Beranda > bandung, indonesia, politik > Keberhasilan Kang Dada

Keberhasilan Kang Dada


Tulisan kali ini tidak akan membahas kegagalan kang Dada. Saya ingin mencoba secara fair mengakui beberapa program beliau yang sudah bisa dinilai berhasil. Saya tidak mengingkari bahwa memang ada program baik yang sudah berjalan, karenanya dalam tulisan ini saya tidak akan menimpali dengan ‘tapi’ dan ‘padahal’ yang menafikan program-program tersebut.

Ada setidaknya 5 program yang saya nilai sudah berhasil. Di antaranya adalah penutupan tempat pelacuran Saritem, penambahan ruang terbuka hijau, penataan pedagang kaki lima, pengadaan sekolah gratis tingkat dasar hingga menengah, dan peningkatan kelestarian lingkungan kota. Saya akan mencoba untuk menjabarkannya satu persatu.

Penutupan pusat pelacuran legal Saritem merupakan keberhasilan yang luar biasa yang tercapai pada masa kepemimpinan kang Dada. Saritem merupakan noktah hitam terburuk yang membuat masyarakat Bandung malu mengakui identitasnya. Berumur sudah sangat tua dan terletak di pusat kota menjadikan Saritem sangat mudah diakses oleh siapapun, sehingga masyarakat kota Bandung tak bisa menafikan keberadaannya.

Penutupan secara resmi pusat pelacuran legal ini memungkinkan setiap anggota masyarakat melakukan usaha-usaha yang mungkin dilakukan untuk mencegah hidupnya kembali pusat kemaksiatan itu, tentunya dengan cara yang sesuai dengan koridor hukum dan norma yang ada. Masyarakat juga memiliki hak yang legal di mata hukum untuk menolak keberadaan tempat-tempat maksiat di mana pun di seluruh penjuru kota Bandung.

PR yang masih tersisa terkait penutupan pusat pelacuran ini adalah pembinaan bagi para pelacur yang kini secara resmi dilarang aktivitasnya. Mereka perlu dibina agamanya, diberi kapasitas keterampilan, dan pekerjaan yang layak, agar mereka tidak perlu berpikir untuk kembali ke dunia hitamnya.

Program yang kedua adalah penambahan ruang terbuka hijau. Selama masa kepemimpinan kang Dada, beberapa area berhasil dihijaukan dengan diubah fungsinya menjadi taman. Yang paling mencolok adalah revitalisasi taman tegallega di sekitar monumen bandung lautan api. Daerah itu kini hijau dipenuhi dengan pepohonan yang ditanam menjelang peringatan konferensi Asia Afrika ke 50 tahun 2005 lalu. Padahal sebelumnya daerah tersebut menjadi ‘pasar’ sementara yang kemudian justru berkembang menjadi pemukiman semi permanen yang luar biasa kumuh, padahal letaknya dekat dengan pusat keramaian kota (alun-alun).

Selain tegallega, ada juga tiga SPBU yang dialihfungsikan menjadi taman. Yang pertama adalah di perlimaan Cikapayang – Dago – Dipati Ukur. Kini daerah tersebut menjadi taman yang selalu ramai dengan anak-anak muda di malam sabtu dan malam minggu. Yang kedua adalah di jalan Sukajadi dekat mall Paris Van Java, dan yang ketiga adalah di simpangan Riau-Aceh.

Yang ketiga adalah penataan pedagang kaki lima. Dalam program ini, ada istilah yang menjadi sering dibicarakan, yaitu “kawasan tujuh titik”. Tidak semua warga Bandung mengetahui, kawasan mana saja yang termasuk dalam 7 titik itu, tapi yang jelas dua di antaranya adalah Jalan Otto Iskandar Dinata di sekitar Pasar Baru Trade Center dan di sekitar Alun-alun dan masjid Agung.

Mungkin jika anda hanya mengamati keadaan saat ini saja, anda tidak akan mengerti di mana letak keberhasilannya. Tetapi jika anda membandingkan situasi di sekitar itu antara masa kepemimpinan Dada dengan walikota sebelumnya, AA Tarmana, maka anda akan memahami peningkatannya. Pada masa AA Tarmana, PKL di sekitar pasar baru sangat banyak. Apalagi pada masa menjelang lebaran, semua PKL bebas menggelar dagangannya di tengah jalan. Praktis hanya tinggal satu jalur mobil saja yang tersisa. Keadaan yang terjadi saat ini adalah peningkatan luar biasa dari masa-masa itu.

Tak dipungkiri bahwa memang benar ada sekolah gratis di kota Bandung. Ini ditegaskan oleh Fraksi PKS DPRD Kota Bandung, yang sejak awal masa tugasnya pada tahun 2004 senantiasa mendorong walikota untuk meningkatkan pendidikan. Kalau tidak salah, jumlahnya mencapai 385 buah. Ini terdiri dari sekolah dasar hingga sekolah menengah (umum dan kejuruan) yang tersebar di seluruh kota Bandung. Jumlahnya memang belum banyak, baru sekitar 10 buah per kecamatan. Tetapi sebuah langkah awal yang cukup bagus, mengingat baru di tahun terakhir masa jabatannyalah program ini dilaksanakan.

Yang terakhir adalah peningkatan kelesatarian lingkungan kota. Walaupun belum maksimal, kelestarian lingkungan di wilayah pusat aktivitas bisnis dan pemerintahan di kota Bandung telah mengalami peningkatan. Menurut informasi di media cetak beberapa tahun yang lalu, puluhan ribu pohon telah di tanam di seluruh kota Bandung. Selain untuk peningkatan kelestarian, penanaman ini juga sebagai konsekuensi atas penebangan pohon-pohon tua yang mengancam keselamatan pengguna jalan.

Mudah-mudahan jika kang Dada menang, keberhasilan yang sudah saya sebutkan tersebut dapat dilipatgandakan jumlah dan kualitasnya. Jika memungkinkan, tambah kembali jumlah sekolah gratis bagi seluruh warga Bandung, tingkatkan pelestarian lingkungan kota, cegah kemaksiatan, dan libatkan seluruh komponen kota dalam merencanakan pembangunan kota.

  1. Jo
    Agustus 7, 2008 pukul 9:41 am

    mudah2an tidak lepas dari tanggal 10 agustus 08 pa ^_^ ,

  2. Agustus 8, 2008 pukul 1:35 am

    Oooo… Kang Dada ya…. gimana ya…?
    ah nati saja komentar kang dadanya…. Ngomong2 salam kenal…
    blognya informatif🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: