Malaysia, I’m coming..

February 9, 2009

Tanggal 28 Januari 2009 menjadi saat pertama kalinya bagi saya menginjakkan kaki di luar negeri. Dan negeri itu adalah negeri Malaysia, tetangga kami. Sebuah negara yang dalam beberapa hal lebih beruntung dari Indonesia.

Pemandangan yang berbeda sudah saya rasakan sejak menjelang mendarat di bandara Kuala Lumpur (LCCT). Hutan kelapa sawit terbentang sangat luas di sekitar bandara. Sangat luas tak terputus, hingga seakan kita menyangka bahwa pesawat akan mendarat di tengah-tengah hutan, bukan di bandara yang sangat megah.

Alhamdulillah, prosedural imigrasi berhasil dilewati tanpa mengalami hambatan berarti. Sebelumnya sempat cukup khawatir dengan pos imigrasi ini karena saya memang masuk ke Malaysia tanpa single entry visa seperti yang biasa digunakan oleh mahasiswa internasional yang baru datang. Tetapi setelah melewati setengah jam di kantor imigrasi dengan penuh dengan rasa was-was, akhirnya saya dipersilakan untuk melewati pos pemeriksaan imigrasi untuk kemudian keluar dari bandara. Lega sekali rasanya, mengetahui bahwa saya tidak punya masalah imigrasi, walaupun sedikit menyesal karena telah membeli tiket kembali ke Indonesia secara random (minta dicarikan yang paling murah di counter AirAsia bandara) agar bisa jadi kartu truf ketika bermasalah di imigrasi.

Menuju bus station (Puduraya) atau railway station (KL Sentral) dari Airport Kuala Lumpur tidaklah susah. Kita bisa menggunakan shuttle bus yang ada, atau juga bisa menuju KLIA terlebih dahulu jika ingin menggunakan kereta api menuju KL Sentral. Saya memilih menggunakan kereta api, karena menurut websitenya, kereta api antar kota di Malaysia sangat nyaman. Dengan shuttle bus Aerobus, kita hanya perlu membayar RM8 untuk mencapai KL Sentral. Memerlukan waktu sekitar satu jam saja (tanpa kemacetan) untuk mencapainya. Sepertinya lebih jauh daripada jarak bandara Soeta – Gambir.

KL Sentral memang stasiun kereta api yang sangat besar. Saya tidak tahu persis letaknya di kota Kuala Lumpur, tapi sepertinya memang ada di tengah-tengah, seperti namanya, KL Sentral. Papan informasi dan penunjuk arah juga sangat informatif. Kita tidak akan tersesat di dalamnya, walaupun mungkin saja kita tertinggal kereta karena salah arah.

Saya cukup terkejut ketika loket kereta antarkota menyatakan bahwa hingga tanggal 31 Januari tiket kereta sudah habis. Mungkin karena sedang musim liburan tahun baru China. Akhirnya saya minta saran pada petugas information center yang ada di dalam stasiun. Dia menyarankan agar menggunakan bus dari stasiun Puduraya (Plaza Rakyat). Tempatnya tidak jauh dari KL Sentral, hanya perlu dua kali menggunakan KL Rapid. Memang tidak jauh, hanya beberapa menit saja waktu tempuhnya. Hanya saja karena saat itu saya sedang membawa satu buah koper besar, satu buah tas jinjing, serta satu buah tas ransel, maka jarak yang tak terlalu jauh itu menjadi cukup melelahkan. Kelelahan itu akhirnya terbayar dengan masih adanya tiket bus menuju Kangar. Alhamdulillah.

Ini memang salah satu kemudahan yang Allah berikan pada. Bayangkan saja, di saat tiket kereta api yang harga tiketnya rata-rata lebih mahal dan waktu tempuhnya lebih mahal habis, tapi tiket bus yang relatif lebih murah dan waktu tempuhnya lebih cepat masih tersisa.

Waktu keberangkatan bus memang masih lama ketika saya sampai di terminal Puduraya. Saya masih harus menunggu sekitar 2 jam. Busnya besar, dan jika dibandingkan dengan ukuran bus di Indonesia amatlah tidak lazim. Belakangan saya baru tahu bahwa rata-rata bus di Malaysia memang sebesar itu. Alhamdulillah, perjalanan selama 7 jam bisa dinikmati dengan beristirahat. Kursinya nyaman dan lebar, tidak sesempit kursi Kramat Djati di semua jurusan. ACnya juga bisa diatur. Tidak heran kalau harga tiketnya RM43. Tiba di kota Kangar kemudian mencari taksi, 5 menit kemudian sampai di Kolej Kediaman A, Tunku Abdul Rahman.

Sekali lagi Alhamdulillah.


Pengalaman baru, subhanallah..

February 9, 2009

Alhamdulillah…

Beberapa belas hari terakhir ini saya mendapatkan anugerah baru yang luar biasa. Banyak sekali yang ingin saya share dalam blog ini. Saking banyaknya, jadi bingung hendak dari mana akan saya mulai. Tapi perjalanan ini benar-benar meningkatkan rasa syukur saya pada Sang Pencipta, bahwa kemudahanNya tak akan pernah surut datang jika kita memang memintanya demikian.

Insya Allah ini akan menjadi awal baru yang lebih baik bagi saya, keluarga, dan tentunya dakwah Islam di dunia ini. Amin.


Menjelang Resign

December 30, 2008

Sekitar satu setengah bulan yang lalu, saya terlibat percakapan kecil di sela-sela scripting program C untuk AVR, dengan kawan karib yang saat itu sedang menunggu masa-masa resign dari kantornya. Dia bilang, masa-masa seperti ini adalah masa yang sangat membosankan.

Pekerjaan sudah dikurangi untuk mengantisipasi kekosongan yang kita tinggalkan, sementara kita masih harus masuk, karena memang perjanjiannya adalah hingga tanggal yang sudah ditetapkan (katakanlah, akhir bulan). Nyaris sudah tidak ada kerjaan yang tersisa, tetapi perusahaan masih membayar (menggaji) kita. Jadi tak ada alasan bagi kita untuk tidak masuk kantor.

Akhirnya di kantor hanya bisa duduk termanggu, sesekali buka email, cek facebook, ngajak chatting orang, dan segala pekerjaan membosankan lainnya. Atau paling banter mungkin bikin tulisan di blog seperti saya ini :D

Tapi bagi saya, ini cukup sepadan. Sekitar satu setengah bulan yang lalu, pertengahan nopember, ketika saya mengajukan resignation, keadaan tidak memungkinkan bagi saya untuk segera keluar awal bulan desember. Bahkan saya diberi tanggung jawab yang lebih besar untuk memimpin tim selama bulan desember ini. Otomatis keadaan saya selama satu bulan terakhir sangat sibuk. Sebenarnya bukan sibuk memimpin tim, tetapi karena pekerjaan saya jadi ter-redefinisi, muncul target baru yang harus dikejar.

Akhirnya baru beberapa hari terakhir ini saja saya merasakan pengurangan yang luar biasa dalam beban kerja. Pekerjaan hanya jadi urusan di kantor saja. Tidak perlu lagi dibawa ke rumah. Ditambah lagi dengan banyaknya hari libur di akhir tahun ini.

Semuanya membuat saya siap untuk segera mengundurkan diri, mengejar mimpi yang lain. Insya Allah…


Semoga saja menjadi amal shaleh… Amiin

November 25, 2008

Sepertinya sudah lama sekali saya tidak kehilangan sepasang sepatu. Terakhir yang saya ingat adalah saat tingkat satu (atau awal tingkat dua), kehilangan sepatu yang sebenarnya sudah rusak dan sudah lama tidak dipakai.

Tadi siang, saat shalat dzuhur di masjid dekat kantor, saya kehilangan sepatu kesayangan. Sebenarnya biasanya saya tidak menggunakan sepatu ketika hendak ke masjid. Hanya saja beberapa hari terakhir ini ketika sandal butut di kantor lenyap, saya menjadi tidak punya alternatif lain untuk alas kaki. Akhirnya saya gunakan sepatu saya.

Mungkin saja saya memang kurang bershadaqah akhir-akhir ini. Mengingat itu, saya [nyaris] tidak merasa menyesal kehilangan sepasang sepatu. Alih-alih bersedih, justru merasa bahwa saya memang harus punya yang baru. Tapi menyesal juga. Kalau ternyata memang bisa seikhlas ini, kenapa tidak terpikir untuk menyumbangkannya saja sekalian, ketika masih dimiliki.

Orang biasanya berapologi dengan menyatakan sedekah ketika kehilangan barang. Tapi coba bayangkan, jika sedekah tersebut memang disengaja, dengan barang yang paling kita sayangi. Laptop atau PDA kita misalnya. Saya yakin, menyengajakan diri untuk bersedekah lebih utama ketimbang terpaksa merelakan untuk sedekah.

Yah, memang saya masih harus banyak belajar beramal. Tapi bagaimanapun, semoga saja ini menjadi amal shaleh. Amiiin.


Blog keahlian elektronika

November 14, 2008

Beberapa waktu yang lalu saya mencoba untuk menginisiasi sebuah blog untuk berbagi keahlian seputar elektronika. Nama blognya adalah belajar mikro. Tapi karena berbagai kesibukan, ternyata tidak sempat menulis cukup banyak. Hingga saat ini baru tiga tulisan saja yang dipost, dan hanya dua yang benar-benar berhubungan dengan elektronika. Itu pun kadar keilmuannya masih rendah.

Mungkin dengan adanya blog ini, saya bisa lebih terpacu untuk menulis lebih banyak seputar keilmuan elektronika. Perlu kita ketahui bersama bahwa dunia elektronika instrumentasi di Indonesia masih sangat kurang dari segi jumlah SDM. Dasar dari semua otomasi di segala bidang (termasuk industri, transportasi, administrasi kependudukan, dan sebagainya) berawal dari bidang ini (instrumentasi).

Sedihnya, komunitas instrumentasi-elektronika yang ada saat ini semakin sedikit. Sebagai gambaran, jika sebelumnya di ITB bisa kita temukan di Fisika, Teknnik Fisika, dan Elektroteknik, maka saat ini di ketiga program studi tersebut sudah semakin minim peminatnya. Bahkan di lab elka – fisika saja saat ini sudah saat jarang kita dapatkan orang yang ngoprek. Kabarnya, ini disebabkan oleh waktu studi yang semakin dipercepat, sehingga orang cenderung meninggalkan dunia hardware yang troubleshooting dalam prosesnya tidak semudah software.

Walaupun pasar di bidang ini belum besar (di negara kita khususnya), sama sekali tidak menunjukkan bahwa tidak ada potensi pasar di negeri kita. Sebagai gambaran saja, pada tahun anggaran APBN 2008 telah dianggarkan dana sangat besar (beberapa Trilyun) untuk migrasi KTP ke Smart Card. Ini sudah menjadi kebijakan pemerintah (departemen dalam negeri). Akan tetapi, ternyata tidak ada sama sekali potensi lokal yang punya potensi untuk mengambil peluang ini, mulai dari smart card-nya, terminal-terminalnya, dan perangkat pendukung lainnya.

Apakah anggaran negara sebesar ini akan diserahkan ke perusahaan-perusahaan swasta luar negeri mentah-mentah? Jika itu dilakukan, maka kita sedang menguras devisa negara kita dan nyaris kita hanya mendapatkan hasil akhirnya saja. Tidak ada nilai tambah dari itu. Yang untung adalah perusahaan-perusahaan seperti Gemalto, Oberthur, ACS, dsb (iya nggak Har, Gun? :p )

Itu baru satu hal. Kita belum bicara tentang (misalnya) otomasi industri. Apakah akan kembali pada perusahaan-perusahaan semacam Siemens, Phillips, perusahaan-perusahaan Jepang dan China, atau bahkan Malaysia? Padahal secara teori di atas kertas, kita sebenarnya mampu melakukannya. PT LEN sudah membuktikannya dengan memasang switch (apapun namanya) untuk perkereta-apian di jalur terpadat di jabotabek. (mas Iwazaki mungkin bisa berbagi)

Di dunia telekomunikasi sebenarnya sudah mulai muncul juga perusahaan lokal seperti konsorsium yang dipimpin oleh INTI (produsen HP merk Nexian), Hariff dan Indonesian Tower (yang membuat Wimax lokal), kemudian ada Quasar (produsen alat-alat wartel), dan beberapa lainnya. Tetapi itu semua masih minim. Kita belum bicara tentang (misalnya) sistem avionik pesawat tempur, atau sistem kendali misil, atau lainnya. (Tapi alhamdulillah, kita sudah bisa bikin satelit)

Terlepas dari itu semua, saya berharap mudah-mudahan blog yang diinisiasi oleh Harry ini bisa menjadi sarana kita mempererat silaturahmi, berbagi ilmu dan wawasan, serta sarana bagi kita untuk menjaga dan mengembangkan keilmuan yang kita miliki. Masih banyak sebenarnya orang-orang yang ingin berkiprah dalam dunia ini (instrumentasi). Hanya saja mereka masih kekurangan wawasan, semangat, dan dana. Mungkin suatu saat kita bisa membantu mereka.


Reviewing My Blog

October 20, 2008

Sebenarnya saya sudah cukup lama nge-blog. Dalam arsip blog ini, artikel pertama tercatat diposting bulan Agustus 2004. Dan itu berarti sudah lebih dari 4 tahun yang lalu. Menurut mas Enda dalam salah satu surveynya beberapa waktu yang lalu, seorang blogger yang sudah ngeblog lebih dari satu tahun sudah termasuk blogger senior. Kalau begitu, ternyata saya bisa dikategorikan sangat senior :D

Pada awalnya blog saya memang bukan ini. Sebelumnya saya menggunakan account di blogger dengan nickname standar saya: fathinashrullah. (hingga saat ini blognya milik saya, sedang direncanakan digunakan untuk hal-hal yang lebih formal) Kemudian ketika blogger dibeli oleh Google dan accountnya disesuaikan dengan account Google, saya mendapatkan beberapa kesulitan setiap kali hendak mengupdate atau sekedar memanage isi blog. Akhirnya saya mencoba layanan lain dan terpilihlah wordpress ini. Apalagi setelah saya menemukan fitur import data, segera saya import semua postingan dan komentar saya terdahulu di blog lama tadi. Jadilah, blog ini sebagai blog baru saya.

Aktivitas ngeblog bagi saya adalah sarana untuk berbagi dan menjalin silaturahmi. Berbagi ide, wacana, cerita, serta berhubungan dengan teman-teman lain di dunia maya. Ada teman yang memang sebelumnya sudah saya kenal, ada juga teman yang baru kenal di dunia blog kemudian berlanjut di dunia nyata. Sangat menyenangkan membaca cerita-cerita mereka di dunia baru yang mereka tempati. Ada yang bercerita tentang pekerjaannya, aktivitasnya sehari-hari, pemikirannya, dan lain-lain.

Adalah suatu hal yang sangat menantang ketika tulisan kita yang berisi pemikiran, pendapat akan suatu hal mendapatkan respon komentar dari teman-teman. Itu bisa memancing kita untuk semakin giat berfikir dan menuliskannya kembali. Begitulah memang cara kita berkembang. Bertindak-mendapatkan saran-perbaiki-mendapatkan respon lagi-kemudian menyempurnakan. Begitu seterusnya. Dengan blog, maka metode tersebut semakin mudah terpenuhi. Maka, semakin banyak juga bermunculan manusia-manusia kritis, karena mereka dilatih untuk berfikir sistematis dan terstruktur dalam format menulis.

Saya setuju dengan gagasan Anis Matta di blognya bahwa seorang pemimpin wajib memiliki dua softskill utama: menulis dan orasi. Keduanya pada hakikatnya serupa: metode untuk menyampaikan pendapat. Seorang pemimpin adalah seorang yang handal dalam berpikir dan bertindak cepat. Karenanya dia memiliki metode standar di dalam kepalanya dalam bertindak dan memutuskan suatu langkah. Ini harus dilatih dalam kehidupan sehari-hari. Menulis adalah salah satu cara melatihnya. Dengan menulis, alur pikiran kita akan lebih terstruktur dan sistematis. Dan dengan membiasakan menulis sebelum berbicara, maka alur pembicaraan kita juga akan sistematis.

Kembali lagi ke tujuan utama postingan ini: Reviewing My Blog.

Kategori tulisan terbanyak adalah tulisan lama. Tulisan-tulisan tersebut berasal dari blog saya terdahulu, yang memang belum cukup baik pengkategoriannya. Kategari terbanyak berikutnya adalah forum-2002. Aslinya ini adalah tulisan-tulisan saya di milis forum-2002 yang saya kelola. Beberapa kali menulis cukup panjang, dan pada suatu saat saya merasa alangkah lebih baik jika tulisan-tulisan tersebut saya posting saja di blog ini. Hitung-hitung bisa menjadi kenangan pribadi di saat tua nanti :D

Kategori berikutnya adalah Indonesia. Ini adalah pemikiran-pemikiran saya terkait negara ini. Ada yang berisi kritik, politik, dan lain sebagainya. Biasanya, kategori ini beririsan juga dengan kategori-kategori bandung, pemerintah, politik, dan beberapa lainnya, karena memang menurut saya ada hubungannya antar kategori tersebut.

Kalau menilik dari tanggal posting, kita bisa melihat sangat tidak frekuentif. Kadang sering, kadang jarang. Tapi memang saya mulai rajin posting adalah sejak awal tahun ini. Dulu, saya cenderung tidak suka jika blog saya dibaca orang lain, karena postingannya memang agak bersifat konsumsi sendiri. Karenanya belum ada postingan seputar pernikahan saya, misalnya.

Sebenarnya terlalu banyak hal yang ingin saya share dalam tulisan-tulisan saya. Tapi apalah daya, ternyata kecepatan menulis saya tidak secepat lintasan-lintasan ide dalam kepala saya. Barangkali memang perlu untuk memulai menginventarisasi berbagai macam ide yang berkelebatan di kepala. Ada ide bagaimana caranya?

Akhir kata, blog ini, sesuai tagnya: curahan ide curahan hati, memang bukanlah media jurnalisme. Ini hanyalah sebuah blog, yang menyampaikan ide dan hati penulisnya; saya. Jangan diambil hati jika ada yang menyinggung perasaan. Kalau ada yang mengganjal, sampaikan saja. Tak ada moderasi dalam berkomentar di sini (tapi teutuep, saya bisa ngehapus :p ). Tak perlu sungkan menegur. Jika ada yang benar, maka sesungguhnya itu dari Allah sahaja. Jika ada yang salah, maka sesungguhnya saya minta Allah segera menegur serta mengajari saya bagaimana sebenarnya kebenaran itu.


Masih berada di antara kebimbangan

October 6, 2008

Pernahkah anda berada di tengah-tengah kondisi yang sebenarnya kondisi-kondisi tersebut sangat anda sukai dan anda inginkan, tetapi tidak kunjung muncul pertanda yang bisa membuat anda memilih salah satu di antara keduanya?

Anda tahu bahwa anda akan segera mendapatkan beasiswa studi dengan nilai beasiswa dan fasilitas yang bagus, sementara anda saat ini juga bekerja di perusahaan yang anda tahu berpotensi bermasa depan cerah. Anda pun juga sebenarnya punya potensi untuk ikut terjun di dunia antah-berantah-bisnis yang sangat menantang itu. Tapi, sekali lagi, semuanya kompak untuk tidak menunjukkan tanda-tanda yang bisa membuat anda cenderung memutuskan memilih salah satunya dan melupakan lainnya.

Jika anda berada pada posisi seperti ini, maka anda berada dalam posisi kebimbangan. Bimbang, ingin terus atau mundur. Bimbang ingin memutuskan atau melanjutkan. Bimbang, dengan sejuta rasa di dalamnya. Rasa, bahwa anda tahu bahwa anda bisa sukses di segala pilihan tersebut.

Ya Allah…
Pilihkanlah yang terbaik untukku…
Amiiiin…


Namanya: Farouq Hafizhuddin

September 15, 2008


Alhamdulillah.. Mujahid kecil kami telah lahir

September 4, 2008

Jum’at malam ketuban istri saya pecah, tapi rasa mulas belum muncul. Setelah konsulltasi dengan bidan, kami disarankan untuk segera ke Rumah Sakit. Karena sama sekali tidak berencana melahirkan di Rumah Sakit, kami belum memiliki preferensi khusus rumah sakit mana yang akan kami manfaatkan. Atas saran seorang famili, kami berangkat menuju rumah sakit terdekat yaitu Rumah Sakit Mitra Kasih.

Setelah kondisi bayi dalam kandungan diperiksa, kami menerima kenyataan bahwa dokter wanita sedang berada di luar kota dan tidak mungkin hadir. Istri saya panik karena tidak mau ditangani selain dokter wanita. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah rumah sakit. Atas saran perawat di RS Mitra Kasih, RSU Cibabat lah yang kemudian kami pilih. Jaraknya tidak jauh, hanya beberapa ratus meter dari RS Mitra Kasih dan hanya 4 km dari rumah kami.

Setelah mendapatkan penanganan awal, istri saya disuntik antibiotik (?) untuk melindungi bayi yang masih berada di dalam rahim yang ketubannya sudah pecah. Setelah 4 jam pemberian suntikan ini, baru diberikan penanganan berikutnya. Read the rest of this entry »


Hari ini, setahun yang lalu

July 21, 2008

Alhamdulillah, setahun telah terlewati sejak saya dinyatakan menjadi alumni ITB. Waktu terasa begitu cepat, seolah baru kemarin saya mengenakan toga masuk ke balairung utama Sasana Budaya Ganesha, kemudian bersama-sama mengikrarkan janji sarjana.

Detik-detik acara itu masih lekat dalam ingatan saya. Keluar dari rumah, berfoto bersama bapak dan ibu di halaman depan, berangkat, parkir di dekat PAU, jalan lewat terowongan, menanti waktu masuk ke dalam Sabuga, bertemu dengan Angga yang juga diwisuda, masuk ke dalam sabuga, rangkaian acara, salaman dengan rektor, foto bersama, menanti para wisudawan untuk pawai, perang air, makan-makan, diminta menyuapi ibu saya karena gagal menjawab pertanyaan MC di acara wisudaan himpunan, hingga menyetir mobil pulang ke rumah. Semuanya tak ada yang terlewat. Benar-benar serasa baru kemarin saya ikutan perang air itu. Seolah baru kemarin malam saya pura-pura marah ke Rizki Martin karena dia (tidak sengaja) melempar saya dengan air di acara malam wisudaan himafi.

Satu tahun ini banyak yang sudah dilakukan. Mulai bekerja di Dot System, menginap di pabrik peleburan baja di Jakarta untuk memantau keberjalanan alat, bolak-balik Bandung-Jakarta seminggu dua kali, melamar seorang akhwat di bulan Ramadhan dan menikahinya satu bulan kemudian, mengelola pernikahan adik pertama saya, dan lain sebagainya. Tak lupa mendapatkan tambahan binaan transferan dari seorang murobbi yang kembali ke daerah asalnya, dan juga bertemu Prof Noor yang mengapprove saya sebagai mahasiswanya.

Masih banyak impian yang belum diwujudkan. Menjelang masa-masa akhir studi, begitu banyak ide yang bermunculan yang meronta-ronta untuk dilaksanakan. Saking banyaknya, jadi bingung mana dahulu yang hendak dipilih. Akhirnya ketika Pak Sukirno pasca menguji tugas akhirnya Johan menyampaikan tawaran dari seorang koleganya untuk bekerja di tempatnya, saya terima dengan senang hati. Terutama karena ini sifatnya tawaran, lokasinya di Bandung, dan berada pada domain keahlian saya. Tawaran berlaku untuk (at least) dua tahun. Entah akan saya penuhi tenggat waktu itu atau tidak. Let’s see.

Akhir kata, syukur dan sabar harus senantiasa menghiasi jalan hidup kita. Sabar, ketika berjuang mencapai segala bentuk cita dan meralisasikan asa. Sabar, ketika tersandung kerikil kecil atau tertabrak batu karang yang maha besar. Tetapi tetap bersyukur atas segala nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada kita.

Sungguh indah urusan orang mu’min itu. Ketika senang dia bersyukur, dan itu baik baginya. Ketika susah dia bersabar, dan itu baik pula baginya.
[Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wasallam]


  • contact me

    Want to contact me? Just write down at the comment area. Sometime I'll check and reply.
  • Tulisan Terakhir

  • Tulisan Teratas

  • Komentar

    muhammadsaifulloh on Informasi untuk yang akan bera…
    irawan on Lapan Siap Kembangkan Rud…
    mahfud on Prosedur Pembuatan SPLP (Surat…
    De Aulia Ramadhan on Shout Box
    Fifi on Informasi untuk yang akan bera…
  • Catatan Lama

  • kategori

  • jumlah hits

  • Pengunjung