Beranda > lama > Uang Kertas Dan Emas

Uang Kertas Dan Emas


Saya mengamati sebuah milis. Dalam milis tersebut ada perbincangan tentang ekonomi syariah, lebih khusus pada masalah penggunaan uang kertas dan uang emas dalam transaksi. Tetapi kalau saya mengamati diskusi tentang uang emas di milis tersebut, sepertinya tidak ada yang paham dengan konsep uang emas tersebut.

Oleh karena itu saya mencoba menjelaskan sedikit (karena keterbatasan waktu) tentang konsep uang ini. Untuk saat ini saya tidak mencantumkan ayat, karena keterbatasan waktu saya dalam mencarinya. Tetapi insya Allah yang saya cantumkan ini berdasarkan Al Qur’an.

Pada dasarnya penentuan nilai uang adalah dengan kesepakatan. Kesepakatan antara kedua belah pihak yang melakukan perdagangan. Jika disepakati harga dari suatu barang, maka terjadilah jual-beli. Syarat jual beli adalah : penjual, pembeli, barang yang diperjualbelikan, dan akad. Tak ada uang di sini.

Dahulu penentuan harga ini bisa dengan mudah dilakukan dengan barter. Misalnya di sebuah pulau ada 10 orang. Setiap orang ingin memenuhi kebutuhan hidupnya dari usaha yang telah dilakukan orang lain. Dari sini terjadilah barter antar barang. Tentu sebelumnya telah ditetapkan nilai dari suatu barang, misalnya seekor ayam setara dengan 50 butir telur ayam, dsb.

Seiring dengan perkembangan jumlah manusia, maka perdagangan semakin meluas dan mencakup manusia yang lebih banyak. Oleh karena itu agar mempermudah proses jual-beli, maka diadakanlah kesepakatan tentang harga suatu barang. Misalnya jika kita ingin membeli kain sutera 10 meter persegi. Ditetapkan harganya senilai katakanlah 50 gram emas. Dari sini muncullah mata uang. Dahulu menggunakan mata uang emas karena nilainya real. Apa yang ditukarkan, segitu pula harganya.

Kemudian manusia mulai melakukan pengembangan dan inovasi tentang alat tukar ini. Perlu diketahui bahwa alat tukar emas dimulai bukan dari dunia arab, tetapi dari barat (Romawi). Begitu pula dengan uang kartal saat ini, berasal dari barat (Eropa).

Karena masalah teknis, akhirnya dikeluarkanlah uang kertas. Pada awal era uang kertas, nilai uang ini didasarkan pada nilai emas yang disimpan pada suatu bank. Katakanlah uang yang beredar di seluruh dunia ini bernilai 100 bilyun rupiah dalam bentuk uang kertas. Maka uang itu dijamin dengan emas seharga itu pula. Artinya nilai mata uang tidak akan pernah naik tidak pernah turun, karena uang ini sama dengan emas, hanya saja emasnya berada di tempat lain. Kasus ini mirip dengan konsep cek (cheque) saat ini (dalam cek, yang bertindak sebagai ‘uang’ adalah kertas cek dan ‘emas’ sebagai penjamin adalah uang yang ada di rekening yang bersangkutan).

Sampai di sini belum ada masalah yang berarti. Pada perkembangannya, ternyata jumlah emas yang tersedia tidak mencukupi untuk transaksi jual beli di seluruh dunia. Bayangkan jika untuk menjamin kebutuhan uang di seluruh dunia dibutuhkan emas setinggi gunung tangkuban parahu, mustahil! Oleh karena itu dicarilah bentuk penjaminan yang lain yang syaratnya mendekati sifat emas; nilainya stabil.

Ketika itu manusia-manusia sepakat untuk menjamin nilai mata uang kepada American Dollars, karena nilainya yang relatif stabil. Sebenarnya saya sangat-sangat tidak sepakat dengan keputusan ini, tapi dilihat dari banyak sisi seharusnya tidak ada yang salah.

Tidak ada yang salah karena sejauh ini belum menunjukkan keluar dari syariah Islam. Rukun jual beli tetap terpenuhi.

Hampir semua mata uang dunia mendasarkan nilainya pada mata uang US dollar. Termasuk rupiah, mata uang kita. Oleh karena itu nilai mata uang kita sangat tergantung kepada seberapa besar cadangan devisa kita.

Masalah yang kemudian muncul adalah dari mata uang dolar sendiri. Barat dikuasai kapitalis. Prinsip kapitalisme adalah; yang punya modal (baca: uang) bisa mandiri dan yang tidak punya modal pasti ambruk. Mereka justru malah mengendalikan nilai mata uang dolar. Seharusnya nilai mata uang dikendalikan oleh pasar, bukan oleh sekelompok kapitalis.

Maksud pasar di sini adalah proses jual-beli itu sendiri. Penentuan nilai tadi harusnya terjadi melalui mekanisme tawar-menawar antara penjual dan pembeli. Sehingga semua proses bisa fair dan dapat terkontrol dengan baik.

Tetapi para kaum kapitalis saat ini tidak bisa berbuat seenaknya. Mereka berada dalam kontrol yang sangat ketat, bahkan di negeri mereka sendiri (USA). Ini yang menyebabkan banyak orang yang masih percaya dengan mata uang US dollar sebagai penjamin mata uang dunia, walaupun faktanya memang tidak sesimpel itu. Silakan baca wawancara dengan John Perkins, mantan ekonom perusak ekonomi dunia (bukunya berjudul Confession of an Economic Hitman).

Saat ini usulan untuk mengganti penjamin mata uang dari dolar ke emas sudah semakin besar. Ini sebenarnya sinyalemen yang baik. Anda tidak usah berprasangka buruk dulu dengan hal ini. Pada dasarnya penggantian penjamin nilai mata uang ini adalah untuk mengalihkan ketergantungan kita pada mata uang dolar, sehingga nilai mata uang kita tidak dikendalikan orang lain.

Untuk sementara mungkin sekian dulu pembahasan saya. Saran, masukan, kritik, rekomendasi, dan lain-lain sangat saya nantikan.

Kategori:lama
  1. tandymiller2754
    Januari 13, 2006 pukul 2:56 am

    I read over your blog, and i found it inquisitive, you may find My Blog interesting. My blog is just about my day to day life, as a park ranger. So please Click Here To Read My Blog

    http://www.juicyfruiter.blogspot.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: