada pihak yang salah, semuanya sudah diarahkan menjadi benar. Lantas, apa beda manusia dan malaikat?

Subhanallah, pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini ketika berusaha disikapi dengan bijak, obyektif dan analitis ternyata menumbukan kepahaman baru terhadap keimanan yang insya Allah sudah tumbuh selama ini.

Untuk semua pendapat saya, saya tambahkan dengan “Wallahu a’lam bish shawab”.

  1. mier
    Januari 8, 2009 pukul 4:22 pm

    subhanallah….
    beberapa kali pertanyaan2 semacam ini muncul baik dari saya amupun dr org2 sekitar sy…
    terima kasih utk penulis (mas fathi) atas tulisannya, memberikan pengetahuan dan jawaban khusunya utk sy pribadi

    • Mei 15, 2009 pukul 5:18 am

      Hai Mier, sama dong…

  2. Januari 13, 2009 pukul 2:53 pm

    Hei Akh, saya posting di komen Antum ya ( ko nggak bilang kalo diposting di blog juga sih ). Hei para pembaca, sayalah Galih Prasetya Utama yang membuat onar itu ( hi3x…)

    Karena terlahir sebagai muslim ( kebetulan), terkadang sumpah, ” There’s no god beside God and Muhammad is a God messenger”, begitu mudah diucapkan, tanpa ada rasa pertanyaan, kenapa dan bagaimana bisa sumpah sedemikian berat itu meluncur dari mulut kita ? Ikrar itu sungguh tidak mudah dimaknai, bagi seseorang yang terlahir bukan sebagai muslim, saya salah satunya, untuk sepenuhnya berserah diri.

    Kamu, pernah menanyakan hal- hal di bawah ini ? Saya harus berjuang mencari jawaban dari pertanyaan yang keluar dari diri saya sendiri, sebelum mantap berikrar dua kalimat penyerahan diri itu. Tanpa ada Ayah yang mendidik- Ayah kandung saya, bukan muslim, sudah meninggal saat saya berumur 5,5 tahun-, dan Ibu yang membimbing, berikut lingkungan sekitar yang sinkretik abis, masa- masa pencarian itu rasanya berat sekali dilupakan. 2 bulan lamanya terombang- ambing, dan rasanya tidak terlupakan juga, ketika satu persatu pertanyaan itu mulai mendapat jawaban ( sementara ini…)

    Mau berbagi ? Ini beberapa pertanyaan yang dulu sempat saya tanyakan. Keknya logika banget ya ? Iya nggak sih ?………. Waktu peristiwa ini terjadi, saya berumur 15 tahun.

    Kenapa Tuhan harus ada ?

    Kalau Dia mau dia ada, dia akan mengadakan, kalau Dia mau Dia tidak ada, itu juga terserah Dia, karena Dia juga punya kehendak. Tidak penting Dia ada atau tidak, yang jelas, ciptaan ada karena manusia mampu mendefinisikan. Mendefinisikan adalah kemampuan mengenali suatu objek untuk kemudian berusaha memberikan label, itulah yang disebut dengan nama benda. Kemampuan yang Tuhan berikan kepada Adam, adalah kemampuan mendefinisikan sesuatu hal.

    Kenapa Tuhan harus didefinisikan ?

    Biarkan Dia mendefinisikan diriNya sendiri, jika dia memang mengaku bernama Allah, maka bolehlah kita panggil Dia dengan sebutan Allah. Kalaupun kita berusaha mendefinisikan Dia, itupun hanya terbatas pada memahami ciptaan Dia, salah satunya adalah kita sendiri. Cara Tuhan berbahasa adalah dengan karyaNya. Itu adalah lingua franca Dia. Kalau mau mendefinisikan Dia, pahami bahasa-Nya. Cuma, terkadang manusia suka mendefinisikan kata- kata Tuhan dengan hasrat mereka sendiri, jadinya suka saling menumpahkan darah, yang secara nalar terlihat bodoh, memangnya sukar sekali ya, berdiskusi baik- baik ?

    Kenapa Manusia mencari Tuhan ?

    Mungkin, kita yang punya tiga kemampuan, yaitu Cipta, Rasa, dan Karsa. Mulai merasa bahwa ada sesuatu yang lain yang punya otoritas selain kita. Mulai mencipta bahwa ternyata Dia punya sifat dan kehendak. Mulai berkehendak bahwa Dia sebaiknya ada.

    Kenapa Tuhan menciptakan aturan ?

    Saya tidak tahu, tanyakan pada Dia langsung, hanya saja, Dia tidak pernah bicara dengan kita secara langsung. Dia menciptakan aturan yang kompleks dalam ranah semesta yang luas, dimana setiap aturan punya aksioma sendiri. Kita baru bisa mendefinisikan tentang kausalitas saja, dugaan saya, ada takdir lain selain kausalitas. Hanya saja, terkadang manusia cukup sombong untuk berhenti bertanya lalu dengan tergesa menyimpulkan, ” Ini loh maksud Tuhan…”, lupa bahwa dalam setiap akhir kata, selalu ada kata, ” Wallahu a’lam bishshowab”.

    Kenapa ada Takdir ?

    Saya tidak merasa tahu juga apa itu takdir. Setahu saya, takdir adalah hukum, semacam hukum matahari berputar pada porosnya, dan bumi berevolusi selama 365,5 hari, itulah takdir. Ya, itulah yang orang sebut dengan The Law of Universe. Orang suka bilang soal universalitas hukum, dan sifat kesemestaan hukum itu sendiri. Kita memang harus tahu takdir, tapi sepertinya takdir yang dimaksud, adalah mendefinisikan kita, siapa kita dan seperti halnya memahami hukum kausalitas akademis, kita harus senantiasa mengobservasi diri dan alam semesta. Tentunya, dengan data, yang diawali oleh asumsi.

    Ayat pertama saja sudah bicara, ” Observasilah”, kata Tuhan- yang mengakunya bernama Allah itu- untuk membaca takdir semesta, dan tentunya termasuk kita di dalamnya. Walaupun yang namanya ” Teori Segala Sesuatu” itu belum ketemu, cuma, kalau yang saya pahami sejauh ini dalam kata Tuhan di ayat pertama surat itu, bahwa ada hukum- hukum dalam setiap penciptaan Dia, yang sifatnya sudah Dia tentukan, bisa ambil contoh mengenai Gravitasi dan Kecepatan Cahaya, yang ternyata, ada. Dan, itu harus diobservasi sedemikian rupa, dari yang semula di otak, kemudian dilakukan penelitian, dan memang ada kan ?

    Kenapa kita harus percaya adanya Takdir ?

    Kenapa kamu bilang harus ? Sebenarnya, kamu akan paham bahwa yang namanya takdir itu ada, kalau kamu mengobservasi bahasa Dia, karya Dia. Seperti Tuhan bilang, itu buat kita juga sih.Analognya, setelah tahu bahwa takdir bumi berevolusi selama 365,5 hari, ada banyak konstruksi yang manusia bisa perbuat bukan ? Kalau kamu mau tahu ”hukum” apa yang telah, sedang, dan akan terjadi kamu, ya kamu harus senantiasa mengobservasi diri kamu sendiri. Ya, kan itu yang seseorang bijak pernah bilang, ” Kalo loe mo tahu siapa Tuhan, loe kudu kenali diri loe sendiri. Siapapun yang kenal dirinya, dia bakalan kenal siapa TuhanNya”. Artinya, hukum itu berlaku di kita juga. Dan harusnya, setelah tahu riwayat takdir yang pernah berlaku pada kita, kita bisa berbuat lebih, soalnya, takdir masa depan kita juga punya hak buat ngebuat sendiri, kan ?

    Saya ambil contoh mengenai Gravitasi dan Relativitas Umum, awalnya dari pemikiran, yang berarti si penemu berusaha bertanya pada dirinya sendiri, kenapa ? Benar ? Lalu, dia berusaha melakukan pembuktian pemikirannya ( atau, hipotesisnya) dengan melakukan serangkaian penghitungan dan penelitian, dan jikalau dia berhasil membuktikan bahwa pemikirannya itu eksis, maka, dia menemukan salah satu takdir semesta.

    Artinya, sebenarnya takdir itu sudah ada dari dulu, dia terperangkap dalam ruang dan waktu, manusia, setelah berusaha mengenali dirinya dengan bertanya dan membuat hipotesis personal, lalu dia mencari, dan hola, ketemu si takdir ini! Tapi, manusia menemukan sesuatu, yang sebenarnya, sudah eksis, kan ?

    Kenapa Tuhan menurunkan Agama ?

    Saya tidak tahu, itu maunya Dia sendiri kan ? Tanyakan langsung saja ke Dia. Kalau kata Dia, bahwa Dia menurunkan pembawa pesan sebentuk dengan bentuk makhluk yang Dia tuju, itu juga terserah Dia sih. Mengenai legalitas lembaga berlabel agama, itu kan inovasi manusianya sendiri, memangnya Tuhan meminta Anda untuk melembagakan risalah-Nya secara eksplisit juga dalam bentuk objek fisik ? Karena sepemahaman saya, inspirasi soal keberadaan Dia, dan konfirmasi kenapa Dia menciptakan semesta, itu adalah sebuah berita, dan terserah pada manusia, apakah mau mematuhinya, atau tidak.

    Kenapa manusia menggagas bahwa Tuhan itu ada ?

    Tuhan bisa jadi merupakan gagasan saja, jika kamu menganggapnya seperti itu. Maksud saya, bedakan Tuhan, dengan Konsep KeTuhanan, dua hal yang berbeda.Manusia mengalami evolusi fisik ( anatomis- fisiologis), moral ( etika), dan akal ( intelektual). Paradigma tentang Tuhan ternyata dipengaruhi variabel tiga evolusi tersebut, namun, apakah Tuhannya sendiri berubah, saya pikir tidak, itu hanya soal manusianya sendiri yang berpikir dia mengenal Tuhan dengan baik, padahal, dia hanya sok kenal Tuhan, paham ?

    Kenapa Tuhan menurunkan pembawa pesan ?

    Itu juga terserah Dia sih. Sepengalaman saya, kalimat sumpah yang menyatakan bahwa ”There’s no god beside God and Muhammad is a God messenger”, lebih susah dipahami pada aspek kedua, paham maksud saya ? Memahami bahwa Tuhan itu eksis dengan sendirinya, dalam hal ini, Dia tidak berada dalam ruang dan waktu, sesuai pemahaman saya mengenai relativitas umum, melainkan di luar ruang dan waktu, jauh lebih mudah dibanding sumpah kedua, bahwa Tuhan yang mengaku bernama Allah ini mengutus pembawa pesan, bernama Muhammad, yang notabene Muhammad ini adalah makhluk bumi, spesies manusia, dan bukan alien, atau mungkin kita bahasakan lebih halus, malaikat.

    Jika pemahaman kamu seperti saya, sempat- sempatnya Tuhan- yang bernama Allah, kata Dia sendiri- ini, menyuruh seseorang untuk menjadi pembawa pesannya, padahal, secara kuantitatif maupun kualitatif, Planet Bumi itu kecil, dengan jumlah penghuni yang mungkin kecil juga, apa kepentingan Tuhan mengirimkan pembawa pesan ? Saya tidak tahu pastinya, yang pasti, Dia bilang, bahwa pesan ini adalah bentuk kasih sayang-Nya, wow, penuh kasih rupanya ya, kreator kosmos ini, baru paham

    Who said that business streetfighter always shallow minded ’bout God ? I’m not really juga tuh…Ah, pusing !

  3. Treante
    Januari 25, 2009 pukul 4:54 pm

    harusnya banyak orang yang baca!

  4. Januari 28, 2009 pukul 11:14 am

    kang, saya link ya blognya…

  5. Februari 6, 2009 pukul 6:16 pm

    Saya tidak menyalahkan mas Galih karena mempunyai pertanyaan2 seperti itu. Karena kita harus mempunyai dasar yang kuat untuk sesuatu yang diyakini (dalam hal ini Tuhan). Keyakinan tidak hanya karena “menurut pak ustadz…,menurut pak Haji…, menurut Al-Qur’an…). Tidak…!! tidak cukup hanya dengan alasan itu….!!! Tetapi butuh sutu bukti…!!

    Tuhan tidak takut ada makhluknya yang tidak percaya akan keberadaan Nya. Karena Tuhan telam menyertakan bukti2 tentang keberadaanNya.

    Aku yakin, saat mas Galih berhasil “membaca” bukti2 itu, ia akan mempunyai keyakinan yang sangat kuat, jauh lebih kuat dari keaykinan kita2 yang melandaskan keyakinan atas “kata pak Ustadz, menurut Guru Agama…..”

    Kewajiban bagi orang yang sudah kukuh keimanannya untuk membimbing mas Galih….

  6. Februari 6, 2009 pukul 6:37 pm

    @Prof.
    Justru mas Galih itu sudah mendapatkan jawabannya. Dia hanya mengutarakan apa yang pernah jadi pertanyaan dalam benaknya, dahulu sekali. Begitu.

  7. Mei 15, 2009 pukul 5:18 am

    Hai Bang Fathi. Keknya tulisan ente yang satu ini, lumayan juga yang ngeclick, kalau saya ketik nama saya di Google, masuk deretan halaman pertama looh.

    Nampaknya, seperti yang sering saya bahas di liqoat saya, banyak manusia manusia yang bertanya seperti saya, dan takut atau khawatir untuk bertanya, khawatir dengan label pluralis, atheis, nihilis, global teologis, apapunlah, yang justru itu another bullshit. Kenapa ? Ya, syahadat itu kan sebuah sumpah, janji, dan ikrar, yang memang diucapkan setelah paham, bukan hasil indoktrinasi, apalagi produk kebiasaan ( budaya), jadinya kita suka tidak menghargai tinggi sebuah syahadat. Bahwa pengungkapan dua kalimat memang benar- benar hak prerogratif masing- masing orang yang lahir atas dasar pemahaman mendasar, bahwa tidak ada ilah selain Allah, dan Muhammad itu memang pembawa pesan dari Allah.

    Dari situ mulailah sebuah kesadaran bahwa, “We can’t teach people anything, we can only help them discover it by themselves”. Itulah posisi sebuah penyampaian pesan via interaksi intensif orang per orang ( bahasanya “Dakwah Fardhiyah”). Ini anak- anak muda semenjak dari kampus banyak yang hobinya ngebullshit melulu soal perang antar peradabanlah, khilafahlah, militer lah, politik Indonesialah, eeeh lupa tugas yang paling substantifnya, interpersonal!

    Islam ini, free access for everyone, dan yang lebih dahulu tahu, harus memberi tahu yang belum tahu, bukannya malah menuduh kafir ( infidelity). Hai hai hai….Itu sama saja seperti melepaskan tugas sebagai pelanjut pembawa pesan bukan ? Aahh…Payah.

    • Mei 15, 2009 pukul 4:34 pm

      Makasih lih. Gara-gara ente, saya jadi bikin tulisan yang agak berbobot sedikit. huehehe…

      lama-lama bosen juga nulis tentang politik. ga ada habisnya isunya😀

  8. Mei 16, 2009 pukul 1:50 pm

    Keknya kalau observe flash back ke beberapa pemikiran yang ente bikin bukan sebagai studi kasus ( di blog ini), bobotnya lumayan diukur dari temanya. Kalau ente bikin lebih serius dengan tema bersyarat : Sesuatu yang pernah dialami, sedang dialami, dan akan dialami ( dalam satu tema fokus, Fisika Elektronika, misalnya, atau Fisika Bumi, mungkin ? Bisa jadi Implemented Physics, dengan gaya Richard Feynman), blog ente akan lebih banyak bermanfaaat buat orang yang belum “tahu” apa apa saja yang ente “tahu”.

    Kan tugas yang sudah “tahu” adalah memberi “tahu” itu ke orang yang belum punya “tahu”, kan ? Dan blog punya persyaratan untuk menjadi alat memberi “tahu”

    Sejak semula memang blog saya fokus “berbagi tahu” seputar “Bisnis Farmasi”, itu blend-mixed up dari : HR, Teknologi Farmasi, Manajemen Industri, Profiling, Budaya Mikroekonomi, dan Budaya negara yang mempengaruhi budaya industri. Sangat sangat segmented. Bukan apa apa, saya tidak mau jadi tipikal “komentator segala hal”, apalagi pembuat puisi yang menikmati masalah.Semua masalah ada adalah untuk diselesaikan, dan semua kekufuran ( infidelity) ada, adalah untuk dipahamkan ( bukan dihancurkan laaah…)

    Yu Akh, bikin media yang bisa memberi “tahu” yang kita “tahu” ke spesies manusia yang belum “tahu”. Lebih mendalam lebih baik, dan lebih spesifik juga akan lebih signifikan buat membangun peradaban, bukan begitu ?

    deal with it ? ^_^ Antum punya kekuatan untuk dipakai Akh, jangan disimpen melulu dong, haha ^_^ Keluarkan sepuas puasnya, anak muda gitu loh, saatnya menggelegar !! Hahahaha…

    • Mei 19, 2009 pukul 11:55 am

      Sebenarnya untuk tujuan itu sudah disiapkan di blog yang terpisah dengan blog ini. Sudah lama dibikin, tapi blom sempet keurus. Jadinya ngga berkembang juga. Maklum, butuh pengkajian yang lebih dalam. Ngga cuman sekedar memaparkan ide.

      Cukup terinspirasi dari bang Romi yang bikin infokomputer.com. Mudah-mudahan nanti ke depannya bisa bikin yang serupa, tapi di bidang saya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: