Beranda > artikel, indonesia > Sistem Pendidikan Kita (semi dialog)

Sistem Pendidikan Kita (semi dialog)


Ada email dari mas Achmad Zaenal Abidin (AZA) di milis kalam yang mempertanyakan tentang sistem pendidikan di negara kita. Sebenarnya sudah sering sekali mas AZA ini mengirim email-email seperti ini, baik ke milis kalam, icmi, atau indonesia next better. Tapi formatnya seringkali ‘agak’ serampangan i.e. format tidak teratur, yang diajak diskusi tidak jelas (karena dikirim ke banyak sekali milis), subjectnya kepanjangan, dsb.

Entah kenapa, kali ini saya ingin mencoba me-reply. Setelah saya tulis, ternyata cukup panjang. Dan setelah dipikir-pikir, cocok juga untuk jadi artikel tersendiri di blog ini.

Silakan dikritisi.

Apakah ada yang bisa memberikan pencerahan mengapa SD 6 tahun ? mengapa SMP 3 tahun, mengapa SMA 3 tahun ? dan mengapa perguruan tinggi 9 semester ?

Ada kurikulum yang sudah disusun sebelumnya. Kurikulum tersebut dijabarkan pada tataran teknis sehingga menghasilkan angka-angka seperti itu (6 tahun, 3 tahun, dsb). Apakah harus selalu sama waktunya? Tentu tidak. Makanya ada yang bisa SD kurang dari 6 tahun, ada kelas akselerasi, ada yang S1 3 tahun, dsb.

Mengapa banyak pengulangan dari SD sampai SMA untuk mata pelajaran bahasa Indonesia ? Mengapa terjadi pengulangan untuk SMP dan SMA pelajaran sejarah, matematik, bahasa Inggris, biologi, Fisika, Kewarga negaraan dan sebagainya bahkan sampai kuliah ?

Pernah dengar istilah “spiral” dalam terminologi pengajaran? Kita akan selalu mengulangi pelajaran yang sejenis dalam proses belajar kita, tentunya dengan pendalaman materi. Misalnya begini, di SD kita mengenal angka. Di SMP kita mengenal angka dalam basis berbeda. Di SMA kita mengenal angka dalam koefisien-koefisien dan konstanta-konstanta. Di perkuliahan kita mengenal angka dalam dunia yang berbeda lagi. Tapi semuanya sejenis, mengenal angka.

Dalam dunia perkuliahan juga sebenarnya tidak banyak berbeda. Jika anda kuliah di jurusan fisika di perguruan tinggi manapun, anda akan menemukan pelajaran yang selalu diulang-ulang. Di tingkat satu, kita mempelajari gelombang dalam mata kuliah fisika dasar. Di tingkat dua, kita pelajari kembali gelombang dalam persamaan-persamaan yang lebih kompleks pada mata kuliah Fisika Matematika atau Kalkulus Lanjutan. Di tingkat tiga, lebih dalam lagi dipelajari dalam mata kuliah Gelombang. Bahkan di tingkat empat pun kita masih akan bergelut dengan gelombang, jika tugas akhir anda mengambil topik di sekitar fisika bumi, elektronika, atau bidang-bidang yang lainnya.

Apakah tidak mungkin menjadi sarjana dalam waktu 18 tahun ?

Mungkin saja. SD (6 tahun), SMP (3 tahun), SMA (3 tahun), dan kuliah (6 tahun –kelamaan). Tapi kalau maksud anda adalah menjadi sarjana pada umur 18 tahun, sepertinya anda harus mereduksi makna sarjana itu sendiri. (maksud saya mendefinisikan ulang kata sarjana)

Apakah ada batasan psychologis untuk menjadi seorang sarjana ?

Batasan psikologis seperti apa yang anda maksud? Kondisi psikologis seseorang bisa berbeda-beda.

Apakah tidak mungkin dengan standard kompetensi yang sama dengan sarjana diselesaikan mulai umur 6 tahun dalam waktu pendidikan 12 tahun ? sehingga umur 18 telah menjadi sarjana dengan mengurangi pengulangan dan menambah detail sesuai jurusan kompetensinya ? sehingga biaya pendidikan untuk menjadi sarjana atau kompetensinya telah mampu bekerja sesuai bidang dengan lebih murah, cepat ? sehingga makin banyak masyarakat yang mampu untuk membiayainya atau pemerintah membiayainya dengan gratis bagi semua warga negara terutama yang tidak mampu ?

Saat ini sudah mungkin dilakukan. Caranya dengan kelas akselerasi. Jika SD diselesaikan hanya dalam waktu 5 tahun, kemudian SMP dan SMA masing-masing hanya 2 tahun plus kuliah 3 tahun, maka jika sang anak mulai masuk SD pada umur 6 tahun, dia sudah menjadi sarjana pada umurnya yang ke-18.

Jika digeneralisasi, maka sebenarnya jika sistem pendidikan kita direformulasi ulang, kita bisa membuat sistem pendidikan yang lebih singkat bagi warga negara kita. Standar tercepatnya adalah 12 tahun pendidikan, tapi ada kemungkinan tinggal kelas atau justru malah percepatan.

Tapi sepertinya ada hal yang terlupakan, bahwa:

  1. Ada paradigma penundaan masa kerja dalam sistem pendidikan yang dianut semua negara dewasa ini. Tujuannya adalah menunda kedewasaan, dan dengan demikian menunda perkawinan. Goalnya jelas: mengerem laju pertumbuhan penduduk. Ini perlu dikaji lagi ke depannya, apakah memang perlu atau tidak, soalnya efek sampingnya juga jelas: kenakalan remaja, pergaulan bebas, dsb.
  2. Standar majunya pendidikan tidak selalu dengan seberapa tinggi kuliah warga negaranya. Tetapi seberapa jauhnya mereka mendapatkan fasilitas pendidikan. Ini bisa berupa pendidikan kejuruan, pendidikan luar kelas, pendidikan mandiri via buku-internet, pendidikan intra lembaga (seperti sertifikasi-sertifikasi internal perusahaan terhadap para karyawannya) dsb.
  3. Yang perlu didorong dengan maksimal sebenarnya adalah pendidikan dasar dan menengah. Target utama pendidikan tahap ini sebenarnya adalah agar peserta didik memahami posisinya sebagai diri sendiri, bagian dari masyarakat, aset bangsa di masa depan, merencanakan karir dan cita-cita, serta memutuskan akan mengambil jalan mana untuk kehidupan dia ke depannya.
  4. Standar absolut kesejahteraan seseorang adalah memahami posisi dirinya relatif terhadap keadaan di sekitarnya, dan itulah yang diberikan oleh pendidikan dasar dan menengah. Mengenai berapa penghasilannya sebulan, di rumah seperti apa dia tinggal, bagaimana makannya sehari-hari, dan lain sebagainya, itu adalah hal yang serba relatif.
  5. Tugas pemerintahlah yang menjamin kelangsungan kesejahteraan masyarakat. Ketika dengan hidup sehat kesejahteraan masyarakat akan maju, maka kewajiban pemerintahlah mendorong majunya hidup sehat, misalnya menggratiskan pendidikan dokter dan pendidikan kesehatan masyarakat di perguruan-perguruan tinggi, mensupport penelitian-penelitian yang dilakukan universitas dan pusat-pusat penelitian untuk menghasilkan pangan berkualitas tinggi dan berkuantitas besar serta ekonomis untuk pasar, menurunkan harga bahan makanan, dan sebagainya.Begitu juga ketika dengan ilmu rekayasa kesejahteraan masyarakat akan maju, maka pemerintah wajib mensupport penelitian-penelitian di bidang-bidang ilmu dasar, ilmu engineering (teknik kimia, elektro, mesin, informatika, industri, sipil, penerbangan, dan semua teknik lainnya), dan kemudian mengoperasionalkannya dalam skala industri dan manufaktur.Di sinilah peran pemerintah dalam pendidikan tinggi. Sangat berbeda posisinya dengan perannya dalam pendidikan dasar dan menengah, walaupun sama-sama pendidikan.

Wallahu ‘alam.

Fathi Nashrullah

Kategori:artikel, indonesia
  1. Oktober 10, 2008 pukul 7:15 am

    Pendidikan itu, untuk membangun kesadaran kritis dan kedewasaan bersikap. Dua target Mas Fathi, ” Sikap Dewasa” dan ” Sadar yang Kritis”. Meminjam terminologi Freire sebenarnya, dan berusaha melihat secara fundamental manusianya.

    Menyitir pernyataan Romo Mangun, bahwa manusia yang dilahirkan di institusi pendidikan bangsa kita ini, kenapa justru menjadi entitas tersendiri yang berbeda dengan rakyat. Empiriknya, pernah dengar istilah ini kan,” Mahasiswa berjuang bersama rakyat”, atau ” Kita memperjuangkan umat”, loh, bukankah saya dulu adalah rakyat yang kebetulan sedang kuliah, dan umat yang sedang menempuh pendidikan?

    Apakah menurut Mas Fathi, moral itu berevolusi ? Dan, yang Antum bicarakan adalah pendidikan, di atas tidak membicarakan soal sistem secara holistik. Sistem terdiri dari regulasi ( aturan) dan operator ( dalam hal ini manusia), berarti, sistem pendidikan adalah sistem organik kan ? Nah, saya sepakat dengan poin 2 bahwa strata bukan satu- satunya parameter, artinya Antum menuju ke area “Masyarakat Berpengetahuan” aka “Knowledge Society”, itu, saya senang sekali. Yang berarti bahwa pelaku regulasi itu, secara formal tetap guru dan perangkat, dan secara formal, adalah saya, bagian integral dari masyarakat berpengetahuan itu sendiri, ya ? Jadi, saya adalah bagian dari proses pendidikan.

    Pendidikan, juga, adalah pewarisan nilai ( memetika), betul ya ? Masyarakat yang berperadaban, akan mewariskan adab- adab ke generasi berikutnya ( An Nisa;9) via wahana tertentu, dan salah satunya adalah, sekolah. Bagi saya, sekolah juga adalah wahana untuk memberikan pilihan kesempatan yang lebih luas dan kaya bagi peserta sekolah ( ambil contoh Lintang, salah satu tokoh Laskar Pelangi). Akan sangat absurd jika sekolah mereduksi pilihan nan luas tadi menjadi simplifikasi cara kita “menyikapi kompetensi” yang kita miliki. Sebagai contoh adalah pernyataan rektor ITB, bahwa alumni ITB harus bisa mengisi lapangan- lapangan pekerjaan di perusahaan- perusahaan Indonesia, itu, bagi saya, bukanlah pernyataan yang bijak, karena cara kita menyikapi kompetensi di diri kita, bisa sangat berbeda masing- masing orang, tergantung dari kesadaran kritis dan kedewasaan bersikapnya, dan itu, bagi saya ya….( ini jadi ego personal, he3x…)

    Kalau dasarnya sudah lemah, seberapa signifikan akan berpengaruh pada pendidikan tinggi ? Maksud saya, stratifikasi sosial sudah ditampakkan bahkan saat masih di SMU, empiriknya, sekolah favorit biasanya punya kelas IPS yang jauh lebih sedikit dibanding IPA, kenapa ? IPA lebih pandai ( katanya….)

    Ah, sudahlah, ini posting yang bagus, saya sangat berminat dengan pendidikan, kemarin ketemu keluarga besar dan berdiskusi panjang lebar dengan paman yang jadi dosen dan satunya lagi yang jadi pengusaha manufaktur, dua- duanya punya argumen bahwa pendidikan itu penting untuk membangun generasi yang lebih hebat, hanya, metodologinya saja yang berbeda, pilihan hidup mereka ( dosen dan pengusaha) mencerminkan cara mereka “menyikapi” ilmu yang mereka miliki. ( Semoga dosen di kampus dulu tidak mereduksi pilihan hidup mahasiswa untuk menyikapi ilmunya, amiiiin….)

  2. Oktober 11, 2008 pukul 12:22 am

    Teringat diri akan dua orang hebat — رضي الله عنهما — Imam Syafi’i dan Muhammad al-Fatih. Yang satu sudah menjadi seorang mufti (pemberi fatwa) pada umur 15 tahun, dan yang satu lagi pada umurnya yang baru 17 tahun sudah memimpin negara (Khalifah) dan membawa kemenangan atas Konstantinopel.

    Silahkan simak juga tulisan kawan2 kami di Situs HATI, “Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam“.

  3. Oktober 11, 2008 pukul 9:03 am

    @bimo

    Kasus-kasus seperti itu memang sering terjadi. Hanya saja, senantiasa bersifat kasuistik. Coba saja perhatikan, pada zamannya Imam Syafi’i, berapa banyak orang seperti beliau? Coba juga lihat pada zamannya Muhammad Al Fatih, berapa banyak orang seperti beliau?

    Tapi yang luar biasa itu, begitu banyak orang-orang hebat yang terkumpul dalam satu waktu (tak peduli berapa umurnya). Dan itu hanya terjadi sekali sepanjang sejarah, masa kenabian Rasulullah Muhammad SAW. Itulah para sahabat.

  4. Oktober 22, 2008 pukul 5:01 pm

    ya, itulah mengapa zaman itu disebut khairu qurun (masa terbaik)
    yang menarik, ketika banyak SDM yang berkualitas secara luar biasa dalam level individu dalam suatu zaman, berarti itu merupakan keberhasilan sistemik, mungkin kita perlu menelaah sungguh-sungguh penyebab keberhasilan sistemik itu seperti apa…
    untuk menghasilkan “rata-rata” keluarbiasaan individual yang lebih tinggi daripada zaman sekarang misalnya. bagaimanapun para shahabat adalah para manusia biasa yang tidak memiliki keistimewaan layaknya rasulullah (beliau kan maksum), bagaimana dengan probabilitas untuk melahirkan generasi sekualitas shahabat pada masa sekarang ini?

  5. Oktober 23, 2008 pukul 9:00 am

    Benar ukti rira. Kalau berdasarkan hadits rasul, maka seharusnya masa seperti itu tidak akan terulang kembali. Rasulullah bersabda bahwa qurun terbaik adalah qurun yang beliau ada di dalamnya. Qurun terbaik berikutnya adalah qurun setelahnya. Begitu seterusnya. Bisa dibayangkan, seperti apa kualitas qurun kita saat ini yang berjarak 14 abad dari qurun terbaik.

    Tapi bukan berarti kita tidak bisa mengulang masa keemasan itu. Tetap saja ada probabilitas untuk mendekatinya. Maka dari itu kita wujudkan bersama-sama mulai dari diri sendiri dan keluarga, serta masyarakat di sekitar kita. Dan pada saatnya nanti, ketika khilafah sudah kembali, perbaikan secara sistemik dan massif bisa dilakukan oleh pemerintahan Islami.

  1. Oktober 10, 2008 pukul 9:18 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: