Beranda > kisah > Perjalanan ke Walimah Mahfud

Perjalanan ke Walimah Mahfud


Nampaknya belum ada yang berbagi cerita yang lebih lengkap tentang pernikahan akh Mahfud lebih dari seminggu yang lalu. Sebenarnya saya sudah ingin berbagi cerita ini lebih awal, namun apa daya, ternyata kesibukan yang luar biasa sehingga tidak memungkinkan untuk segera menuliskannya untuk berbagi kepada ikhwah sekalian.

Perjalanan kami berawal dari Salman, menggunakan sebuah mobil APV yang dipinjamkan oleh Abu Fathi (bapaknya Fathi – red). Sejak dari rumah Ummu Fathi (Ibunya Fathi – red) sudah membekali kami makan siang untuk dimakan di perjalanan, agar tidak mengeluarkan uang lebih banyak dan tidak perlu berhenti terlalu lama, agar dapat segera sampai di tujuan. Setelah kami semuanya kumpul (Fathi, Kamil, Farid, Danial, Fakhrul, dan Iswahyudi) dan segala persiapan serta titipan (kado dari teknik kimia, serta piala “love eternity” tk02) dimasukkan ke dalam mobil, pukul 8.45 kami berangkat dari Salman.

Rute perjalanan yang disepakati adalah Bandung-KotaSukabumi-PelabuhanRatu-TegalLumbu. Rute yang kabarnya (kata teh Is Is) paling dekat dan paling mudah untuk ditempuh dari Bandung. Keluar dari Salman kami langsung mengarah ke jalan tol melalui fly over Pasupati dan sebelumnya mengisi bahan bakar dahulu di pombensin samping BTC. Karena perjalanan melalui rute yang telah disebutkan tadi, maka kami tidak lama berada di jalan tol dan keluar di pintu tol Padalarang.

Perjalanan menuju Sukabumi tidak terlalu banyak hambatan. Menjelang masuk kota Sukabumi terjadi peristiwa yang cukup mengerikan. Tabrakan motor!! Entah bagaimana proses terjadinya tabrakan tersebut, yang jelas saya melihat seakan-akan salah satu motornya terjungkir balik di udara. Ibu-ibu yang dibonceng mengalami luka cukup parah. Terlihat pada mukanya ada bekas hantaman dengan tanah. Dari mulut dan hidungnya keluar darah. Astaghfirullah. Tidak semua dari kami mengamati proses tabrakan tersebut. Hanya saya saja yang melihat prosesnya cukup rinci karena ketika itu saya yang mengemudikan mobil. Kami menepi dan berhenti sejenak untuk mengamati barangkali kami dibutuhkan untuk menolong para korban. Tapi di lokasi sudah banyak orang yang membantunya. Karenanya kami memutuskan segera melanjutkan perjalanan saja.

Masuk kota Sukabumi, kami mencari toko untuk membeli beberapa keperluan. Kaset mini DV untuk handycam belum sempat kami beli, karena toko-toko di Bandung masih pada tutup liburan 17 agustus. Kami mampir ke Sukabumi Indah Plaza. Malangnya, ternyata di kota Sukabumi tidak mudah untuk mencari sebuah kaset mini DV. Bahkan satu mal pun tidak ada yang menjualnya. Akhirnya, akh Farid memutuskan untuk tidak membelinya. Karena kami dari Bandung belum membawa minuman serta makanan kecil apapun, kami berbelanja sedikit makanan untuk perjalanan.

Karena waktu sudah mendekati dzuhur, kami sepakat untuk mampir di masjid untuk shalat dzuhur dan ashar serta makan siang. Kami memilih untuk mampir di masjid Abdurrahman bin Auf, masjid SMU-ku dahulu (SMU Hayatan Thayyibah). Meskipun lokasinya harus berbelok sekitar 1,5 kilometer dari jalan utama, tetapi suasananya nyaman dan parkirnya juga mudah. Setelah shalat kami makan di halaman sekolah (ngampar!!! Maklum anak muda. Hehe). Sungguh nikmat makan siang kala itu. Saking nikmatnya, bekal yang pada awalnya disiapkan untuk 9 orang habis oleh kami berenam. Subhanallah. Alhamdulillah.

Perjalanan kami lanjutkan kembali. Kali ini kami berbelok ke arah Pelabuhan Ratu. Sebenarnya kota ini masih bagian dari kabupaten Sukabumi, namun jaraknya sangat jauh. Kurang lebih 60 kilometer dari kota Sukabumi, dengan jalan yang bukan jalan tol. Ketika mencari jalan ke arah Pelabuhan Ratu, kami sempat tersesat dan terjebak di tengah-tengah pasar. (halah!!) Pasar Pelita namanya. Maklum, walaupun sang supir pernah tinggal 3 tahun di Sukabumi, tapi tak pernah jalan-jalan ke Pelabuhan Ratu. Tapi untungnya kami terjebak dan tersesat tidak terlalu lama. Paling hanya sekitar 15 menit sahaja. Setelah itu kasusnya berbeda lagi: jalan macet. Ternyata untuk menuju Pelabuhan Ratu dari kota Sukabumi memang harus melalui jalur yang padat, sesak nan sempit dan penuh dengan angkot yang ngetem. Jadi kami harus berjalan perlahan sejauh sekitar satu kilometer.

Setelah lolos dari kemacetan itu, untuk memastikan bahwa kami memang tidak tersesat kami bertanya pada seorang tukang parkir. Juru bicara kami ketika bertanya di jalan adalah akh Farid, karena hanya beliaulah yang bisa berbicara bahasa Sunda dengan fasih. Setelah bertanya kepada tukang parkir tadi, ternyata kami memang tidak salah jalan. Beliau menyarankan untuk tetap jalan lurus, dan kemudian akan menemukan plang informasi jalan yang menunjukkan ke arah Pelabuhan Ratu. Dari beliau pula kami mengetahui bahwa setidaknya kami harus menempuh jarak 60an kilometer untuk sampai di Pelabuhan Ratu.

Untuk mengamankan perjalanan, kami berhenti kembali di pombensin untuk menambah bahan bakar. Dari sini sopir pun berganti. Sopir penggantinya adalah sopir yang sangat berpengalaman membawa rombongan walimah ke berbagai pelosok kota di pulau Jawa (halah!!), yaitu akh Kamil (fi03). Hingga akhir perjalanan sopir tidak berganti lagi.

Perjalanan menuju Pelabuhan Ratu tidak terlalu banyak hal yang menarik diceritakan selain jalan yang berkelok-kelok dan tidak terlalu lebar serta alunan nasyid yang itu-itu saja (membosankan!). Memasuki Pelabuhan Ratu, kami dicegat sebuah pos yang sepertinya pos pengamanan memasuki suatu area pariwisata. Kami diminta uang masuk sebesar Rp.10.000. (aneh juga sih, masak mau lewat saja mesti bayar?? Ga dikasih karcis tanda terima pula!!) Akh Kamil bertanya pada sang penjaga tentang arah yang harus ditempuh menuju Tegal Lumbu. Kaget juga kami dengan jawabannya. Pasalnya dia menjawab bahwa Tegal Lumbu hanya sekitar 5 kilometer lagi dari pos tersebut. Padahal kami amati di peta, jarak Sukabumi – Pelabuhan Ratu hampir sama dengan Pelabuhan Ratu – Tegal Lumbu. Jelas saja saya tidak percaya dengan informasi dari bapak tersebut. Karenanya, begitu masuk pusat kota Pelabuhan Ratu, kami bertanya kepada polisi setempat, dan benar saja, perjalanan memang masih sangat jauh.

Perjalanan setelah Pelabuhan Ratu adalah rute yang sangat indah. Pemandangan laut menjelang sore hari memang luar biasa. Tak terkatakan indahnya. Sebenarnya kami ingin sekali mampir untuk sekedar berfoto-foto. Tapi undangan untuk silaturahmi dengan panitia walimah setempat pukul empat sore menghapuskan keinginan tersebut. Akhirnya kami hanya bisa menikmati pemandangan itu tanpa bisa mengabadikannya lewat gambar. Dari Pelabuhan Ratu perjalanan berbelok ke arah utara. Untuk beberapa saat kami masih bisa melihat pemandangan laut dari atas bukit. Setelah itu, pemandangan berganti dengan pegunungan yang tak kalah indahnya. Jalan yang dilalui memang sangat berat. Saking beratnya, kami berpapasan dengan pengendara motor yang terjatuh karena motornya tersandung oleh bebatuan yang cukup besar. Karenanya kami berhenti sejenak untuk membantu orang tersebut dan memastikan bahwa dia tidak apa-apa. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali. (buat temen-temen yang ikut rombongan, cerita yang tukang ojek tea ga usah diceritain yah. Malu euy. Hehehe.)

Jalan dari pelabuhan Ratu ke arah Cikotok cukup sempit dan banyak bagian yang rusak cukup parah. Bahkan di beberapa bagian ada yang longsor sampai tinggal setengah badan jalan. Adapula jalur yang belum lama ini tertimbun longsoran dari atas bukit. Sisa-sisanya masih terlihat jelas. Perjalanan seperti ini berlanjut hingga Tegal Lumbu, sejauh lebih dari 35 kilometer. Tapi segala kesusah payahan seperti ini cukup terbayar dengan indahnya pemandangan sepanjang perjalanan. Benar-benar indah sampai-sampai Kamil menepikan mobil untuk sekedar berfoto-foto. Tapi kami meyakinkan bahwa kami harus segera sampai karena sudah ditunggu.

Pukul setengah lima sore kami sampai di Tegal Lumbu. Kami disambut dengan hangat oleh keluarga pak Sanudi (saat itu masih calon mertua Mahfud). Ada kang Dudin, kang Dudit, (dua kakaknya teh Is Is) dan beberapa orang kader (PKS) yang spesial datang dari Rangkasbitung dan Bandung untuk sekadar membantu jalannya prosesi yang mulia ini. Karena paham bahwa kami masih sangat kelelahan, setelah silaturahmi singkat kami diantar menuju rumah salah seorang kerabat untuk beristirahat. Rumah tersebut (kalau saya tidak salah) adalah rumah Pak Yuyun. Beliau sedang tinggal sendirian di rumah itu dan malam itu memang tidak di rumah. Beliau bertugas patroli malam menjaga hutan.

Rumah pak Yuyun berada tepat di samping masjid, walaupun terpisah oleh sebuah sungai. Tapi juga tidak jauh dari jembatan yang menghubungkan kedua tepian sungai tersebut. Kami sholat maghrib, isya, dan shubuh di masjid tersebut (lupa euy nama masjidnya). Malam harinya sebenarnya ada rapat panitia. Tapi karena saya dan Kamil sudah terlalu lelah karena menyetir mobil, akhirnya hanya empat orang dari kami yang ikut rapat tersebut. Jadi afwan, rapatnya tidak bisa saya ceritakan di sini. Yang saya tahu, Farid jadi moderator, Danial jadi juru kamera, Iswahyudi jadi pendamping akh Mahfud, dan Kamil pengatur sound system untuk backsound.

Dini hari saya terbangun dari tidur. Terasa sempit sekali tempat tidur itu. Setelah saya amati, ternyata tepat di samping saya ada akh Mahfud. Usut punya usut, ternyata beliau baru datang pukul sebelas malam!! Padahal sudah berangkat dari Cipatujah sejak pukul setengah enam pagi. Ternyata satu dari dua mobil rombongan terpisah hingga Ciawi Bogor karena miskomunikasi antara supir. Beliau baru bisa tidur pukul satu malam dan sudah kembali terbangun pukul tiga pagi. (luar biasa! Cuma dua jam! Padahal besoknya acaranya mulai dari pagi hari hingga malam hari. Betapa capeknya!)

Pagi harinya saya menyempatkan jalan-jalan dengan akh Mahfud mengitari kampung Tegal Lumbu. Ternyata tinggal di desa memang sangat menenteramkan. (Walaupun kata akh Fakhrul, paling tenteramnya cuma semingguan aja. Habis itu bingung mau baca paper sama konsultasi harus kemana.) Jam tujuh pagi kami mulai bersiap mengatur acara untuk prosesi akad. Akad nikah dilangsungkan di masjid. Karena hanya akh Farid saja yang bisa berbahasa Sunda dengan baik dan benar, beliau yang diminta menjadi moderator acara. Akh Farid pun kebingungan dengan struktur acaranya. Sampai-sampai harus nanya-nanya ke temen-temen di Bandung buat susunan acara. Untungnya, kang Dudin punya contoh acara lengkap dengan naskah berbahasa Sunda. Jadi tinggal melengkapi yang ada saja dan menambahkan seperlunya.

Sekitar jam sembilan pagi, rombongan satu mobil dari Salman datang. Mereka adalah Akh Agus Rendi Wijaya, kang Yudha dan teh Hafni, serta kang Arif dan Bu Euis. Tak lupa juga kang Mislam yang setia membawa mobil kesayangan Salman. Pada awalnya akad akan dimulai pukul sepuluh pagi. Tapi karena semua sudah siap lebih awal, maka setengah sepuluh acara dimulai.

Acara diawali dengan pengalungan bunga akh Mahfud oleh calon mertua di depan masjid. (duh afwan, ga terlalu inget susunannya euy. Mudah-mudahan ga salah) Kemudian masuk ke dalam masjid. Acara dimulai dengan pembacaan ayat Al Quran. Karena malam harinya saya tidak ikut rapat, maka kesepakatannya adalah yang tidak ikut rapat harus menerima hasil rapat apa adanya. Jadinya saya yang dipilih untuk membacakan ayat Al Quran. Sedangkan yang membaca terjemahnya adalah Akh Aji, saudara kami dari pihak istri. Sesuai request akh Mahfud, maka saya membaca surat An Nisa 1-4 dan Al Fath 1-5. Terjemahnya dibacakan dalam bahasa Sunda oleh akh Aji. Lucunya, terjemah ini dibaca langsung dari laptopnya kang Dudin (kakak tertua teh Is Is), dan ketika baru seperempatnya yang dibaca, laptop mendadak mati (stand by). Karena laptopnya jenis terbaru (lenovo) dan belum tahu tombol powernya, kami panik. Dan segera saja kami akhiri pembacaan ayat suci Al Quran tersebut tanpa menyelesaikan pembacaan terjemahnya.

Setelah itu sambutan-sambutan dari pihak keluarga dengan bahasa Sunda yang (aduhai…) tak kumengerti sama sekali. Tapi setidaknya tahulah, kalo isinya sih. Intina mah, pihak laki-laki datang dan pihak perempuan menerima. (gitu aja yah, ga usah ribet-ribet. Ga ngerti soalnya. Ntar Farid deh yang ngejelasin.) Setelah itu akad nikah yang dipandu oleh petugas dari Kantor Urusan Agama.

Hal yang cukup noticed bagi saya adalah petugas KUA di sini tidak seperti di Bandung. Di sini, semua berjalan apa adanya. Tidak perlu memastikan bahwa pengantin laki-laki “benar-benar” Mahfud dan pengantin perempuan “benar-benar” Teh Is Is. Sesuatu yang di Bandung seringkali cenderung dipermainkan. Akad nikah disampaikan dalam bahasa Sunda, dengan latihan cukup satu kali sahaja. Setelah itu akad pun dilangsungkan dengan lancar, cukup satu kali saja dan dinyatakan sah. Alhamdulillah. Setelah menandatangani buku nikah serta kelengkapan lainnya, akh Mahfud membaca shigot tambahan (apa namanya yah? Lupa!).

Kemudian sebagai hadiah dari Mahfud untuk Istrinya, beliau membacakan surat Al Hadiid. Surat yang menurut teman-teman lain sangat favorit bagi akh Mahfud ini. Saya membantu menyimaknya dari belakang beliau. Suasana ketika pembacaan surat Al Hadiid ini sangat syahdu. Mungkin perpaduan antara isi kandungan surat Al Hadiid, keindahan ayat-ayatnya, serta alunan yang sangat merdu dari mulut akh Mahfud, plus miitsaqan ghalidza (kata akh Fauzil Adhim) yang baru saja terucap, sehingga mudah sekali emosi ini untuk terbawa ketika sampai pada ayat-ayat ancaman dan berita gembira. Setelah pembacaan Al Hadiid ini, kami mendengarkan petuah yang disampaikan oleh seorang ustad (lupa lagi namanya) yang juga anggota DPRD Lebak (dari PKS lah. Jelas!). Setelah semua usai, bersama Mahfud dan istri kami berfoto-foto di dalam masjid tersebut. Hanya saja, kabarnya, banyak foto yang gagal. Mungkin karena pencahayaan yang kurang baik.

Setelah dzuhur, walimah pun dimulai. Tidak ramai memang. Paling hanya beberapa keluarga saja ketika itu yang datang dari luar Tegal Lumbu. Kabarnya, baru ramai setelah kami pergi. Mengingat track yang berat dan tak memiliki penerangan jalan yang memadai, kami akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke Bandung. Setelah sebelumnya kami merekam dan mewawancarai beberapa pihak tentang nasehat-nasehat untuk akh Mahfud dan istri, pukul 13.42 (waktu yang ditunjukkan oleh jam di mobil kami) kami berangkat dari depan rumah teh Is Is. Ketika melewati tanjakan yang sangat curam di depan rumah teh Is Is, sempat mengalami sedikit masalah. Karena pengalaman sopir (saya maksudnya) yang belum terlalu baik dalam menghadapi jalan yang sangat curam, tiba-tiba mesin mati(!!). Mesin mati di tanjakan yang sangat curam seperti itu jelas membuat sang sopir panas dingin dan keringatan. Apalagi AC mobil belum sempurna mendinginkan udara. Akhirnya dengan bantuan instruktur yang sangat berpengalaman (Kamil maksudnya) sang sopir berhasil melewati rintangan pertama tersebut dan meneruskan perjalanan hingga Bandung. Alhamdulillah.

Di perjalanan pulang ini, penumpang bertambah satu orang. Akh Ade, dari keluarga teh Is Is, ternyata bekerja di Bandung. Jadilah saudara kami di perjalanan ini bertambah satu orang lagi. Namun kang Iswahyudi harus turun di Sukabumi dan melanjutkan perjalanan ke Cikarang. Karena beliau sudah tidak bedomisili di Bandung lagi. Perjalanan pulang ini jauh lebih cepat dari keberangkatan sebelumnya. Hanya 5,5 jam kami sudah keluar tol Pasteur. (bandingkan dengan keberangkatan yang mencapai 8 jam, walaupun sempat berhenti hampir 2 jam di Sukabumi)

Alhamdulillah, fase baru kehidupan saudara kami telah dimulai. Suatu perjalanan yang sangat mengasyikkan sekaligus mengharukan juga baru saja kami tempuh. Entah sampai kapan kebersamaan seperti ini akan berlangsung. Tak lama setelah itu, alat yang Farid buat untuk tugas akhirnya bisa berjalan (Alhamdulillah). Tapi proyek saya di Jakarta tak kunjung bebas juga dari masalah (Alhamdulillah ‘ala kulli hal). Ya Allah, mudahkanlah urusan kami. Amin.

Di tengah malam yang seharusnya sunyi sepi dan tenang

Di tengah rimba besi rongsokan dan besi baja yang membara

Serta deru motor-motor pabrik yang membahana

Dan kesendirian yang mencekam meremuk redam

Kutuliskan cerita ini…

Pulo Gadung, 28 Agustus 2007

01:50

Kategori:kisah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: