Beranda > lama > Antara dua pilihan

Antara dua pilihan


Antara dua pilihan yang cukup berat

Semua hal ini berawal dari setahun yang lalu. Mungkin lebih.

Tahun lalu, saya, Mahfud Shiddiq, dan Nanang Rasyidin ditetapkan sebagai triumphirat di UPT Kaderisasi Salman. Saat itu, kepengurusan Triumphirat Fauzi-Yudha-Arif baru saja berakhir. Berakhir dengan sangat manis. Saya dan Mahfud ketika itu turut tergabung juga di kepengurusannya. Saya sebagai kapten tim LMD-PMS dan Mahfud sebagai kapten tim Follow Up.

Saat itu saya belum siap untuk menjadi seorang figur di Salman. Seorang ketua UPT Kaderisasi harus bisa menjadi figur di kalangan aktivis masjid Salman. Ini karena amanahnya yang berat dan berhubungan erat dengan seluruh unit yang ada di Salman. Bahkan harus berhubungan kuat juga dengan struktur yang ada di atasnya. Karena ketidaksiapan saya itulah, saya tidak bersedia dicalonkan menjadi ketua UPT Kaderisasi.

Saat itu, calon terkuat di antara kami adalah Nanang. Dia memang yang terbaik di antara kami dalam berbagai bidang. Pandai berbicara, berwawasan luas, supel, dan beberapa hal lain yang dibutuhkan oleh seorang ketua UPT Kaderisasi. Tetapi ketika itu saya mengkhawatirkan satu hal: Ini tahun pertamanya di UPT Kaderisasi. Sedangkan saya sudah memasuki tahun ketiga, walaupun lengkapnya baru sekitar satu setengah tahun lebih. Tapi saya sudah mulai aktif di UPT Kaderisasi sejak kepemimpinan masih dipegang oleh kang Syafril Hernendi. Artinya ini adalah kepengurusan yang ketiga kalinya. Akhirnya Nanang pun ditetapkan sebagai ketua UPT Kaderisasi.

Sebelumnya, Nanang memang aktif di kegiatan kaderisasi. Bukan skala Salman, tetapi skala Majelis Ta’lim. Unit yang kaderisasinya di Salman paling luar biasa dalam menghasilkan kader tahan banting di medan real. Ini sebenarnya yang menjadi nilai tambah bagi dia untuk menjadi seorang ketua UPT Kaderisasi.

Satu hal yang terlewatkan ketika itu adalah dia baru saja dipilih oleh himpunannya, HMM, untuk menjadi perwakilannya di Kongres Keluarga Mahasiswa ITB. Komisinya pun sebenarnya sejalan dengan bidangnya di Salman: PSDM. Praktis aktivitasnya tidak hanya di Salman, tetapi juga di Kongres KM ITB.

Selama satu tahun kepengurusan, saya membandingkan aktivitas saya dengan dia. Saya di UPT Kaderisasi merasa menjadi seorang yang bekerja hanya untuk satu organisasi saja. Saya merasakan kejenuhan yang sangat tinggi ketika itu. Nanang adalah tipe orang yang senang mencari posisi baru. Bahasa dia ‘challenge’ sedangkan bahasa saya ‘ga fokus’. Karenanya, amanahnya di UPT Kaderisasi pun cenderung terabaikan, sehingga harus saya back up di sana-sini.

Begitulah, selama hampir satu tahun saya seolah menjadi ketua UPT Kaderisasi bayangan. Saya yang merencanakan program-program, menyusun strategi implementasi, mengambil langkah-langkah strategis, dan lain sebagainya. Akibatnya saya merasa ingin segera keluar, mengambil langkah baru. Bahkan ingin segera mengambil kehidupan baru di luar Salman. Bahasa saya: “Optimalkan waktumu selama menjadi mahasiswa di kampus ini. Jangan terkurung di satu organisasi saja. Sayang sekali jika itu yang saya lakukan. Saya tidak akan mengenal dunia lebih luas”.

Di akhir kepengurusan, segera saya menyusun langkah baru dalam menapaki kehidupan yang baru. Saya mencoba terjun ke dunia Keluarga Mahasiswa. Saya memulainya dengan mengambil formulir pencalonan sebagai presiden Keluarga Mahasiswa. Saya susun langkah-langkah menuju kursi kepresidenan KM. Saya susun langkah yang sangat rinci, seperti ketika saya merencanakan penyelenggaraan LMD atau PMS II di Salman.

Harapan itu begitu besar. Pada awalnya saya benar-benar serius dalam pencalonan ini. Saya cari teman-teman yang bersedia menjadi promotor. Beberapa bersedia, beberapa ragu-ragu, beberapa serta merta menolak. Alasan penolakan biasanya tidak terlepas dari underestimating terhadap saya. “Lho, ente kan dari DK1, ngapain pindah ke DK2?”. Yang lain mengatakan “Udah, ente urusin aja dulu tuh Salman. Masih aneh-aneh gitu”. Tapi ada juga yang mengatakan, “Wah asyik nih. Calon presiden KM dari Elka. Terobosan baru nih”.

Tekad saya ketika itu adalah satu hal: “Fathi, optimalkan potensi dan kesempatanmu selama menjadi mahasiswa di ITB ini!!!!”

Rencana ini yang membuat saya tidak hadir dalam sosialisasi capres DK ITB di Masjid Al Kautsar. Saya khawatir akan terjadi persaingan tidak sehat ketika saya maju mencalonkan diri, sedangkan saya juga hadir dalam konsolidasi rival saya. Karenanya sengaja saya tidak hadir ketika itu.

Tetapi ternyata jalan yang kutempuh tidak semulus yang aku kira. Bukan!! Sekali lagi hambatan bukan dari diriku!! Tetapi ketika itu calon presiden yang diusung oleh teman-teman dari ideologi yang berbeda nampak kuat basis dukungannya. Diperlukan langkah antisipasi dalam mencegah naiknya dia ke kursi kepresidenan. Akhirnya saya memilih berada di belakang Dwi dan kawan-kawan.

Karena saya sudah terlanjur kepalang basah mendaftar sebagai bakal calon presiden kabinet, maka saya terlanjur dikenal teman-teman kampus. Akhirnya saya ditarik ke dalam tim sukses kampanye. Saya memilih untuk berada di tim dzohir yang bergerak dari kelas ke kelas, zona ke zona. Sejujurnya, ketika itu saya tidak siap untuk berada pada posisi itu. Karenanya saya tidak mengambil posisi utama dalam tim kampanye tersebut. Ironisnya, ketua tim kampanye, Galih Prasetya Utama, jatuh sakit selama satu minggu penuh. Satu minggu itu juga adalah masa kampanye full. Padahal bisa dibilang yang mengetahui konsep utuh kampanye hanya dia. Praktis tim kampanye kalang kabut. Kampanye ke kelas bisa dikatakan tidak berjalan. Ditambah lagi ketika itu Dwi sedang sibuk-sibuknya penelitian. Akibatnya seluruh kegiatan kampanye Dwi berjalan asal-asalan. Tidak teratur sama sekali.

Dengan kondisi seperti ini, seharusnya sangat mengherankan bahwa Dwi bisa memenangkan pemilu dengan suara mutlak. Suaranya masih lebih besar daripada suara keempat calon lainnya yang digabungkan menjadi satu. Sungguh suatu beban besar yang terlihat dari sana. Logikanya: kampanye asal-asalan bisa mendatangkan hasil yang gila-gilaan. Pasti ada sesuatu di balik itu semua. Jika salah urus bisa jadi DK ITB akan terkena imbas yang parah.

Pada masa awal setelah pelantikan, penyusunan staf kabinet terasa sangat lamban, sementara arus perubahan di UPT Kaderisasi semakin cepat terjadi. Saya didaulat menjadi mas’ul internal UPT Kaderisasi. Kemudian berusaha mempersiapkan kepengurusan UPT Kaderisasi yang baru. Calon kuat adalah Asep Yayat Hidayat. Dari berkali-kali interaksi, ternyata beliau sama sekali belum siap untuk naik menjadi ketua UPT Kaderisasi. Akhirnya saya menyatakan siap untuk menjadi ketua UPT Kaderisasi berikutnya, dengan banyak pertimbangan tentunya.

Di sela-sela itu, saya merasa miris dengan kelambanan penyusunan struktur di tubuh kabinet. Sebelum didaulat menjadi ketua UPT Kaderisasi saya menawarkan bantuan kepada Dwi untuk membantu menyusun kabinet. Saya tegaskan, saya menawarkan bantuan untuk menyusun kabinet KM ITB 2006-2007. Ternyata Dwi mengartikannya lain. Dia mengira saya menawarkan diri menjadi menteri PSDM. Terang saja saya tolak tawaran itu. Pada akhirnya saya masuk bidang PSDM dan yang menjadi menterinya adalah Ibnu Maulana Yusuf.

Beberapa minggu setelah pengumuman kemenangan Dwi, saya, ibnu dan beberapa teman lain aktif membahas gambaran PSDM ke depan. Kemudian kami sepakat membagi divisi kerja menjadi MSDM dan MSDK. MSDM mengurusi upgrading mahasiswa ITB secara keseluruhan, sedangkan MSDK terbatas pada staf kabinet saja. Saya diminta untuk menjadi manajer MSDK. Saat itu saya menilai diri saya sangat mampu untuk menerimanya. Jadilah saya seorang yang bertanggung jawab atas pengembangan kapabilitas umum staf kabinet. Sebuah beban yang berat. Saya terima karena saya nilai tidak bersilangan dengan tugas saya di Salman. Sama-sama di pengembangan manusia.

Setelah berjalan beberapa minggu, mulai muncul riak-riak di sana-sini. Mulai dari menyusun program kerja MSDK dari nol, kemudian ikut tergabung dalam pembahasan-pembahasan konsep dasar OSKM, open recruitment staf baru kabinet, diklat I staf, penyusunan kepengurusan di UPT Kaderisasi, hingga perencanaan LMD terbaru. Semula semua itu menjadi tantangan yang membuat saya senantiasa semangat. Belakangan, setelah satu persatu amanah tak ada yang terselesaikan dengan baik, pekerjaan itu semua justru menghantui hari-hari saya. Saya menjadi orang yang senantiasa tampak stres berat, tidak bisa fokus, dan kelelahan. Puncaknya adalah ketika saya mengacaukan perencanaan diklat I kabinet yang hampir secara keseluruhan saya rencanakan sendirian.

Rupanya pekerjaan berat yang menghantui saya tersebut membuat saya paranoid. Saya tidak bisa mempercayai orang lain yang saya berikan amanah. Saya hanya percaya pada diri saya sendiri. Tak terjadi koordinasi di mana pun. Yang ada dipikiran saya adalah: saya kerjakan sendirian. Saya benar-benar tidak bisa mempercayai orang lain. Akibatnya jelas, diklat I kabinet amburadul. Peserta sedikit, persiapan kacau, acara parah. Kemudian saya ditegur oleh pak Ibnu. Pelan sih tegurannya, tapi rasanya dalem banget. Saya merasa menjadi orang yang sangat bodoh, terpuruk, tak bisa apa-apa. Singkat kata, saya kehilangan kepercayaan diri.

Untung saja pada evaluasi internal MSDK setelah diklat itu, temen-temen dari MSDK lainnya bisa mengerti keadaan saya saat itu. Saya sangat berterima kasih kepada Ninda Ekaristi, Mira, dan Dimas. Mereka mengerti bahwa saya memiliki problem dalam trusting people. Tetapi mereka tidak memahami kasus yang membuat saya seperti itu. Sampai sini, setidaknya sudah ada yang bisa dijadikan tempat curhat.

Lepas dari diklat I ini, saya mulai berpikir untuk mundur dari kepengurusan dari kabinet. Saya sadar kegagalan yang saya buat tidak cukup dibayar dengan pernyataan maaf saja. Sejak itu saya mulai tidak terlalu aktif dalam pertemuan-pertemuan PSDM. Paling hanya sebatas MSDK saja. Itupun tidak tuntas. Saya berbicara juga tentang amanah saya di UPT Kaderisasi kepada Ibnu. Alhamdulillah beliau mengerti keadaan saya.

Saya berpikir untuk segera mencari pengganti saya sebagai manajer MSDK. Tetapi mencari pengganti tidaklah mudah. Jarang sekali ada orang yang mau menerima jabatan seperti ini. Saya mencoba untuk mendekati Ardian Perdana Putra. Mudah-mudahan beliau pada akhirnya mau menempati posisi ini.

Terus terang, keputusan pengunduran diri merupakan hal yang sangat memalukan bagi saya. Saya yang di masa pemilu ikut mengambil formulir pendaftaran, bahkan nyaris menjadi yang pertama. Saya yang menjadi sekretaris tidak resmi tim kampanye Dwi yang mengatur jadwal kampanye ke kelas-kelas. Saya yang di hari-hari pertama pelantikan kabinet senantiasa bersibuk-sibuk ria rapat di sekre kabinet atau CC. Tiba-tiba mengundurkan diri dari jabatan manajer SDK. Lantas di mana tanggung jawab saya?

Hal ini yang terus terngiang-ngiang di telinga saya ketika saya berencana mengambil keputusan tegas. Mundur atau tidak. Tetapi, sekali lagi hal ini harus saya putuskan secepatnya. Pahit ataupun manis. Mungkin akan jauh lebih pahit lagi ketika harus gagal di keduanya.

Zona nyaman saya memang bukan di kabinet dan sekretariatnya. Zona nyaman saya di Salman dan sekitarnya. Apalagi ditambah berbagai hal yang harus membuat saya tetap berada di dalamnya. Pertama, beasiswa dari Pak Syukri yang notabene menjadikan saya mahasiswa ITB yang mendapatkan beasiswa terbesar se ITB. Beasiswa ini tidak lepas dari peran Salman, terutama ketika saya masih menjadi anggota asrama lebih dari dua tahun yang lalu. Kedua, kepercayaan dan harapan yang besar dari pengurus Salman kepada saya. Ketiga, kontribusi Salman yang luar biasa dalam menjadikan saya seperti sekarang ini. Kesemua itu menjadikan saya tidak mungkin meninggalkan Salman untuk kemudian beralih ke tempat lain sebagai sarana dakwah, pengembangan diri, dan pengoptimalan potensi.

Saat ini UPT Kaderisasi sedang berupaya berbenah. Banyak sebenarnya yang tercatat sebagai pengurus UPT Kaderisasi saat ini. Ada 38 nama dengan 6 diantaranya telah ditetapkan sebagai karyawan lembaga. Dengan 32 anggota, seharusnya UPT Kaderisasi bisa berbuat sangat banyak. Namun sangat ironis, dari banyaknya anggota itu, saat ini kurang dari sepertiganya saja yang bisa diandalkan. Sedangkan jadwal LMD sudah di depan mata. Sepertinya saya harus ‘jungkir balik’ untuk membenahi UPT Kaderisasi ini.

Ya Allah. Mudahkan urusan hambamu ini ya Allah. Jangan biarkan amanah-amanahku ini justru menjadi jalan menuju murkaMu ya Allah. Lindungilah hambamu ini dari segala kelemahan diri. Gantilah kelemahan-kelemahan tersebut dengan kekuatan-kekuatan dariMu ya Allah. Amiiiin.

Kategori:lama
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: