Beranda > lama > Ceramah Dan Diskusi Dengan Pak Sirojuddin

Ceramah Dan Diskusi Dengan Pak Sirojuddin


Malam hari ini saya shalat Tarawih di Masjid Salman. Saya datang spesial ke sana karena saya mendapatkan informasi bahwa penceramah malam ini adalah pak Din Syamsuddin. Karenanya, selepas berbuka dan shalat Maghrib, saya segera berangkat ke Salman dengan mengendarai VegaR-ku.

Alhamdulillah, shalat Isya belum dimulai, dan saya berhasil mendapatkan shaf awal di masjid. Informasi yang saya dapatkan ternyata tepat, bahwa Pak Din baru datang pukul 20.00 dan shalat Tarawihnya diawalkan.

Setelah shalat Tarawih yang diimami oleh ustadz Dadan selesai, dimulailah ceramah itu. Seperti biasa, jika penceramah Tarawih di Salman seorang tokoh terkenal, maka settingan acara akan dibuat berbeda dari biasa. Ceramah diakhirkan, ada moderator atau MC, dihadiri oleh banyak pengurus BP YPM Salman, banyak jamaah yang hadir, dan yang terpenting ada sesi diskusi serta tanya jawab.

Menarik sekali ceramah yang dibawakan oleh beliau. Tema yang diberikan oleh Panitia Pelaksana Program Ramadhan 1427 (P3R 27) kali adalah tentang “Musibah dan bencana ditinjau dari Sunnatullah”. Ini diturunkan dari tema besar Ramadhan di Salman kali ini yang menuntut kita untuk bisa mengambil hikmah yang banyak dari musibah yang kerap menimpa kita akhir-akhir ini.

Beliau menyampaikan cerita tentang fenomena-fenomena umat-umat yang dihancurkan oleh Allah karena menentang perintah Allah. Mulai dari kaumnya Nabi Nuh yang beliau kategorikan sebagai kafir teologis, kemudian ada bani Tsamud yang beliau kategorikan sebagai kafir dalam bidang ekonomi. Ada lagi bani Sadum yang beliau sebut kafir moral dan akhlak. Intinya, kekufuran mereka sudah luar biasa, sehingga pada akhirnya mereka dibinasakan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Kemudian beliau bercerita tentang fenomena bangsa Indonesia. Beliau berbicara dalam kapasitasnya sebagai sekretaris umum MUI. Beliau menjelaskan fenomena kerusakan masyarakat Indonesia. MUI menginventarisir ada 12 kemungkaran besar yang terjadi di Indonesia. Di antaranya adalah pornografi dan pornoaksi, korupsi, perjudian, dll. Kemudian untuk mengatasinya, dibuatlah prioritas penanganan. Korupsi dan pornografi merupakan dua teratas yang kondisinya sangat parah. Kemudian MUI memfokuskan pada masalah pornografi karena efeknya sangat masif dan sudah sampai ke seluruh lapisan masyarakat.

MUI bersama ormas dan parpol Islam berjuang untuk menyusun undang-undang antipornografi dan pornoaksi. Beliau menceritakan bagaimana susahnya mengetuk hati para wakil rakyat untuk segera membahas rancangan undang-undang ini. Sudah 5 tahun berlalu sejak pertama kali MUI mengajukan draft RUU ini, dan sekarang belum juga lolos disahkan menjadi undang-undang.

Di sisi lain beliau menceritakan salah satu kerja beliau yang lain tentang pembangunan hubungan dunia Islam dengan pusat-pusat kekuatan yang lain, seperti Rusia, China, dan Jepang. Inisiatif kerja sama dunia Islam dengan Rusia justru malah datang dari Rusia sendiri. Tentunya motif mereka adalah ekonomi. Mereka melihat potensi sumber daya alam di negara-negara Muslim sangat besar dan mereka tahu bahwa mereka memiliki teknologi dan sumber daya manusia yang mumpuni. Jika kedua hal itu bisa disatukan, maka tak mustahil mereka mampu mengembalikan kembali era kejayaan mereka.

Bagi dunia Islam, kesempatan ini jelas sangat baik. Di satu sisi, kita bisa mempelajari ilmu dan teknologi mereka, di sisi lain, kita bisa membangun kekuatan penyeimbang terhadap kedigdayaan Amerika Serikat. Kita juga bisa memperkuat posisi dan menjalin silaturahmi dengan 20 juta umat Islam yang berada di bawah bendera Rusia. Intinya, kedua pihak punya kepentingan masing-masing, dan bisa saling memenuhinya jika bisa berkolaborasi dengan baik. Tinggal pintar-pintar kita saja dalam mengelolanya, sehingga kita tidak justru malah dibodohi oleh mereka.

Ceramah Tarawih ini berlangsung cukup lama. Dengan bahasa yang bagus dengan dihiasi intonasi yang bersahabat, plus isi yang berbobot dan pengalaman luas, ceramah baru selesai setelah waktu menunjukkan lewat dari pukul setengah sembilan malam. Antusiasme jamaah masih berlanjut hingga setelah selesai ceramah. Beberapa orang jamaah mendekati beliau untuk bermushafahah.

Setelah selesai ceramah ini, diadakan diskusi tertutup antara beliau dengan para kader Masjid Salman yang terdiri dari para anggota Asrama Salman (putra dan putri) dan pengurus inti unit-unit aktivitas. Dialog berlangsung hangat dengan dimoderatori oleh kang Yudha (Oktofayudha Sudrajat, dir eksekutif Lembaga Kaderisasi). Setelah acara dimulai, hadirin langsung dipersilakan untuk menyampaikan pertanyaannya. Untuk sesi pertama dipersilakan tiga orang penanya. Mereka adalah Rihan (EL 04), Aguntaran (MT 04) dan Masri (FT 03). Ketiganya adalah anggota asrama putra.

Berikutnya dibuka sesi kedua. Saya segera mengangkat tangan. Hanya dua orang yang dipersilakan, mengingat waktu yang sudah cukup larut –mendekati pukul 10 (22.00). kedua orang yang beruntung itu adalah Mahfud (TK 02 yang duduk di sebelah saya) dan saya sendiri.

Saya bertanya begini: “Pak Sirajuddin yang terhormat, Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh. Perkenalkan nama saya Fathi Nashrullah dari Fisika ITB. Ada tiga hal yang ingin saya utarakan. Yang pertama adalah pertanyaan. Menanggapi informasi dari bapak tadi waktu ceramah tentang peluang kerja sama dengan Rusia. Saya pribadi sangat mengharapkan ini bisa terjadi mengingat mereka punya kelebihan yang tidak kita punya dan memang sangat kita butuhkan. Tapi apakah itu memang memungkinkan karena ada perbedaan yang sangat mendasar. Kita Muslim dan mereka komunis. Bagaimana pandangan bapak tentang ini? Yang kedua adalah pernyataan saya pribadi. Dari hasil pengamatan saya terhadap para kader bangsa saat ini, saya belum menemukan orang lain yang paling tepat selain bapak. Karenanya saya mohon bapak siap untuk dicalonkan pada tahun 2009 nanti. Itu pernyataan pribadi saya pak. Yang ketiga, saya hendak menyampaikan salam dari bapakku, Fathul Umam”. Begitulah rangkaian pertanyaan-pernyataan dari saya pada beliau.

Ketika saya memulai dengan menyapa beliau dengan “pak Sirajuddin” terlihat mimik terkejut (walau sedikit) di wajah beliau. Mungkin tak mengira ada orang yang menyapanya dengan nama itu lagi. Ketika sampai ke pernyataan kedua, beliau cukup antusias, walaupun jawaban yang diberikan tidak begitu sesuai dengan harapan saya. Tapi pada saat itu suasana menjadi cair karena hadirin yang lain mungkin tidak menyangka ada pernyataan seperti itu yang akan keluar. Waktu sampai ke pernyataan ketiga, saya menyampaikan seluruhnya dengan bahasa Arab. “Wal akhir, uballigussalam min abii, Fathul Umam.” Beliau langsung membalas dengan kata “Kudus, yang dari kudus ya?” Dalam pikiran saya, ingat betul beliau dengan bapak saya. Beliau juga menjelaskan ke hadirin yang lain kalau dia dahulu adalah adik kelas saya waktu sekolah di Gontor. Beliau juga masih ingat kalau dia sekelas dengan Pak De saya, Fatchurrochman. Jelas dia masih ingat karena hingga kini silaturahmi masih terjalin. Terkadang lewat telepon, terkadang lewat sms.

Setelah waktu menunjukkan lewat dari pukul 10 malam, acara diakhiri dengan penyerahan cendera mata dari YPM Salman yang disampaikan oleh Pak Agung Wiyono (dosen sipil) sebagai wakil ketua Lembaga Kaderisasi, mewakili Mas Hermawan yang tidak bisa hadir karena ada tugas mengisi ceramah Tarawih di tempat lain. Setelah itu kami semua, para peserta diskusi, berfoto bersama beliau. Setelah itu beliau pulang ke penginapan (yang entah di mana?) bersama ketua Muhammadiyah Jawa Barat.

Kategori:lama
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: