Beranda > politik > Kenapa kang Dada dinilai gagal?

Kenapa kang Dada dinilai gagal?


oleh: Fathi Nashrullah

Ada cukup banyak alasan kenapa kepemimpinan kang Dada saya nilai gagal. Secara garis besar sudah saya tuliskan di webnya kang Dada, walaupun dengan cara lain. Di antara kebijakan yang saya nilai sebagai kegagalan adalah sebagai berikut:

Penutupan Saritem.
Saya sama sekali tidak menolak penutupan Saritem. Seharusnya ini sudah dilakukan sejak jaman dahulu kala, bahkan seharusnya memang tidak pernah ada. Masalahnya, aura politik dalam penutupan Saritem ini sangat kental. Indikasinya, tidak ada pembinaan serius yang dilakukan pada PSK-PSK di sana. Setelah ditutup, yang dilakukan pemkot pada Saritem hanya sebatas razia saja. Kalau masih ada yang praktek, ditangkap. Secara sekilas kita akan mendapatkan kesan bahwa kang Dada adalah walikota yang luar biasa, berani menutup Saritem. Dengan demikian untuk pilwalkot berikutnya beliau akan mendapatkan dukungan dari para ibu-ibu majelis ta’lim yang jumlahnya sangat banyak di kota Bandung ini.

Akibatnya apa? Sekarang sudah terasa. PSK Bandung saat ini terdesentralisasi kemana-mana. Tempat-tempat yang dahulu tak ada PSKnya, sekarang jadi ada. Dari mana mereka? Ya dari Saritem itu. Mereka dilarang beroperasi kembali di sana (Saritem) dan mereka juga tidak dibina. Jadi semakin rusaklah kota Bandung.

PLTSa
Ini sebenarnya ide yang brillian. Hanya saja, dalam pelaksanaannya tidak melihat realitas yang ada. Ide ini muncul setelah kegagalan pemerintah kota mengolah sampah, pasca tragedi leuwigajah 2004 lalu. Kemudian justru muncul ide waste to energy (yang dimispersepsi sebagai PLTSa) yang ternyata proses perealisasiannya semrawut dan direncanakan akan dibangun di tengah pemukiman warga.

Kasus hotel Planet
Entah kenapa, kasusnya berlarut-larut. IMB jelas-jelas sudah dilanggar. Letaknya di depan rumah gubernur pula. Harusnya tindakannya tegas, seperti ketika pelarangan pendirian masjid di kantor gubernur. Saya masih curiga, jangan-jangan para mafia perjudian itu berhasil melobi pemkot.

Umbar izin pembangunan mal
Kalau yang ini nggak ketulungan mengesalkannya. Hanya dalam waktu beberapa tahun saja tiba-tiba muncul mal yang jumlahnya fantastis. Mari kita sebutkan satu persatu. Di jalan terusan pasteur ada BTC dan GIANT yang dibangun berdekatan dan hampir bersamaan. Kemudian ada BEC dan BeMAL serta IBCC yang jualannya sama persis. Ditambah lagi Lucky, Piset, Mollis, Hypermarket tengah kota (sekarang carrefour aja banyak sekali di Bandung, belum lagi Giant dan Hypermart), Riau Junction, Paskal Hypersquare, dsb. Belum lagi pembangunan FO-FO serta butik-butik, dan juga pengubahan-pengubahan fungsi bangunan kuno yang masuk kategori heritage kota Bandung.

Mengapa ini menjadi negatif? Karena pembangunan yang sedemikian banyaknya itu tidak berkorelasi positif dengan pembangunan sarana umum. Indikatornya sederhana: macet di mana-mana. Dengan semakin banyaknya mal, harusnya akses jalan raya juga semakin ditingkatkan (ditambah dan dilebarkan). Termasuk juga area parkir. Masak sih mau beralasan kalau jalannya sudah tidak mungkin dilebarkan? Padahal sebelum pembangunan gedung-gedung seperti itu, pasti ada AMDALnya. Termasuk juga analisis-analisis lain yang berkaitan dengan masyarakat di sekitarnya. Kalau memang jalannya tidak mungkin dilebarkan dan area parkir tidak mungkin ditambah, kenapa izin masih diberikan juga? Kenapa tidak disarankan untuk di bangun di tempat yang masih cukup jarang penduduknya, daerah Bandung selatan misalnya. Padahal konsekuensinya sudah jelas: macet di mana-mana.

Akhirnya, keluarlah kebijakan menggelikan itu: Jalan-jalan di kota Bandung dijadikan satu arah semua. Kita harus berputar-putar ketika hendak menuju ke satu tempat yang sebenarnya tidak terlalu jauh.

Sarana umum
Satu hal yang sangat mengesalkan di kota Bandung ini adalah sarana transportasi umumnya. Sudahnya tidak nyaman, mahal lagi. Akhirnya semua orang berlomba-lomba memiliki sepeda motor sendiri. Alasannya jelas: untuk jangka pendek relatif lebih nyaman dan lebih murah. Akibatnya kota Bandung sangat ramai dengan sepeda motor, ini mengakibatkan semakin susahnya mengatur penggunan jalan raya (peningkatan entropi jalan raya). Silakan saja bandingkan jalanan kota Bandung sekarang dan sepuluh tahun yang lalu. Berbeda jauh!

Keengganan menggunakan tenaga ahli
Cukup aneh memang kota Bandung ini. Kota yang memiliki ITB-UNPAD-UPI di dalamnya, plus PT-PT swasta yang sangat banyak, tapi pengelolaannya seperti ini. Kita belum bicara tentang PTDI-LEN-PINDAD yang bisa mendukung penyediaan sarana dan prasarana kota Bandung. Tapi kenapa kotanya acak-acakan seperti sekarang ini?

Sebenarnya di samping berbagai kegagalan, saya juga melihat beberapa indikasi keberhasilan. Mungkin akan saya coba paparkan di kesempatan yang lain.

Kategori:politik
  1. Juli 16, 2008 pukul 9:48 pm

    kalo yg berhasil ada tak??

  2. Juli 16, 2008 pukul 9:48 pm

    biar ditiru mksdnya…
    pada aneh2 sih mikirnya

  3. Juli 17, 2008 pukul 8:00 am

    yang berhasil ada akh. sebenarnya mau saya tulis, tapi belum sempat.

    waktu saya mencoba mengkritisi kebijakan-kebijakan pemkot, ternyata setelah saya list justru lebih banyak buruknya. susah juga kalau mau bersikap seperti jurnalis yang “cover both side”, whether good or bad.

    jadinya yang keluar baru bisa ini dulu.

  4. bangkamil
    Juli 29, 2008 pukul 4:35 pm

    ada kebaikannya :

    – Jalan bagus (udah mau deket kampanye)
    – Sampah agak mendingan (abis diomelin sama Presiden karena mau KAA)
    – Sekolah gratis (padahal bukunya bayar, SPP cuma ceban sebulan, buku ratusan ribu)
    – Katanya pengalaman (pengalaman terhadap hal-hal yang tidak begitu baik)

  5. Juli 29, 2008 pukul 4:53 pm

    ah, bang kamil bisa aja.
    tapi beneran kok, ada kebaikannya (tapi ya itu, selalu ada “dalam kurung”-nya😀 )

  6. Agustus 7, 2008 pukul 1:37 pm

    Asw. kang, sebenernya yang saya rasakan selama ini seolah-olah bandung tuh ga punya walikota lho. Saya terus terang 5 tahun kebelakang tidak merasakan eksistensi dada rosada, tapi aneh tiba2 saja mulai sekitar 1 tahun yang lalu baru lihat, ooh.. dada teh yang ituh, dan baru kemaren di debat cawalkot saya baru tahu ooh.. cara ngomongnya kayak gitu, panteesaan…
    Trus, kebaikannya wih alhamdulillah kurang dari setahun jalan2 pada diperbaiki, wah coba ini terjadi 5 tahun yang lalu… namun sayangnya waktu tak dapat kembali…

  1. Agustus 7, 2008 pukul 9:01 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: