Beranda > indonesia > Analisis kemenangan HADE di Pilkada Jabar

Analisis kemenangan HADE di Pilkada Jabar


Oleh: Fathi Nashrullah

Kemenangan pasangan Ahmad Heriawan (PKS) – Yusuf Macan Effendi (PAN) atau disingkat HADE pada pilkada Jawa Barat yang diselenggarakan pada Minggu, 13 April kemarin benar-benar di luar dugaan. Bagaimana tidak, semua survey dan poling yang pernah dilakukan sebelum masa pencoblosan menunjukkan hasil yang sama: menempatkan pasangan ini pada posisi buncit. Tetapi kenyataan berkata lain. Oleh karenanya hal ini menjadi bahan yang unik untuk dibedah dan dibahas, baik dalam kerangka akademis, maupun sebagai masukan dalam menyusun langkah pemenangan pemilu bagi siapapun yang membutuhkannya.

Analisis kemenangan pasangan HADE di bawah ini saya buat lebih condong dari sudut pandang PKS, karena saya memang nyaris tidak bersentuhan dengan tim sukses HADE dari sisi PAN. Karenanya, hal-hal yang menyangkut PAN tidak akan terlalu banyak saya bahas. Walaupun demikian, saya tidak akan pernah menafikan bahwa ini bukanlah kerja PKS sendirian, melainkan sinergi saling menguatkan antara PAN dan PKS.

Poin-poin analisis yang saya sebutkan di bawah bukanlah merupakan suatu urutan yang diurutkan berdasarkan besar kontribusinya, tetapi hanya proses pengurutan dalam penyebutan saja. Dalam pandangan saya, semua poin ini bersifat sejajar, tidak mendahulukan satu dan mengecilkan yang lain. Tetapi dilaksanakan semuanya secara paralel.

Pertama, PKS dan PAN adalah dua partai dengan latar yang mirip. Keduanya adalah partai reformis yang dilahirkan oleh motor-motor reformasi pada tahun 1998. Karenanya, keduanya memiliki sejarah historis yang serupa jika kita tarik dari masa reformasi. PKS dan PAN juga merupakan partai yang mirip: dijalankan oleh banyak tokoh yang relatif muda, identik dengan kalangan terpelajar, dan banyak dikelola oleh para da’i. Jika yang pertama banyak diisi oleh aktivis masjid kampus maka yang kedua banyak diisi oleh pengurus organisasi Islam yang besar, Muhammadiyah.

Kedua, HADE adalah calon dari kalangan muda yang merefleksikan pembaharuan. Keduanya benar-benar tampak siap dan fresh untuk mengusung pemerintahan yang benar-benar baru. Kita bisa melihatnya pada orasi-orasi mereka semasa kampanye, penampilan mereka di media massa, serta penampilan ketika debat calon. Ini cukup menjadi bahan bakar untuk materi-materi kampanye yang diusung.

Ketiga, karena HADE adalah calon muda, maka menjadi lebih mudah untuk mengajak para pemilih muda untuk memilih mereka. Susah untuk mengajak pemilih muda untuk memilih calon dari generasi tertentu jika tidak menggunakan identitas umum mereka: kemudaan usianya. Mereka (pemilih muda) bisa digaet oleh calon lain yang umurnya lebih tua jika menggunakan jargon selain “muda”. Dan tentunya ini menjadi lebih sulit karena harus lebih banyak jargon yang dimunculkan.

Keempat, tim sukses HADE benar-benar barisan militan. Barisan militan ini diisi oleh para pemuda yang rata-rata berusia di bawah 30 tahun. Ini bisa kita lihat dengan kesukarelaan mereka datang kampanye tanpa dibayar, membeli sendiri (dengan uang pribadi) poster-stiker-baligo-kaos-pin untuk ditempel dan dibagikan kepada masyarakat. Kemudian bisa kita lihat juga dari kesukarelaan mereka menjadi saksi tanpa dibayar, direct selling kepada orang-orang di sekitar mereka, dan lain sebagainya. Ini menumbuhkan simpati pada mereka yang belum memutuskan pilihannya.

Kelima, Dede Yusuf yang sudah terkenal. Tidak bisa diingkari bahwa faktor Dede Yusuf dalam pasangan ini memiliki andil yang signifikan. Dia menjadi figur yang paling dikenal oleh masyarakat dibandingkan semua kandidat lainnya, bahkan dari seorang gubernur yang menjabat sekalipun. Secara terencana, posisi Dede Yusuf ini benar-benar ‘dijual’ untuk meraup suara yang banyak. Kita bisa lihat dari banner-banner kampanye yang dipasang di pinggir jalan dengan tulisan “lebih ganteng, lebih bersih” (atau yang semacamnya). Dalam iklan di televisi pun demikian. Dede Yusuf mendapatkan porsi yang lebih banyak dibandingkan Ahmad Heriawan.

Keenam, perencanaan kampanye yang baik. Ini bisa kita lihat dari beberapa indikator, misalnya foto, desain perlengkapan kampanye, strategi debat calon, dan sebagainya. Dari foto kita benar-benar bisa membedakan mana calon yang muda dan mana yang lebih tua, hanya dengan tidak mengenakan peci. Selain itu dasi dan jas yang match antara kedua calon juga menampakkan kesan yang ramah. Kita lihat juga perlengkapan kampanye lainnya. Strategi menempelkan baligo di rumah-rumah kader dan DPC-DPD PKS di semua daerah di Jawa Barat dinilai mampu mengakselerasi percepatan pengenalan pada warga jabar. Pada debat calon, terlihat betapa terencananya pasangan ini. Ini ditunjukkan dengan pembagian materi debat yang teratur, pembagian waktu dalam menjawab pertanyaan, dan materi humor yang menyegarkan. Sedangkan kemampuan berdialektika tentunya adalah hal yang lain. Singkat kata, pasangan ini memiliki pengaturan kampanye yang sangat baik.

Ketujuh, kegagalan pemerintahan jabar selama ini. Sudah terlalu banyak indikator yang menunjukkan kegagalan pemerintah sebelumnya. Sepertinya tidak perlu disebutkan lagi di sini. Hal ini menjadi materi kampanye yang luar biasa bagi pasangan HADE. Selama kampanye, semua kegagalan diubah menjadi harapan-harapan yang sangat menjanjikan, misalnya sekolah gratis, layanan kesehatan gratis, satu juta lapangan pekerjaan, dan lain sebagainya. Tentunya ini dinilai lebih menjanjikan dibanding kedua pasangan lainnya yang notabene adalah incumbent.

Kedelapan, pertolongan Allah. Pertolongan ini tentunya bukan suatu hal yang secara gratis didapatkan. Tetapi buah perjuangan yang luar biasa selama ini. Kita bisa melihat betapa konsistennya kader di semua lini dalam berjuang. Munajat yang dilakukan pun tidak main-main. Jauh hari sebelum pencoblosan, bahkan sebelum nama calon yang akan diusung keluar, DPW PKS sudah menginstruksikan kepada semua kader untuk meningkatkan kedekatan kepada Allah. Ini kita lihat dari seruan-seruan peningkatkan amal yaumiyah, seperti tilawah, qiyamullayl, shaum sunnah, usbu’ ruhy, dan sebagainya. Merujuk pada sirah Nabi SAW, maka ini memberikan peran yang sangat penting bagi kemenangan pasangan HADE.

Akhirnya, kita semua harus menyadari bahwa kemenangan pasangan ini adalah awal dari sebuah kerja keras yang sangat besar, begitu melelahkan, dan tak ada ujungnya. Amanah ini merupakan beban yang luar biasa berat, yang kalau kita memikirkannya, tidak bisa keluar senyuman dari bibir ini. Yang ada hanyalah cucuran air mata seraya mengharap Allah memberikan kemampuan untuk memenuhinya. Tak perlu lagi pesta pora itu, karena kita pun tahu bahwa terlalu banyak rakyat yang kelaparan, tidak mempunyai pekerjaan, dan menderita. Mudah-mudahan kita semua senantiasa diberi kekuatan dalam mengemban amanah.

Amiin.

Kategori:indonesia
  1. April 16, 2008 pukul 12:54 am

    Kalau ‘rakyat’ sudah menentukan pilihan, duit NOT TO BE DO IT.

  2. April 16, 2008 pukul 11:12 pm

    Syukurlah kalau HADE yang jd pemimpinnya🙂

  3. April 17, 2008 pukul 2:19 am

    pendek kata, sekarang rakyat lebih suka memilih pemimpin yang fresh dan bersih.

  4. Bob
    September 3, 2008 pukul 4:14 am

    Sesungguhanya kemenangan utama Hade adalah ketidakmampuan Kubu Aman, khususnya Agum sebagai panglimanya untuk melihat siapa lawan mereka. Kunci No. 1 dalam semua peperangan adalah : Mengetahui siapa musuh anda (Tzun Su Art of War). Agum selalu merasa musuhnya adalah Gubenernur incumbent, Danny Setiawan yang sesungguhnya dari awal, bulan November 2007, saya sebagai Chief Strategist Dede Yusuf sudah sangat yakin yang akan kalah yaitu Danny Setiiawan. Karena rendahnya polling Danny Setiawan yg pada bulan sept 2007 saja pollingnya hanya 53%. Sementara dari berita di koran Kompas sesudah kemenangan Nur Alam, dibahas bahwa untuk seorang incumbent menang popularitasnya haruslah di atas 70%. Agum tidak pernah sadar bahwa musuh dia sesunggunya adalah Hade.
    Karena inilah kubu Aman tidak pernah tanggap terhadap gerakan Hade, dan lenggah.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: