Beranda > lama > Ujian

Ujian


Apa yang anda lakukan jika anda tahu bahwa esok hari adalah hari terakhir yang anda miliki? Jika esok adalah kesempatan terakhir yang anda tahu anda masih akan menghirup nafas kehidupan dunia? Jika esok hari nyawa anda akan dicabut dari jasad anda, dan segera anda akan menghadapi perhitungan di hadapan Allah? Dan anda tahu sebelum waktu ujian itu tiba anda akan dihadapkan pada ujian awal, yaitu pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur?

Jawabannya jelas, anda akan berusaha maksimal untuk beribadah kepada Allah, berbuat baik kepada sesama manusia, kepada orang tua, adik-kakak, keluarga lainnya, teman, tetangga, dan semua orang yang anda temui. Anda tidak akan jatuh tertidur, karena anda tahu bahwa ‘hari’ itu sudah dekat. Bahwa anda tidak akan punya waktu lagi untuk beribadah, kecuali menyesali yang telah lewat jika kita gagal memaksimalkannya untuk mencari keridlaan Allah.

Setidaknya itulah yang sedang saya lakukan. Bukan dalam kerangka mati. Bukan dalam kerangka ujian di hari perhitunganNya. Tetapi, jauh lebih ringan dari itu, ujian Termodinamika. Ya, benar, salah satu mata kuliah di departemen saya, Fisika. Saya tahu bahwa esok pagi adalah ujian pertama mata kuliah tersebut. Saya tahu bahwa ujian itu pasti dilaksanakan, karena jadwal resmi dari departemen sudah keluar, bahkan berikut ruangan ujiannya. Perkara ujian dibatalkan, itu urusan lain. Tapi yang jelas saya tahu bahwa ujian ini adalah salah satu yang menentukan keberhasilan kuliah saya di Fisika. Ini sudah kali kedua saya mengambil mata kuliah tersebut. Jika kemudian saya gagal lagi, maka itu adalah pertanda saya harus ‘menikmati’ lebih lama lagi kuliah di departemen tercintaku ini. Tapi jelas itu bukan tujuanku.

Oleh karena itu saya mati-matian malam ini belajar dan mengulang-ulang teori dan soal-soal. Bukan berarti baru malam ini saya mempelajari materi ujianya. Tetapi jelas sejak jauh hari sudah kuulang-ulang. Tetapi ini adalah ‘injury time’ yang saya miliki untuk memaksimalkan hasil ujian saya. Seperti halnya analogi saya dengan kematian di atas, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang masih Allah berikan kepada saya untuk mampu memaksimalkan usaha saya. Walaupun memang sebenarnya tidak mungkin kita menganalogikan ujianku ini dengan kematian, karena memang limit hidup kita tidak diberitahukan kepada kita. Tapi setidaknya itu bisa memberikan semangat bagiku, dan juga bagi semua pembaca tulisan ini, agar tidak menyia-nyiakan segala kesempatan yang Allah berikan bagi kita.

Mudah-mudahan usahaku ini mendatangkan hasil yang terbaik.Ya Allah, kabulkanlah doaku, Amien.

Kategori:lama
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: