Antara “Merakit” dan “Memproduksi Massal” Mobil Nasional

Walikota Solo dengan mobil dinas barunya
Hingar bingar media massa tentang Kiat Esemka, mobil buatan anak-anak SMK, hingga hari ini belum mereda. Sebetulnya sudah lama sejak pertama kali diluncurkan, yaitu pada medio tahun 2009. Ketika itu purwarupanya sempat mendapatkan tanda tangan langsung dari presiden di bodi mobilnya. Masyarakat menaruh harapan, namun rupanya pemberitaannya meredup karena tidak terjadi langkah signifikan setelahnya.
Usut punya usut rupanya ketiadaan langkah signifikan tersebut adalah karena izin dari otoritas jalan raya yang tidak kunjung keluar. Ijin ini semacam sertifikasi model untuk pesawat terbang yang boleh beroperasi. Tanpa ijin ini tidak mungkin mendapatkan BPKB dan STNK sehingga ilegal untuk digunakan di jalan raya. Namun jika anda hendak menggunakannya di wilayah off-road maka itu diperbolehkan dengan syarat anda menggunakan alat lain (misalnya mobil derek) untuk memindahkannya dari halaman rumah anda ke lokasi off-road tersebut. Tidak boleh dikendarai selama di jalan raya. Ini terjadi dengan mobil lokal produksi Bandung bermerek FIN-KOMODO.

Tanda tangan SBY pada prototip awal Esemka Digdaya
Mengapa ijin tidak keluar? Kita tidak akan pernah tahu persis alasannya jika kita tidak menyelidikinya langsung ke pihak terkait. Ada dua teori, pertama memang belum lolos spesifikasinya. Kedua, ada ‘permainan’ untuk menjegal produksi mobil Esemka ini sehingga pabrikan-pabrikan besar tidak tersaingi. Teori pertama sangat mungkin terjadi karena metode assembly yang digunakan anak-anak SMK bukanlah cara manufaktur perusahaan besar. Bagaimana memastikan setiap mobil Esemka memiliki kualitas sama dan cara produksi yang sama? Padahal kedua hal ini sangat mempengaruhi proses sertifikasi. Teori kedua tidak usah dipertanyakan lagi alasannya. Kita masih punya PR banyak dalam reformasi birokrasi. Namun tulisan saya tidak akan berfokus pada urusan sertifikasi ini.
Merakit mobil
Kita perlu tahu bahwa skill untuk merakit kendaraan telah dimiliki oleh banyak sekali orang Indonesia. Silakan lihat bengkel-bengkel pinggir jalan di mana saja, mereka bisa memodifikasi sebuah Yamaha Mio menjadi laksana motor besar dengan mesin besar. Mereka bisa mengubah-ubah bentuk mobil, mengganti mesin, dan sebagainya. Jika anda punya cukup uang maka anda bisa merakit mobil dari nol! Tinggal cari mobil-mobil bekas kecelakaan, ambil chassisnya dan perbaiki, buat desain bodinya, pilih mesin yang diinginkan, tambahkan fitur yang sesuai, jadilah kendaraan yang anda inginkan. Tidak perlu pusing dengan part yang dibutuhkan karena part dengan merek apapun bisa disesuaikan dan dimodifikasi sesuai dengan keperluan. Bukan berarti memodifikasi part ini mudah, namun percaya saja dengan kemampuan para mekanik itu. Mereka mampu melakukannya.
*baca lanjutannya diĀ kompasiana
Komentar