Intel Bay Trail

April 13, 2014 3 komentar

atom_logo

Arsitektur Bay Trail adalah jawaban Intel atas persaingan ketat yang ditunjukkan oleh produsen-produsen prosesor/SoC berbasis ARM. Intel dengan platform x86-nya terkenal dengan prosesor kuat sekaligus boros energi. Untuk penggunaan PC maupun server, Intel tidak punya halangan mengingat kedua jenis mesin komputasi tersebut selalu terhubung ke power supply.

Ketika dunia komputasi bergerak ke arah mobile, maka Intel kelabakan karena prosesor-prosesornya boros energi. Padahal untuk komunikasi mobile tidak mungkin sering-sering mampir ke wall plug untuk sekedar mengisi baterai. Bertolak belakang dengan Intel, ARM sejak awal memang didesain untuk penggunaan minim daya. Begitu komputasi mobile berkembang, semua perusahaan manufaktur elektronik kompak beralih platform ini. Mulai dari Texas Instrument, Qualcomm, Nvidia, Ericsson, Samsung, hingga Apple mengambil lisensi ARM untuk membangun platform komputasinya masing-masing. Intel praktis tidak bisa berbuat apa-apa di pasar yang berkembang pesat ini.

Sebetulnya Intel bukan tidak memiliki sama sekali jenis prosesor hemat daya. Intel Atom yang sejak awal didesain untuk netbook sebetulnya sudah termasuk low power, namun masih terlalu overkill (sekaligus relatif lebih boros) untuk penggunaan di smartphone. Barangkali itu sebabnya Intel memutuskan untuk membuat line baru prosesor untuk perangkat mobile generasi berikutnya.

Intel Atom Bay Trail

Ketimbang mendesain dari awal, rupanya Intel memutuskan lebih efisien jika menggunakan Atom sebagai basisnya. Sejauh ini Intel telah merilis beberapa Atom SoC yang digunakan oleh beberapa manufaktur elektronik. Sebut saja misalnya Lenovo dengan K800 dan Motorola RAZR i. Kedua produk tersebut termasuk sukses dan menempatkan kembali Intel di persaingan prosesor dunia, khususnya ceruk prosesor mobile yang selama ini dikuasai oleh platform ARM.

Intel_bay_Trail

Baytrail atau Bay Trail adalah kode yang digunakan oleh Intel untuk pengembangan Intel Atom generasi terkini. Clover Trail sebagai platform generasi sebelumnya, sebetulnya sudah sangat canggih. Namun rupanya Intel tidak mau bersantai-santai dalam mengejar ketertinggalannya. Hanya sekitar setahun setelah peluncuran Clover Trail, platform Bay Trail diluncurkan. Berikut ini perbandingan Bay Trail dan Clover Trail yang dirangkum oleh Mobile Geeks.

Intel-Prepares-Mighty-Bay-Trail-T-Atom-for-2014-22nm-CPU-4

Teknologi manufaktur yang digunakan untuk memproduksi Bay Trail sudah mencapai 22nm, terkecil yang ada saat ini, 30% lebih kecil dari Clover Trail. Ketahanan baterai untuk pemutaran video meningkat sekitar 20% hingga mampu bertahan lebih dari 11 jam. Berikut ini spesifikasi lengkap dari Intel Z3740 yang digunakan di ASUS Transformer Book T100.

atom z3740

Prosesor ini sudah memiliki 4 buah core dengan kemampuan menjalankan sistem operasi 64 bit. Clock speed diset pada 1,33 GHz sementara maksimalnya dapat mencapai 1,86 GHz. Tidak terlalu impresif jika dibandingkan dengan prosesor keluarga Core. Namun sejauh ini tidak memiliki tandingan sama sekali untuk menjalankan sistem operasi full seperti Windows, Linux/GNU, atau Mac OS X. Apalagi jika hendak diimplementasikan pada perlengkapan low-end yang dahulu pernah ditempati netbook.

Prosesor ini membuat kita tidak perlu lagi menahan diri terhadap kekhawatiran keterbatasan prosesor dalam memilih perangkat serbaguna gabungan antara tablet dan laptop. Kita tidak berhadapan pada prosesor ARM yang hanya dapat ditemui di dunia komputing terbatas seperti Android dan iOS. Kini full computing dapat dilakukan penuh secara mobile.

Cross posting dari asust100.

Disclaimer: Ini review, bukan advertorial. Penulis tidak mendapatkan apapun dari ASUS, Microsoft, Intel, maupun pihak-pihak lainnya.

Spesifikasi ASUS Transformer Book T100

April 11, 2014 3 komentar

ASUS Transformer Pad Infinity TF700T

ASUS memiliki beberapa line untuk produk convertible mereka. Pertama adalah Transformer Pad yang menggunakan Android, kemudian Transformer Book yang merupakan pure Windows 8.x convertible. Ada juga yang menggunakan Android sekaligus Windows 8.x yaitu Transformer Book Trio. Gambar di atas adalah ASUS Transformer Pad Infinity TF700T ber-OS Android yang tidak dijual di Indonesia. Selain itu ada lagi VivoTab, convertible yang termasuk ke dalam jajaran tablet premium.

Untuk Transformer Book T100, terdapat beberapa versi tergantung di negara mana dijualnya. Untuk versi US, yang dijual adalah versi dengan storage SSD 32GB dan 64GB saja. Harganya berkisar mulai dari $349 atau sekitar Rp 4 juta. Namun versi yang dijual di Indonesia adalah versi T100 dengan storage SSD 32GB plus SATA HDD 500GB dan SSD 64GB plus HDD 500GB. Itu sebabnya harganya di Indonesia rata-rata lebih mahal sekitar satu juta rupiah dibandingkan harga di US.

Untuk urusan otak, berikut ini adalah spesifikasi dari ASUS T100:

Prosesor Intel® Bay Trail-T Quad Core Z3740 Processor
Sistem Operasi Windows 8.1
Memori 2 GB
Display 10.1" 16:9 IPS HD (1366×768)
with Multi-Touch Screen
Grafis Integrated Intel® HD Graphics
Storage - 32GB eMMC With 500 GB HDD
- 64GB eMMC With 500 GB HDD

Sedangkan untuk koneksi dan fitur lainnya, ASUS T100 ini sudah cukup mumpuni sebagai tablet. Di antaranya adalah:

Card Reader 1 slot card reader (Micro SD )
Kamera 1.2 Mega Pixel web camera
Networking Terintegrasi 802.11 a/b/g/n
Built-in Bluetooth™ V4.0
Interface 1 x Microphone-in/Headphone-out jack
1 x USB 3.0 port(s)
1 x Micro USB
1 x micro HDMI

Microphone/headphone jack, micro USB, serta micro HDMI terletak di bagian utama tablet. Sedangkan USB 3.0 terletak di keyboard dock. USB 3.0 adalah generasi baru dari USB standar yang mendukung kecepatan yang jauh lebih tinggi dari pendahulunya. Jika membutuhkan berbagai hardware tambahan, kita dapat mengekstend port USB 3.0 ini dengan USB extender. Kelemahannya, ini tidak dapat dilakukan jika tablet tidak dipasang di dock-nya.

ASUS Transformer Book T100 telah dilengkapi dengan built-in speaker di bagian belakang tablet. Microphone terletak di bagian atas dekat dengan kamera.

Audio Built-in 2 Speakers And Array Microphone
Baterai 2Cells 31 Whrs Polymer Battery
Adaptor Daya Output :
5 V DC, 2 A, 10 W
5 V DC, 3 A, 15 W
Dimensi Tablet:
263 x 171 x 10.5 mm (WxDxH)
Dock:
263 x 171 x 13.1 mm (WxDxH)
Dock: (HDD Dock)
263 x 171 x 13.95 mm (WxDxH)
Berat Tablet:
0.55 kg
Dock:
0.52 kg
Dock: (HDD Dock)
0.60 kg

Menurut keterangan di situs asus.com, baterai yang ada di dalam unit yang dijual di Indonesia adalah sama persis dengan baterai yang dijual di US. Kemungkinan besar ketahanan baterai ini sedikit di bawah ASUS T100 yang beredar di US karena versi Indonesia sudah dilengkapi dengan HDD tambahan. Tentunya penambahan HDD akan memakan daya yang lebih banyak ketimbang unit yang tidak memilikinya. Apalagi HDD yang digunakan adalah jenis harddisk konvensional dengan unit berputar (motor) di dalamnya, yang berarti membutuhkan daya relatif besar.

Certificates UL, MIC, CE Marking Compliance, FCC Compliance, BSMI, Australia C-TICK / NZ A-Tick Compliance, CCC, GOST-R, CB, Energy star, IDA, Erp 2013, RoHS, JATE

Untuk keamanan pengguna, produk ini sudah compliant dan certified dengan berbagai standar industri dan produk konsumer yang ada di dunia. Selain sertifikasi internasional, tentu saja produk ini sudah lolos sertifikasi di Kementerian Kominfo.

sertifikasi

Cross posting dari asust100.

Disclaimer: Ini review, bukan advertorial. Penulis tidak mendapatkan apapun dari ASUS, Microsoft, Intel, maupun pihak-pihak lainnya.

ASUS T100, Tawaran Menarik

April 6, 2014 2 komentar

Cross posting dari asust100.

Disclaimer: Ini review, bukan advertorial. Penulis tidak mendapatkan apapun dari ASUS, Microsoft, Intel, maupun pihak-pihak lainnya.

Untuk anda yang hendak memulai perkenalan dengan Windows 8.x, ASUS Transformer Book T100 merupakan titik awal yang baik. Untuk ukuran laptop bertenaga Windows 8.x, memang ASUS T100 ini bukanlah yang termurah. Tetapi ada beberapa kelebihan yang menjadikannya laptop ini stands out dari laptop lainnya.

Pertama, ini bukan sekadar laptop, tetapi convertible laptop. Layar dapat di-detach dari keyboard sehingga berubah seketika menjadi tablet. Artinya, semua processing unit dan computing terletak di bagian layar. Ini signifikan sekali perbedaannya dibandingkan dengan berbagai laptop yang ada di pasaran. Pada umumnya laptop meletakkan bagian processing dan computing di bawah keyboard. Di pasaran komputer, ASUS T100 ini rupanya lebih terkenal sebagai tablet ketimbang laptop.

Kedua, meskipun masih menggunakan keluarga Intel Atom, generasi yang digunakan sudah berkembang sangat signifikan. Sejauh ini tidak ditemukan lag yang cukup berarti untuk aktivitas kerja normal. Intel Atom dengan arsitektur Bay Trail ini adalah jawaban dari Intel untuk perang prosesor yang beberapa tahun terakhir ini diambil alih oleh platform ARM karena hemat daya. Dengan Bay Trail, bukan hanya powerful, tapi prosesor ini sangat hemat daya sehingga untuk pemakaian normal, baterai internal mampu bertahan hingga 11 jam.

Ketiga, yang paling menarik dari laptop ini disamping bentuknya yang convertible adalah harganya yang hanya di kisaran Rp 5 juta rupiah saja. Harga ini sudah mencakup SSD sebesar 32GB, harddisk SATA 500GB, tablet beserta full keyboard dock, Microsoft Windows 8.1 Pro, dan Microsoft Office 2013 Home and Student Edition. Luar biasa bukan? Sebagai bandingan, pada masa 2 tahunan yang lalu, sebuah laptop Lenovo yang ekivalen (pada masanya) diberi label Rp 3 juta dan masih belum diinstal operating system apapun. Laptop ini out of the box dari Windows dan Officenya sendiri sudah berharga lebih dari Rp 2 juta. Sebuah penawaran yang membuat pencari budget laptop baru susah untuk menolaknya.

Ikuti artikel-artikel kami berikutnya dalam membedah ASUS T100 ini. Berbagai tips dan trik serta ulasan mengenai hardware terbaru yang terkait dengan ASUS T100 juga akan disajikan. Selamat menikmati.

Seperempat Rakyat Indonesia dipimpin PKS

April 4, 2014 2 komentar

Sejak akhir 2012 PKS sudah mencanangkan hendak mencapai posisi 3 besar pada Pemilihan Umum Legislatif tahun 2014. Sebuah target yang barangkali terdengar muluk-muluk mengingat pada Pemilihan Umum Legislatif tahun 2009 PKS hanya mendapatkan 7,88% suara atau 10,18% kursi parlemen pusat.

Sebetulnya ketika target ini disampaikan (pada tahun 2012), tidaklah ada yang terlalu ajaib mengingat posisi PKS sebetulnya telah berada pada peringkat keempat di bawah Partai Demokrat, Partai Golkar, dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Mendapatkan posisi 3 besar sebetulnya hanya naik satu peringkat saja, meskipun yang dimaksud 3 besar tidaklah selalu posisi nomor 3. Nomor dua dan satu pun masih masuk kategori “3 besar”.

Tapi kemudian selama 2013 PKS mendapatkan badai yang luar biasa dengan dituduhnya presiden partai Ustadz Luthfi Hasan Ishaaq dalam rekayasa impor sapi. Badai tersebut tidak sekedar menghantam PKS dari luar, tetapi juga menghantam moral kader-kadernya. Terlepas dari segala kontroversi tentang kasusnya, masih relevankah target 3 besar tadi?

Antara Pilkada dan Pemilu Legislatif

Pemilihan kepala daerah dengan segala kompleksitasnya sebetulnya tidak bisa disetarakan secara langsung dengan pemilihan anggota lembaga legislatif. Di antara perbedaan yang membuat pilkada berbeda dengan pemilu legislatif adalah:

  1. Pilkada lebih menonjolkan tokoh ketimbang partai.
  2. Pilkada memiliki calon yang jauh lebih sedikit ketimbang pemilu legislatif.
  3. Dalam pilkada biasanya terjadi koalisi beberapa partai, sehingga sulit memilah asal suara yang diperoleh kandidat.
  4. Sering ditemukan adanya tokoh-tokoh lintas partai yang mampu mendapatkan dukungan dari underbow partai lain. Meskipun secara formal partai lain tadi memiliki calonnya sendiri pada sebuah pilkada.

Itu adalah sebagian di antara penyebab pilkada tidak dapat disetarakan langsung dengan pemilu legislatif. Namun demikian untuk kasus PKS rasanya perlu diberikan analisis tambahan mengingat ada 3 pemilihan gubernur yang dimenangkan selama masa-masa badai tadi berada pada puncaknya. Pemilihan gubernur tersebut adalah di Jawa Barat, Sumatera Utara, serta Maluku Utara.

Betul bahwa ketiganya melibatkan incumbent, Ahmad Heryawan (Gubernur Jabar periode 2008-2013), Gatot Pujo Nugroho (Wakil Gubernur Sumatera Utara periode 2008-2013, yang kemudian naik menjadi plt Gubernur karena Gubernurnya terjerat kasus korupsi pada 2011), dan Abdul Ghani Kasuba (Wakil Gubernur Maluku Utara periode 2008-2013). Tetapi jangan menutup mata pula bahwa rival yang bermain pada pemilihan-pemilihan gubernur tersebut bukanlah lawan yang ringan.

Pada pilkada Jabar ada Dede Yusuf (Wakil Gubernur periode 2008-2013) dan Rieke Diah Pitaloka (Anggota DPR RI). Pada pilkada Sumatera Utara ada Effendi Simbolon (Anggota DPR RI), Chairuman Harahap (Anggota DPR RI), dan Gus Irawan Pasaribu (didukung oleh banyak partai). Begitu juga pada pilkada Maluku Utara yang berlangsung dua putaran di mana pada putaran kedua nyaris seluruh kekuatan calon yang kalah bergabung pada calon rival Ahmad Hidayat Mus. Pilkada yang sangat ketat seperti ini tidak mungkin dihadapi dengan bersantai-santai menggunakan fasilitas negara (sebagai incumbent) atau menggerakkan aparatur negara yang berada di bawahnya (ya, itu memang bukan kebiasaan PKS). Bukan pula dengan memanfaatkan guyuran dana besar untuk memasang iklan yang masif atau melakukan money politic (dari mana pula uang untuk melakukan hal tersebut?).

Kuncinya kemenangan pada pilkada-pilkada tersebut adalah ini: kekuatan kerja politik. Itu termasuk kemampuan dalam mengkoordinir kader dan simpatisan, menjalin kerja sama dan kontrak politik dengan berbagai ormas, menjaring suara dari kantong-kantong pemilih yang beraneka ragam, terjun langsung ke pemukiman dan perkampungan untuk memperkenalkan calon kepada warga (dilakukan oleh seluruh jajaran partai, dari struktur pimpinan hingga kader dan simpatisan), dan berbagai kerja-kerja politik lainnya. Tentunya termasuk aktivitas standar seperti bakti sosial, pelayanan kesehatan, dan aksi cepat tanggap bencana.

Itu sebabnya kekuatan PKS dapat diukur secara kuantitatif. Sebab yang bergerak adalah manusia yang real, yang bergerak berdasarkan komando yang terkonsolidasikan secara dinamis. Apa yang mereka lakukan pada berbagai pilkada tadi, itu pulalah yang mereka lakukan pada pemilu legislatif tahun 2014 ini. Jika kekuatan ini dikombinasikan dengan keberhasilan gubernur-gubernur mereka, maka ini adalah entitas yang sangat ‘berbahaya’ mengingat total populasi masyarakat Indonesia di bawah 4 gubernur tadi sudah melebihi seperempat rakyat Indonesia.

rakyat 2014

Tabel 1. Prediksi jumlah penduduk Republik Indonesia pada tahun 2014

 

sensus 2014

Tabel 2. Persentase penduduk Indonesia yang dipimpin oleh Gubernur dari PKS

Tabel 1 menunjukkan jumlah penduduk Indonesia pada sensus terakhir yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik yaitu tahun 2010. Dengan melihat pertumbuhan penduduk dari tahun 2000 hingga 2010, jumlah penduduk Indonesia diprediksikan menggunakan metode ekstrapolasi sederhana orde satu sehingga didapatkan jumlah 252.101.215 orang.

BPS juga tidak memiliki data penduduk setiap provinsi per tahun 2014. Oleh karena itu jumlah penduduk dari 4 provinsi diprediksikan menggunakan metode yang sama dengan perhitungan sebelumnya, dengan mengacu kepada pertumbuhan penduduk nasional antara tahun 2000 hingga 2010.

Dari perhitungan ini didapatkan rasio penduduk Indonesia yang dipimpin oleh gubernur yang merupakan kader PKS, yaitu dengan membagi total prediksi penduduk di 4 provinsi dengan prediksi populasi Indonesia. Persentase yang didapatkan adalah 26,8981% atau dibulatkan menjadi 26,90%.

Jadi apakah target 3 besar terlalu muluk? Saya rasa itu target yang sangat rasional.

Golongan Putih?

April 3, 2014 2 komentar

image

Saya mendapatkan ketidakkonsistenan makna golput alias golongan putih. Setidaknya ada tiga makna:

Pertama; tidak menggunakan hak suara karena tidak ingin menggunakannya.

Kedua; tidak menggunakan hak suara karena sebab teknis.

Ketiga; sebagai bentuk penolakan atas sistem serta orang-orang yang terlibat di dalam sistem demokrasi ini. Alasannya ada beberapa macam, di antaranya sebagai protes keras atas banyaknya kelalaian serta pengkhianatan atas amanah yang dititipkan. Ada juga yang karena memang tidak sepaham dengan ide-ide pengelolaan negara melalui sistem demokrasi.

Menurut saya ketiga golongan ini perlu dibedakan secara tegas. Golongan pertama bagi saya adalah orang yang tidak perlu masuk ke dalam definisi “golongan putih”. Mereka hanya sekedar ignorant yang tidak peduli pada nasib dan perbaikan kondisi bangsa.

Orang tipe ini abai terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Dia abai terhadap terpuruknya kondisi negara kita. Dia abai terhadap ketimpangan yang terjadi di sekitarnya akibat banyaknya pengambil keputusan yang tidak kompeten bahkan khianat. Menurut saya dia bukan golongan putih, melainkan sekedar orang-orang ignorant saja.

Golongan kedua tidak perlu juga kita masukkan ke dalam golongan putih. Mereka hanya sekedar mengalami ‘kecelakaan’ yang menyebabkan tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Mungkin karena namanya tercoret dari DPT, atau kebetulan baru pindah rumah dan tidak sempat mengurus surat-surat yang dibutuhkan, atau mungkin terpaksa berangkat ke luar negeri yang jauh dari KBRI/KJRI. Atau mungkin juga pemilih luar negeri yang ternyata surat suaranya tidak sampai (biasanya dikirim via pos).

Golongan ketiga-lah yang sesungguhnya patut didefinisikan sebagai “golongan putih”. Mereka tidak menggunakan hak suaranya karena punya pendirian lain, dan itu dihormati di alam demokrasi ini. Mereka ini punya “solusi” lain yang menurut mereka dapat menjadi alternatif yang lebih tepat ketimbang mengikuti alur proses demokrasi yang ada.

Mereka ini dalam kesehariannya adalah para aktivis, yang memiliki school of thought tersendiri, meskipun secara umum tidaklah seragam. Mereka ini tersebar dalam spektrum pemikiran yang cukup luas, dari yang paling kiri hingga yang paling kanan. Mereka akan menyebarkan paham yang mereka percayai, sehingga semakin banyak orang yang mendukung gagasan mereka. Sebab mereka pun tahu, sebuah “gagasan” pasti membutuhkan aktor. Jika gagasan tersebut berhenti di pikiran mereka saja, mustahil mewujud dalam realita.

Inilah sebabnya dalam pandangan saya seorang golput haruslah melakukan kampanye serius dalam mendemarketisasi proses-proses demokrasi. Dia harus membuka mata sebanyak-banyaknya orang akan kesalahan sistem yang ada (menurut mereka) dan kemudian menawarkan alternatifnya. Dia harus melakukan kampanye dengan segala daya dan upaya yang dia mampu untuk menjauhi TPS pada masa-masa pemungutan suara.

Tanpa aktivitas seperti itu, dia sama sekali persis dengan kelompok pertama: IGNORANT.

Takut dengan ancaman penjara pada mereka-mereka yang secara terbuka mengkampanyekan untuk tidak menggunakan hak suara? Itulah resiko perjuangan. Kalau anda mengaku golput tapi diam-diam saja karena takut penjara, maka anda tidak lebih dari sekedar ignorant yang oportunis.

Joko Widodo dan Ahmad Heryawan (infographic)


Jokowi dan Aher

Kontroversi Mobil Murah

September 23, 2013 2 komentar

http://images.detik.com/content/2013/07/11/1036/lcgc.jpg

LCGC atau kependekan dari Low Cost Green Car adalah proyek pemerintah dalam pengadaan mobil murah. Target proyek ini dikatakan adalah sebagai langkah preventif sebelum dimulainya era pasar bebas ASEAN tahun 2014. Dikhawatirkan jika era tersebut terjadi, maka akan mengalir deras mobil-mobil murah dari luar negeri. Pada kondisi itu, maka devisa akan mengucur ke luar negeri mengingat di seluruh dunia mobil tipe ini sangat laku di pasaran.

Dalam pengamatan saya, proyek aslinya adalah “proyek mobil murah”. Konsep “green” muncul belakangan sebagai feature yang ditambahkan kepada proyek mobil ini sehingga memiliki nilai tambah lain ketimbang sekedar jualan mobil. Jadi inti dari proyek ini sebetulnya adalah pencegahan larinya devisa ke luar negeri sebagai akibat serbuan impor mobil murah yang diperkirakan akan terjadi ketika AFTA mulai diberlakukan.

Karena ini adalah proyek penguasaan pasar mobil murah, maka dalam prosesnya sangat berbeda dengan konsep mobil nasional. LCGC ini adalah inisiatif pemerintah kepada pabrikan (manufaktur) lokal untuk memproduksi mobil jenis low-green dan menjualnya di dalam negeri, dilengkapi paket kebijakan tertentu.

Saya belum membaca apa saja yang masuk dalam insentif pemerintah terhadap proyek ini. Tapi saya menduga, salah satu di antaranya adalah keringanan pajak. Baik itu pajak importasi komponen (bea dan cukai), maupun pajak kendaraan (PPNBM/PPN Barang Mewah). Paket kebijakan seperti ini mutlak harus diberikan, untuk menjamin ke-low cost-an serta ke-green-an produk tersebut. Tanpa pengurangan pajak, belum tentu harga bisa ditekan. Tanpa pengurangan pajak, belum tentu skala produksi dapat mencapai nilai keekonomian sebelum kesalip produk impor.

Kabar baik bagi keluarga muda

Sebetulnya program mobil murah ini bisa menjadi kabar baik bagi keluarga-keluarga muda di Indonesia yang ingin memiliki mobil. Jika sebelumnya rata-rata harga mobil termurah berada di kisaran 150an juta (harga loan) dengan proyek ini menjadi hanya di kisaran 100an juta saja. Baca selengkapnya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.884 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: