Beranda > bandung, indonesia, pks, politik > Tanggapan Pak Endrizal Tentang Kekalahan TRENDI

Tanggapan Pak Endrizal Tentang Kekalahan TRENDI


Tulisan ini adalah tanggapan Pak Endrizal Nazar, anggota DPRD dari PKS, di milis Kalam Salman terhadap tulisan pak Munawwar Khalil tentang kekalahan TRENDI.

Dikopi dan dilakukan perapihan format seperlunya.

Assalamu’alaikum wr.wb.

Menanggapi tulisan/analisis saudaraku Munawar Kholil sebelumnya saya mengucapkan terima kasih namun tetap merasa perlu melakukan klarifikasi agar informasi/analisisn ya berimbang. Politik bagi PKS merupakan bagian dari da’wah sehingga yang dikedepankan adalah langkah amar ma’ruf nahi munkar dengan prinsip mengambil kebaikan terbanyak (maksimalnya) atau memilih mudharat terkecil (minimalnya) sesuai dengan semangat masuk ke pemerintahan dalam rangka Ishlahul Hukumah (perbaikan pemerintahan) . “In uridu illa al ishlaha ma ishtatho’tu wa ma taufiqi illa billah alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.”

Dalam Pilwalkot Bandung prinsip di atas tetap menjadi rujukan yang dalam implementasinya tentu berrdasarkan analisis dan survey terhadap kondisi yang ada. Sebagai orang yang cukup lama bergaul dengan komunitas partai politik yang ada di DPRD Kota Bandung pilihan untuk tidak jadinya berkoalisasi dengan Poros Tengah atau PAN, bukanlah karena ke’pede’an PKS walaupun tetap diakui pengaruh kemenangan HADE juga menjadi bagian yang mempengaruhi keputusan politik PKS. Tidak etis kalau tidak terjadinya koalisasi itu saya sampaikan disini tetapi dalam konteks analisis dan survey yang telah dilakukan (survey yang sama juga dilakukan dalam rangka pemenangan HADE) menunjukkan koalisasi yang terbentuk malah menurunkan perolehan suara dengan meningkatnya swing voters.

Analisisnya mengarah bahwa pemilih PKS tidak ‘sreg’ dengan pasangan tersebut sementara sang pasangan tidak mampu membawa massa partainya untuk memilih pasangan yang diusung bersama dengan PKS. Pilihan untuk bergabung dengan incumbent juga menyebabkan penurunan suara yang cukup tinggi (suara yang diperoleh tidak linier dengan perolehan jumlah suara PKS maju sendiri dengan incumbent maju sendiri). Artinya semakin banyak pemilih PKS yang menjauh.

Hal ini tentu membahayakan kalau sikap ini muncul dari pemilih2 yang selama ini merasa PKS sebagai entitas yang konsisten menghadang kebijakan pemkot yang ‘menyengsarakan’ sebagian warga masyarakat seperti pedagang pasar tradisional dan masyarakat Griya Cempaka Arum. Ditinggalkan oleh masyarakatlah yang lebih dikhawatirkan PKS dibanding hilangnya peluang berkuasa. Apalagi mengingat ungkapan Amirul Mu’minin Umar ibnul Kaththab, “Kalau seandainya ada seekor unta yang mati kelaparan di pinggiran sungai eufrat, maka Umar akan diminta pertanggungjawabann ya di yaumil qiyamah kelak”. Terzhaliminya beberapa kelompok masyarakat dengan kebijakan2 yang selama ini ditentang PKS akan menjadi tanggung jawab PKS kalau kemudian PKS bergabung dengan incumbent tapi tidak ada solusi buat mereka. Solusi yang diminta dan ditawarkan PKS ternyata tidak mendapat respon yang memadai.

Pilihan PKS juga bukan tanpa ada dasar rasionalitasnya. Tingkat elektabilitas calon PKS Juni 2008 memang berselisih sekitar 15 % ( 29 % : 44 %) dengan incumbent dan berdasarkan pengalaman HADE, PKS optimis bisa mengejar ketertinggalan ini. Tapi rupanya operasi politik yang dilakukan (selebaran gelap/sms gelap, fitnah, adu domba), mobilisasi aparatur dan APBD membuat prediksi PKS jauh dari sasaran. Beredarnya ribuan rim selebaran gelap berkop PKS yang menyerang kelompok2 lain (khususnya ormas Islam), dimana beberapa ustadz menjadikan selebaran gelap (segel) ini sebagai bahan rujukan ceramah dan khutbah Jumat. Isu rasial/etnis (Padang-Cina) yang dikembangkan secara sistemik/terstruktu r sehingga sampai keluar dari mulut aparatur padahal mereka berdua asli sunda.

Bantuan2 APBD yang dicairkan saat kampanye dan minggu tenang dan selalu dinyatakan sebagai jasa incumbent (saya pernah hadir dalam pengucuran bantuan koperasi masjid melalui MUI yang saya perjuangkan anggarannya di Panitia Anggaran, tetapi oleh pembawa acara (pengurus MUI) dianggap sebagai jasa incumbent dan meminta yang hadir untuk tahu berterima kasih sehingga spontan ada yang nyeletuk coblos incumbent- saya kemudian berusaha meluruskan, tetapi bagaimana dg acara2 yang tdk dihadiri kader pks yang mengerti masalah).

Terhadap beberapa ustadz yang menjadikan segel sebagai rujukan ceramah/khutbah sudah dilakukan klarifikasi tetapi dengan enteng mereka menjawab, “Saya tidak salah hanya menyampaikan, yang salah yang buat selebaran, begitu juga masyarakat yang terpengaruh juga tidak salah”. Terakhir ada buletin gelap yang menyerang bapak Miftah Faridl juga dikesankan dari PKS/Trendi. Muncul kemudian penangkapan 2 orang akhwat (oleh pendukung salah satu calon) yang terlalu semangat masih iseng nempel 1 stiker di masa tenang. Penangkapan ini kemudian dikesankan/dipaksa seolah-olah buletin gelap diatas dari mereka dan langsung diumumkan ke jejaring radio (PRSSNI) dan jadi berita.

Terlalu banyak kalau semua saya tulis di sini. Saya tidak menuduh operasi politik ini dilakukan incumbent atau tim suksesnya, tetapi operasi politik ini menjadi demarketing Trendi dan sangat menguntungkan incumbent. Akibatnya taqdir menentukan Trendi harus kalah dengan cara-cara kotor dalam berdemokrasi. Sebagai bahan informasi betapa jahatnya black campaign yang dilakukan, saya masukkan sms2 gelap saya terima ke attach files.

Wassalam
Endrizal Nazar

sms-sms gelap terkait saya post di tulisan berikutnya.

  1. Agustus 22, 2008 pukul 9:30 am

    Tetap semangat!

  2. September 14, 2008 pukul 4:32 pm

    maju terus

  3. September 22, 2008 pukul 10:51 am

    politik adalah pukau dan silau

    jangan tinggalkan mengaji ke surau
    coba mulai mendengar cerita lapau

    wassalam,
    Datuak Arifz

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: