Beranda > artikel, indonesia > Masih Tentang Pendidikan

Masih Tentang Pendidikan


Sebenarnya ini komentar untuk komentar mas Galih yang ini, tetapi ternyata kepanjangan, dan saya berpikir untuk mempost-nya sebagai tulisan terpisah.

Wah, senang dikomentari sangat panjang oleh mas Galih. Sebelumnya, saya juga mau mengucapkan selamat dulu atas kelulusannya. Kapan-kapan juga ingin mengomentari tulisannya mas Galih. Tapi sayang, semua tulisannya berada di seputaran dunia Farmasi dan dunia bisnisnya, jadi saya tidak terlalu nyambung.

Memang postingan saya di atas hanya berupa uneg-uneg yang keluar ketika mendapatkan sebuah email broadcast di milis icmi. Entah kenapa, mungkin karena berhubungan dengan dunia pendidikan, saya jadi terpancing untuk ikut mengomentari.

Saya memang tidak sedang membahas sistem pendidikan secara holistik. Saya hanya menanggapi beberapa pertanyaan yang diajukan mas AZA. Mungkin suatu saat saya bisa menyusun tulisan tentang pendidikan yang lebih lengkap, sehingga bisa menjadi bahasan yang lebih luas.

Kalau mas Galih menyebutkan target pendidikan adalah “Sikap dewasa” dan “Sadar yang kritis”, maka itulah sebenarnya (kurang lebih) yang saya maksudkan dengan “standar absolut kesejahteraan”. Dan itu adalah wajib dipenuhi oleh semua warga masyarakat. Kenapa? Agar mereka dapat memposisikan diri mereka sendiri, mengenali diri mereka sendiri, dan kemudian juga dapat menentukan peran apa yang ingin mereka ambil dalam masyarakat yang dia berada di dalamnya.

Mungkin singkatnya begini: Bukan kewajiban pemerintah saja yang harus menyediakan makanan, pekerjaan, sarana kesehatan, transportasi, dan lain sebagainya bagi seluruh rakyat. Tetapi pemerintah harus bisa mengkoordinasikan rakyatnya bagi penyejahteraan seluruh rakyat. Dan jika mereka tidak memiliki standar absolut kesejahteraan ini, maka sampai kapan pun mereka tidak akan bisa digerakkan untuk menjadi batu bata penguat bangsa, sehingga kewajiban memberi makan, pekerjaan, dsb, kembali jatuh hanya pada pemerintah saja (a.k.a presiden, menteri, gubernur, walikota, dinas-dinas, pns, dan yang semacamnya).

Mengenai apa pekerjaan mereka, berapa penghasilan mereka, dan lain sebagainya, saya menempatkannya sebagai suatu ukuran relatif untuk kesejahteraan. Kenapa? Karena setiap kepala memiliki penilaiannya masing-masing atas segala sesuatu. Ada yang berpendapat bahwa akademis adalah mutlak, sehingga bertekad meneruskan pendidikan sampai rela untuk tidak menikah dan tidak bekerja. Ada yang berpendapat bahwa wirausaha adalah keharusan bagi dirinya, ada pula yang berpendapat bahwa profesional harus menjadi jalan hidupnya, dan lain sebagainya.

Itu semua bukan masalah utama kesejahteraan. Tetapi ketika mereka tidak mampu memilih sesuatu untuk dirinya, di situlah masalah terjadi. Karenanya, banyak terjadi pengangguran, padahal terlalu banyak pekerjaan rumah yang dimiliki negeri ini bahkan untuk dikerjakan oleh semua penduduk sekalipun. Terjadi juga kelaparan, padahal potensi pangan tersedia terlalu melimpah untuk seluruh rakyat.

Dan tujuan pendidikan ini sebenarnya tidak harus ditempuh melalui jalur pendidikan formal. Hanya saja, bagaimanapun kita harus mengakui bahwa keformalan selalu identik dengan terkoordinasi. Untuk pendidikan dua ratus juta lebih rakyat Indonesia, kita jangan berharap dari sesuatu yang tidak terkoordinasi. Karenanya, “sekolah” menjadi hal yang penting. Tetapi, bagi saya pendidikan yang dimaksud di sini adalah “pendidikan dasar dan menengah”.

Akan halnya pendidikan tinggi, posisinya jelas-jelas berbeda. Bukan sekedar untuk mendewasakan diri serta membangun kesadaran kritis, tapi lebih jauh dari itu, bahwa pendidikan tinggi adalah institusi penelitian yang dampaknya luas. Bukan sekedar untuk diri sendiri, tetapi skalanya negeri. Karenanya, pendidikan tinggi ini berhubungan dengan usaha negara meningkatkan taraf hidup rakyatnya.

Akan halnya ada mahasiswa yang belum dewasa dan kritis, maka sebenarnya yang bermasalah adalah pendidikan dasar dan menengahnya. Dan memang, untuk saat ini sedang membutuhkan reformulasi yang sangat luar biasa.

Kategori:artikel, indonesia
  1. Oktober 21, 2008 pukul 1:51 pm

    Terima kasih atas kelanjutannya Akh Fathi, dan mohon maaf jika blog saya tidak pernah bicara tentang

    “saya”. ( I’m not good in that part, trust me. Now I’m still learn to talk ’bout “me and myself”- And please never

    ask me to tell me, who am I…)

    Saya suka berpikir tentang pendidikan ( But, I’m talking ’bout LEARN, not STUDY, it’s quite different, rait ?),

    karena korelasi tebal dengan peradaban. Mohon jangan tebalkan definisi peradaban itu dengan sesuatu

    yang megaloman, sederhana saja sih, kita, adalah manusia yang beradab, itulah yang akan membangun

    peradaban, yaitu kita, manusianya. ( The opposite side of “biadab”, c ?) Tentunya dengan adab- adab yang

    kita rumuskan ( Adab the similar side with akhlak, rait ?) itulah yang namanya peradaban akan berdiri. Dan-

    muter lagi-, dengan apa mewariskan serta membangun tata-nilai-adab ini ? Yup, satu kata, pendidikan.

    Yah, saya sebagai pedagang ( peminjam pabrik), cuma bisa berharap dan bertindak dalam dimensi dan

    “track” saya ( mikroekonomi-teknologi). Semoga diskusi semacam ini tidak akan hilang begitu saja. ( jadi

    kemana- mana nih…..)

    Pendidikan manusia ( Pembentukan karakter) itu, proses yang evolutif Mas Fathi, saya tidak percaya dengan

    revolusi, tetapi saya percaya dengan evolusi dipercepat. Dalam pandangan personal saya, tindakan

    Muhammad SAW menginkubasi sahabat -dengan karakter individu hebat- dalam waktu yang sangat singkat

    di Makkah, sebagai fundamental peradaban Islam seabad kemudian, adalah pencapaian empiris proses

    pendidikan manusia yang luar biasa! Apalagi, tidak sampai membunuh variasi karakter sahabat, wow, cool!

    Manusia ( anak muda) memang suka tergesa- gesa sih….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: