Beranda > lama > RAMADHAN BUKAN UNTUK DISESALI

RAMADHAN BUKAN UNTUK DISESALI


Oleh: Fathi Nashrullah

Setelah Ramadhan mungkin kita akan menyesal dengan pencapaian amalan kita selama satu bulan. Mungkin kita berpuasa satu bulan penuh. Tetapi barangkali kita hanya berhasil menamatkan bacaan Al Quran kita hanya sekali dua kali. Barangkali masih ada beberapa hari yang kita tertinggal dalam melaksanakan shalat tarawih atau tahajud di malam hari. Barangkali masih banyak orang dekat kita yang belum kita silaturahmi-i. Tetapi barangkali produktivitas kita dalam beramal masih rendah. Nilai yang kita capai dalam perkuliahan masih tidak bergradien positif. Kuantitas dan kualitas belajar kita masih rendah. Singkat kata, kita belum berhasil melewati Ramadhan.

Kita semua pasti tahu bahwa Ramadhan adalah bulan mulia. Bulan termulia diantara bulan-bulan yang lain. Mulia bukan karena padanya umat muslim memenangkan perang Badar. Bukan karena padanya umat muslim di bawah pimpinan Shalahuddin Al Ayyubi merebut kembali tanah haram, Al Quds, ke pangkuan Islam. Bukan karena padanya umat muslim Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya. Bukan pula karena padanya Indonesia mengangkat presidennya yang keenam hasil pemilu terbersih di dunia. Tetapi mulia karena padanya Allah membelenggu para syaithan. Mulia karena padanya Allah menutup pintu neraka dan membuka lebar-lebar pintu surga. Mulia karena segala amalan apapun yang dilakukan padanya, akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Mulia karena di dalamnya ada satu malam yang nilainya seperti seribu bulan. Jika kita bersujud pada malam tersebut, maka kita akan mendapat pahala, seolah kita bersujud tanpa henti seribu bulan lamanya.

Kawan, kita mesti tahu apa yang harus kita persiapkan dalam menyambut Ramadhan. Kita memerlukan persiapan yang luar biasa dalam menghadapinya. Tahukah engkau bahwa Ramadhan berarti pundi-pundi uang bagi para pedagang? Sumber pemasukan iklan yang luar biasa bagi setiap stasiun televisi? Sebagai pesta bagi para artis, karena pada bulan tersebut mereka akan kebanjiran order dari production house serta stasiun televisi yang ada? Mereka berlomba mengenakan busana muslim, walaupun saat Ramadhan berlalu busana tersebut mereka tanggalkan kembali. Karena keuntungan di depan mata itulah, mereka senantiasa mempersiapkan berbagai macam program untuk mengeruk sebanyak mungkin keuntungan pada bulan tersebut, jauh-jauh hari.

Itu mereka, kawan. Itu mereka. Bagaimana dengan kita yang belum memiliki usaha perdagangan, belum memiliki stasiun televisi, dan tidak termasuk golongan artis? Apakah kita akan hanya gigit jari saja melihat keuntungan yang mereka raih? Apakah kita hanya akan menonton dan memendam rasa iri di dalam hati kita?

Sekali-kali tidak, kawan. Ramadhan bukanlah hanya milik para pedagang, pengelola stasiun televisi, dan para artis. Ramadhan adalah milik kita semua. Kita bisa memilikinya, di sini. Di hati kita. Karena Allah telah menjanjikan pahala yang berlipat dan luar biasa bagi kita, langsung kepada kita, tanpa melalui perantara para pembeli ataupun pemirsa televisi. Semua dari kita bisa mendapatkannya. Ya, semua dari kita.

Untuk menjadi orang yang beruntung tersebut, yang kita butuhkan adalah kemauan. Kita harus punya kemauan untuk beruntung. Kemauan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Tetapi kemauan hanyalah merupakan syarat perlu. Itu tidak cukup. Harus ditambahkan dengan daya dan upaya, karena kemauan tak pernah terrealisasi tanpa usaha. Bagaimanapun juga, syarat batas tak akan pernah mampu menggambarkan kejadian yang ada di dalam batas tersebut. Kita perlu mengukur dan mendeteksi apa yang terjadi dalam ruang tersebut. Karenanya, kita membutuhkan ukuran dalam melakukan sesuatu. Mari kita ukur diri kita, sejauh mana kita mampu berniat dan berusaha. Bandingkan dengan mimpi yang kita inginkan dan dengan keterbatasan fisik yang kita miliki. Jika ada ketimpangan di sana, bukan berarti itu batas kita untuk menyerah. Siapa yang tahu batas diri kita selain Allah? Tidak ada bukan? Yang perlu kita lakukan adalah regangkan keterbatasan kita. Buat diri kita menjadi lebih kuat. Jika fisik kita membatasi diri kita dari merealisasikan visi Ramadhan yang kita buat, bukankah kita bisa meningkatkan performansi fisik kita sebelum Ramadhan?

Alangkah banyak yang kita siapkan demi menghadapi sebuah pertarungan yang bernama olimpiade, yang bernama pemilihan mahasiswa berprestasi, ujian tengah semester, ujian akhir semester, quiz, dan lain-lain. Tapi apakah kita juga demikian dalam menghadapi masa-masa kompetisi yang nilai hadiahnya sangat real dan sangat tinggi? Jika kita jarang belajar, mungkin kita bisa mendapatkan nilai A dengan belajar hanya satu hari sebelumnya. Tetapi, berapa banyak orang yang mampu melakukan hal itu? Kemudian, berapa besar energi yang dia keluarkan untuk belajar selama satu hari itu? Mungkin dia tidak makan, tidak tidur, tidak keluar rumah, bolos kuliah, bahkan lupa shalat, hanya untuk mempersiapkan kompetisi yang hanya dua jam saja.

Lantas, bagaimana kita bisa mencapai kesuksesan dalam kompetisi paling bergengsi yang dilakukan selama satu bulan penuh yang dijuri-i oleh Sang Maha Mengetahui? Mustahil rasanya kita bisa mendapatkan hasil yang memuaskan tanpa kita persiapkan sedemikian rupa sebelum masuk masa-masa Ramadhan itu. Kalau untuk kompetisi selama dua jam penuh kita bisa mengejar persiapannya hanya dalam satu malam, lantas, berapa hari yang kita butuhkan untuk persiapan minimal dalam menghadapi Ramadhan? Jika kita gunakan asumsi ujian tadi, maka minimal kita membutuhkan waktu selama 360 hari, alias satu tahun! Kalau begitu, cukupkan persiapan satu-dua bulan saja? Kita sudah tahu jawabannya.

Tetapi kawan-kawan, Allah Maha Pengampun, Maha Pemurah, Maha Berkehendak. Mari kita memohon ampunan atas keteledoran dalam mempersiapkan diri kita dalam menerima hadiah Ramadhan yang luar biasa dariNya. Dia Maha Pemurah, sehingga kita hanya tinggal memohon kekuatan padaNya, agar Dia memberikan sebagian dari kekuatanNya pada kita untuk mengoptimalkan Ramadhan ini. Dan jangan lupa, Dia Maha Berkehendak. Apapun yang kita inginkan dapat terlaksana jika Dia memang berkehendak merealisasikannya. Kuncinya, kita tetapkan niat sebaik-baiknya, kita siapkan energi sebesar-besarnya, dan kita pasang standar ukuran tertinggi dalam setiap amalan kita. Dan jangan lupa untuk senantiasa meminta yang terbaik dariNya. Insya Allah, Ramadhan ini akan menjadi Ramadhan terbaik bagi kita, dan mudah-mudahan kita tak akan pernah menyesal setelah berlalunya. Karena Ramadhan memang bukan untuk disesali.

Ya Allah, rahmatilah kami dengan RamadhanMu ini. Amin.

Kategori:lama
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: