Archive for the ‘internasional’ Category
Kangar, A Pleasant City
Alhamdulillah, saya sangat bersyukur mendapatkan kota Kangar ini sebagai tempat studi. Sebenarnya tidak hanya Kangar, tapi Perlis secara keseluruhan. Hanya karena saat ini saya domisili di Kangar, jadi saya sebutkan salah satunya saja
.
Kangar adalah kota kecil. Susah mencari padanannya di tanah air. Luas kotanya barangkali hanya sebesar beberapa kecamatan di Kota Bandung yang dijadikan satu. Bahkan State Perlis secara keseluruhannya saja tak sampai seluas Kabupaten Bandung. Kalau Kabupaten Bandung luasnya mencapai lebih dari 3000 km persegi, maka Perlis hanya 810 km persegi saja. Benar-benar sangat kecil.
Tetapi kecilnya kota bukan berarti kota ini tertinggal. Fasilitas umum dibangun pemerintah dengan cukup baik. Sepanjang yang saya lihat, sarana umum tersedia memadai. Sekolah dibangun sangat besar, karenanya tidak banyak sekolah di sini. Satu-satunya rumah sakit juga nampaknya memiliki sarana yang lengkap. Luasnya kira-kira seluas rumah sakit Dustira Cimahi. Taman-taman kota juga ditata dengan indah. Tapi saya heran, taman kota sedemikian luasnya, sementara penduduknya sedikit sekali. Makanya taman-taman tersebut nyaris tidak pernah ramai.
Jalan-jalan kota dibangun cukup lebar. Terlalu lebar, kalau kita tahu betapa sedikitnya penduduknya. Tapi jalan yang lebar dan licin ini hampir tidak pernah ramai. Paling-paling di pagi hari saja ketika mengantar anak-anak pergi sekolah. Selebihnya, mungkin tidak berbeda dengan ramainya jalan Kebon Kopi dekat rumah di Bandung. Read the rest of this entry »
Konflik Israel – Palestina bukan konflik Agama?
Saya sering kesal kalau ada yang bilang konflik di Palestina yang berawal dari pendudukan Israel di tanah Palestina bukan masalah Agama.
Biasanya alasan yang digunakan begini: Penduduk Palestina itu, sepertiganya Muslim, sepertiganya Kristen, dan sepertiganya lagi Yahudi. Bagi saya, alasannya terlalu dangkal. Apakah perjuangan kemerdekaan Indonesia lebih dari 60 tahun yang lalu tidak bisa disebut perjuangan kaum Muslimin, hanya karena penduduk Indonesia tidak 100 persen muslim?
Saya mencium ada upaya pembusukan dari opini seperti ini. Ada upaya membawa wacana dukungan dari solidaritas ukhuwwah Islamiyah, menjadi sekedar solidaritas kemanusiaan belaka tanpa ada backing aqidah di sana.
Akibatnya jelas, jika solidaritas ukhuwwah tidak terjalin, maka Umat Islam secara alami akan tidak menempatkan kasus ini dalam prioritas utama Ummat. Efeknya, Doa massal dan masif dari kaum Muslimin tidak akan muncul. Padahal, sebenarnya doa inilah yang paling ditakuti oleh musuh-musuh Islam di mana pun mereka berada.
Al Haqq min Rabbik
[ingin membuat esai tentang ini, tapi belum sempat riset lebih jauh]
Shafaq – Jet Tempur Generasi Ketiga Iran
Anda tahu gambar di atas? Ya anda benar, sesuai dengan judul tulisan ini, pesawat tersebut adalah pesawat jet tempur generasi ketiga yang dikembangkan Iran. Dengan nama Shafaq, yang berarti “sebelum fajar”, nampaknya Iran ingin segera mewujudkan supremasinya di dunia dirgantara, lebih khusus lagi penguasaan wilayah angkasanya. Dengan masuknya jet subsonik ini, maka Iran akan segera menggenapkan kekuatan udaranya dengan kekuatan yang tidak bisa dihancurkan dengan embargo, karena pesawat ini Iran made.
Tak jelas mengapa jet ini masuk dalam kategori subsonik, padahal dia mengusung mesin Klimov RD-33 yang biasa digunakan oleh MIG-29. Sedangkan MIG-29 sendiri mampu mencapai kecepatan tertingginya pada angka 2,4 Mach. Barangkali memang ada tujuan penempatan tertentu dalam jajaran kekuatan, agar sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.
Pada awalnya, jet ini merupakan proyek yang dikerjakan bersama-sama dengan Rusia dengan nama Integral. Belakangan Rusia hengkang dan proyek ini dan diganti namanya dengan Shafaq. Pesawat yang di Iran proyeknya dilaksanakan oleh Malek Ashtar University of Technology ini dikembangkan dari basis jet Rusia Yak-130 dengan material yang mampu menyerap radar. Dapat dipastikan bahwa nantinya pesawat ini mampu menghindari pantauan radar dengan spesifikasi tertentu.
Saat ini dikembangkan tiga buah prototip dengan konfigurasi satu buah single-seat dengan versi trainer atau serang ringan dan dua buah double-seat dengan versi fighter bomber. Pesawat ini menggunakan kursi lontar buatan Rusia yang hampir digunakan untuk F-22 Raptor dan MFD berwarna untuk cockpitnya.
Pertanyaannya: kapankah Indonesia mampu mulai mengembangkan peralatan perang semacam ini?
link wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/IAMI_Shafaq
link video: http://www.youtube.com/watch?v=TkwLw9lqzXY
