Fathi Nashrullah's Weblog

Just fly. Let the experts busy studying how you do the impossible… [azrl]

Archive for the ‘artikel’ Category

Secuil kontemplasi dari hasil pemilu legislatif 2009

with 6 comments

Alhamdulillah, secara umum pemilu legislatif tahun 2009 berjalan dengan cukup lancar. Kendala teknis persiapan memang menjadi catatan tersendiri karena Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang kacau balau. Tetapi situasi nasional secara umum tetap kondusif.

Target PKS untuk meraih suara sebanyak 20% yang ditetapkan sejak munas tahun 2005 ternyata meleset jauh dan hanya mendapatkan sekitar 8% (versi quick count dan tabulasi KPU) atau sekitar 12% (versi tabulasi internal). Banyak hal yang menjadi catatan mengenai penyebab ketidaksuksesan ini. Kita bisa meninjaunya dari dua sudut pandang. Pertama adalah dari ketercapaian target, kedua adalah dari sudut pandang rival sesama peserta pemilu.

Jika kita melihat dari sudut pandang pertama, maka kita akan melihat bahwa ini adalah kegagalan yang cukup besar. Bagaimana tidak, langkah-langkah sudah dipersiapkan sejak 4 tahun sebelumnya. Semua struktur sudah bekerja keras, bahkan parameter kenaikan yang signifikan sudah sangat terukur dari beberapa pilkada yang dimenangkan. Tetapi ternyata hasilnya sangat jauh dari harapan. Tak sampai 50% dari target, bahkan nyaris tidak ada peningkatan dari hasil pemilu 5 tahun sebelumnya.

Tetapi jika kita melihat dari sudut pandang rivalitas sesama peserta pemilu, maka kita akan mendapatkan gambaran yang mencengangkan: Selain PKS dan PD, semua peserta pemilu tahun 2004 mengalami kejatuhan suara yang signifikan. Praktis PKS hanya kalah dari Partai Demokrat. Jika kita melihat bagaimana cara PD berkampanye, maka kita akan memahami bahwa memang inilah sunnatullah. Siapa yang lebih “luar biasa” kerjanya, maka hasilnya pun akan lebih “luar biasa” pula. Di sini saya tidak berbicara tentang keikhlasan ataupun tentang kapasitas kader, tetapi lebih ke arah strategi memenangkan pemilu. Read the rest of this entry »

Written by fathiiiii

April 14, 2009 at 12:01 am

Dakwah Adalah Kemampuan Yang Harus Diasah

with one comment

Sering kita menemukan seorang kader dakwah yang tidak bisa mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Dia baik, tapi tidak bisa menebar kebaikan pada lingkungannya. Dia shaleh, tapi dia tidak bisa menshalehkan orang-orang di sekitarnya.

Kita sering menemukan seorang kader dakwah yang tidak bisa mempengaruhi perilaku buruk kawannya. Bukan karena dia tidak tahu itu buruk, bukan pula karena dia takut memberi peringatan. Tetapi sering kali alasannya simpel, dia tidak tahu bagaimana melakukannya.

Mungkin di antara kejadian berikut sering terjadi di antara kita.

  1. Di waktu shubuh, kita terbangun dan berangkat menuju Masjid untuk shalat berjamaah. Namun kita tidak membangunkan orang yang kamarnya berada di samping kita. Pun kita juga tidak membangunkan bapak kos kita, misalnya, untuk mengajak bersama-sama ke Masjid.
  2. Di waktu ujian, ada teman kita menyontek. Kita tahu mereka menyontek, bahkan kita tahu sejak sebelum mereka menyontek, karena dia sudah menyatakannya demikian. Kita tidak menegurnya.
  3. Di kelas, ada kawan wanita kita yang mengenakan pakaian tidak wajar karena terlalu banyak membuka auratnya. Kita hanya bisa membuang pandangan, dan tak melakukan apa-apa lagi. Read the rest of this entry »

Written by fathiiiii

February 21, 2009 at 10:33 pm

Tuhan Memang Eksis!

with 12 comments

Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan (Galih Prasetya Utama) membuat sedikit polemik melalui notenya di facebook dengan judul cukup provokatif “Tuhan Eksis ya?”. Saya sudah memberi sedikit tanggapan bahwa saya pernah berdiskusi dengan bapak saya tentang hal yang serupa dan juga sama menariknya. Kemudian jika sempat, saya berniat berbagi pikiran juga melalui blog saya. Read the rest of this entry »

Written by fathiiiii

January 8, 2009 at 2:14 am

Masih Tentang Pendidikan

with one comment

Sebenarnya ini komentar untuk komentar mas Galih yang ini, tetapi ternyata kepanjangan, dan saya berpikir untuk mempost-nya sebagai tulisan terpisah.

Wah, senang dikomentari sangat panjang oleh mas Galih. Sebelumnya, saya juga mau mengucapkan selamat dulu atas kelulusannya. Kapan-kapan juga ingin mengomentari tulisannya mas Galih. Tapi sayang, semua tulisannya berada di seputaran dunia Farmasi dan dunia bisnisnya, jadi saya tidak terlalu nyambung.

Memang postingan saya di atas hanya berupa uneg-uneg yang keluar ketika mendapatkan sebuah email broadcast di milis icmi. Entah kenapa, mungkin karena berhubungan dengan dunia pendidikan, saya jadi terpancing untuk ikut mengomentari.

Saya memang tidak sedang membahas sistem pendidikan secara holistik. Saya hanya menanggapi beberapa pertanyaan yang diajukan mas AZA. Mungkin suatu saat saya bisa menyusun tulisan tentang pendidikan yang lebih lengkap, sehingga bisa menjadi bahasan yang lebih luas.

Kalau mas Galih menyebutkan target pendidikan adalah “Sikap dewasa” dan “Sadar yang kritis”, maka itulah sebenarnya (kurang lebih) yang saya maksudkan dengan “standar absolut kesejahteraan”. Dan itu adalah wajib dipenuhi oleh semua warga masyarakat. Kenapa? Agar mereka dapat memposisikan diri mereka sendiri, mengenali diri mereka sendiri, dan kemudian juga dapat menentukan peran apa yang ingin mereka ambil dalam masyarakat yang dia berada di dalamnya.

Mungkin singkatnya begini: Bukan kewajiban pemerintah saja yang harus menyediakan makanan, pekerjaan, sarana kesehatan, transportasi, dan lain sebagainya bagi seluruh rakyat. Tetapi pemerintah harus bisa mengkoordinasikan rakyatnya bagi penyejahteraan seluruh rakyat. Dan jika mereka tidak memiliki standar absolut kesejahteraan ini, maka sampai kapan pun mereka tidak akan bisa digerakkan untuk menjadi batu bata penguat bangsa, sehingga kewajiban memberi makan, pekerjaan, dsb, kembali jatuh hanya pada pemerintah saja (a.k.a presiden, menteri, gubernur, walikota, dinas-dinas, pns, dan yang semacamnya).

Mengenai apa pekerjaan mereka, berapa penghasilan mereka, dan lain sebagainya, saya menempatkannya sebagai suatu ukuran relatif untuk kesejahteraan. Kenapa? Karena setiap kepala memiliki penilaiannya masing-masing atas segala sesuatu. Ada yang berpendapat bahwa akademis adalah mutlak, sehingga bertekad meneruskan pendidikan sampai rela untuk tidak menikah dan tidak bekerja. Ada yang berpendapat bahwa wirausaha adalah keharusan bagi dirinya, ada pula yang berpendapat bahwa profesional harus menjadi jalan hidupnya, dan lain sebagainya.

Itu semua bukan masalah utama kesejahteraan. Tetapi ketika mereka tidak mampu memilih sesuatu untuk dirinya, di situlah masalah terjadi. Karenanya, banyak terjadi pengangguran, padahal terlalu banyak pekerjaan rumah yang dimiliki negeri ini bahkan untuk dikerjakan oleh semua penduduk sekalipun. Terjadi juga kelaparan, padahal potensi pangan tersedia terlalu melimpah untuk seluruh rakyat.

Dan tujuan pendidikan ini sebenarnya tidak harus ditempuh melalui jalur pendidikan formal. Hanya saja, bagaimanapun kita harus mengakui bahwa keformalan selalu identik dengan terkoordinasi. Untuk pendidikan dua ratus juta lebih rakyat Indonesia, kita jangan berharap dari sesuatu yang tidak terkoordinasi. Karenanya, “sekolah” menjadi hal yang penting. Tetapi, bagi saya pendidikan yang dimaksud di sini adalah “pendidikan dasar dan menengah”.

Akan halnya pendidikan tinggi, posisinya jelas-jelas berbeda. Bukan sekedar untuk mendewasakan diri serta membangun kesadaran kritis, tapi lebih jauh dari itu, bahwa pendidikan tinggi adalah institusi penelitian yang dampaknya luas. Bukan sekedar untuk diri sendiri, tetapi skalanya negeri. Karenanya, pendidikan tinggi ini berhubungan dengan usaha negara meningkatkan taraf hidup rakyatnya.

Akan halnya ada mahasiswa yang belum dewasa dan kritis, maka sebenarnya yang bermasalah adalah pendidikan dasar dan menengahnya. Dan memang, untuk saat ini sedang membutuhkan reformulasi yang sangat luar biasa.

Written by fathiiiii

October 10, 2008 at 9:17 am

Posted in artikel, indonesia

Sistem Pendidikan Kita (semi dialog)

with 6 comments

Ada email dari mas Achmad Zaenal Abidin (AZA) di milis kalam yang mempertanyakan tentang sistem pendidikan di negara kita. Sebenarnya sudah sering sekali mas AZA ini mengirim email-email seperti ini, baik ke milis kalam, icmi, atau indonesia next better. Tapi formatnya seringkali ‘agak’ serampangan i.e. format tidak teratur, yang diajak diskusi tidak jelas (karena dikirim ke banyak sekali milis), subjectnya kepanjangan, dsb.

Entah kenapa, kali ini saya ingin mencoba me-reply. Setelah saya tulis, ternyata cukup panjang. Dan setelah dipikir-pikir, cocok juga untuk jadi artikel tersendiri di blog ini.

Silakan dikritisi.

Apakah ada yang bisa memberikan pencerahan mengapa SD 6 tahun ? mengapa SMP 3 tahun, mengapa SMA 3 tahun ? dan mengapa perguruan tinggi 9 semester ?

Ada kurikulum yang sudah disusun sebelumnya. Kurikulum tersebut dijabarkan pada tataran teknis sehingga menghasilkan angka-angka seperti itu (6 tahun, 3 tahun, dsb). Apakah harus selalu sama waktunya? Tentu tidak. Makanya ada yang bisa SD kurang dari 6 tahun, ada kelas akselerasi, ada yang S1 3 tahun, dsb.

Mengapa banyak pengulangan dari SD sampai SMA untuk mata pelajaran bahasa Indonesia ? Mengapa terjadi pengulangan untuk SMP dan SMA pelajaran sejarah, matematik, bahasa Inggris, biologi, Fisika, Kewarga negaraan dan sebagainya bahkan sampai kuliah ?

Pernah dengar istilah “spiral” dalam terminologi pengajaran? Kita akan selalu mengulangi pelajaran yang sejenis dalam proses belajar kita, tentunya dengan pendalaman materi. Misalnya begini, di SD kita mengenal angka. Di SMP kita mengenal angka dalam basis berbeda. Di SMA kita mengenal angka dalam koefisien-koefisien dan konstanta-konstanta. Di perkuliahan kita mengenal angka dalam dunia yang berbeda lagi. Tapi semuanya sejenis, mengenal angka.

Dalam dunia perkuliahan juga sebenarnya tidak banyak berbeda. Jika anda kuliah di jurusan fisika di perguruan tinggi manapun, anda akan menemukan pelajaran yang selalu diulang-ulang. Di tingkat satu, kita mempelajari gelombang dalam mata kuliah fisika dasar. Di tingkat dua, kita pelajari kembali gelombang dalam persamaan-persamaan yang lebih kompleks pada mata kuliah Fisika Matematika atau Kalkulus Lanjutan. Di tingkat tiga, lebih dalam lagi dipelajari dalam mata kuliah Gelombang. Bahkan di tingkat empat pun kita masih akan bergelut dengan gelombang, jika tugas akhir anda mengambil topik di sekitar fisika bumi, elektronika, atau bidang-bidang yang lainnya.

Apakah tidak mungkin menjadi sarjana dalam waktu 18 tahun ?

Read the rest of this entry »

Written by fathiiiii

October 7, 2008 at 2:49 pm

Posted in artikel, indonesia

Menyikapi Hasil Pemilihan Walikota Bandung

with 6 comments

Alhamdulillah… ‘Alaa kulli haal

Itulah kalimat yang keluar dari mulut saya ketika melihat hasil hitung cepat LSI untuk hasil pemilihan walikota Bandung kemarin. 26persen, Alhamdulillah.

Sungguh tidak mengira bahwa hasilnya akan sangat jauh dari perkiraan. Pada awalnya saya memprediksikan bahwa jika bukan “menang”, maka “kalah tipis” akan menjadi hasilnya. Tetapi ternyata kenyataan memberi tahu kita bahwa “kalah telak”lah yang terjadi. Berbagai survey internal sebenarnya sudah mulai menunjukkan keunggulan. Tapi keunggulan itu tidak memasukkan faktor swing voter yang mengikuti pilwako hanya untuk meramaikan saja, bukan benar-benar memberikan dukungan. Karenanya kita terkejut ketika mengetahui bahwa swing voters tersebut (yang katanya mencapai 40-an persen pemilih dari setiap pilkada di Indonesia) memberikan suaranya kepada kang Dada. Read the rest of this entry »

Written by fathiiiii

August 11, 2008 at 9:23 am

Luruskan niat…

with one comment

Taujih kang Haru pada relawan P2B untuk kebakaran Cikutra

Sesungguhnya jika antum semua melakukan ini semua untuk meraih simpati masyarakat di sana, maka antum akan sakit hati. Jangan lupakan bahwa apapun kondisinya, semua amal tersebut hanyalah bagian dari usaha kita untuk mencari cara tercepat dalam meraih ridho Allah saja. Segala usaha yang antum lakukan telah mengorbankan dana, waktu, dan tenaga (sebagian relawan telah beranak istri dengan mata pencaharian yang bisa dikatakan minim dalam hitungan materil, tapi satu kelebihan yang saya syukuri, mereka kaya akan kefahaman tarbiyah dan militansi), akan menjadi tidak ada artinya jika yang mendasarinya adalah harapan agar mereka disana memilih PKS.

Jangan antum sekali-kali mengharapkan terimakasih atau simpati apapun dari mereka. Sesungguhnya apa yang kita lakukan sama sekali bukan untuk itu Akh…! Mereka berterimakasih pada kita atau justru sebaliknya… entah mereka memilih kita ataupun tidak, itu bukan urusan kita. Itu semua bergantung pada seberapa ridho Allah terhadap amal-amal dakwah kita. Tugas kita hanya satu, berusaha sebaik-baiknya dilapangan untuk membantu mereka dengan keikhlasan untuk Allah semata. Biar nantinya Allah yang menilai amal tersebut di sisinya. Jika Allah berkehendak dari silaturahmi dan amal-amal dakwah kita tersebut untuk membawa hati-hati mereka (masyarakat Bandung) pada dakwah maka dengan insyaAllah kemenangan dakwah akan datang dengan sendirinya.”

dari bang Ardian yang dikutip oleh bang kamil.

Written by fathiiiii

July 29, 2008 at 4:49 pm

8 Program Unggulan TRENDI

with 3 comments

Dikutip dari rilis Tim Trendi yang dikutip oleh Pikiran Rakyat.

Kedelapan program tersebut adalah:

  1. Memperjuangkan APBD untuk rakyat mulai tahun 2009 meliputi:
    bantuan operasional RW sebesar Rp 3 juta/tahun. bantuan operasional RT sebesar Rp 1,5 juta/tahun bantuan kegiatan kemasyarakatan RW sebesar Rp 2,5 juta/tahun.
    dana rutin masjid RW sebesar Rp 2, 5 juta  bantuan kegiatan PKK/Posyandu tingkat RW sebesar Rp 1 juta/tahun insentif untuk anggota Linmas Rp 500.000/orang/tahun
    santunan kematian warga miskin sebesar Rp 2 juta/orang bantuan operasional Karang Taruna keluraham sebesar Rp 5 juta/tahun bantuan operasional  LPM kelurahan sebesar Rp 5 juta/tahun bantuan operasional PKK keluraham Rp 5 juta/tahun.
  2. Implementasi anggaran pendidikan 20% diluar gaji guru. Dengan anggaran tersebut, maka dapat dilaksanakan pendidikan gratis tingkat dasar dan menengah, peningkatan honor/intensif bagi guru ngaji, TK/TPA dan guru honorer.
  3. Gratis biaya layanan ambulans, bersalin, pemakaman, dan penyediaan air bersih bagi warga tidak mampu.
  4. Gratis pembuatan KTP, KK, Akta kelahian, dan pelayanan puskesmas untuk semua warga.
  5. Menganggarkan Rp 10 miliar/tahun untuk melakukan operasi pasar.
  6. Melindungi buruh dengan kesejahteraan rakyat, melindungi pasar tradisional, dan penumbuhan 100 ribu wirausahawan baru. Pemberdayaan wirausahawan baru itu dilakukan dengan memberikan hibah, modal bergulir, lembaga penjamin kredit dan pembentukan Klinik Konsultasi Bisnis di tiap kecamatan.
  7. Mengembangkan masyarakat yang religius melalui peningkatan sarana prasarana ibadah dan mencegah berbagai bentuk kemaksiatan (gank motor, miras, napza, prostitusi, pornografi dan pornoaksi.
  8. Mengembangkan fungsi konservasi di Kawasan Bandung Utara, meningkatkan kualitas dan kuantitas ruang terbuka hijau, melaksanakan pengelolaan sampah terpadu, ramah lingkungan dan berbasis pemberdayaan masyarakat.

Written by fathiiiii

July 28, 2008 at 12:01 pm

Posted in artikel, indonesia, politik

Pilkada Bandung (hingga 25 Juli 2008)

without comments

Hmmm….
Sedang mencoba membuat analisis tentang setiap calon. [saya usahakan lebih fair]

Calon nomer tiga (Hudaya-Nahadi) benar-benar tidak ketahuan track recordnya. Mereka merupakan calon independen yang maju dengan syarat mendapatkan dukungan 3% rakyat kota Bandung (sesuai aturan KPUD). Kabarnya, Hudaya ini adalah seorang pengusaha kaya di kota Bandung, tetapi belum tersiar cukup luas dalam bidang apa bisnisnya. Hingga saat ini belum ada faktor yang bisa meyakinkan rakyat untuk memilih calon ini, soalnya orangnya tidak terkenal dan basis massanya juga tidak ketahuan. Satu-satunya hal yang berbeda dari mereka dengan calon yang lain adalah ‘ke-non-partaian-nya’. Dengan demikian mereka berusaha menjaring massa yang sudah antipati pada partai politik yang ada.

Sebelum rangkaian pilwalkot digelar, Hudaya ini sempat dekat dengan pks, bahkan diinfokan pernah rutin pengajian dengan ust Abu Syauqi. Namun menjelang pilwalkot, tidak berlanjut lagi.

Dari caranya mensosialisasikan diri, wajar ketika muncul anggapan bahwa calon ini mungkin main mata dengan Dada untuk memecah suara Trendi. Pasalnya, pamflet yang mereka buat didesain sangat mirip dengan pamflet trendi. Tapi saya akui, asumsi ini masih sangat prematur.

Calon nomor dua (Taufikurahman-Abu Syauqi) pada awalnya juga orang yang sama sekali tidak dikenal masyarakat, terutama pak Taufiknya. Ust Abu Syauqi sendiri merupakan seorang ulama yang cukup terkenal di kota Bandung. Tetapi dengan adanya basis massa yang jelas dan sudah mengakar (PKS) popularitas pasangan ini dengan cepat menanjak. Modal ke-pks-an sebenarnya cukup untuk mendulang banyak suara, walaupun belum cukup untuk memenangkannya. Karena itu, dukungan para pakar ITB menjanjikan program-program berkualitas yang akan mendongkrak popularitas serta elektabilitas pasangan ini.

Calon nomor satu (Dada-Ayi) merupakan calon incumbent. Modal mereka yang paling besar adalah popularitas mereka yang sudah hampir 100%. Dengan dukungan yang besar (Golkar+PDIP+PBB+PD+PAN+lupa lagi) maka kemungkinan mereka menang adalah sangat besar. Calon ini juga didukung banyak ormas, seperti Muhammadiyah, NU, dan FPI. Bahkan MUI kota bandung secara tidak resmi juga mendukungnya (ditandai dengan dukungan ketuanya dan beberapa ulama di dalamnya).

Secara keseluruhan, program yang mereka tawarkan memiliki corak yang sama; menaikkan kesejahteraan rakyat kota bandung. Mudah-mudahan mereka mampu dan konsisten untuk melaksanakannya.

Saya pribadi [kali ini pendapat pribadi, walau tetap berusaha obyektif] mendukung Trendi dan mengharapkan kemenangan pasangan ini, tentunya dengan segudang alasan yang pernah saya tuliskan di sini. Tetapi saya cukup khawatir jika calon nomor tiga menang, karena mereka sama sekali tidak ketahuan track recordnya, juga basis massanya.

Untuk calon nomor satu, walaupun dengan berbagai kegagalan yang pernah dia buat, saya berusaha untuk tidak khawatir dan berhusnudzon, bahwa mereka menyadari kesalahannya dan tak akan mengulanginya. kemudian berjuang sekuat tenaga untuk meluruskan kesalahannya di masa lalu. Saya juga berusaha yakin bahwa Dada-Ayi tidak akan ‘macam-macam’, karena di belakangnya ada Muhammadiyah-NU-FPI yang siap menegur dan menghadang jika mereka berani berbuat dzalim lagi kepada rakyat bandung.

Written by fathiiiii

July 25, 2008 at 9:11 am

Posted in artikel, indonesia, politik

Pluralisme, Kebebasan dan Paham-Paham Paradoks

without comments

By imamsemar

Kalau kita mengamati sebuah karya seni lukis, bunga misalnya, maka untuk menikmatinya harus dilihat dari jarak yang tidak terlalu dekat sehingga detilnya terabaikan. Kalau terlalu dekat maka tidak menarik karena detilnya nampak jelas tidak ada. Untuk menghargai karya seni ini tidak diperlukan intelektual yang tinggi. Berbeda dengan bunga aslinya, semakin detail semakin menarik. Dari mulai bentuk makronya, kelopak bunga, benang sari, serbuk sari; kemudian detilnya sampai ke tingkat jaringan, sel, mitokondria, kromosom, gen, ribonucleic acid, DNA, protein, proses metabolisme dan seterusnya; semuanya memerlukan intelektualitas yang tinggi untuk bisa menghargainya. Seorang botanis akan mengalami kesulitan untuk menerangkan bagaimana nutrisi/makanan bisa sampai ke kepala putik pada lukisan bunga, karena si pelukis tidak akan menggambarkan secara mendetil bagian-bagian mikroskopis dari bunga. Itulah perbedaaan antara karya seni dan the real thing.

Hal seperti contoh bunga di atas berlaku untuk segala aspek seperti prinsip hidup atau isme. Suatu isme bisa berupa gagasan bisa juga hasil pengamatan yang diformulasikan. Suatu isme yang masih berupa gagasan, bisa terdengar indah, jika tidak dites, atau tidak diuji secara intelek. Pada tulisan berikut ini kita akan membahas secara cerdas paham-paham yang sedang populer di media massa, yaitu yang berkaitan dengan kebebasan. Read the rest of this entry »

Written by fathiiiii

June 19, 2008 at 10:52 am

Posted in artikel