Beranda > lain-lain, showbiz > Perfilman Indonesia, sedang menuju akhir (lagi)?

Perfilman Indonesia, sedang menuju akhir (lagi)?


Kalau mengamati tren tema film-film Indonesia saat ini, kita akan mendapatkan tema yang nyaris itu-itu saja: Komedi Seks (mereka menyebutnya komedi dewasa), horor, dan percintaan remaja. Nyaris seluruhnya berputar di sekitar tema yang serupa, tidak kreatif.

Sepertinya kita kembali diingatkan pada masa-masa menjelang perfilman Indonesia mati sekitar satu setengah dekade yang lalu. Kala itu, film-film yang diproduksi lebih banyak di seputar film horor dan seks. Memang kisah percintaan abg atau anak muda tidak seheboh sekarang. Tapi bukan berarti kisah-kisah serupa tidak ada.

Sebenarnya, saya berharap mulai ada film-film yang lebih menantang. Katakanlah tentang infiltrasi TNI di OPM di Papua, atau tentang reserse yang menyelidiki penyebaran narkotika, atau tentang perjanjian damai Malino atau perjanjian damai dengan GAM. Atau bisa juga memfilmkan cerita-cerita fiksi seputar Imam Samudra atau Jamaah Islamiyah yang beberapa tahun lalu sering dipaparkan di pengadilan. Kayaknya bakal seru tuh. Jangan lupa juga tambahkan efek-efek wah seperti ledakan, tabrakan mobil, pesawat jatuh, atau yang sebangsanya.

Kalau ada film berkualitas, sifatnya masih sangat kasuistik. Hanya beberapa buah setahunnya. Padahal ada puluhan hingga ratusan judul film yang rilis dalam satu tahun. Jadi kita belum bisa mengatakan pada dunia bahwa perfilman kita mulai maju hanya dengan menunjuk Ayat-Ayat Cinta atau Laskar Pelangi. Apakah Asoy Geboy, DO, Mau Lagi, Quickie Ekspres, Sarang Kuntilanak, Rumah Pocong, dsb harus kita tutup-tutupi??

Kategori:lain-lain, showbiz
  1. machmoedsantoso
    November 7, 2008 pukul 12:34 pm

    kalau ada yang bikin film perjuangan keren juga tuh, Bandung Lautan APi, pertempuran ambarawa, dan lain2.

  2. November 7, 2008 pukul 2:04 pm

    bener tuh. apalagi kalau digarapnya seperti Pearl Harbour atau Saving Private Ryan😀

  3. November 13, 2008 pukul 10:16 pm

    assalumulaikum akhi. fathi. seorang dai hendaknya tidak hanya pandai mengkritik tapi juga pandai memberbaiki keadaan. bila sekolahan kita masih belum baik,kenapa kita tidak bertnya sudah apa yang kita berikan kepada sekolah.coba kita sama2 berkumpul kita rumuskan langkah untuk membangun sekolah kita kembali menjadi sekolah yang antum bayangkan. ana siap sumbang saran dan kerja

  4. November 13, 2008 pukul 10:21 pm

    ana pribadi anadai diberi kesempatan buat film. ana akan coba buat film tentang kepahlawanan para syuhada yang telah mengorbankan jiwa raga untuk kemerdekaan bangsa.bukan film seronok dan horor. seronok dan seronk di bilang kreatif

  5. bahrul ulum fikri
    November 17, 2008 pukul 8:07 am

    salam sejahtera, mungkin br ini sy lihat sahabat sy yg terlupakan. perjalanan hidup anda semakin maju, slmt. blh sy minta alamat n tlp

  6. November 17, 2008 pukul 10:18 am

    eh, ada bahrul. apa kabar nih?

    saya bisa dikontak di fathi@nashrullah.co.cc, ym: fathinashrullah, atau hp: 081320568461.

  7. November 19, 2008 pukul 8:03 pm

    Thi.. kamu add link tempatku ya.. thanks

  8. November 19, 2008 pukul 8:04 pm

    afwan ni anto🙂🙂

  9. April 12, 2010 pukul 10:54 am

    dilihat dri kuantitas, perfilman indonesia mank dah maju, tp klo dri kualitas sih masih jauh..
    ya moga ja ad terobosan baru yang berkualitas..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: