Beranda > lama > Masih tentang TA dan amanah

Masih tentang TA dan amanah


Setelah hampir dua minggu menghilang dari peredaran dan mencoba mengecek perkembangan wacana di milis ini, saya jadi bingung dengan diri saya sendiri.

Tingkat akhir banyak yang mengidentikkan dengan masa-masa mengerikan. Penuh dengan kejaran deadline, pembicaraan dengan dosen, hampir 24 jam kehidupan di lab, bolak-balik keluar kota (bahkan luar negeri) untuk akuisisi data atau mencari alat dan bahan penelitian, laporan, makalah, proposal, pengajuan dana, dan lain-lain.

Dengan demikian, tingkat akhir berarti off dari kegiatan ekstra kurikuler. Selama tingkat akhir hanya berkutat pada masalah kurikuler thok.

Anehnya, saya justru mengalami hal yang bertolak belakang dengan itu semua.

Ketika tiba masanya saya harus mengerjakan tugas akhir, justru saya mendapati diri ini memiliki keluangan waktu yang luar biasa. Saya menjadi sempat untuk memperbanyak baca buku-buku di luar bidang saya, ikut aktif dalam wacana-wacana yang berkembang di komunitas rileks, mengikuti diskusi di beberapa milis, menambah dan menekuni hobby tentang kemiliteran dan kedirgantaraan, menjadi memiliki waktu yang cukup luang sehingga bisa mengajar tiga kelas “belajar baca qur’an” dalam seminggu, memulai sejarah keaktifan saya di KM, menerima usulan untuk menjabat sebagai ketua UPT Kaderisasi Salman, bahkan yang paling gila adalah di awal tahun kemarin: mencoba menjadi bakal calon presiden KM.

Tapi di luar itu semua, tetap saja Tugas Akhir saya bisa saya kerjakan, walaupun statusnya tentu menyesuaikan dengan padatnya aktivitas.

Entah mengapayang terjadi seperti itu, saya tidak mengerti. Barangkali ini efek dari nasihat saudara saya setahun lalu di UPT Kaderisasi, ketika saya masih bukan ketuanya. Waktu itu saya diberi saran untuk “Menikmati status kita sebagai mahasiswa”. Kurang lebih redaksinya seperti itu. Dari saran itu, saya berfikir tentang “status mahasiswa”.

Saya menemukan bahwa seorang mahasiswa memiliki derajat kebebasan yang sangat tinggi. Dia bisa bergerak vertikal ke atas dengan begitu mudahnya, bergaul dengan para petinggi negara, tetapi pada saat yang sama dia juga bisa dengan begitu mudahnya bergerak vertikal ke bawah, bergaul dengan para akar rumput negara.

Seorang mahasiswa bisa bergerak horizontal ke mana saja. Dengan status mahasiswanya, dia bisa bergaul dengan orang-orang yang memiliki idealisme beragam, dari yang paling kiri hingga yang paling kanan. Dan itu semua bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa, bukan sekedar sekelompok mahasiswa.

Dengan status ke’mahasiswaannya’ saya bisa berinteraksi dengan beragam orang, mulai dari teman-teman di DK ITB, teman-teman dari kalangan aktivis ‘aneh’, hingga para anak gaul.

Saya merasakan hal-hal yang baru dan berbeda ketika saya bisa berjumpa dengan para petinggi. Mulai dari para petinggi organisasi kampus, para petinggi rektorat, hingga para petinggi negara. Asik juga ketika bisa bertukar pikiran dengan orang-orang yang selama ini di-stereotype-kan sebagai musuh kita, atau setidaknya musuh ideologis kita. Asik sekali ketika saya bisa memahami apa yang terjadi dengan para pimpinan kampus kita (rektorat maksudnya). Asik sekali ketika kita bisa berdiskusi panjang-lebar luas-sempit panas-dingin dalam-dangkal dengan kawan-kawan dari seluruh penjuru tanah air dalam diskusi tentang permasahan-permasalahan bangsa seperti pada pelayaran kebangsaan yang baru saja kuikuti kemaren.

Ternyata dunia itu luas kawan!! Bukan hanya dibatasi oleh jalan ganesa, jalan ciung wanara, jalan gelap nawang, dan taman ganesha saja [salman maksudnya, kan dari tingkat 1 sampe 4 saya cuma berkutat di situ-situ aja].

Untung saja saya mendapat nasehat itu di pertengahan tingkat 4. Jadi saya masih punya waktu satu tahun untuk malang melintang di negeri ini dengan status saya sebagai mahasiswa (kan ceritanya mau lulus 4,5 tahun).

Aduuuh, telat banget sih saya, coba saya dapet pikiran seperti itu sejak tingkat satu atau dua seperti akh dwi, akh kamil, akh goris, akh sukma, de el el, de el el, mungkin lebih banyak yang bakalan saya dapat (ups, syukuri saja yang ada).

Tapi lepas dari segudang aktivitas tersebut, tetap saja saya bukan superman. Saya tetap manusia biasa yang tidak sehebat ikhwah saya yang lebih hebat dari saya (ya iya lah). Saya tetap manusia biasa yang kalo kelebihan muatan suka pundungan sendiri. Sampe-sampe akh Farid, akh Yudha, akh Gun, dan yang lain suka bingung sendiri ngelihat saya. Saya tetap manusia biasa yang belum terampil mengelola amanah sampai-sampai akh Yudha sering dikecewakan olehku. Sampai-sampai 12 mata kuliah semester kemaren masih T, bahkan jabatan saya sebagai manajer sumber daya kabinet dicopot oleh pak direktur PSDM (maafkan saya pak direktur, atas ketidakoptimalan kerja saya).

Itulah sepetik kisah menjelang akhir dunia kemahasiswaan saya. Mudah-mudahan saya bisa fokus dalam bekerja sebagai manusia di dunia ini.

Amin.

Kategori:lama
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: