Archive for the ‘indonesia’ Category
Mari kita doakan mereka…
Alhamdulillah, barisan pemimpin negeri ini telah lengkap dan akan segera dilantik untuk kemudian memulai kembali kerja kerasnya.
Ya Allah berilah kemampuan kepada mereka untuk melihat kebenaran dan memilih kebenaran tersebut, untuk mengangankan keadilan dan merealisasikannya dalam semua kebijakannya, untuk bervisi besar dan mendapatkan kekuatan besar untuk mewujudkan visi tersebut.
Ya Allah, bimbinglah mereka, kuatkanlah mereka, kokohkanlah mereka di atas kebenaran yang Engkau ridhai. Jangan Engkau biarkan mereka lalai dan terpuruk dalam kelalaiannya itu. Jangan Engkau biarkan mereka tidak tahu dan hancur karena ketidaktahuan mereka.
Ya Allah, jauhkanlah mereka dari kekuatan yang senantiasa merongrong hati nurani dan keadilan. Berikanlah hidayahMu tentang kebenaran untuk mereka ikuti dan berikanlah hidayahMu tentang kebathilan untuk mereka jauhi.
Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami sebagai pemimpin yang mencintai rakyatnya. Dan jadikan pula kami sebagai rakyat yang mencintai pemimpinnya.
Amiiin…
Para Pemimpin kami: Read the rest of this entry »
Secuil kontemplasi dari hasil pemilu legislatif 2009
Alhamdulillah, secara umum pemilu legislatif tahun 2009 berjalan dengan cukup lancar. Kendala teknis persiapan memang menjadi catatan tersendiri karena Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang kacau balau. Tetapi situasi nasional secara umum tetap kondusif.
Target PKS untuk meraih suara sebanyak 20% yang ditetapkan sejak munas tahun 2005 ternyata meleset jauh dan hanya mendapatkan sekitar 8% (versi quick count dan tabulasi KPU) atau sekitar 12% (versi tabulasi internal). Banyak hal yang menjadi catatan mengenai penyebab ketidaksuksesan ini. Kita bisa meninjaunya dari dua sudut pandang. Pertama adalah dari ketercapaian target, kedua adalah dari sudut pandang rival sesama peserta pemilu.
Jika kita melihat dari sudut pandang pertama, maka kita akan melihat bahwa ini adalah kegagalan yang cukup besar. Bagaimana tidak, langkah-langkah sudah dipersiapkan sejak 4 tahun sebelumnya. Semua struktur sudah bekerja keras, bahkan parameter kenaikan yang signifikan sudah sangat terukur dari beberapa pilkada yang dimenangkan. Tetapi ternyata hasilnya sangat jauh dari harapan. Tak sampai 50% dari target, bahkan nyaris tidak ada peningkatan dari hasil pemilu 5 tahun sebelumnya.
Tetapi jika kita melihat dari sudut pandang rivalitas sesama peserta pemilu, maka kita akan mendapatkan gambaran yang mencengangkan: Selain PKS dan PD, semua peserta pemilu tahun 2004 mengalami kejatuhan suara yang signifikan. Praktis PKS hanya kalah dari Partai Demokrat. Jika kita melihat bagaimana cara PD berkampanye, maka kita akan memahami bahwa memang inilah sunnatullah. Siapa yang lebih “luar biasa” kerjanya, maka hasilnya pun akan lebih “luar biasa” pula. Di sini saya tidak berbicara tentang keikhlasan ataupun tentang kapasitas kader, tetapi lebih ke arah strategi memenangkan pemilu. Read the rest of this entry »
Dua Pendeta Caleg PKS?
Disclaimer: Ini bukan kampanye, tapi hanya sekedar klarifikasi. Jika tetap dinilai terbukti sebagai kampanye, saya bersedia menghapusnya.
Berikut kutipan dari My Note Facebooknya DR.Mardani Ali Sera (Wasekjen PKS)
Ikhwah wa akhwati fillah, pg ini saya dpt sms yg mengabarkan kutipan Majalah Tempo tentang adanya dua pendeta sbg caleg PKS dari saya. Sayapun terkejut. Maka dg ini saya akan menceritakan informasi yg utuh: awalnya wartawan tempo bertanya adakah caleg non muslim dr PKS? Saya jawab: Tidak ada utk Pusat dan Prov. Tapi utk Kab ada, khususnya mereka yg ada di Indonesia Timur. Itupun di daerah yg 80% lbh pemilihnya bukan Islam. Dan mereka rata2 melamar ingin jadi caleg PKS. Walau sudah kita jelaskan bahwa PKS adalah partai Islam mereka tetap ingin bergabung. Kata mereka, kita suka dg PKS. Jadi, mereka yg ingin jadi caleg PKS! Saya jg tambahkan di Halmahera Selatan ada dua pendeta jadi caleg PKS karena mereka suka dg perilaku kader PKS. Utk jadi caleg PKS itu mereka dikucilkan dan akhirnya pindah jemaah. Jadi, sekali lagi, info yg saya berikan itu utk menunjukkan bahwa PKS itu rahmatan lil alamin. Wallahu a’lam bish shawab.
Mardani.
PKS paling pas dengan kriteria HTI
Sebenarnya notes ini melanjutkan beberapa diskusi maya yang saya terlibat di dalamnya mengenai ‘konflik’ HTI-PKS. Konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi, karena jika kita telaah baik-baik maka sebenarnya tidak ada pertentangan sama sekali antara keduanya.
Sebelumnya silakan baca link berikut. Di link tersebut dijelaskan tentang hakikat pemilu serta tuntunan bagi muslim dalam mengikuti pemilu. Bagaimana menentukan partai dan caleg yang seharusnya dipilih.
Pada akhirnya jelas sekali kan?
Sama sekali tidak ada himbauan golput. Saya yakin sejak jauh-jauh hari bahwa keputusan ini akan keluar. Soalnya saya tahu banyak ustadz dan ulama dengan ilmu luas di HTI, sehingga proses istinbath hukum tidak akan serampangan dan sembarangan.
PKS jelas partai Islam yang berjuang untuk tegaknya Islam, yang faham seyakin-yakinnya bahwa hukum berasal dari Allah. PKS secara terbuka menyatakan bahwa tujuan masuk ke parlemen dalam rangka berdakwah.
PKS jelas partai Islam yang mengharamkan isme-isme terlarang dan jelas keharamannya, seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme, atau ahmadisme (ahmadiyah). PKS berusaha menapaki jalan dakwah Rasulullah yang dipelajari lewat sirahnya. Proses pengambilan hukum dan langkah politik serta kemasyarakatan PKS dilakukan lewat metode fiqh syariah, fiqh dakwah, fiqh awlawiyah, fiqh waqi’, fiqh muwazanah, yang kesemuanya diistinbath dari sirah dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi Wasallam.
Mekanisme kontrolling kita agar senantiasa berada dalam jalan dakwah juga sudah jelas. Kita punya agenda tarbawi mingguan yang mengevaluasi langkah dakwah kita per pekan. Kita punya lembaga syuro dari wajihah terkecil (skala RT-RW) hingga skala nasional (majelis syuro). Bahkan kita juga punya lembaga Dewan Syariah yang diisi oleh pakar hukum Islam lulusan dari universitas-universitas Islam ternama di dunia. Insya Allah mereka tak akan pernah menggunakan hawa nafsu dalam mengeluarkan fatwa dan kebijakan.
Jadi percayalah, sebenarnya Takmim HTI tersebut secara tersirat menyatakan dukungannya pada PKS.
Percayalah, bahwa kita sama, kita satu jalan, kita memiliki tujuan dan impian yang sama.
Untuk kemenangan dakwah!!!
Allaaahu Akbarr!!!
ps: sebelumnya judul notes ini adalah “Secara tersirat HTI dukung PKS”. Thanks to Hanief
Semoga berhasil disahkan hari ini..
Ya Allah…
Sadarkanlah orang-orang PDIP itu.
Berikanlah keluasan hati kepada orang-orang PDS itu.
Dan juga lapangkanlah hati sebagian anggota PKB itu.
Sehingga RUU Pornografi bisa disahkan hari ini.
Amiiin….
Masih Tentang Pendidikan
Sebenarnya ini komentar untuk komentar mas Galih yang ini, tetapi ternyata kepanjangan, dan saya berpikir untuk mempost-nya sebagai tulisan terpisah.
Wah, senang dikomentari sangat panjang oleh mas Galih. Sebelumnya, saya juga mau mengucapkan selamat dulu atas kelulusannya. Kapan-kapan juga ingin mengomentari tulisannya mas Galih. Tapi sayang, semua tulisannya berada di seputaran dunia Farmasi dan dunia bisnisnya, jadi saya tidak terlalu nyambung.
Memang postingan saya di atas hanya berupa uneg-uneg yang keluar ketika mendapatkan sebuah email broadcast di milis icmi. Entah kenapa, mungkin karena berhubungan dengan dunia pendidikan, saya jadi terpancing untuk ikut mengomentari.
Saya memang tidak sedang membahas sistem pendidikan secara holistik. Saya hanya menanggapi beberapa pertanyaan yang diajukan mas AZA. Mungkin suatu saat saya bisa menyusun tulisan tentang pendidikan yang lebih lengkap, sehingga bisa menjadi bahasan yang lebih luas.
Kalau mas Galih menyebutkan target pendidikan adalah “Sikap dewasa” dan “Sadar yang kritis”, maka itulah sebenarnya (kurang lebih) yang saya maksudkan dengan “standar absolut kesejahteraan”. Dan itu adalah wajib dipenuhi oleh semua warga masyarakat. Kenapa? Agar mereka dapat memposisikan diri mereka sendiri, mengenali diri mereka sendiri, dan kemudian juga dapat menentukan peran apa yang ingin mereka ambil dalam masyarakat yang dia berada di dalamnya.
Mungkin singkatnya begini: Bukan kewajiban pemerintah saja yang harus menyediakan makanan, pekerjaan, sarana kesehatan, transportasi, dan lain sebagainya bagi seluruh rakyat. Tetapi pemerintah harus bisa mengkoordinasikan rakyatnya bagi penyejahteraan seluruh rakyat. Dan jika mereka tidak memiliki standar absolut kesejahteraan ini, maka sampai kapan pun mereka tidak akan bisa digerakkan untuk menjadi batu bata penguat bangsa, sehingga kewajiban memberi makan, pekerjaan, dsb, kembali jatuh hanya pada pemerintah saja (a.k.a presiden, menteri, gubernur, walikota, dinas-dinas, pns, dan yang semacamnya).
Mengenai apa pekerjaan mereka, berapa penghasilan mereka, dan lain sebagainya, saya menempatkannya sebagai suatu ukuran relatif untuk kesejahteraan. Kenapa? Karena setiap kepala memiliki penilaiannya masing-masing atas segala sesuatu. Ada yang berpendapat bahwa akademis adalah mutlak, sehingga bertekad meneruskan pendidikan sampai rela untuk tidak menikah dan tidak bekerja. Ada yang berpendapat bahwa wirausaha adalah keharusan bagi dirinya, ada pula yang berpendapat bahwa profesional harus menjadi jalan hidupnya, dan lain sebagainya.
Itu semua bukan masalah utama kesejahteraan. Tetapi ketika mereka tidak mampu memilih sesuatu untuk dirinya, di situlah masalah terjadi. Karenanya, banyak terjadi pengangguran, padahal terlalu banyak pekerjaan rumah yang dimiliki negeri ini bahkan untuk dikerjakan oleh semua penduduk sekalipun. Terjadi juga kelaparan, padahal potensi pangan tersedia terlalu melimpah untuk seluruh rakyat.
Dan tujuan pendidikan ini sebenarnya tidak harus ditempuh melalui jalur pendidikan formal. Hanya saja, bagaimanapun kita harus mengakui bahwa keformalan selalu identik dengan terkoordinasi. Untuk pendidikan dua ratus juta lebih rakyat Indonesia, kita jangan berharap dari sesuatu yang tidak terkoordinasi. Karenanya, “sekolah” menjadi hal yang penting. Tetapi, bagi saya pendidikan yang dimaksud di sini adalah “pendidikan dasar dan menengah”.
Akan halnya pendidikan tinggi, posisinya jelas-jelas berbeda. Bukan sekedar untuk mendewasakan diri serta membangun kesadaran kritis, tapi lebih jauh dari itu, bahwa pendidikan tinggi adalah institusi penelitian yang dampaknya luas. Bukan sekedar untuk diri sendiri, tetapi skalanya negeri. Karenanya, pendidikan tinggi ini berhubungan dengan usaha negara meningkatkan taraf hidup rakyatnya.
Akan halnya ada mahasiswa yang belum dewasa dan kritis, maka sebenarnya yang bermasalah adalah pendidikan dasar dan menengahnya. Dan memang, untuk saat ini sedang membutuhkan reformulasi yang sangat luar biasa.
Sistem Pendidikan Kita (semi dialog)
Ada email dari mas Achmad Zaenal Abidin (AZA) di milis kalam yang mempertanyakan tentang sistem pendidikan di negara kita. Sebenarnya sudah sering sekali mas AZA ini mengirim email-email seperti ini, baik ke milis kalam, icmi, atau indonesia next better. Tapi formatnya seringkali ‘agak’ serampangan i.e. format tidak teratur, yang diajak diskusi tidak jelas (karena dikirim ke banyak sekali milis), subjectnya kepanjangan, dsb.
Entah kenapa, kali ini saya ingin mencoba me-reply. Setelah saya tulis, ternyata cukup panjang. Dan setelah dipikir-pikir, cocok juga untuk jadi artikel tersendiri di blog ini.
Silakan dikritisi.
Apakah ada yang bisa memberikan pencerahan mengapa SD 6 tahun ? mengapa SMP 3 tahun, mengapa SMA 3 tahun ? dan mengapa perguruan tinggi 9 semester ?
Ada kurikulum yang sudah disusun sebelumnya. Kurikulum tersebut dijabarkan pada tataran teknis sehingga menghasilkan angka-angka seperti itu (6 tahun, 3 tahun, dsb). Apakah harus selalu sama waktunya? Tentu tidak. Makanya ada yang bisa SD kurang dari 6 tahun, ada kelas akselerasi, ada yang S1 3 tahun, dsb.
Mengapa banyak pengulangan dari SD sampai SMA untuk mata pelajaran bahasa Indonesia ? Mengapa terjadi pengulangan untuk SMP dan SMA pelajaran sejarah, matematik, bahasa Inggris, biologi, Fisika, Kewarga negaraan dan sebagainya bahkan sampai kuliah ?
Pernah dengar istilah “spiral” dalam terminologi pengajaran? Kita akan selalu mengulangi pelajaran yang sejenis dalam proses belajar kita, tentunya dengan pendalaman materi. Misalnya begini, di SD kita mengenal angka. Di SMP kita mengenal angka dalam basis berbeda. Di SMA kita mengenal angka dalam koefisien-koefisien dan konstanta-konstanta. Di perkuliahan kita mengenal angka dalam dunia yang berbeda lagi. Tapi semuanya sejenis, mengenal angka.
Dalam dunia perkuliahan juga sebenarnya tidak banyak berbeda. Jika anda kuliah di jurusan fisika di perguruan tinggi manapun, anda akan menemukan pelajaran yang selalu diulang-ulang. Di tingkat satu, kita mempelajari gelombang dalam mata kuliah fisika dasar. Di tingkat dua, kita pelajari kembali gelombang dalam persamaan-persamaan yang lebih kompleks pada mata kuliah Fisika Matematika atau Kalkulus Lanjutan. Di tingkat tiga, lebih dalam lagi dipelajari dalam mata kuliah Gelombang. Bahkan di tingkat empat pun kita masih akan bergelut dengan gelombang, jika tugas akhir anda mengambil topik di sekitar fisika bumi, elektronika, atau bidang-bidang yang lainnya.
Apakah tidak mungkin menjadi sarjana dalam waktu 18 tahun ?
Jalan Nasional Mulus di 2009 [kenapa nggak dari dulu??]
Wahyu Daniel – detikFinance

Tol Cipularang (Foto: dok detikcom)
Jakarta – Pemerintah melalui departemen pekerjaan umum (PU) menargetkan seluruh jalan nasional tahun 2009 dalam kondisi mulus. Panjang jalan nasional juga akan ditambah.
“Departemen PU menargetkan seluruh jalan nasional tahun 2009 tidak ada dalam kondisi rusak berat,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Hal itu diungkapkan Menkeu yang juga merangkap Menko Perekonomian ini dalam sidang paripurna atas jawaban pemerintah terhadap pandangan umum fraksi-fraksi DPR mengenai RAPBN 2009 di gedung DPR/MPR, Jakarta, Selasa (26/8/2008).
Menkeu memaparkan data panjang jalan nasional dalam kurun waktu 14 tahun terakhir telah mengalami peningkatan yang signifikan dari 17.800 kilometer pada tahun 1994 menjadi 34.628 kilometer pada tahun 2008.
Departemen PU, menurut Menkeu, menargetkan pada akhir 2009 panjang jalan nasional mencapai 86.510 kilometer atau bertambah 12.000 kilometer dibandingkan 2005.
Departemen PU juga terus berupaya agar kondisi jalan nasional sepanjang 34.628 kilometer itu dapat seluruhnya fungsional melalui kebijakan preservasi jalan.
“Persentase kondisi jalan nasional yang rusak berat makin berkurang yakni dari 11% dari panjang nasional tahun 2005 menjadi 8,54% pada tahun 2007,” ungkap Menkeu.
Menkeu juga menjelaskan tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan daya dukung infrastruktur jalan antara lain menangani kerusakan jalan akibat pemanfaatan dan bencana alam.
“Karena itu pada tahun 2009 departemen PU tetap memberikan alokasi yang terbesar untuk memperkuat daya dukung infrastruktur jalan dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” katanya.(ir/qom)
source: http://www.detikfinance.com/read/2008/08/26/150834/994899/4/jalan-nasional-mulus-di-2009
Ternyata semua incumbent sama saja ya. Nggak bupati, nggak walikota, nggak gubernur, nggak presiden, baru ngebenerin semuanya di akhir jabatan.
Prosedur basi buat ngawetin jabatan.
Kemaren pendidikan, sekarang jalan. Kayaknya awal tahun depan bakal nurunin gas sama bbm deh. Kenapa nggak dari dulu???
Tanggapan Pak Endrizal Tentang Kekalahan TRENDI
Tulisan ini adalah tanggapan Pak Endrizal Nazar, anggota DPRD dari PKS, di milis Kalam Salman terhadap tulisan pak Munawwar Khalil tentang kekalahan TRENDI.
Dikopi dan dilakukan perapihan format seperlunya.
Assalamu’alaikum wr.wb.
Menanggapi tulisan/analisis saudaraku Munawar Kholil sebelumnya saya mengucapkan terima kasih namun tetap merasa perlu melakukan klarifikasi agar informasi/analisisn ya berimbang. Politik bagi PKS merupakan bagian dari da’wah sehingga yang dikedepankan adalah langkah amar ma’ruf nahi munkar dengan prinsip mengambil kebaikan terbanyak (maksimalnya) atau memilih mudharat terkecil (minimalnya) sesuai dengan semangat masuk ke pemerintahan dalam rangka Ishlahul Hukumah (perbaikan pemerintahan) . “In uridu illa al ishlaha ma ishtatho’tu wa ma taufiqi illa billah alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.”
Dalam Pilwalkot Bandung prinsip di atas tetap menjadi rujukan yang dalam implementasinya tentu berrdasarkan analisis dan survey terhadap kondisi yang ada. Sebagai orang yang cukup lama bergaul dengan komunitas partai politik yang ada di DPRD Kota Bandung pilihan untuk tidak jadinya berkoalisasi dengan Poros Tengah atau PAN, bukanlah karena ke’pede’an PKS walaupun tetap diakui pengaruh kemenangan HADE juga menjadi bagian yang mempengaruhi keputusan politik PKS. Tidak etis kalau tidak terjadinya koalisasi itu saya sampaikan disini tetapi dalam konteks analisis dan survey yang telah dilakukan (survey yang sama juga dilakukan dalam rangka pemenangan HADE) menunjukkan koalisasi yang terbentuk malah menurunkan perolehan suara dengan meningkatnya swing voters.
Analisisnya mengarah bahwa pemilih PKS tidak ’sreg’ dengan pasangan tersebut sementara sang pasangan tidak mampu membawa massa partainya untuk memilih pasangan yang diusung bersama dengan PKS. Pilihan untuk bergabung dengan incumbent juga menyebabkan penurunan suara yang cukup tinggi (suara yang diperoleh tidak linier dengan perolehan jumlah suara PKS maju sendiri dengan incumbent maju sendiri). Artinya semakin banyak pemilih PKS yang menjauh.
Hal ini tentu membahayakan kalau sikap ini muncul dari pemilih2 yang selama ini merasa PKS sebagai entitas yang konsisten menghadang kebijakan pemkot yang ‘menyengsarakan’ sebagian warga masyarakat seperti pedagang pasar tradisional dan masyarakat Griya Cempaka Arum. Ditinggalkan oleh masyarakatlah yang lebih dikhawatirkan PKS dibanding hilangnya peluang berkuasa. Apalagi mengingat ungkapan Amirul Mu’minin Umar ibnul Kaththab, “Kalau seandainya ada seekor unta yang mati kelaparan di pinggiran sungai eufrat, maka Umar akan diminta pertanggungjawabann ya di yaumil qiyamah kelak”. Terzhaliminya beberapa kelompok masyarakat dengan kebijakan2 yang selama ini ditentang PKS akan menjadi tanggung jawab PKS kalau kemudian PKS bergabung dengan incumbent tapi tidak ada solusi buat mereka. Solusi yang diminta dan ditawarkan PKS ternyata tidak mendapat respon yang memadai.
Pilihan PKS juga bukan tanpa ada dasar rasionalitasnya. Tingkat elektabilitas calon PKS Juni 2008 memang berselisih sekitar 15 % ( 29 % : 44 %) dengan incumbent dan berdasarkan pengalaman HADE, PKS optimis bisa mengejar ketertinggalan ini. Tapi rupanya operasi politik yang dilakukan (selebaran gelap/sms gelap, fitnah, adu domba), mobilisasi aparatur dan APBD membuat prediksi PKS jauh dari sasaran. Beredarnya ribuan rim selebaran gelap berkop PKS yang menyerang kelompok2 lain (khususnya ormas Islam), dimana beberapa ustadz menjadikan selebaran gelap (segel) ini sebagai bahan rujukan ceramah dan khutbah Jumat. Isu rasial/etnis (Padang-Cina) yang dikembangkan secara sistemik/terstruktu r sehingga sampai keluar dari mulut aparatur padahal mereka berdua asli sunda.
Bantuan2 APBD yang dicairkan saat kampanye dan minggu tenang dan selalu dinyatakan sebagai jasa incumbent (saya pernah hadir dalam pengucuran bantuan koperasi masjid melalui MUI yang saya perjuangkan anggarannya di Panitia Anggaran, tetapi oleh pembawa acara (pengurus MUI) dianggap sebagai jasa incumbent dan meminta yang hadir untuk tahu berterima kasih sehingga spontan ada yang nyeletuk coblos incumbent- saya kemudian berusaha meluruskan, tetapi bagaimana dg acara2 yang tdk dihadiri kader pks yang mengerti masalah).
Terhadap beberapa ustadz yang menjadikan segel sebagai rujukan ceramah/khutbah sudah dilakukan klarifikasi tetapi dengan enteng mereka menjawab, “Saya tidak salah hanya menyampaikan, yang salah yang buat selebaran, begitu juga masyarakat yang terpengaruh juga tidak salah”. Terakhir ada buletin gelap yang menyerang bapak Miftah Faridl juga dikesankan dari PKS/Trendi. Muncul kemudian penangkapan 2 orang akhwat (oleh pendukung salah satu calon) yang terlalu semangat masih iseng nempel 1 stiker di masa tenang. Penangkapan ini kemudian dikesankan/dipaksa seolah-olah buletin gelap diatas dari mereka dan langsung diumumkan ke jejaring radio (PRSSNI) dan jadi berita.
Terlalu banyak kalau semua saya tulis di sini. Saya tidak menuduh operasi politik ini dilakukan incumbent atau tim suksesnya, tetapi operasi politik ini menjadi demarketing Trendi dan sangat menguntungkan incumbent. Akibatnya taqdir menentukan Trendi harus kalah dengan cara-cara kotor dalam berdemokrasi. Sebagai bahan informasi betapa jahatnya black campaign yang dilakukan, saya masukkan sms2 gelap saya terima ke attach files.
Wassalam
Endrizal Nazar
sms-sms gelap terkait saya post di tulisan berikutnya.
Taufikurahman: Selamat Buat Pasangan Dada-Ayi
Alhamdulillah, tanpa perlu ada gesekan sama sekali, pemilihan walikota Bandung sudah selesai. Pasangan Trendi sudah mengakui secara resmi kemenangan kang Dada. Ucapan selamat juga sudah disampaikan. Tinggal proses administrasi saja yang memisahkan warga Bandung dengan wakil walikota barunya (walikotanya kan lama
).
Sikap ini (ucapan selamat) sudah saya perkirakan akan segera keluar, walaupun saya tidak menyangka akan secepat ini. Tapi itu bagus, karena mencegah potensi terjadinya gesekan di masyarakat. Mudah-mudahan saja sampai akhir proses pemilihan ini, segala sesuatunya berjalan dengan lancar.
Mari sekali lagi kita doakan, mudah-mudahan kang Dada diberi kemampuan optimal oleh Allah dalam memimpin kota Bandung. Mudah-mudahan dikuatkan pendiriannya dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan. Mudah-mudahan diberi kemampuan untuk meninggalkan kebijakan buruknya di masa lalu, dan menggantinya dengan kebijakan yang memihak warganya.
Amiiin…
sumber berita: http://bandung.detik.com/read/2008/08/11/152136/986569/486/taufikurahman-selamat-buat-pasangan-dada-ayi